
Mobil merah milik Naru sudah keluar dari garasi kediaman Chef terkenal tersebut. Kali ini Naru sengaja tak membawa motornya karena cuaca nampak tak mendukung.
Dengan wajah berseri, Naru terus mengendalikan kemudinya. Wajah pria itu nampak sangat senang kala kedua orangtuanya juga menginginkan Cinta segera menjadi sang istri.
Sekitar 30 menit jarak tempuh dari rumahnya menuju arah kediaman keluarga Yanto.
Mobil merah Naru terparkir tepat di depan toko sang kekasih.
Naru turun dari kursi kemudi, sebelum pria itu benar-benar masuk ke pekarangan rumah keluarga angkat Cinta, Naru masih mendongakkan kepalanya melihat huruf berukuran besar dengan tulisan "CINTA TRADISIONAL".
Senyum Naru seketika bangkit. "Ternyata aku baru melihat toko ini setelah kami resmi menjadi pasangan kekasih," gumam Naru berjalan ke arah gerbang rumah Dio.
Kebetulan ada tukang kebun yang membukakan pintu. "Ada yang bisa dibantu, Den?" tanya pria paruh baya itu.
"Cintanya ada, Pak?" tanya Naru tersenyum ramah.
"Neng Cinta baru saja datang, silahkan masuk, Den!"
Naru dengan senang hati memasuki gerbang bercat putih tulang tersebut dengan gerakan mantap.
Saat ia sudah berada tepat di jalan menuju arah teras kediaman tersebut, langkah kaki Naru terhenti.
Kaku dan mati rasa sekujur tubuhnya kala pria itu melihat kekasihnya memeluk pria pertama yang di pacarinya.
Nyeri di dada seakan tak dapat ia tahan lagi. Ambruk rasanya hal yang dapat ia lakukan saat ini namun, saat ia mengingat momen manis dirinya dan Cinta, pertahanan Naru kembali ia kokohkan.
"Aku harus bertahan demi cintaku padanya dan ini memang resiko yang harus aku terima karena menjalin kasih dengan kekasih orang lain."
Hati Naru sudah ia buat tangguh saat ini karena hanya itu jalan satu-satunya, agar dirinya dan Cinta bisa bertahan.
Naru masih mematung melihat kedekatan Cinta dan Dio.
Mata Dio tak sengaja melihat ke arah Naru dan senyum pria itu terbit kala ia sadar , jika Naru nampaknya cemburu padanya.
"Sepertinya pangeran kuda lumpingmu sudah tiba," bisik Dio pada Cinta dan Cinta sontak menoleh ke arah gerbang dimana Naru sudah berdiri mematung melihat ke arahnya dan Dio.
Cinta sontak mendorong tubuh Dio agar menjauh. "Kenapa kakak tidak bilang, jika dia sudah di sini, nanti jadi salah paham dan satu lagi, bukan kuda lumping, tapi kuda putih," kesal Cinta sembari memukul lengan Dio cukup keras.
Cinta langsung berlari ke arah Naru. "Sudah lama?" tanya Cinta tersenyum tanpa rasa bersalah pada Naru.
"Ya, sudah dari tadi, bahkan aku sudah melihat kemesraan kalian berdua."
Naru tersenyum sembari mengusap puncak kepala Cinta. "Baru saja," elak Naru dan Cinta menyipitkan matanya.
"Benarkah?" tanya Cinta tak percaya akan ucapan Naru padanya.
Naru hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Cinta padanya.
Tiba-tiba saja Cinta melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Naru, dengan posisi kepala mendongak ke atas. "Jangan cemburu ya?" pinta Cinta yang tahu isi hati sang kekasih.
Wajah Naru terlihat terkejut karena Cinta tahu isi hatinya.
Pria itu tersenyum sembari meletakkan kedua tangannya di pipi Cinta. "Mana mungkin aku tak cemburu melihatmu bersamanya," tutur Naru menarik kepala Cinta agar mendekat ke arahnya dan ....
Cup
Kecupan pagi mendarat mulus pada kening gadis penjual kue tradisional tersebut.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, jadi aku pasti akan sangat cemburu melihat kau bersama pria lain," jelas Naru dan respon gadis itu malah di luar dugaan.
Cinta tersenyum sembari berkata, "Aku juga sangat mencintaimu."
"Dio! adikmu kemana, Nak!"
Teriakan seorang wanita paruh baya terdengar dari dalam rumah mewah milik Dio dan bukan hanya Dio yang mendengar, tapi Naru dan Cinta juga mendengar.
Naru terlihat kebingungan akan maksud teriakan itu.
Pria itu melihat ke arah Cinta meminta penjelasan pada gadisnya.
Cinta masih cekikikan karena akhirnya bukan dirinya yang membuka hubungan rahasianya dan Dio, melainkan sang ibu.
Cinta hendak pergi meninggalkan Naru yang penuh raut akan tanda tanya di wajahnya namun, tangan Naru lebih dulu menarik lengan gadisnya, agar Cinta memberikan penjelasan dari semua tanda tanya yang kini sudah mulai bermunculan dalam benaknya.
Cinta sudah masuk dalam dekapan Naru dan Dio hanya bisa tersenyum sembari geleng-geleng kepala melihat pasangan yang nampaknya sangat dimabuk Cinta itu.
Dio memilih menghampiri sang ibu agar tak mengganggu aktifitas adiknya.
