
"Aku akan selalu ada untukmu."
Cinta melihat ke arah orang yang memeluknya dari belakang.
"Kakak!"
Cinta membalas pelukan Dio cukup erat karena hanya pria itu yang bisa mengerti perasaannya saat ini.
"Kau kenapa?" tanya Dio sembari mengusap rambut Cinta dengan gerakan lembut.
"Aku rindu kedua orangtuaku, Kak!"
Cinta berbohong pada Dio karena ia tak ingin Dio tahu jika dirinya telah memiliki perasaan pada Naru yang tak lain adalah bosnya sendiri.
"Menangislah, Sayang! keluarkan semua perasaan yang mengganjal dalam hatimu," pinta Dio semakin mendekap erat tubuh Cinta.
Isak tangis Cinta semakin menjadi dan Dio terus mengusap rambut lembut milik Cinta yang terurai.
Perlahan isak tangis Cinta mulai berkurang, hanya tersisa sesegukan yang masih melantun indah di telinga Dio.
"Apa sudah merasa lebih lega?" tanya Dio pada Cinta sembari memundurkan sedikit tubuh adiknya untuk melihat mata Cinta yang pastinya sudah sembab.
Cinta menganggukkan kepalanya dan Dio mengangkat sedikit kepala sang adik. "Matamu seperti terkena bogeman Harimau," ledek Dio agar perasaan Cinta lebih baik lagi.
BUGH
"Itu baru bogeman Harimau yang sebenarnya," ujar Cinta yang kesal pada Dio karena berani mengejeknya.
"Tidak sakit! karena Harimau betina yang memukulku, masih belum induknya," ledek Dio lagi.
Cinta melihat ke arah Dio dengan tatapan sengit. "Kak Dio!"
Cinta memundurkan tubuhnya sembari merasakan telapak kakinya sudah menyentuh air laut.
"Kau mau kemana?" tanya Dio karena Cinta memundurkan tubuhnya ke belakang.
Cinta masih diam tak merespon pertanyaan Dio.
Tanpa aba-aba, Cinta menundukkan tubuhnya dan menyiram Dio dengan air laut itu.
Kakak angkat Cinta spontan memundurkan tubuhnya ke belakang menghindari cipratan air yang dibuat oleh sang adik.
"Rasakan kau, Kak!"
Cinta terus menghujani Dio dengan cipratan air bertubi-tubi.
__ADS_1
Dio yang tak mau kalah, akhirnya ikut menghujani Cinta dengan air yang terasa asin itu.
Mandi air laut akhirnya tak terelakkan lagi. Mereka berdua basah kuyup karena permainan yang memang bisa menaikkan mood booster seseorang, apalagi orang itu tengah dalam mode galau.
Kinan dan Naru sudah selesai dengan acara masak mereka di dapur.
"Aku panggil mereka dulu ya, Kak!"
"Tidak perlu! biar aku saja! kau letakkan semua makanan yang sudah siap di atas meja makan," ujar Naru sembari membuka apronnya.
"Baiklah, Kak!"
Naru berjalan ke arah pintu keluar sembari melihat arah jam nya sudah menunjukkan pukul 13.15 menit.
Naru berjalan ke arah pintu keluar villanya namun, tak nampak dua manusia yang Naru yakini adalah sepasang kekasih. "Kemana mereka berdua?" tanya Naru pada dirinya sendiri.
Naru melangkahkan kakinya terus ke arah pantai melihat setiap sudut tempat itu, mencari keberadaan Cinta dan Dio.
Saat kedua lensa mata kebiruan Naru menangkap objek yang ia cari, tiba-tiba matanya terasa terbakar melihat adegan romantis menurut para kaum milenial.
Dio menggendong Cinta di punggungnya dengan suara Cinta yang sudah berteriak sekencang mungkin diiringi suara gelak tawa.
Dio membawa Cinta berlari di tepi pantai dengan tangan Cinta yang terlentang ke atas menikmati angin pantai yang begitu sejuk.
Rahang Naru mulai mengeras dengan wajah yang mulai memerah. "Kenapa udara disini panas sekali," gumam Naru pada dirinya sendiri.
Naru mulai melangkahkan kakinya ke arah Cinta dan Dio.
