Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 70


__ADS_3

Cinta sudah selesai dengan ritual mandinya, begitu pula dengan Naru yang sudah merampungkan kegiatan bersih-bersih badannya.


Cinta membuka pintu kamarnya, hendak berjalan ke arah ruang makan namun, saat gadis itu menutup pintunya, ia melihat bayangan seorang pria yang sudah berpose cukup tampan di depan kamarnya.


"Sedang apa kau?" tanya Cinta keheranan dengan pose Naru yang seakan tengah bergaya bagai seorang model sampul di sebuah majalah.


"Menunggumu," sahut Naru singkat.


"Menungguku? untuk apa?" tanya balik Cinta.


Naru berjalan ke arah Cinta dan menarik tangan gadis itu. "Hei! apa yang kau lakukan!"


Cinta terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Naru. "Kita akan makan malam, Nona!"


Cinta terus berjalan tergopoh-gopoh dengan tangan yang masih saling bergandengan satu sama lain.


Saat sudah sampai di depan meja makan, Naru melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Cinta erat.


Pria itu menarik sebuah kursi untuk Cinta tempati. "Silahkan duduk, Nona Cinta!" pinta Naru dengan senyum manisnya.


"Ih, apaan sih!"


"Duduk!" pinta Naru pada Cinta.


"Untuk apa kau melakukan hal ini? aku bisa sendiri," tolak Cinta halus.


"Untuk menjadi seorang calon suami idaman dong," jelas Naru menarik tubuh Cinta dan mendudukkan tubuh ramping itu di kursi yang sudah ditarik oleh Naru.


"Dasar pemaksa!"


"Tapi kau suka, 'kan?" Naru mulai menggoda Cinta.


Cinta menutup telinganya dengan kedua tangannya agar ia tak dapat mendengar bualan Naru yang tak penting.


Ctak


Naru menjentikkan jarinya dan para pelayan membawa hidangan makanan yang enak dan menggugah selera.


Dari mulai appetizer, main course, dan dessert. Semua makanan itu sudah tertata rapi di meja makan dengan aroma yang memancing cacing-cacing di perut Cinta berdisko ria.


Naru tersenyum kala ia melihat raut wajah Cinta yang sepertinya ingin melahap semua makan itu sampai habis namun, Naru tahu, jika perut kecil tunangan palsunya itu tak akan muat menampung makanan sebegitu banyaknya.


Naru mengambil bakwan jagung dengan garpu miliknya.


Pria itu mendekatkan bakwan tersebut pada bibir Cinta. "Makan!" pinta Naru menatap wajah Cinta.


Gadis itu masih diam tak bereaksi. "Aku bisa makan sendiri," tolak Cinta halus.

__ADS_1


"Aku akan mengajarimu bagaimana cara makan yang baik dan benar, Nona!"


Naru membuka mulutnya sendiri agar Cinta melakukan gerakan yang sama seperti yang ia lakukan.


Jika dilihat, Naru seperti seorang ayah yang tengah menyuapi anak bayinya makan.


"Tidak mau!"


"Yakin tidak mau? potong gaji 50% mau dong?" tanya Naru dan secepat kilat Cinta langsung menggigit bakwan jagung yang diberikan oleh Naru.


Kressss


Satu gigitan bakwan jagung itu masuk ke dalam mulut Cinta dan gadis itu memejamkan matanya menikmati betapa pas dan enaknya rasa bakwan tersebut.


"Enak sekali," gumam Cinta sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Naru hanya tersenyum saat melihat Cinta seperti orang yang belum pernah makan bakwan sama sekali.


"Habiskan!" pinta Naru kembali.


Cinta yang merasakan kenikmatan haqiqi pada bakwan tersebut, akhirnya gadis itu memakan semua bakwan jagung yang Naru berikan namun, saat makanan tersebut sudah tinggal satu kali gigitan, Naru melahapnya tanpa permisi.


Kunyahan pada mulut Cinta terhenti dengan mata yang ikut terbelalak. "Kenapa kau memakannya? itu bekasku," celoteh Cinta kesal.


"Enak! rasanya lebih enak yang berasal dari bekas gigitanmu," sahut Naru mengunyah makanannya.


"Bisa ambilkan aku makanan yang sama?" tanya Naru pada Cinta.


"Ih, punya tangan masih minta bantuan orang lain!"


Cinta melakukan hal yang ditanya oleh Naru dan tanpa sadar, gadis itu menyuapi Naru.


