
“Ryan,” Damar menatap laki-laki yang berada di sebelah adiknya.
“Iya mas,” jawab Ryan.
“Ada yang ingin aku bicarakan berdua saja.”
“Tidak bisa kah kak Damar berbicara di sini saja?” tanya Rena, berusaha menghentikan langkah kakaknya.
“Ini pembicaraan antar pria,” jawab damar tegas.
“Kakak ... “
“Kamu takut aku akan melakukan sesuatu pada suamimu?” tanya Damar sambil menatap adikknya tanpa berkedip.
“Kak Damar ...”
“Kamu meragukan kakak?”
“Tunggulah sebentar disini,” pinta Ryan pada Rena. “Mari kita bicara di luar kak,” ajak Ryan.
Damar berjalan duluan, setelah menatap adiknya yang ketakutan. Ia menghentikan langkahnya di sebuah taman kecil di sudut cafe, masih di posisi yang sama tanpa melihat Ryan, matanya jauh menatap kolam ikan koi.
“Sorry Yan, aku tidak suka basa basi, langsung pada inti nya saja. Apakah kamu benar-benar mencintai Rena?” tanyanya tanpa melihat Ryan.
“Aku sangat mencintainya kak,” jawab Ryan tanpa keraguan.
“Jujur saat ini, aku sangat ingin menghabisi mu Ryan, rasanya tangan ini sudah gatal. Tapi apa jadinya jika aku menghabisi kamu, yang ada aku akan kehilangan adik yang aku cintai, dia pasti akan membenciku. Andai saja aku tidak melihat rona bahagianya tadi, rasanya kamu akan mati di tanganku saat ini juga.”
Damar mengeluarkan kekesalannya pada Ryan, dia yang terlihat sangat bahagia ketika menikahkan adiknya, ternyata belum sepenuhnya menerima adik iparnya. Kakak Rena ini masih menahan amarahnya pada Ryan.
“Kamu tahu bahwa keluarga kita sejak dulu kala sudah saling bermusuhan, saya pun tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Sekarang rasa benci itu semakin terlihat sejak perbuatan kalian.”
“Maaf Kak Damar,”
“Beras sudah menjadi bubur, punya persiapan apa kalian ke depannya?”
“Sebentar lagi saya lulus, selama ini saya masih punya tabungan. Untuk ke depannya saya akan berusaha kerja apapun.”
“Semua orang ingin yang terbaik. Terlebih untuk seseorang yang dicintai, termasuk saya. Saya ingin adik saya hidup bahagia. Seperti kamu tahu, selama ini hidupnya tidak pernah kekurangan suatu apapun, tidak jauh berbeda lah dengan hidup kamu Ryan.”
“Iya Kak.”
“Sangat klise sekali karena disaat seperti ini, saya masih meminta kamu untuk membahagiakan adik semata wayang saya,” Damar tampak mengontrol emosinya.
__ADS_1
“Saya sangat sadar kondisi keluarga kita seperti apa. Kedua bapak kita sangat keras kepala, sulit untuk meluluhkan hati keduanya. Apa yang saya katakan benar?”
“Benar kak.”
“Jika mbok Sumi tidak memanggil saya kemarin sore, mungkin tadi malam saya sudah menghabisi kamu, dan saat ini entah kamu berada di rumah sakit atau tinggal nama saja,” Damar masih menahan amarahnya, tangannya mengepal guna meredam emosinya.
“Ditambah permintaan Fajar tadi malam,” Damar menghembuskan nafas beratnya. “Kamu tahu apa yang Fajar katakan pada saya?”
“Tidak kak.”
“Fajar tidak cerita?”
“Tidak Kak, mungkin belum sempat,” jawab Ryan.
“Tadi malam dia mendatangi saya, dan dia berkata. ‘Saya kenal kak Damar dan Rena, sejak kecil. Rasa sayang Fajar sama kak Damar seperti Fajar menyayangi almarhum kak Andi. Begitu pun rasa sayang terhadap Rena. Rena sudah Fajar anggap seperti adik sendiri. Maafkan Fajar yang tidak bisa menjaganya, hingga hal ini terjadi.’ Saya langsung terdiam mencerna kata-katanya,” Damar menceritakan obrolannya dengan Fajar.
“Kamu tahu Ryan, bahwa Andi kakaknya Fajar itu adalah sahabat saya. Andi yang telah menyelamatkan nyawa saya hingga saya masih bisa menjadi wali nikah Rena dan berdiri di depan kamu saat ini,” kembali Damar menghembuskan nafas beratnya.
