Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Paling Segalanya


__ADS_3

Danil menatap Sekar yang sedang sibuk merias diri. Dia bahkan rela menghabiskan waktunya, untuk menunggu istrinya berdandan. Kembali ini menjadi hobi baru setelah menikah.


Menurutnya, Sekar adalah perempuan paling cantik setelah Mamah dan bunda. Kecantikan yang sempurna walau hanya bermodalkan make up tipis dan natural.


“Mas, yang peach atau pink?” tanya Sekar sambil memanyunkan bibirnya yang setengah telah dipulas oleh lipstik berwarna peach dan sebelahnya berwarna pink. Danil mendekati istrinya dan langsung mengecup bibir mungil Sekar.


“Peach, lebih segar,” jawab Danil sambil menatap cermin, memeluk bahu Sekar.


“Segini cukup ya, enggak mau tebal-tebal mas,” katanya meminta persetujuan Danil.


“Perfect Bee, cantik banget istriku ini,” Danil kembali memuji Sekar, dan perempuan mungil itu tersipu, pipinya merona merah, membuat Danil semakin gemas melihatnya.


“Ya ampun kamu tuh ngegemesin banget sih Bee, kalau kita enggak jadi jalan-jalan gimana?”


“Ayolah mas, hari ini malam terakhir kita disini. Jalan-jalan sebentar saja, sekali lagi ke Eiffel ya,” katanya meminta persetujuan.


“Sama saja kan, setiap hari kita ke Eiffel Bee, engga ada yang berubah. Ketegakkannya, kemiringannya, anak tangga, lift dan semua keadaan disana tetap sama. Kamu enggak bosan?”


“Enggak mas, boleh ya. Sebentar saja mas.”


“Kenapa harus ke Eiffel?”


“Suka, romantis banget mas, apalagi saat mas Danil menggutarakan perasaan cinta mas sama Sekar. Itu sangat romantis, suka,” jawab Sekar manja.


“Mas tidak mengutarakan apapun saat itu Bee,” katanya menggoda Sekar yang sedang memanyunkan bibirnya.


Cup ... Danil ******* lembut bibir istrinya, dan keduanya terhanyut dalam suasana yang tiba-tiba menjadi romantis.


“Stop! mas Danil stop, jangan mengalihkan perhatian Sekar. Ayo berangkat sekarang,” Sekar berdiri dan menempelkan kedua telapak tangan pada wajah Danil yang sedikit kecewa. “Sabar mas ku sayang, Sekar janji nanti malam ya,” katanya bernegosiasi.


“Janji?”


“Iya mas Danil,” jawab Sekar sambil mengecup lembut bibir suaminya. “Ayo sekarang berangkat, jangan malas gitu dong mas,” Sekar menarik tangan Danil agar mengikutinya.


“Mas.”


“Iya Bee,” Danil menatap Sekar tanpa melepaskan pelukannya. “Ada apa Bee?”


“Aneh enggak mas pakai baju ini?”


“Enggak, apa yang aneh?” tanya Danil bingung.


“Aneh kayaknya, mustinya jangan pakai celana jeans. Aneh enggak sih mas?”


“Ya ampun Bee, kalau aneh pasti mas sudah ribut dari tadi, iya kan. Iya enggak?” tanya Danil, dia tahu sekali istrinya sering menggalau untuk urusan yang satu ini.


“Iya sih mas, beneran enggak aneh kan?” tanya Sekar sekali lagi untuk memastikan.


“Mas harus jawab?” tanya Danil menatap istrinya yang masih menanti jawaban darinya. Tidak lama Sekar menggelengkan kepalanya. “Kalau sekali lagi nanya, kita batal pergi ya,” ancam Danil.


“Kok gitu?” protes Sekar, dan hanya dijawab senyuman oleh suaminya. “Baiklah, ok, ok Sekar enggak akan tanya lagi,” katanya sambil mengalengkan tangannya di lengan Danil.


“Kita enggak ada tujuan loh, hari ini mau kemana?”


“Mau jalan-jalan saja mas,” jawab Sekar.


“Tour museumnya sudah?”

__ADS_1


“Ini kan bulan madu kita mas, enggak harus ke museum terus kan.”


“Jadi tentukan nyonyaku sayang, kamu mau kemana saja hari ini?”


“Baiklah tuan Danil yang terhormat, apakah anda siap memanjakan sang nyonya yang banyak maunya ini?”


“Dengan terpaksa, sayangnya ya, si tuan Danil ini siap memanjakan nyonya banyak maunya.”


“Ok dengan TER-PAK-SA,” kata Sekar. Matanya menatap tajam ke arah Danil, tanpa senyum, bibirnya mungilnya sedikit digigit menahan kesal dan terganggu dengan kata yang diucapkan suaminya.


“Nyonya banyak maunya ini ternyata sangat sensi sekali dan menggemaskan ketika sedang kesal ya. Kamu tahu nyonya, bahwa kamu sukses membuat si tuan ini tidak sabar menunggu siang berganti malam.”


“Karena?”


“Jangan pura-pura tidak tahu, atau depan umum aku akan menciummu seperti saat sebelum kita keluar kamar.”


“Mas Danil, apa-apaan sih. Malu tahu enggak,” Sekar mulai sewot.


“Enggak!”


“Maaaaaas, awas kalau aneh-aneh,” ancam Sekar.


“Selain nyonya banyak mau, kamu juga punya julukan baru, nyonya sering ngancam.”


Sekar tertawa dengan enaknya sambil mencubit perut Danil “Kamu ada-ada saja deh mas, bahasa apa itu nyonya sering ngancam?”


