Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 46


__ADS_3

Cinta dan Naru sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Nando.


"Apa kalian terkena hujan!" tanya Nando pada kedua sejoli itu.


"Apa kau tak bisa melihat, jika aku dan Cinta sudah basah begini," sahut Naru dengan nada dingin.


Bulu kuduk Nando seakan berdiri tegak memberikan hormat.


"Kenapa mendadak jadi merinding begini ya? apa jangan-jangan ada arwah yang mengikutiku dari perjalanan saat kemari?"


Nando menyentuh tengkuknya yang sudah merasa tak nyaman.


"Maaf, Bos! saya terlambat karena tadi saat perjalanan menuju kemari macet total, Bos!" Nando berusaha menjelaskan pada Naru.


Arah tatapan mata Naru tertuju pada kaca spion tengah dimana sorot mata kebiruannya menajam ke arah pantulan wajah Nando yang tengah asik menyetir.


"Aku malah lebih suka kau tak datang, Do! kau membuatku ingin mengamuk saja!"


"Tidak apa-apa, Mas Nando! bukan salah Mas Nando, kok!" Cinta menimpali.


"Apanya yang bukan salah dia! jelas-jelas itu salah dia yang datang tak tepat waktu," cecar Naru dengan suara super ketus.


"Seharusnya kau datang sesudah bibirku dan Cinta menem ... ah, aku ini kenapa bisa sekesal ini, sih!"


PLAKKK


Cinta memukul paha Naru cukup keras, sampai Nando yang fokus menyetir mengintip dari arah kaca spion tengah.


"Kau ini apa-apaan, sih! dia sudah minta maaf, kan?" Cinta menajamkan matanya ke arah Naru.


"Tapi dia tetap salah karena sudah membuatku menunggu lama sampai kita berdua kehujanan begini," cecar Naru kembali.


"Kau tak akan meleleh meskipun kau kehujanan semalaman, kan?" Cinta kembali menyerang Naru.


"Yang ada aku sakit, bukan meleleh," kesal Naru menyanggah kepalanya dengan posisi kepala miring ke arah kaca mobil di sampingnya.

__ADS_1


Nando ingin sekali tertawa melihat tingkah kekanakan Naru.


"Maklumi sajalah! dia kan biasanya tak pernah bersikap semanja ini pada perempuan, yang dia tunggu hanya, Dokter Kinan!"


"Kau bisa diam tidak!" Cinta melotot ke arah Naru, sementara Naru hanya fokus ke arah samping melihat ke arah luar kaca mobil. "Ini sudah diam!"


Cinta memutar bola matanya jengah. "Dasar pemarah," gumam Cinta dan telinga Naru yang memang memiliki satelit jitu dapat mendengar gumaman sekecil apapun.


"Apa kau bilang tadi?" tanya Naru memantapkan posisinya menghadap ke arah Cinta. "Aku tidak berkata apa-apa," kilah Cinta menurunkan topi bagian depannya dengan kepala bersandar pada sandaran kursi penumpang.


"Bohong! kau mengatai diriku pemarah, kan?" tanya Naru lagi.


"Tidak!"


Naru yang sudah sampai pada batas kesabarannya tanpa ba-bi-bu langsung menarik topi yang menutupi wajah Cinta.


Saat Naru ingin mengumpat sesuka hatinya, ternyata mata Cinta sudah terpejam. "Hei! jangan pura-pura tidur kau! aku tahu kau hanya berakting, kan?"


Naru mulai menusuk-nusuk pipi Cinta berkali-kali untuk memastikan namun, gadis itu tak menggubris keusilan Naru.


Nando segera menurunkan kaca spion tengah dan ia menghadap lurus ke depan bagai patung.


"Pasti akan ada hal yang tak patut aku lihat ini," batin Nando.


"Jangan lupa! anggap saja kau tak mendengar apapun!"


Tangan Nando yang tengah fokus menyetir dibuat seketika menjadi kaku karena ucapan Naru seperti sebuah celurit yang kapan saja bisa menebas lehernya.


"Aktifkan mode tulimu menjadi 100 persen, Nando! anggap saja kau sekarang berada di hutan antah-berantah yang tak berpenghuni."