Naru masih memenjarakan Cinta dalam dekapan tangan kokohnya.
"Jelaskan padaku, apa maksud perkataan ibu," pinta Naru menatap kedua mata Cinta.
Gadis itu hanya menggeleng polos tak ingin memberitahu Naru.
"Aku ingin tahu," desak Naru lagi.
"Tidak mau," tolak Cinta mendekatkan wajahnya pada wajah Naru.
Naru tersenyum penuh tipu muslihat.
"Ampun!"
Cinta berseru meminta ampun pada Naru namun, lelaki bermata biru dengan lihainya semakin menggelitik Cinta tanpa mau berhenti.
"Ampun!"
Lagi-lagi Cinta memohon agar Naru mau melepaskannya.
"Jelaskan padaku," pinta Naru dan Cinta mengangguk secepat kilat.
Akhirnya Naru mau menghentikan kegiatan jahilnya pada Cinta.
Kini Cinta benar-benar berada dalam dekapan Naru, sampai hanya bagian kepala gadis itu yang terlihat.
"Cepat katakan," desak Naru mendekatkan ujung hidungnya pada Cinta, sampai akhirnya, ujung dua benda mancung itu menempel sempurna.
"Tidak mau," tolak Cinta yang masih ingin menggoda kekasihnya lebih lama.
Naru memejamkan matanya dengan napas yang sedikit tak beraturan.
Cinta tahu kode itu, napas Naru sama persis ketika prianya ingin mengobrak-abrik bibirnya.
"Sayang!"
Naru mulai berseru dengan suara seraknya yang di dalamnya terdapat kabut gairah terhadap mangsa yang berani menguji kesabarannya sedari tadi.
__ADS_1
"Apa kau ingin aku menciummu di sini?" tanya Naru membuka matanya dan otomatis, dua netral mata kedua insan itu saling bertukar tatap.
Cinta menggapai kedua pipi Naru dengan raut wajah gadis itu yang ia buat segemas mungkin.
"Aku dan Kak Dio hanya sebatas kakak adik angkat, jadi ...."
Cinta sengaja menggantung kata-katanya, agar Naru semakin penasaran.
Gadis itu hanya tersenyum sembari menatap kedua manik mata Naru. Cinta berharap Naru mengerti ucapannya.
"Jadi kau membohongiku?" tebak Naru.
"Bukan membohongimu, aku hanya ingin pekerjaan yang kau tawarkan, agar aku mendapatkan uangnya," jelas Cinta tersenyum dengan rentetan gigi putihnya.
Bukannya marah, Naru justru tersenyum sembari menarik tengkuk gadisnya dan akhirnya kedua benda kenyal itu mendarat sempurna.
Tanpa ada cecapan, hanya kecupan manis yang mereka rasakan.
"Aku bahagia," tutur Naru.
"Kenapa begitu?" tanya Cinta karena gadis itu berpikir, seharusnya Naru marah padanya karena ia telah menyembunyikan kebenaran dari sang kekasih.
"Karena aku bukan perebut kekasih orang, setidaknya semua yang ada pada dirimu, memang Tuhan ciptakan untukku," tutur Naru mengecup kening Cinta.
Keduanya berpelukan karena salah paham antara Cinta, Naru, dan Dio sudah terselesaikan.
"Jangan lupa, aku masih memiliki misi agar kau mau menerima lamaranku dan aku akan membuktikan itu semua," jelas Naru masih memeluk Cinta.
Gadis itu hanya bisa tersenyum sembari mendengarkan detak jantung Naru yang berdentum bagai tengah berdisko ria.
"He'em! jangan hanya bermesraan terus seperti itu, apa kalian tak ingin sarapan atau berangkat bekerja?" tegur Dio yang tiba-tiba sudah menyandarkan bahunya pada kusen pintu masuk rumah tersebut.
Naru dan Cinta akhirnya menoleh ke arah Dio.
Cinta tersenyum pada Dio, berbeda dengan Naru yang menggoda calon kakak iparnya itu, "Kami langsung berangkat saja, Kakak Ipar."
Dio hanya tersenyum sembari menatap kedua insan itu dengan tatapan datar. "Cepat berangkat!"
"Tapi aku belum sarapan, Kak!"
Cinta mulai bercicit ria karena perutnya merasa sedikit lapar.
Ponsel Naru berdenting, pertanda ada pesan masuk dan pria itu membuka isi pesannya.
Mommy
Sarapan untuk kau dan Cinta sudah Mommy delivery ke resto, nasi goreng itu cukup untuk dua orang, sarapanmu tadi tak habis, 'kan? jadi Mommy menyiapkan untuk dua orang, sekalian, agar kau bisa pacaran di restoπ€
Naru hanya tersenyum membaca pesan dari ibunya yang tahu bagaimana membuat dua anak manusia beda jenis bisa bermesraan.
"Ibu-ibu jaman sekarang memang super aktif," gumam Naru.
"Apa?" tanya Cinta tak mengerti.
"Bukan apa-apa! kita berangkat dulu ya, Kakak Ipar! sarapan Cinta sudah dalam proses pengiriman ke resto, jadi calon istriku ini tak mungkin kelaparan karena dia memiliki calon mertua yang baik," tutur Naru menarik tangan Cinta menuju arah mobilnya.
"Dasar budak cinta," celoteh Dio yang akhirnya masuk ke dalam rumahnya bersiap berangkat bekerja.
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN πππ