
Sepanjang perjalanan menuju arah butik Zinnia, tak ada obrolan apapun dan tangan Cinta juga tak berpegangan pada tubuh Naru sedikitpun karena ia tak ingin disangka mencari kesempatan dalam kesempitan.
Waktu yang dibutuhkan biasanya hanya 20 menit saja, kini waktu itu harus bertambah 10 menit menuju arah butik Zinnia karena pertengkaran kecil saat di dekat halte bus itu cukup memakan waktu.
Kini mereka berdua sudah berhenti di sebuah tempat dengan tulisan "Z G Boutique".
Cinta turun dari motor Kawasaki milik Naru dan membuka helm yang ia kenakan, begitu pula dengan si pemilik motor melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Cinta.
Cinta memperhatikan butik milik ibu Naru. "Besar sekali butik ibumu," puji Cinta menatap lekat jejeran baju yang terpajang di dalam butik itu.
Naru tersenyum simpul. "Kau seperti orang yang tak tahu brand merk terkenal saja," sahut Naru meletakkan helmnya dan helm Cinta.
"Aku memang tak tahu apa-apa dengan merk baju karena aku membeli baju di pasar! selain lebih murah kita juga bisa mendapatkan banyak baju hanya dengan uang 200 rb."
Naru terkejut dengan perkataan Cinta.
Pria itu menatap penampilan Cinta dari ujung rambut sampai kakinya.
*"Tapi bajunya terlihat bagus saat dikenakan dia! apa karena yang memakai baju ini orangnya memang dasarnya sudah cantik ya?"
Naru menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran yang tidak-tidak itu.
*"Dia tak cantik, Naru! lebih cantik Kinan kemana-mana."
Naru mencoba menghilangkan lintasan pikiran yang aneh menurutnya.
"Aku tidak percaya!" Naru menyangkal ucapan Cinta yang membeli baju di pasar, bukan di mall atau butik seperti milik mommy-nya.
Cinta menatap Naru sengit. "Jika kau tak percaya, lain waktu aku akan mengajakmu ke pasar," ujar Cinta mengajak Naru ke pasar.
"Tidak!"
Cinta mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa? apa kau takut terkena sinar matahari? kau kan bukan vampir seperti dalam film," celoteh Cinta menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Naru.
"Bukan begitu, aku tak pernah ke pasar sebelumnya, jadi ...."
"Maka dari itu, aku akan mengajakmu ke pasar agar kau tahu bagaimana situasi di pasar orang biasa seperti diriku ini," sambung Cinta.
Naru tak memperdulikan perkataan Cinta. Chef tampan itu lebih memilih menarik tangan Cinta untuk masuk ke dalam butik ibunya.
"Eh, apa-apa ini! lepaskan tanganku! sakit," aduh Cinta pada Naru namun, Chef tampan itu tak memperdulikan rengekan Cinta.
Saat Cinta dan Naru sudah membuka pintu butik Zinnia dan mereka berdua sudah berada di dalam, keduanya disambut oleh para pelayan yang mengenal Naru.
"Selamat datang, Tuan Muda!"
Para pelayan yang menyapa Naru membungkukkan badan mereka memberi hormat pada anak Bosnya.
Cinta melihat ke arah para pelayan yang berbaris rapi seperti di dalam drama yang pernah ia tonton.
__ADS_1
*"Ini bukan mimpi kan? jadi begini rasanya menjadi orang penting dan kaya? pasti Chef kaku ini sangat tajir melintir, sampai para pelayan butik ibunya saja memberikan hormat seperti ini."
"Mommy mana?" tanya Naru pada para pelayan itu.
"Nyonya ada di ruangannya, Tuan muda!"
"Mommy disini, Nak!"
Semua orang menoleh ke arah Zinnia yang mengenakan dress nampak terlihat tetap cantik dengan senyumnya.
Tatapan mata Cinta terfokus pada ibu dari Naru tersebut.
*"Cantik sekali meskipun sudah berumur!"
"Aku sudah membawa pesanan, Mommy!" Naru mengangkat tangannya yang masih menggenggam tangan Cinta erat.
Senyum Zinnia terpancar indah. "Kau pikir dia paket! dasar kau ini!"
Cinta hanya tersenyum kikuk, sementara Naru membalas senyuman ibunya.
*"Untungnya aku tak melepaskan genggaman tanganku pada, Cinta! ada gunanya juga ternyata."
"Ada apa Mommy memintaku untuk membawa dia kemari?" tanya Naru.
"Ikut, Mommy!"