“Fajar memohon pada kak Damar, Demi Rena kak. Fajar harap kakak bersedia menjadi wali nikah Rena, Kasihan mereka berdua kak. Perbuatan mereka memang salah kak, tapi apakah kakak tega jika Rena dinikahkan oleh wali hakim? sedangkan papahnya, kakeknya, kakaknya, semua orang yang berhak menjadi wali nikahnya masih hidup,” Damar kembali menceritakan usaha Fajar agar dirinya mau merestui dan menjadi wali nikah Rena. “Bukankah kakak sangat menyayangi Rena, tolong turunkan ego kakak, demi Rena dan anak dalam kandungannya. Fajar sangat mengenal Ryan kak, dia seseorang yang bertanggung jawab, mohon maafkan kesalahan mereka berdua,” Damar kembali bercerita.
"Fajar pun sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Permintaanya lah yang membuat saya berfikir agar merestui kalian berdua," ucap Damar.
"Terima kasih kak."
“Buat saya, sayang adalah wujud dari cinta dimana kita dapat saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tetap berpegangan tangan dan memberi dukungan saat sakit dan sehat, terpuruk atau ketika jaya, susah maupun bahagia,” jawab Ryan.
“Kamu tahu, semakin saya berfikir untuk menjauhkan kalian, semakin terbayang wajah Rena dengan penuh keyakinan mendukung kamu dan rela meninggalkan semuanya.”
“Maafkan saya Kak Damar.”
“Simpan permintaan maafmu, sekarang tunjukan bahwa kamu bisa membahagiakan adik dan calon keponakan saya.”
“Untuk saat ini saya tidak berani berjanji apapun sama kak damar, tapi saya akan membuktikannya dan akan bertanggung jawab untuk keluarga kecil kita.”
“Kalian tinggal dimana?”
“Belum dapat tempat tinggal kak. Semuanya begitu mendadak, saya belum mempersiapkannya,” jujur Ryan.
Damar berbalik menatap adik iparnya, tatapannya sangat tajam, hingga hati Ryan terasa sesak.
“Maaf kak,” kembali Ryan meminta maaf pada kakak iparnya.
“Entah apa yang Rena lihat dari kamu, begitu banyak laki-laki diluar sana yang lebih dari kamu dan yang terpenting bukan dari keluarga besar Wisesa, tapi dia masih memilih kamu.”
__ADS_1
“Takdir kak,” jawab Ryan.
“Takdir, iya mungkin benar,” kata Damar sambil menatap Ryan yang juga menatapnya. “Takdir juga yang menempatkan saya di posisi sulit, untuk mendukung kalian. Hati saya masih tidak terima karena Rena sedang mengandung dan menikah dengan pewaris keluarga Wisesa.”
“Kami saling mencitai kak, saya tulus mencitai Rena, begitu pun sebaliknya.”
“Saya tahu adik saya tidak bodoh, pasti ada alasan mengapa dia sampai merelakan kehormatannya pada laki-laki seperti kamu.Kamu tahu Ryan, saya sangat marah ketika tahu adik saya hamil di luar nikah.”
“Maaf kak.”
“Hal yang pertama saya tekankan ketika dia mulai bergaul dengan teman-temannya, agar dia selalu menjaga kehormatannya. Namun kembali lagi, semua sudah terjadi, dan saya telah menikahkan kalian.”
“Terima kasih kak,” ucap Ryan.
“Ryan, dalam waktu dekat saya harus meninggalkan negeri ini. Tidak akan lama kabar pernikahan ini akan sampai kepada keluarga kita. Kamu pasti tahu kan apa yang akan dilakukan papah dan ayah kita,” kata Damar, disertai anggukan kepala jawaban dari Ryan.
“Ketika saya tidak ada, kalian harus bertahan. Kamu pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan.”
“Iya kak saya tahu apa yang harus saya lakukan,” jawab Ryan.
“Saya rasa, sudah saatnya saya berdamai dengan keadaan. Belajar memahami apa yang sedang terjadi, mencerna sebuah takdir yang sudah di gariskan dan menerimanya,” kata Damar. “Titip Rena dan anak dalam kandunganya Yan, tugas itu saya serahkan sama kamu sekarang.”
“Ryan akan menjaga Rena dan anak kita Kak,” janjinya.
“Janji seorang laki-laki harus ditepati Yan. Saya pegang janji kamu.”
“Saya akan menepatinya kak, walau nyawa saya sekalipun yang jadi taruhannya.”
“Maaf saya tidak setuju dengan janji yang kamu ucapkan barusan, dan sayangnya saya tidak ingin Rena cepat berganti status, jadi tolong jaga dia," ucap Damar sambil memeluk adik iparnya.
"Ryan janji kak," katanya.
‘Andaikan ayah dan papah menerima semua ini, seperti kak Damar tentu kebahagiaan akan berlipat-lipat rasanya. Restu dari kak Damar telah di dapat, semoga dikemudian hari restu dari ayah dan papah akan menyusul, Aamiin,” Doa Ryan dalam hati.
Bersambung
***
Ada yang kangen dengan cerita Sekar dan mas Danil? Sabar ya.
Ditunggu like, komen dan votenya.
Terima Kasih.
__ADS_1