Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 14


__ADS_3

Ting


Denting pintu lift terbuka. Kinan dan Naru masih asyik mengobrol sampai pada saat pintu lift terbuka baru percakapan mereka terhenti.


Kinan dan Naru keluar bersamaan, sementara Cinta mengikuti di belakang Naru.


Mereka bertiga masih berada di depan pintu lift yang sudah tertutup.


"Aku kembali ke ruanganku dulu ya, Kak!" Kinan hendak berbalik menuju arah ruangannya namun, tangannya ditahan oleh Naru. "Tunggu, Kinan!"


Kinan menoleh ke arah Naru yang menahan pergelangan tangannya. "Ada apa, Kak?" tanya Kinan.


"Beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuatmu jatuh cinta padaku," pinta Naru pada Kinan.


Cinta yang berada di samping Naru menatap Naru dan Kinan bergantian.


*"Jadi ini perempuan yang disukai oleh, Naru dan dia juga yang menolak pria setampan, Chef Kaku ini?"


Kinan melihat ke arah Naru, kemudian beralih ke arah Cinta yang baru ia sadari jika ada orang lain selain dirinya dan Naru sedari tadi.


"Dia siapa, Kak?" tanya Kinan mengalihkan permintaan Naru padanya.


Naru menoleh ke arah Cinta. "Dia Asistenku hanya untuk sementara waktu saja," jelas Naru sangat jujur.


Kinan tersenyum pada Cinta. "Maaf karena dari tadi kami berdua asyik mengobrol di dalam lift tanpa memperhatikan jika ada Anda disini," sesal Kinan pada Cinta.


Cinta hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Kinan padanya.


*"Bagaimana Si tukang masak ini tak jatuh hati pada perempuan ini, orangnya baik sekali."


Naru menggenggam tangan Kinan erat. "Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, Kinan!"


Raut wajah Kinan sudah tak dapat dijelaskan lagi. Dokter kandungan itu sangat berat harus menerima permintaan Naru.


Dengan hembusan napas beratnya akhirnya Kinan menjawabnya. "Baiklah! tapi jika yang terakhir ini tak berhasil, aku mohon padamu, jangan lagi memintaku untuk mencintaimu," tutur Kinan.


Senyum dari bibir Naru terukir kala Kinan memberikan dirinya kesempatan untuk memperjuangkan cintanya. "Baiklah, aku janji padamu," sahut Naru mantap.


Cinta yang menyaksikan hal itu hanya bisa melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Kinan melepaskan pegangan erat tangan Naru. Dokter kandungan itu beralih menatap ke arah Cinta. "Saya pergi dulu," pamit Kinan pada Cinta dan gadis cantik tersebut hanya bisa membalas senyuman Kinan padanya.


Saat Kinan sudah melangkah menuju arah ruangannya, Cinta menoleh ke arah Naru yang masih tersenyum menatap kepergian Kinan.


"Begini ini jika sudah jatuh cinta sampai ke akarnya, mau dicabut sudah susah! dasar pria aneh!"


Cinta menepuk kuat-kuat bahu Naru sampai Naru tersadar dari lamunannya. "Apa sih!" wajah Naru sudah kesal bukan main.


Cinta menunjukkan jam tangannya pada Naru. "Ini sudah setengah jam kita berada di dalam lift sampai keluar dan kau masih asyik berbincang dengan ...."


Naru tersenyum langsung merangkul tubuh Cinta. "Kita langsung ke ruangan, Daddy! aku sangat bahagia karena dia mau memberiku kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta padaku," tutur Naru tersenyum tulus pada Cinta dan gadis itu melihat senyuman yang sangat manis selama ia bertemu dengan Naru beberapa jam yang lalu.


Naru dan Cinta berjalan ke arah ruangan William dengan tubuh Cinta yang masih tetap dirangkul oleh Naru.


Cinta terus memperhatikan Naru yang mencurahkan kebahagiaannya karena Kinan mau memberinya kesempatan sekali lagi.


Saat keduanya sudah berada di depan pintu ruangan William, Naru menghentikan langkahnya menatap ke arah Cinta, begitu pula dengan Cinta yang membalas tatapan mata Naru. "Kau harus menjadi pakar cintaku yang pertama dan terakhir karena aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini," pinta Naru pada Cinta.


