
Jarak wajah mereka berdua sudah hampir terkikis habis dan pada saat bibir Naru sudah hampir menempel pada bibir Cinta, gadis itu mengalihkan wajahnya langsung ke arah ceruk leher Chef Yunani itu.
Beruntung naluri pertahanan Cinta masih berfungsi, jadi gadis itu segera mengalihkan wajahnya pada ceruk leher Naru. Memeluk erat tubuh pria itu agar Naru tak meneruskan keinginannya.
Naru terkejut dengan apa yang akan ia lakukan pada Cinta. Ia tak sadar jika dirinya akan mencium gadis itu jika Cinta tak menghindar darinya.
"Apa aku sudah tak waras? kenapa bisa-bisanya aku ingin mencium gadis ini?"
Tanpa Naru sadari tangan kekarnya sudah membalas pelukan erat Cinta padanya.
"Terima kasih!" Cinta berucap masih dengan posisi tubuh memeluk tubuh Bosnya.
"Untuk apa?" tanya Naru menyandarkan kepalanya pada puncak kepala tunangan palsunya untuk memberikan semangat pada Cinta, jika masih ada dirinya dan para orang terdekat lainnya di dunia ini.
"Karena kau mau menemaniku disini, sekaligus kau sudah bersedia meminjamkan setelan baju mahalmu ini sebagai pengganti sapu tangan, meskipun ingusku tak terlalu banyak menempel," ledek Cinta tersenyum kecil di dalam pelukan Naru.
"Kotori saja semaumu! nanti akan aku potong uang gajimu," tutur Naru balik menggoda Cinta.
Sontak gadis itu memundurkan tubuhnya menatap ke arah Naru. "Enak saja! tidak boleh," kesal Cinta dengan mata bengkak dan hidung memerah.
Naru tersenyum melihat wajah Cinta sehabis menangis seperti ini. Tanpa pikir panjang, Chef tampan itu menarik hidung Cinta. "Aw!" Cinta merintih kesakitan karena ulah jahil Naru.
"Enak kan rasanya?" Naru tersenyum meledek. "Mau lagi?" tanya Naru kembali.
Cinta masih mengusap-usap hidungnya yang terasa sakit. "Jahat!"
Naru tersenyum sembari menangkup wajah Cinta dan berkata, "Siapa yang jahat? kau itu terlalu menggemaskan dan aku ingin sekali mencubit hidungmu ini," goda Naru kembali menarik hidung Cinta.
Cinta memejamkan matanya menahan rasa sakit yang diciptakan oleh Naru dengan tangan yang mengusap ujung hidungnya.
Naru menyingkirkan tangan Cinta yang masih setia mengusap ujung hidungnya. "Karena aku yang telah membuat hidungmu seperti itu, maka aku yang akan bertanggung jawab menyembuhkannya," tutur Naru melingkarkan tangannya pada leher Cinta dengan wajah yang semakin dekat.
Cinta terkejut dengan kelakuan Naru. "Mau ap ...."
__ADS_1
Naru menempelkan kening dan hidungnya pada bagian yang sama dengan milik Cinta. "Tutup matamu! perlahan rasa sakit itu pasti akan berkurang," titah Naru menatap manik mata Cinta.
Perlahan mata Cinta tertutup mengikuti sugesti dari Naru. "Rasa sakit pada hidungmu akan menghilang secara perlahan," gumam Naru sembari menggesekkan ujung hidungnya dengan hidung milik Cinta.
"Sudah berapa tingkat keromantisan yang aku buat?" tanya Naru ditengah-tengah posisi ternyaman yang Cinta rasakan.
Mata Cinta terbuka perlahan dan kedua lensa matanya beradu dengan lensa mata kebiruan milik Naru dengan kening dan ujung hidung yang masih saling menempel satu sama lain.
"Masih 10 persen," sahut Cinta dengan jantung yang sudah jedag jedug tak karuan.
"Aku ingin nilaiku bertambah 20 persen untuk pelatihan kali ini," ujar Naru dengan tangan yang perlahan bergerak berpindah tempat yang awalnya melingkar pada leher Cinta, kini sudah menyentuh kedua pipi Cinta. "Selama masih ada aku bersamamu, jangan pernah menangis merasa kau sendiri di dunia ini karena aku akan menerangi kegelapan yang kau rasakan sebelumnya," tutur Naru dengan suara lembut dan wajah Naru perlahan sedikit terangkat ke atas mengincar kening pakar cintanya.
Cup
Kecupan bibir Naru pada kening Cinta cukup lama sampai gadis itu menikmati betapa lembut dan kenyalnya bibir Chef Yunani itu.
