
Perjalanan menuju tempat kelahiran pengarang komik Tintin, Brussels memakan waktu hampir 3 jam menuju jalan darat. Setidaknya begitu menurut penjelasan Hadi tadi. Jalan yang mereka tempuh tidak memiliki pemandangan yang indah, hanya terlihat jalan tol dan sedikit pohon di sebelah kanan maupun kiri jalan.
“Tidur Bee?” tanya Danil.
“Sayang kalau tidur, enggak nikmatin perjalanannya mas,” jawab Sekar.
“Nanti sakit lagi,” pinta Danil, terlihat cemas.
“Kan ada yang ngejagain kalau sakit,” jawab Sekar sambil menyandarkan kepalanya pada jok mobil.
“Siapa yang mau ngejagain?” tanya Danil menggoda istrinya yang terlihat kesal.
“Mas Hadi” bisik Sekar di telinga Danil, takut terdengar Hadi.
“Silahkan,” jawab Danil santai tapi tidak bisa menutupi kekesalannya.
“Cie cemburu,” kata sekar sambil menarik hidung suaminya. "Jelek tahu."
“Mas, enggak mau kamu sakit Bee, please nurut ya. Kalau enggak batal rencana kita ke museum pengarang Tintin itu.”
“Baiklah mas ku sayang, Bee akan jadi istri yang penurut,” katanya sambil merebahkan kepalanya bersandar pada jok mobil.
“Selamat istirahat Bee, maafkan mas mu ini, yang selalu khawatir berlebihan. Sangat mencintaimu,” ucap Danil dalam hati.
Akhirnya perjalanan yang melelahkan itu menemukan ujungnya juga. Welcome Belgia. Negara beribu kota Brussels ini diapit beberapa negara di eropa. Makanya perdagangan di Belgia tumbuh pesat.
“Kita sudah sampai di Belgia, tepatnya di Brussels,” Kata Hadi. “Kita mau ke hotel dulu atau jalan-jalan mas?” tanyanya pada Danil.
“Jalan-jalan Mas Hadi,” jawab Sekar tiba-tiba.
“Kamu sudah bangun Bee?”
“Kalau belum bangun, siapa yang ngomong barusan,” jawab sekar.
“Pengen mas gigit tahu enggak kalau kayak gini,” kata Danil gemas dengan jawaban Sekar.
“Sakit mending dicium saja mas,” bisiknya.
“Pasti,” kata Danil sambil mencium pipi istrinya, yang tidak lama semburan merah menghiasi wajahnya.
“Kita langsung jalan saja mas Hadi, Sekar sudah tidak sabar mau ke museum,” perintah Danil pada Hadi.
“Baik mas,” jawab Hadi patuh.
“Negara yang sibuk ya mas, ramai sekali, padahal musim dingin.”
“Iya, banyak turis yang berkunjung, karena negara ini berbatasan dengan banyak negara mas,” jawab Hadi.
“ Iya mas Hadi, Di sebelah utara berbatasan dengan Belanda, di sebelah Timur berbatasan dengan Jerman, Di sebelah Selatan berbatasan dengan Perancis dan Luxemburg. Sedangkan Disebelah Barat negara ini berbatasan dengan Laut Utara,” kata Sekar membuat Danil menatap istrinya.
“Wah, mbak Sekar hafal betul,” Hadi terlihat kaget.
“Saya suka sejarah mas Hadi,” jawab Sekar.
“Biasanya kalau saya mengantar rekan bapak, yang di tanyain tempat wisata dan mall.”
__ADS_1
“Istri saya memang beda mas Hadi, dia lebih suka ke tempat wisata. Museum apalagi, wajib hukumnya.”
“Salut saya mbak. Biasanya, kebanyakan orang skip untuk ke museum.”
“Tidak berlaku bagi saya mas Hadi,” jawab Sekar.
“Jadi dari yang saya tahu hasil dari membaca, ada banyak museum di sini. Mas Hadi akan membawa saya kemana?”
“Bagaimana bila kita menuju Grand Place Brussel terlebih dahulu,” Hadi meminta izin.
“Boleh,” jawab Danil.
“Disini banyak bangunan pada abad pertengahan yang sangat menajubkan,”
Kata Hadi. “Ada Brussel Town Hall, ini dipakai jadi kantor walikota, tapi tetap dibuka untuk umum. Ada juga Grand Place Brussel, ini sudah di tetapkan UNESCO sebagai warisan budaya. Disini paling terkenal La Petit Julien.”
“Manekin Pis,” teriak Sekar bahagia.
“Iya mbak,” jawab Hadi.
“Kalau baca ceritanya unik juga ya, patung itu di buat karena anak kecil itu tidak sengaja buang air kecil yang mengenai sebuah bom, hebatnya mas bom nya tidak meledak,” Sekar antusias menceritakan sejarahnya.
“Ceritanya seperti itu mbak,” kata Hadi.
