
Sekar baru saja selesai mandi, ketika melihat suaminya masih sibuk menerima telepon, Ia langsung mengambil novel dari dalam tas nya. Membaca adalah hobinya, dan salah satu cara paling ampuh untuk menghabiskan waktu.
Tidak berapa lama Ia menutup novel yang sedang dibacanya. Sekar mulai kesal, pasalnya mas Danil masih saja sibuk, padahal dalam perjanjian yang telah di sepakati bersama, mereka tidak boleh menerima telepon dari siapapun selama masa bulan madu.
Ia berjalan menuju ruang tamu dan lelakinya terlihat masih serius berbicara. Sekar tidak peduli apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya, dia langsung duduk di atas pahanya tanpa permisi. Tidak lupa mengalungkan tangan pada roti sobeknya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Mengetahui istrinya mulai kesal, Danil langsung menyelesaikan pembahasan masalahnya dan memutus percakapan.
“Maaf Bee, mas lagi terima telepon,” kata Danil sambil mengelus rambut Sekar.
“Yang punya perjanjian siapa, yang melanggar siapa,” jawab sekar menatap kesal pada Danil.
“Perjanjian apa?”
Sekar langsung berdiri dan meninggalkan Danil yang kebingungan, entah lupa atau pura-pura lupa. Mas ganteng penggombal ulung ini langsung teringat sesuatu dan mengejar istrinya yang sudah duluan meninggalkannya.
“Maaf Bee, mas tadi terima telepon penting,” Danil berusaha menjelaskan.
Sekar sama sekali tidak merespon ucapan suaminya, dia hanya terdiam sambil melanjutkan membaca novel yang tadi sempat dia tinggalkan tadi.
“Sayang,” panggil Danil yang kini sudah berada disebelahnya.
“Hmm,” tanpa melepaskan pandangannya dari novel yang dibaca.
“Bee,” panggil Danil kedua kalinya.
“Hmm,” jawab Sekar untuk kedua kalinya, masih dalam posisi yang sama.
“Sekar,” nada Danil mulai tinggi.
“Hmm,” untuk ketiga kalinya Danil mendengar jawaban yang sama dari istrinya.
Dengan gemas Danil mengambil novel yang sedang dibaca Sekar dan kemudian menutupnya. Ia menyimpan di atas meja di sebelah tempat tidur agar istrinya tidak mudah mengambilnya kembali.
Sekar bukannya menatap Danil, dia malah membalikkan badan, membelakangi suaminya, dan menutup mata.
“Maaf Bee,” Danil memohon pada Sekar. “Mas salah, mas yang membuat perjanjian dan mas juga yang mengingkarinya.”
Sekar hanya diam, tidak menanggapi yang suaminya ucapkan, tubuhnya masih di posisi yang sama, tidak bergerak sedikit pun.
“Tolong jangan seperti ini sayang, kalau kamu mau marah, marah saja, jangan diam. Mas akan mendengarkan semuanya.”
Sekar bangun dari tidurnya, dan menatap suaminya dengan kesal. “Asal mas tahu, hari ini aku senang sekali. Tiba-tiba semuanya terasa menyebalkan ketika mas menerima telepon entah dari siapa di Eiffel tadi. Mas sendiri yang bilang, selama kita di sini, ponsel dalam keadaan tidak aktif. Tidak ada hubungan dengan siapapun, tidak menerima telepon dari siapapun apalagi menelepon balik. Tapi apa dalam kenyataannya, mas mengingkari semua itu. Menerima panggilan seseorang dan barusan, baru saja, semenjak kita sampai, sampai aku mandi, selesai mandi, dan masih sempat baca novel, mas Danil belum juga selesai menelepon,” Omel Sekar.
“Sekarang jawab pertanyaan aku, siapa yang tadi menghubungi mas, dan siapa yang baru saja mas hubungi?”
Sekar mengeluarkan kekesalannya pada Danil. Baginya sebuah pengkhianatan bukan hanya sebatas pada perselingkuhan, namun mengingkari janji termasuk dalam daftar pengkhianatan versi kamus Sekar.
“Kalau kamu berfikiran mas di hubungi atau menghubungi Rena itu salah besar. Jujur, Demi Allah, semenjak kita sepakat dalam perjanjian saat itu, mas tidak pernah melanggar kesepakatan kita. Baru hari ini mas melanggarnya dan itu pun karena ada sesuatu hal yang mendesak,” Danil berusaha menjelaskan kepada Sekar.
__ADS_1
“Jangan bawa-bawa nama Allah mas.”
“Apa yang harus mas lakukan agar kamu percaya?”
“Apa yang mendesak, kenapa tiba-tiba mas bisa tahu bahwa ada sesuatu hal yang mendesak?”
“Ada sesuatu yang harus di selesaikan sayang,” jawab Danil.
“Apa?”
“Berhubungan sama masalah pekerjaan,” jawabnya lagi.
“Bagaimana mas bisa tahu ada sesuatu hal yang mendesak?”
“Tadi mas Hadi bilang sama mas,” jawab Danil.
“Kapan?”
“Tadi sayang.”
“Kapan, dimana?” tanya Sekar. Amarah menguasai hatinya, bibir mungil itu bergetar, jantungnya berdetak cepat, terlihat bahunya naik turun, berusaha mengontrol nafasnya yang tidak beraturan.
“Waktu kita sampai di Eiffel, dan kamu sudah turun duluan dari mobil.”