Cinta merasa semua bebannya hilang seketika kala ucapan dan perbuatan Naru menyentuh bagian terdalam palung hatinya.
"Tubuhku terasa seringan kapas, bahkan napas pria ini mungkin bisa menerbangkan tubuhku saat ini juga."
Cinta menatap mata Naru. "Jadi yang kau lakukan tadi hanya bagian dari peningkatan persentase penilaianku padamu?" tanya Cinta yang entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya, padahal dia sudah tahu jika dirinya dan Naru hanya rekan kerja tak lebih dari itu dan Cinta juga tahu jika pria tampan di hadapannya ini hanya mencintai satu wanita yaitu Kinan seorang Dokter kandungan.
"Ya!"
Cinta tersenyum pada Naru namun, lebih tepatnya ia menertawakan kebodohannya sendiri karena berani berpikir lebih dari itu. "Sudah 20 persen dan total semuanya sudah 50 persen, jadi kau bisa memulai mempraktekkan pada, Kinan!"
"Benarkah?" tanya Naru kegirangan karena ia tak menyangka ternyata usahanya beberapa hari ini tak sia-sia.
"Iya! kau bisa langsung mengajaknya berkencan," usul Cinta sekenanya.
"Kinan pasti tak akan mau jika hanya ada aku dan dia saja," jelas Naru.
"Kenapa tidak mau?" tanya Cinta keheranan.
__ADS_1
"Aku juga tak tahu," sahut Naru menaikkan pundaknya.
"Perempuan yang aneh! bukannya perempuan suka dengan acara kencan dan keromantisan lainnya," gumam Cinta sembari memikirkan cara untuk bisa membuat Naru dan Kinan berkencan.
"Jadi bagaimana?" tanya Naru lagi.
Cinta masih berpikir dan seketika lampu pijar di kepalanya mulai berfungsi. "Bagaimana jika kita double date saja! kau dan Kinan! aku dan Kak Dio!"
Naru tersenyum bahagia. "Ide yang sangat top! aku tak menyangka ternyata kau memang pakar cinta yang begitu handal," puji Naru mengusap puncak kepala Asistennya.
"Itu ide yang terbilang masih cukup sederhana, agar terlihat lebih romantis lagi, kita akan mengadakan double date itu di pantai, bagaimana? apa kau setuju?" tanya Cinta meminta pendapat Naru.
"Setuju! kita akan membawa tenda sambil bermalam disana," sahut Naru menyempurnakan ide cemerlang Cinta.
Cinta sudah membayangkan deburan ombak yang menyapa telinganya. "Oke! setuju!"
"Kapan kita akan berangkat?" tanya Cinta pada bosnya.
"Aku akan mengabarimu karena aku harus menanyakan hal itu pada, Kinan! dia seorang Dokter, jadi aku tak bisa seenaknya menentukan hari tanpa berkoordinasi dengannya terlebih dulu," jelas Naru.
Cinta hanya manggut-manggut. "Baiklah! kau hubungi dia saja dulu! setelah menentukan harinya, kau bisa menghubungi nanti aku aku akan mengajak, Kak Dio!"
"Ayo kembali ke dalam sekarang! orangtua kita pasti menunggu di dalam," ajak Naru sembari menarik tangan Cinta untuk masuk ke dalam rumah.
"Tunggu!"
Suara Cinta mengalihkan niatan Naru untuk membawa gadis itu masuk ke dalam. "Ada apa?" tanya Naru yang sudah membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Cinta.
Cinta tersenyum sembari mendekati Naru dengan tangan yang perlahan terangkat merapikan kerah kemeja Chef Yunani tersebut. "Jangan lakukan hal romantis seperti tadi pada perempuan lain! bagaimana jika perempuan itu baper dan dia mengira kau tulus melakukan hal itu," tutur Cinta yang sudah selesai merapikan kerah kemeja Naru.
"Tapi kau sudah punya pacar, kan?" tanya Naru lagi.
Cinta rasanya ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Naru yang percaya jika Dio adalah kekasihnya. "Jika padaku tak apa, jika pada perempuan lain, kau harus berhati-hati," jelas Cinta tersenyum sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Naru masih diam memperhatikan punggung Cinta yang semakin lama semakin jauh. "Aku juga tak tahu mengapa aku tadi melakukan hal itu padamu, yang aku tahu seperti ada sebuah perintah untuk melakukan hal itu dan tubuhku mengikuti semua perintahnya tanpa kusadari," gumam Naru mulai mengejar Cinta masuk ke dalam rumah Dio.