Danil menarik sekar, dan merentangkan tangan istrinya agar memeluk erat perutnya. “Cantik banget sih kalau lagi ketawa gitu, mas suka lihatnya.”


“Mas enggak cape apa gombaaaaaal terus?”


“Berani mas gombalin perempuan lain, Su*at sampai habis,” jawab Sekar menatap tajam Danil.


Danil tersenyum menanggapi ancaman Sekar. “Sayang, mana berani mas gombalin perempuan lain, sudah jelas-jelas istri mas paling segalanya.”


“Paling segalanya apa mas Danil?”


“Cantik! Paaaliiiing cannn...”


“Mulai kan, kebiasaan deh gombal pake banget,” Sekar mulai sebal mendengar kogombalan suaminya.


“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa mengalahkan tiga perempuan kesayangan aku. Sorry to say Bee, but the number one is mamah, two is bunda, and the last is my wife, it’s you, Sekar Anugerah Jayanegara. Di luar itu mohon maaf mas tidak punya calon lagi dan tidak akan membuka lowongan, tentunya mereka harus kecewa.”


“Kamu tahu, selain cantik, segalanya yang kedua itu penyayang. Kamu tidak pernah peduli orang itu mau jahat sama kamu atau tidak, yang penting mereka harus di tolong duluan bila mereka membutuhkan bantuan.”


“Segalanya yang ke tiga, mandiri. Bee, kamu dan mas adalah salah satu anak-anak yang beruntung terlahir dari keluarga yang bisa dibilang sempurna, terlepas dari apapun yang banyak kita alami ya. Tapi kamu dapat membuktikan kemandirian, tidak manja, dan tidak bergantung pada nama besar orang tua. Jarang mas temuin anak muda yang semangat untuk melakukan usahanya, memulai dari bawah.”


“Segalanya ke empat, tidak sombong, justru selalu merendah. Kamu tidak pernah risih bila semua orang menjatuhkan kamu, menjelekkan kamu bahkan memfitnah kamu. Kamu selalu membalas mereka hanya dengan senyuman, walau dibalik itu Nia dan Adit harus siap mendengarkan curhatan kekesalan kamu.”


“Mas Danil...”


“Segalanya kelima, sebentar sayang,” Danil meminta Sekar untuk menahan segala bentuk protesnya. “Manja. Kamu tahu Bee, siksaan paling berat itu ketika mas melihat kamu manja sama Ryan. Rasanya ingin membawa kabur kamu dari Ryan.”


“Kapan Sekar manja-manjaan sama Ryan, terus kenapa engga dibawa kabur?”


“Waktu ditaman kampus, kamu kecentilan peluk peluk dia, sampai Ryan gendong kamu, ngeselin banget rasanya mas ingin...”


“Ya ampun mas, itu kan Sekar habis jatuh. Salah sendiri kenapa pergi menjauh sama Renata bukan nolongin pacarnya. Saat itu aku masih jadi pacar mas loh,” Sekar tidak mau kalah, mulai mengeluarkan kekesalan yang terpendam.

__ADS_1


“Jatuh dimana, kapan, kok bisa?”


“Didorong Renata, Sekar kan sempat panggil mas Danil, tapi mas main pergi gitu saja,” jawab sekar.


“Mas enggak tahu kamu jatuh loh,” Danil membuat pernyataan.


“Gimana mau tahu kalau omongan aku saja enggak di dengar,” Sekar menumpahkan kekesalannya pada Danil.


“Maaf sayang, mas benar enggak tahu kamu jatuh, kalau tahu mana mungkin mas enggak nolongin kamu saat itu, yang ada pas mas mau nolongin kamu, Rena bilang kalau Ryan sudah menolong kamu, dan mas kesal,” Danil menyesali kebodohannya saat itu.


“Nasi sudah jadi bubur mas, mau diapain lagi. Saat ini yang penting sekarang, mas Danil itu sudah sah menjadi suami Sekar.”


“Iya sayangku, jangan marah-marah lagi dong. Masih mau mendengar segalanya yang selanjutnya enggak?”


“Memang belum selesai si segalanya itu?”


“Masih mau tahu enggak?”


“Apa lagi mas Danil sayang?”


“Solehah, istriku...”


“Belum lah mas, justru Sekar masih harus belajar banyak. Mas harus bersabar menghadapi istrinya ini,” kata Sekar memotong perkataan suaminya.


“Mas juga masih harus banyak belajar, tapi setidaknya, kamu itu satu satunya perempuan yang mas kenal, yang sebelum dugem, harus shalat dulu. Terus, di saat yang lain mulai enggak sadar, kamu dengan setianya mengantar mereka pulang sampai rumah denga selamat. Mana ada coba orang yang seperti itu?”


“Ada, ya aku ini. Mungkin ada juga orang lain yang seperti aku, tapi kita enggak kenal saja.”


“Ada sih, pastinya, tapi seribu banding satu Bee.”


“Terserah mas saja, yang penting satu, bahwa aku tidak pernah merugikan siapa-siapa.”


“Iya mas setuju itu.”


“Masih ada segalanya yang lain?”


“Untuk saat ini cukup dulu, terlalu lama kita ngobrol bisa-bisa kita balik lagi ke dalam kamar,” kata Danil menggoda Sekar.


“No, ayo kita pergi.”


***


Bersambung...


Mas Danil sudah mulai bucin, sah lah sama istrinya sendiri ya.


Terima kasih untuk kalian yang selalu setia menunggu CMK up...


Mohon maaf bila ada typo


Ditunggu komen, like dan vote nya ya...


Terima Kasih....


 


 

__ADS_1


__ADS_2