Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 54


__ADS_3

Setelah selesai sholat ashar, semua penghuni villa itu bersiap mengumpulkan beberapa kebutuhan yang harus mereka bawa untuk acara camping nanti malam.


Ada dua tenda yang sudah di bawa oleh Naru, sedangkan Dio membawa beberapa ikat kayu bakar dari gudang villa itu.


Cinta dan Kinan bersiap di dapur meletakkan beberapa jagung dan kentang ke dalam sebuah keranjang berukuran sedang.


Cinta dan Kinan bersamaan mengangkat keranjang berisikan kentang dan jagung ke arah depan, dimana Dio dan Naru sudah menunggu mereka dengan berbagai perlengkapan camping lainnya.


"Sudah siap?" tanya Cinta pada kedua pria jangkung nan gagah yang berada di hadapannya.


"Tentu saja sudah," sahut Dio dan Naru bersamaan.


Kinan melihat ke arah beberapa kayu yang ada di dalam rangkulan tangan Dio. "Untuk apa kayu dengan lilitan kain itu?" tanya Kinan.


Dio melihat ke arah benda yang ditanyakan oleh Kinan. "Oh, ini obor," sahut Dio.


"Obor? untuk apa obor itu? Kakak ingin mengadakan arak-arakan obor di tepi pantai?" tanya Cinta sekenanya.


Dio tersenyum gemas pada Cinta. "Tentu saja tidak, Cinta! apa kau pikir aku sudah gila," ledek Dio membuat senyum Cinta bangkit. "Sedikit sih!"


Naru yang berada di samping Dio melirik ke arah Cinta diam-diam dan semua itu tak luput dari sorotan mata Kinan.


"Sepertinya tanda ini sudah cukup, tapi aku masih ingin melihat tanda-tanda lainnya," ujar Kinan dalam hati.


"Sudah selesai berbincang, kan?" tanya Naru pada semuanya.


Cinta melirik ke arah Naru sinis. "Sudah!"


"Dasar pengganggu suasana hati yang sedang asyik," umpat Cinta yang hanya dapat ia salurkan dalam hatinya.


"Sekarang kita langsung ke pantai karena hari sudah semakin sore," pinta Naru dan Chef Yunani itu memimpin di depan bagai seorang yang sudah berpengalaman masalah berkemah di alam bebas.


Dio mengikuti Naru, sementara Cinta masih berkomat-kamit bagai burung yang kehilangan suara emasnya.


"Hayo!" Kinan menepuk pundak Cinta. "Eh, ada apa, Kak!"


"Jangan seperti itu padanya, nanti kau jatuh cinta baru tahu rasa," ledek Kinan yang sebenarnya adalah sebuah peringatan bukan hanya sekedar candaan saja.

__ADS_1


"Mana ada aku jatuh cinta pada pria yang tergila-gila padamu, Kak! seharusnya aku yang berkata seperti itu, agar Kakak lebih waspada padanya karena dia bukan Naru yang dulu lagi," tegas Cinta mengedipkan sebelah matanya menggoda Kinan sembari berjalan mengejar kedua pria tampan nan gagah di depannya yang sudah berjarak cukup jauh, bahkan sudah hampir sampai pada tempat tujuan.


Keempat muda-mudi itu sudah berada di pantai, mereka mulai melakukan tugasnya.


"Kinan dan aku membangun tenda, sedangkan Cinta dan pacarnya," titah Naru membuat Kinan melihat ke arah Dio.


"Dia pacar Cinta? kenapa aku bisa tak peka seperti ini?"


Cinta yang masih menggenggam pegang keranjang, perlahan melepaskan keranjang itu dan berjalan ke arah Dio.


"Sekarang saja aku di tendang bagai barang usang yang sudah tak dibutuhkan lagi, coba saja Bu Dokter itu sudah tak bersamanya, pasti aku di pungut kembali."


Kinan melihat punggung Cinta yang terlihat turun bagai orang lesu.


"Jika dia punya pacar, kenapa tubuhnya bereaksi seperti itu?"


Pertanyaan mulai berputar-putar dalam benak Kinan.