"Terima kasih, Calon istri?"


"Awww!"


Cinta mencubit perut Naru cukup keras. "Kebiasaan ya? sukanya mancing emosi orang," cecar Cinta melotot ke arah Naru.


"Apa sih, Cinta! memang benar, 'kan, jika kau calon istriku?" tanya Naru balas menceramahi Cinta.


"Tapi kita hanya bersandi-"


Naru menarik kursi yang ditempati oleh Cinta dan posisi duduk mereka saat ini sudah sangat dekat. "Apa kau bilang?" tanya Naru mendekatkan wajahnya pada wajah Cinta.


"A-aku hanya mengatakan kenyataan saja," sahut Cinta gugup.


"Tapi pertunangan kita sah, Sayang!"

__ADS_1


Naru mendekatkan bibirnya pada bibir Cinta dan pria itu mendaratkan bibir tersebut tepat di dagu Cinta.


Cup


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi selama kita berdua bersama karena aku ... sedikit merasa kesal mendengarnya," jelas Naru tersenyum manis pada Cinta.


Gadis itu tertegun dengan tangan kanan yang masih memegang garpu yang tertancap sebuah bakwan jagung di atasnya.


"Tapi ... kau tak mencin-"


"Aku hanya ingin bersamamu saat ini tanpa ada sistem embel-embel kata sandiwara atau apapun dan aku mohon ... jadilah tunanganku yang sesungguhnya saat kita berdua," jelas Naru sembari mengigit sisa bakwan jagung yang berada di tangan Cinta.


Gadis itu hanya bisa berkedip-kedip tanpa berkata sepatah kata pun.


"Jangan seperti itu, nanti kau akan overdosis terpesona padaku," goda Naru membuat kesadaran Cinta kembali.


"Apa pria ini sungguh ingin membongkar pertahananku? apa dia ingin aku semakin gila mencintainya? hah, baiklah! jika itu maumu, aku akan mengikutinya."


"Baiklah! mari kita makan," ajak Cinta dan Naru menormalkan posisi duduknya, begitu pula dengan Cinta.


Mereka berdua tengah asyik dengan makanannya sampai pada akhirnya semua makanan di atas piring masing-masing habis tak bersisa.


Cinta merapikan semua piring kotor dan hendak berjalan menuju arah dapur namun, gerakannya terhenti kala ia mengingat pesan Naru, jika dirinya harus bersikap seperti tunangan nyata seorang Chef kaku itu.


"Terima kasih untuk makan malamnya, Chef!"


Naru melihat ke arah Cinta hendak tersenyum pada gadis itu namun, senyuman Naru mendadak sirna kala bibir kenyal milik Cinta mendarat tepat di pipinya.


Cup


"Makanannya enak!"


Saat Cinta hendak melanjutkan niatnya berjalan ke arah dapur, adegannya tadi terekam oleh mata para pelayan dan kepala pelayan rumah tersebut.


Wajah Cinta merah bagai kepiting rebus menahan malu. Secepat kilat, Cinta berjalan ke arah dapur dengan tergesa-gesa.


Naru melihat kepergian Cinta dan tak lama kemudian, senyum pria tampan itu terukir indah, menampilkan deretan gigi putihnya.


"Kenapa aku merasa sebahagia ini? apa aku mulai ... akhhh, terserah saja! yang penting aku merasa nyaman," gumam Naru dan senyum lega Pak Sam menyertai ruangan itu.


"Semoga Tuan muda bisa sadar, jika ia sudah memiliki perasaan pada Nona Cinta."


Pak Sam tahu, jika selama ini rasa cinta yang dimiliki oleh Naru pada Kinan hanya sebatas obsesi semata karena penolakan berkali-kali dari Kinan, membuat Naru semakin terobsesi mendapatkan cinta dari Kinan yang sebenarnya, Naru hanya ingin sebuah pengakuan bukan balasan cinta.


Cinta yang berada di dapur meletakkan piring kotor di wastafel dan menyentuh pipinya yang pasti sudah memerah. "Apa aku benar-benar sudah overdosis terpesona padanya?"


Seketika lagu yang sangat amat ramai terdengar dimana-mana mulai berputar dalam otaknya.

__ADS_1


"Terpesona, aku terpesona, memandang(mandang) wajahmu yang manis," lantun Cinta menutup wajahnya yang semakin menghangat.


__ADS_2