Hadi terlihat kagum pada Sekar, dan Danil. Keduanya salah satu dari ratusan orang yang tertarik dengan sejarah dan tempat wisata. Biasanya dia selalu mengantar tamu, menjadi juru foto, menemani membeli sovenir, dan selesai di satu tempat langsung berganti tempat wisata, hanya sekedar memenuhi memory ponsel.
Sekar seakan terpuaskan hanya dengan mengunjungi tempat wisata yang ada, sedangkan Danil dengan setia menemani kemana pun istrinya pergi. Pasangan unik, untuk Hadi.
“Puas hari ini?” tanya Danil sambil menutupi wajah Sekar dengan kedua tangannya.
“Mas ngikutin kamu mau kemana saja, kamu bahagia, mas lebih bahagia.”
“Makasih mas Hadi, untuk hari ini. Senang banget bisa lihat patung, ukiran, macam-macam lukisan dan bangunan di Musseum Brussel. Dan Museum Magritte, museum yang didedikasi untuk Rene Magritte, seorang pelukis surealis. Sekar bisa melihat bagimana pelukis itu bekerja higga menghasilkan karya yang luar biasa.”
“Benar-benar baru saya lihat seseorang yang senang banget di ajak ke museum,” Hadi tidak berhenti kagum.
“Senang banget lihat kamu happy Bee,” kata Danil, mengelus lembut pipi istrinya.
“Makasih mas Danil selalu menuruti permintaan Sekar,” katanya tulus.
“Paling suka kemana mbak?” tanya Hadi.
“Suka pake banget waktu ke Museum Herge, bangunannya keren, seperti kapal laut yang kandas di hutan. Semua karyanya ada disana, sampai karya iklannya juga ada. Hebat loh, Tintin itu buku komik favorit aku mas Hadi.”
“Tintin si wartawan Belgia yang selalu di temanin seekor anjing jenis Fox Terier yang bernama Milo, kalau di komik Indonesia dulu nama anjingnya Snowy. Ada tokoh kapten Haddock, kocak banget kalau dia sudah mengeluarkan sumpah serapahnya. Profesor Lakmus yang cerdas, namun memiliki masalah pendengaran, belum lagi detektif kembar yang konyol Thomson dan Thompson.”
“Tintin oh Tintin cinta deh, komik Eropa yang sudah lebih dari dua ratus juta bukunya di terbitkan sukses diterjemahkan dalam lima puluh bahasa.” Sekar tidak henti-hentinya membicarakan tokoh komik favoritnya, dan Danil seseorang yang selalu semangat mendengarkan cerita istrinya.
“Paling suka di museum choco story,” kata Sekar, masih semangat bercerita. “Sekar belajar banyak tentang coklat,”cerocosnya seperti anak kecil yang habis diajak ke taman bermain.
“Kamu cerewet banget Bee, senang lihat kamu bahagia,” kata Danil.
“Makasih untuk semuanya mas,” ucapan yang tidak pernah berhenti sepanjang jalan menuju hotel.
Hadi dan supir yang mengantar membawa sepasang pengantin ini menuju Hotel Metropole. Hotel yang telah berdiri sejak tahun 1895 menyuguhkan dekorasi yang sangat klasik membuat Sekar terkesima dengan keindahan yang menjadi fasilitas hotel tersebut.
__ADS_1
Hadi memberikan kunci kamar pada Danil, setelah mengurus keperluan untuk jalan-jalan besok Hadi pamit untuk pulang. Entah dia akan menginap dimana.
“Mas Danil” panggil Sekar.
“Ya,” jawab Danil sambil memeluk istrinya dari belakang.
Sekar terdiam, dia senang sekali di peluk seperti ini oleh Danil, seakan ia terlindungi, pelukan yang menenangkan.
“Kenapa Bee?”
“Terima kasih mas ku sayang, Sekar happy banget.”
“Mas tahu, kamu sampai enggak berhenti ngoceh waktu di mobil. Mas tuh seperti seorang bapak yang habis bawa anaknya main di taman bermain.”
“Ih, masa kayak bapak sama anak sih?”
“Kenyataannya gitu,” jawab Danil.
Sekar mencubit perut Danil, seketika suaminya itu melepaskan pelukannya, menahan sakit.
“Ini namanya KDRT sayang,” kata Danil sambil menahan sakit cubitan istrinya.
“Maafkan mas,” katanya pergi menghindar, sebelum Danil membalas perlakuannya.
“Jangan pergi Bee, tanggung jawab. Sakit tahu, merah lagi,” Kata Danil mengeluh, bagian perutnya memerah.
“Merah banget ya mas?” tanya Sekar merasa tidak enak, dia membuka kaos yang digunakan suaminya. “Bohong, enggak ada yang merah,” teriak sekar, berusaha menjauh dari Danil.
Danil langsung menangkap istrinya. “Yang bilang merah beneran siapa?” tanya Danil sambil mengelitik tubuh istrinya.
“Ampun mas, ampun,” teriak Sekar tidak tahan.
Tulilit ...Tulilit ... Tulilit ...
***
Semoga suka ya sama jalan ceritanya, maafkan baru up. Ditunggu like, vote dan komennya...
Terima Kasih
__ADS_1