Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 47


__ADS_3

Wajah Cinta dan Naru sudah semakin dekat dan bibir mereka berdua juga sudah hampir menempel namun ....


"Uhuk uhuk uhuk uhuk!"


Suara batuk yang keluar dari mulut Nando membuat bibir mereka yang sudah hampir menempel terpaku satu sama lain.


Nando segera menutup mulutnya yang sudah tak tahu akan kondisi Bosnya.


"Pasti gajiku akan dipotong sampai habis."


Mata Cinta dan Naru masih saling beradu. "Jangan mencoba untuk membuatku tak segan padamu, Gadis Bebek!" Naru berbisik tepat ditelinga tunangan palsunya.


Naru menjauhkan diri dari Cinta sementara Cinta masih diam mematung dengan ucapan yang keluar dari mulut Naru.


"Apa maksud dari tak akan segan itu? apa dia akan memarahiku? atau dia akan mengakhiri kesepakatan ini?" tanya Cinta dalam hatinya yang sudah berpikiran negatif.


Tatapan mata Naru lagi-lagi tertuju pada Nando yang sudah menyentuh bagian tengkuknya.


"Kenapa mobil ini terasa horor dari tadi? apa mungkin aku yang terlalu lebay ya?"


Naru masih menatap ke arah Nando yang mengendarai mobil.


"Dua kali kau sudah menjadi nyamuk, Nando!"


Mobil itu berhenti dan mata Cinta dibuat melebar melihat pantai yang terlihat cukup jauh dari arahnya. "Indah sekali," gumam Cinta sembari menyentu kaca mobil seakan ia tengah menggapai laut itu.


Cinta menoleh ke arah Naru. "Terima kasih Pak Bos karena sudah mengajak Asistenmu ini berlibur meskipun hanya sebentar," ujar Cinta tersenyum bahagia pada Naru.


"Ini tak gratis," sambung Naru dengan nada datar namun penuh makna.


Kening Cinta dibuat mengkerut sempurna. "Tidak gratis? Apa aku harus membayar?" tanya Cinta yang tak mengerti dengan ucapan Naru padanya.


Naru tersenyum pada Cinta. "Aku akan memberitahumu nanti," sahut Naru keluar dari dalam mobilnya.


Cinta juga buru-buru keluar dari dalam mobilnya. Gadis itu melihat ke arah pantai. "Indah sekali," gumam Cinta lagi.


Tiba-tiba tangannya terasa ada yang menggenggam dengan erat dan arah tatapan mata Cinta beralih pada tangan itu.

__ADS_1


Tangan kekar dengan urat yang mulai muncul dan terlihat kokoh bagai tembok emas yang mampu menahan terjangan apapun.


Mata keduanya akhirnya bertemu dengan perasaan yang sudah campur aduk antara bingung namun, dalam hati mereka berdua ada kepuasan tersendiri.


"Jika tanganmu tak aku genggam, aku takut kau akan hilang ditelan ombak," tutur Naru sembari tersenyum manis pada Cinta.


Naru menoleh ke arah Nando yang masih berada di dalam mobil. "Jangan lupa bawa semua barang yang ada di dalam bagasi dan jangan lupa ransel tunanganku," ujar Naru membuat jantung Cinta berdebar.


Deg deg deg


"Perasaan apa ini? kenapa pengakuan darinya mampu membuatku seperti ini?"


Naru menarik tangan Cinta menuju ke arah pantai dan kedua bola mata Cinta melihat ke arah sekeliling pantai itu namun, tak ada satupun orang yang berada di sana.


"Kenapa pantai ini begitu sepi? bukankah ini pantai yang indah dan lagi aku lihat banyak orang yang datang kemari tadi saat di jalan," cicit Cinta sembari menelusuri tiap sudut pantai itu dengan kedua bola matanya.


"Tempat ini sudah aku booking untuk dua hari," sahut Naru membuat kepala Cinta menoleh secepat kilat ke arahnya. "Jadi hanya ada kita berempat disini?" tanya Cinta pada Bosnya.


Naru hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Cinta.


"Kita lihat bagaimana pemandangan pantai ini," ajak Naru sembari menarik tangan Cinta ke arah pantai.