“Jangan bohong! Mas tahu aku tidak suka dibohongi,” katanya dengan emosi yang masih sulit dia kendalikan.
“Sekali lagi mas jawab, mas tidak bohong.”
“Mas mengerti.”
“Tahu tidak, mas itu seperti narapidana sedang di interogasi, jawabannya berbelit-belit.”
“Tidak Bee,”
“Apanya yang tidak?”
“Tidak berbelit-belit,”
“HHHHH..., mas tidak mengerti.”
“Mas ngerti sayang, maksudnya kamu ke pingin tahu kan, kenapa mas bisa tiba-tiba mengaktifkan ponsel.”
“Iya.”
“Sini dulu dong, ayo bangun sayang. Enggak enak tahu kalau ngobrol enggak tatap muka.”
Sekar menuruti permintaan Danil, Terlihat masih kesal namun dia siap mendengar penjelasan dari suaminya.
“Maafkan mas Bee,” ucap Danil. “Pertama kali memang benar, mas Hadi memberitahu kalau Bisma ingin menghubungi mas, karena ada sesuatu hal serius yang ingin dibicarakan mengenai masalah di kantor,” Danil menatap istrinya.
__ADS_1
“Mas tidak berbohong Bee, mas mengaktifkan ponsel setelah mendengar kabar dari mas Hadi. Ada sesuatu yang terjadi di kantor, Alhamdulillah, semua sudah bisa diatasi, makanya barusan mas telepon balik ke Bisma untuk mencari tahu perkembangan yang terjadi,” Danil menjelaskan secara detail agar tidak terjadi salah paham lagi.
“Ada masalah yang serius di kantor mas?” tanya Sekar. Danil tersenyum menatap istrinya yang terlihat panik dan merasa bersalah.
Tidak ada dalam kamus Sekar cemburu pada pekerjaan atau hal penting. Dia salah satu perempuan luar biasa, yang akan memberi dukungan penuh terhadap orang-orang terdekatnya, Danil sudah merasakan hal itu semenjak masa perkuliahan dulu, sewaktu dirinya menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa.
Istri tukang gombal ini adalah seorang suporter terbaik bila menyangkut masalah sebuah hubungan dan tanggung jawab. Jika dapat memberikan berjuta-juta persen kepercayaannya pasti akan dia berikan, asalkan satu yang harus diingat baik-baik, jangan sampai mengkhianati kepercayaan yang diberikan!
Mengkhianati kepercayaan yang berikan, bagaikan seorang pesakit menghitung hari setelah mendengar vonis dokter.
Cari mati, mungkin ini kata yang tepat ketika meyalahgunakan sebuah kepercayaan, seorang Sekar. Sama dengan selamat tinggal hidup nyaman dan selamat datang kesengsaraan. Danil pun sudah pernah merasakan hari hari terberat dalam hidupnya, ketika tanpa sengaja sebuah kesalapahaman terjadi.
Semua terasa menyakitkan, ketika hal itu terjadi padanya. Cukup sudah mengalami Hari-hari kelam tanpa senyum manis, tanpa sapaan ramah yang khas, bahkan tatapan lembut. Hampa!
Kali ini dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama, apapun yang istrinya inginkan akan dia penuhi, asalkan keceriaannya dapat kembali seperti semula.
“Sedikit, tapi semuanya sudah dapat diatasi,” jawab Danil jujur.
“Tapi....,”
Danil menatap sekar, dia tahu tidak mudah berbohong pada perempuan di depannya. “Tidak ada tapi Bee,” jawabnya.
“Tapi...,”
“Baiklah, mas tidak mungkin bisa menutupi sesuatu dari kamu, jadi tadi sia...,” Danil terdiam, ketika ponselnya berbunyi. Tidak ada keinginan untuk menjawab, walau sebenarnya tangannya sudah gatal ingin mengangkatnya.
“Angkat teleponnya mas, pasti penting sekali.”
Danil langsung menjawab panggilannya. Rahang kokoh itu terlihat mengeras, di dalam indera perasanya sudah dapat dipastikan gigi atas dan bawah sedang mengadakan pertemuan penting, .
Wajahnya terlihat tegang, diusap mukanya berkali-kali. Tangan kirinya memegang smart phonenya, sedangkan tangan kanan berkacak pinggang, pandangannya jauh menatap lampu-lampu yang mewarnai malam.
“Kita pulang sekarang Bee,” katanya setelah mengakhiri pembicaraannya.
Sekar menatap Danil, mencerna apa yang diucapkan suaminya. Kemudian berdiri dari duduknya dan mulai melakukan perintah.
“Maaf sayang, kita harus kembali malam ini,” Danil meminta maaf dan melingkarkan tangannya pada perut Sekar.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan mas, aku mengerti,” jawabnya, sambil menepuk pelan rahang suaminya.
Tidak banyak yang harus dibereskan, keduanya tergolong perfeksionis untuk masalah kerapihan, sehingga semua selesai dalam waktu setengah jam saja.
Hadi mengambil beberapa koper yang sudah siap, tidak lama Sekar dan Danil berjalan menyusulnya diikuti dua orang pri berbaju hitam.
Danil pun semakin posesif, Sekar mulai curiga, ada hal apa yang membuat bulan madunya berakhir di sini. “Kamu hutang penjelasan mas,” katanya ketika pandangan mereka bertemu.
Bersambung
***
__ADS_1