Dokter cantik itu akhirnya mencoba membuang pemikiran yang menurutnya bukan ranah ia harus ikut andil dalam hal itu.


Naru yang mendengar canda tawa Cinta spontan melihat ke arah si empunya suara dan parahnya adegan Cinta dan Dio kala itu yang tengah mencubit pipi Cinta gemas.


Dada Naru seperti tersiram air panas yang tak tahu sudah berapa derajat suhunya.


"Ini pasti karena pengaruh hak kepemilikan perjanjian pekerjaan kami yang harus berpura-pura menjadi pasangan. Ya, pasti hanya gara-gara itu," yakin Naru dalam hatinya.


Kinan yang sudah keluar dari dalam tenda setelah selesai menggelar alas di dalamnya melihat sosok Naru diam meremas sudut tenda.


Arah tatapan Naru diikuti oleh Kinan sampai pada saat dimana arah tatapan itu terhenti pada seorang gadis dan pacarnya yang tengah bercanda.


"Kan! seorang perempuan tak mungkin salah dengan perkiraan mereka, apalagi yang berhubungan dengan perasaan."


Saat mata Kinan melihat ke arah Dio, dokter cantik itu tak sengaja menatap mata Dio yang memang bisa ia lihat dengan jelas meskipun pria itu tak membalas tatapannya.


"Aku seperti pernah melihat mata itu, tapi dimana?" tanya Kinan dalam lubuk hatinya.


"Kakak kenapa?" tanya Kinan pura-pura tak paham.

__ADS_1


Naru terkejut dengan suara Kinan. "Tidak apa-apa," sahut Naru sembari tersenyum pada Kinan.


Setelah cukup lama akhirnya tenda milik Cinta dan Dio berdiri kokoh di kelilingi obor yang jaraknya cukup jauh dari tenda.


"Sudah siap!" Cinta berteriak sambil tersenyum riang melihat tenda miliknya yang terlihat sangat rapi dan sudah pantas untuk ditempati orang bernaung.


"Jangan teriak-teriak! gendang telingaku bisa pecah," sindir Naru dari kejauhan yang masih menata kayu bakar untuk nanti malam.


Cinta melihat ke arah Naru. "Tutup saja telingamu! begitu saja kok repot!"


"Aku tidak dengar!" Naru berteriak kembali.


Cinta tersenyum kesal, senyum yang pasti akan membalas bualan tak penting yang terlontar dari mulut Naru.


Dio yang baru saja keluar dari dalam tenda, mencari keberadaan sang adik karena ia baru saja selesai merapikan perlengkapan di dalamnya seperti bantal dan selimut.


Karena perhatian Dio teralihkan pada sebuah obor yang sedikit miring posisinya, membuat pria itu berhenti sejenak mencari keberadaan Cinta.


Cinta sudah berjarak cukup dekat dengan Naru dan kini gadis itu sudah berdiri di hadapan Naru dengan tangan yang sudah berkacak pinggang.


Kebetulan posisi pria itu tengah berjongkok menyusun kayu bakar untuk api unggun nanti malam. Naru melihat dari arah kaki Cinta dengan betis yang putih mulus.


Mata Naru terus naik ke atas sampai pada bawah lutut gadis itu menampilkan dress berwarna kuning bunga-bunga yang indah dengan ukuran yang sangat pas di badan Asistennya.


Tangan lentik Cinta sudah bertengger di kedua pinggangnya. Saat mata Naru sudah sampai pada wajah gadis itu, keduanya diam saling tatap satu sama lain, mengisyaratkan perang dingin musim panas tahun ini. "Apa?" tanya Naru pura-pura bodoh.


"Apa?" tanya balik Cinta pada Naru.


"Kau yang apa?" tanya Naru lagi.


"Kau yang apa?" tanya balik Cinta lagi.


"Tukang tiru!" Naru tersenyum meledek Cinta.


Mata Cinta sudah melotot minta ampun. "Kau yang tukang tiru, dasar pria menyebalkan!"


"Aku tidak dengar," ujar Naru membuat tensi darah Cinta semakin naik sampai ubun-ubun.

__ADS_1


__ADS_2