Pria itu mencoba melangkahkan kakinya sekuat tenaga untuk mencapai arah pantai karena kaki Naru terasa sangat kaku sekali untuk mendekati Cinta dan Dio.
"Kau bisa, Naru! kau pasti bisa!"
Chef Yunani tersebut terus meyakinkan dirinya jika ia bisa menghampiri Cinta dan Dio.
Saat jarak mereka sudah semakin dekat, jantung Naru terpacu begitu kencangnya.
"Kenapa jantungku terasa ingin keluar seperti ini? padahal hanya ingin menghampiri mereka berdua saja."
Cinta dan Dio masih asyik dengan permainan mereka. Saat Naru sudah berjarak sangat dekat dengan keduanya, suara bariton putra dari William dan Zinnia itu terdengar menggelegar di telinga Cinta.
"Cinta!"
Dio yang masih berlari kecil menggendong Cinta di punggungnya, akhirnya menghentikan aktivitasnya.
Cinta dan Dio menoleh bersamaan ke arah Naru yang sudah berdiri menatap ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Cinta mulai turun dari punggung sang kakak. "Ada apa?" tanya Cinta sedikit dingin pada Naru.
"Makanannya sudah siap," sahut Naru masih menatap ke arah Cinta dan Dio bergantian.
"Kenapa aku jadi kesal kembali saat melihat wajahnya," gumam Cinta dalam hati.
"Kau makan saja dulu sana!"
Cinta secara tak langsung menolak ajakan Naru.
"Kau belum makan siang, kan?" tanya Naru mencoba membujuk Cinta agar mau makan bersama.
"Aku masih kenyang!"
Lagi-lagi suara Cinta terdengar ketus pada Naru.
Gejolak dalam diri Naru tiba-tiba saja mulai naik sedikit demi sedikit namun, pria itu masih bisa menahannya.
"Kau harus makan, Cinta!"
Naru kembali membujuk Cinta. " Tidak! aku makan dengan kak Dio saja nanti! iya kan, Kak?" tanya Cinta memeluk lengan Dio dengan sengaja.
"Kau pikir hanya dirimu yang bisa bermesraan? Heh, aku juga bisa bermesraan dengan Kakakku tersayang!"
Denyut jantung Naru semakin terpacu lebih cepat lagi. Pria itu berjalan ke arah Cinta dan Dio dengan langkah kaki seribu.
Saat sudah tepat berada di depan mereka, Naru tersenyum pada Dio dengan senyuman yang super manis. "Maaf sebelumnya, saya izin membawa kekasih anda untuk makan terlebih dulu karena dia adalah partner saya untuk mendapatkan hati gadis yang saya cintai," ujar Naru padahal itu hanya bualannya saja karena Naru merasa tak suka melihat Cinta terlalu dekat dengan Dio.
Cinta melotot ke arah Naru. "Tidak mau! aku masih ingin disini!"
"Pilih potong gaji atau ikut makan bersama?" tanya Naru pada Cinta.
Dio mengerti permasalahan diantara keduanya. Pria itu tersenyum pada Cinta sembari mengusap puncak kepala sang Adik. "Kau ke dalam saja! aku juga akan ikut denganmu," bujuk Dio agar Cinta mau makan bersama.
Bibir Cinta sudah dimajukan ke depan. "Iya, Kak!"
Cinta melepaskan genggaman tangannya pada lengan Dio dan berjalan ke arah villa diikuti oleh Naru yang masih kesal dengan Cinta karena telah berani bermesraan di hadapannya sekaligus menolak ajakan makan siangnya.
Naru menarik tangan Cinta dari belakang sampai tubuh gadis itu terlonjak ke belakang. "Apa sih!"
Wajah Cinta sudah terlihat marah karena Naru tiba-tiba menarik tangannya. "Jika kau membantah lagi, aku pastikan gajimu hangus," ancam Naru tersenyum manis, kemudian pergi mendahului Cinta ke arah villa.
Gadis itu melihat ke arah Naru dengan tatapan penuh kekesalan. "Dasar pria pemaksa yang kaku!"
Dio merangkul adiknya sembari berkata, "Sudah marah-marahnya, nanti kau cepat tua," goda Dio dan Cinta hanya memanyunkan bibirnya ke depan tanpa menjawab sepatah kata pun.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan masuk ke arah villa.