Setelah cukup lama berjalan ke arah pantai, Cinta sedikit mendongakkan kepalanya melihat ke arah laut dengan jarak yang lebih dekat lagi, karena ia memakai topi jadi ia harus mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat hamparan air asin itu dengan lebih jelas lagi.


"Indah sekali," ucap Cinta dengan nada kagum luar biasa.


Naru melirik Cinta yang masih fokus melihat ke arah laut.


"Aku ingin mencubit pipinya!"


Cinta tanpa aba-aba berlari ke arah tepi pantai dengan senyum yang mengembang indah. Tangan Naru ia lepas dan berlari sekencang mungkin.


Bersamaan dengan itu, ombak membentur kedua kakinya yang terlihat putih.


Celana yang ia pakai basah setengah bagian karena saking bahagianya ingin menikmati sentuhan deburan ombak pada kakinya.


Naru perlahan mulai berjalan menghampiri Cinta yang tengah memainkan kakinya di tepi pantai.

__ADS_1


"Apa kau tak pernah pergi ke pantai sebelumnya?" tanya Naru yang sudah berada di samping Cinta.


Gadis itu menoleh ke arah Naru dengan bagian wajahnya yang sebagian terkena rambut-rambut halus yang berkeliaran pada wajahnya. "Pernah, tapi tak lama karena pada waktu itu aku hanya numpang pada keluarga teman untuk berlibur," sahut Cinta pada Naru.


"Menumpang?" tanya Naru yang ingin tahu lebih lanjut cerita dari mulut Cinta.


"Iya! aku ikut keluarga temanku waktu itu karena pada saat itu ibu dan ayah tak seperti saat ini, kami hidup sederhana sampai pada akhirnya, Tuhan mengangkat derajat keluarga kami," jelas Cinta pada Naru dengan tatapan lurus ke depan tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


Naru masih menatap wajah Cinta dari arah samping dengan bagian rambut belakangnya melambai-lambai terkena terpaan angin laut.


Tangan Naru terangkat untuk membuka topi yang dikenakan oleh Cinta.


Dalam satu kali tarik, topi itu sudah lepas dari tempatnya dan si si empunya kepala melihat ke arah Naru. "Kenapa?" tanya Cinta pada Naru.


"Kau terlihat lebih cantik seperti ini," sahut Naru yang tanpa sadar memuji kecantikan seorang Cinta.


Lagi-lagi jantung Cinta dibuat berdebar.


Gadis itu berusaha menahan debaran jantungnya.


"Ini tidak benar, Cinta! hilangkan semuanya sebelum hatimu hancur menjadi butiran debu."


"Jangan merayu! bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?" tanya Cinta yang sebenarnya hanya untuk bercanda saja.


Perkataan Cinta itu berhasil membuat bagian hati Naru seperti ada sebuah kuncup bunga yang perlahan mulai mekar.


"Perasaan apa ini? kenapa ada bagian yang seperti tak bisa aku tahan untuk keluar."


Cinta dan Naru masih berada di pinggir pantai, sementara di jalan pintu masuk kawasan itu, sebuah mobil putih datang dan memarkirkan mobilnya di sebelah mobil berwarna hitam.


Mobil putih itu adalah mobil Kinan, ia keluar dari dalam mobilnya dan ia juga tak tahu jika mobil yang terparkir di sebelah masih ada orang di dalamnya.


Kinan keluar dari dalam mobilnya namun, ia masih belum sepenuhnya keluar, gadis itu mengambil koper dan beberapa barangnya di kursi penumpang karena ia berangkat sendirian tak ada yang ikut dengannya, namun anak buah ayahnya memasang dua anak buah untuk mengawal sang putri.


Saat kaki Kinan melangkah ia tak sengaja menginjak kaki seseorang yang baru keluar dari mobil hitam yang berada di sebelahnya.


Laki-laki itu terkejut langsung menarik kakinya dari heels yang dikenakan oleh Kinan dan tubuh Kinan tak seimbang membuat tubuh dokter kandungan itu terhuyung ke belakang.

__ADS_1


Beruntungnya tangan kokoh pria yang diinjak kakinya segera menyangga tubuh Kinan sampai tatapan mata keduanya tak dapat dielakkan lagi.


__ADS_2