Zinnia berjalan ke arah ruangannya dan Naru beserta Cinta mengikuti langkah Zinnia.
Zinnia berdiri tepat di sebuah gaun malam yang sangat cantik.
Mata Cinta juga tertuju ke arah gaun itu. Mulut Cinta dibuat menganga karena gaun itu memang gaun yang paling bagus diantara gaun yang lainnya.
Naru melihat ke arah Cinta yang masih menganga. Dengan cepat tangan kanan Naru menutup mulut Cinta. "Ayo! kebiasaan ya!"
Cinta terkejut spontan membuka bekapan tangan Naru dari mulutnya. "Tanganmu bau bawang," cicit Cinta yang membuat tawa Zinnia terdengar.
"Hahaha! kalian berdua ini seperti saat muda Mommy dan daddy!"
Cinta dan Naru saling tatap dan sedetik kemudian saling menjulurkan lidahnya.
Zinnia dibuat tertawa kembali. "Hahaha! jadi ingat waktu muda seperti kalian ini," tutur Zinnia.
Cinta dan Naru melepaskan tautan tangan mereka, kemudian saling memunggungi.
Zinnia mendekati calon menantunya. "Cinta ikut, Mommy!"
Zinnia menarik tangan Cinta ke arah gaun yang tadi sempat menyita perhatiannya.
Zinnia mengambil gaun itu dan memberikannya pada Cinta. "Kau coba dulu gaun ini, Nak!"
__ADS_1
"Tidak, Nyonya! saya ...."
"Stop! jangan panggil saya, Nyonya! panggil saja, Mommy! sama seperti Naru! bukankah kau akan menjadi istri, Naru!"
Naru dan Cinta secara bersamaan tersedak ludah mereka.
Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk
Suara batuk mereka berdua saling bersahutan dan itu terdengar sangat menggemaskan di telinga Zinnia.
"Kalian berdua ini ya! membuat Mommy jadi merindukan, Daddy! tersedak saja harus bersamaan seperti ini! kalian berdua memang berjodoh."
Suara batuk mereka berdua semakin menjadi karena Zinnia benar-benar mengatakan hal yang tak mungkin terjadi itu.
Zinnia dengan cepat mengambilkan air minum namun, stok air minum galonnya sudah habis hanya ada satu botol air mineral.
Zinnia membawa air itu dan memberikannya pada Cinta terlebih dulu. "Minum dulu, Cinta!"
Dengan cepat Cinta meneguk air tersebut sampai tinggal setengah.
Naru hanya memperhatikan dari jarak jauh. "Kau ini tersedak atau kehausan?" tanya Naru meledek Cinta.
Cinta hanya memonyongkan bibirnya menatap ke arah Naru.
Chef tampan itu masa bodoh dengan bibir monyong Cinta. "Air minun untukku mana, Mom?" tanya Naru yang masih sedikit terbatuk.
"Hanya tinggal ini saja, Nak! kau ...."
Naru yang sudah merasa tak nyaman pada tenggorokannya segera berjalan ke arah Cinta dan mengambil botol air minum bekas Cinta dan dengan cepat Chef tampan itu meneguk air tersebut tepat di bekas bibir Cinta tadi.
Tangan Cinta yang hendak menahan agar Naru tak meminum air bekasnya tadi terhenti karena jakun Naru sudah naik turun dengan tenggorokan pria itu yang artinya sudah dialiri oleh air minum tersebut.
Cinta teringat dengan drama yang pernah ia tonton jika seorang pria meminum bekas air minum dari cangkir atau botol yang sama, itu artinya secara tak langsung mereka berdua berciuman.
Zinnia melihat raut wajah Cinta yang panik.
Senyum Zinnia terpancar karena ia tahu apa yang ada dipikiran calon menantunya itu.
"Naru! apa kau tidak tahu jika meminum minuman bekas bibir seorang perempuan, maka secara tak langsung kalian berdua sudah berciuman," goda Zinnia pada putranya.
Naru mengentikan tegukan airnya pada botol tersebut yang sudah hampir habis hanya tinggal sedikit saja.
Naru menatap ke arah ibunya, kemudian beralih pada Cinta.
Cinta yang ditatap oleh Naru segera menutup wajahnya karena malu.
Zinnia hanya tersenyum melihat kedua anak beda jenis ini malu karena ketahuan berciuman lewat botol air mineral.
"Aku ingin ke kamar mandi, Mom!" Naru memberikan botol air minum itu pada ibunya dan berlari ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Zinnia tersenyum melihat tingkah lucu putranya, sementara Cinta masih dengan wajah ditutup menggunakan tangannya.