Cinta masih menatap ke arah Naru tanpa ingin mengalihkannya.


Kini tatapan mata mereka bukan tatapan seperti tadi.


Mereka berdua saling tatap menikmati kearifan lokal yang sudah Tuhan ciptakan.


Jarak hidung mereka sangat dekat sampai terlihat seperti orang akan berciuman, padahal hanya saling tatap saja.


Ceklek


Pintu ruangan William terbuka dan seorang pria berkumis dengan jambang yang sedikit terlihat mendapatkan tontonan anak laki-lakinya tengah merangkul seorang perempuan dengan wajah yang sangat dekat jaraknya.


"He'em!"


Suara William membuat Naru dan Cinta menoleh ke arah yang sama yaitu ke arah Dokter bedah yang berada di ambang pintu ruangannya.


Secepat kilat Naru dan Cinta saling dorong untuk menjauhkan diri mereka masing-masing.


Cinta menundukkan kepalanya, sementara Naru hanya melihat ke arah langit-langit koridor rumah sakit sang ayah.


"Kalian sedang apa?" tanya William pada keduanya.

__ADS_1


Cinta mengangkat sedikit kepalanya menatap ke arah ayah Naru. "Kami kemari ... disuruh oleh, Mommy!" Cinta mencoba tersenyum semanis mungkin pada ayah Naru yang masih menatapnya tajam.


*"Sepertinya sorot mata tajam Chef Kaku ini turunan dari bapaknya! tampan, tapi menakutkan."


William tahu jika Cinta saat ini menahan rasa takut karena ia mencoba menatap calon menantunya itu tajam.


William tersenyum sembari melangkah ke depan mengusap kepala Cinta. "Daddy tak sejahat yang kau pikirkan, Nak! kau pasti gadis bernama Cinta, kan?" tanya William tersenyum manis ke arah calon menantunya.


"I-iya, Dok, eh, Daddy maksudnya!"


William beralih menatap ke arah putranya. "Kau ingin melakukan apa pada calon menantuku?" tanya William menaikkan sedikit kacamata yang bertengger di kedua matanya.


Naru menurunkan bahunya lemas. "Dad! jangan memperlakukan aku seperti anak kecil," protes Naru.


"Kemarilah, Nak!" William merentangkan kedua tangannya agar Naru datang ke dalam pelukannya.


Kedua Pria beda generasi itu saling peluk dengan ikatan anak dan ayah yang sangat kental terlihat di mata Cinta.


*"Pasti dia beruntung sekali bisa memiliki kasih sayang dari orangtua kandungnya."


Pelukan anak dan ayah itu terlepas. "Ada apa kalian kemari?" tanya William to the poin.


"Nanti malam akan ada maka malam keluarga dan Cinta akan datang juga," tutur Naru memberitahu ayahnya.


"Hanya itu?" tanya William lagi.


"Iya, Dad! Mommy masih sibuk dan kami yang harus kemari!" Naru tersenyum pada sang ayah. "Karena tugasku sudah selesai memberitahu perihal acara nanti malam, jadi kami berdua akan pergi," tutur Naru sembari melihat ke arah jam tangannya. "Sekarang waktunya Si itik buruk rupa bersolek untuk menjadi Angsa putih yang cantik," ledek Naru menatap ke arah Cinta dengan senyum jahilnya.


Cinta hanya melebarkan matanya mengancam Naru agar berhenti meledeknya di depan William ayah dari Naru.


"Berhentilah menggoda calon menantu, Daddy! kau harus menyayanginya sepenuh hati," ujar William memberikan wejangan pada sang putra.


"Siap, Dad! kita pulang dulu!" Naru mencium punggung tangan ayahnya begitu pula dengan Cinta.


Naru menggenggam tangan Cinta menarik gadis cantik itu menuju arah lift untuk turun ke lantai dasar.


Cinta melihat tangan Naru yang masih menggenggam tangannya erat. Saat sudah berada di dalam lift dan pintu lift itu tertutup, Naru segera melepaskan tautan tangannya. "Drama sudah selesai dan kita sudah bisa kembali normal seperti biasa," tutur Naru menatap lurus ke depan sembari tersenyum sendiri.


Cinta melihat wajah pria itu dari samping. *"Pasti dia sedang membayangkan Si Kinan itu!"

__ADS_1


__ADS_2