Naru kembali mencolek pipi Cinta namun, gadis itu masih saja tak memberikan respon apapun terhadap kejahilannya.


Naru sedikit mendekat ke arah Cinta, pria itu mulai tersenyum sembari berkata, "Aku tahu kau belum tidur."


Cinta masih belum mau membuka matanya, gadis itu lebih memilih tetap memejamkan matanya seakan ia terlelap tidur.

__ADS_1


Raut wajah Naru mulai terlihat kesal, pria itu sepertinya akan melakukan sesuatu yang bisa membuat gadis itu mau membuka matanya.


"Jika kau tak membuka matamu, maka aku akan menciummu di mobil ini," ancam naru dengan suara tegasnya tanpa terdengar main-main.


Cinta masih memejamkan matanya, gadis itu masih terlihat santai tanpa rasa takut atau panik sedikitpun dan hal itu membuat Naru semakin kesal pada Cinta.


"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan, aku sungguh akan benar-benar menciummu," ancam Naru sekali lagi, agar Cinta mau membuka matanya karena Naru tahu, jika Cinta tidak benar-benar tidur melainkan gadis itu hanya memejamkan matanya saja.


Naru mulai mendekatkan tubuhnya ke arah Cinta dengan wajah yang lebih condong kedepan, mengarahkan bibirnya pada bibir Cinta namun, saat jarak keduanya sudah bisa diukur dengan tiga jengkal tangan, Cinta tiba-tiba membuka matanya menatap kedua manik mata kebiruan milik Bosnya yang tak lain adalah tunangan palsunya.


Gerakan tubuh Naru spontan berhenti saat ia tahu jika Cinta sudah membuka matanya. "Mau apa?" tanya Cinta pada Naru dengan raut wajah datar namun, tangan gadis itu sudah menahan dada Naru yang tadinya semakin dekat dengannya.


"Aku mau menciummu," tutur Naru blak-blakan tanpa ada yang ia tutupi.


Cinta tersenyum manis pada Naru. "Apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku?" tanya cinta sembari mengerlingkan sebelah matanya pada Naru.


"Gadis ini nampaknya ingin bermain-main denganku! baiklah, aku akan mengikuti permainanmu, Gadis Bebek!"


Naru sedikit memajukan wajahnya, meskipun dadanya sudah ditahan oleh tangan Cinta. Pria itu tersenyum sangat manis sampai Cinta salah fokus pada senyuman Bosnya. "Bagaimana jika aku bener-bener sudah jatuh cinta padamu?" tanya Naru pada Cinta.


Deg deg deg


Jantung Cinta mulai bertalu-talu, gadis itu merasa kedua pipinya mulai sedikit menghangat dan ia tahu, jika pipinya saat ini mungkin sudah bersemu merah.


"Tidak, Cinta! hentikan pemikiran konyolmu itu! ini tidak benar! dia tidak mungkin serius dengan perkataannya, dia hanya ingin membuatmu malu, jadi kau harus membalasnya."


Arah tatapan mata Cinta tertuju pada bibir Naru, gadis itu tersenyum simpul sembari beralih menatap ke arah lensa kebiruan milik Bosnya. "Jadi kau sungguh sudah mulai mencintaiku?" tanya Cinta balik pada Naru.


Cinta mulai bertindak nakal dengan tangan yang menyusuri dada bidang tunangan palsunya. Gadis itu ingin membuat kedua pipi Naru juga ikut bersemu merah.


"Kau sudah membuat pipiku bersemu merah, jadi kali ini, aku akan membalasmu! skor kita harus satu sama, Chef Kaku!"


Cinta dan Naru asyik bergulat dengan permasalahan mereka berdua, sementara Nando yang berada di depan sudah berkeringat dingin mendengar percakapan kedua sejoli itu.


"Tuhan! jangan cemari gendang telinga hambamu ini dengan percakapan mereka. Kasihanilah umatmu yang masih jomblo sejati ini, Tuhan!"

__ADS_1


Nando menangis meraung-raung dalam hatinya. Assisten pribadi Naru itu saat ini menangis dalam diam sembari mengaktifkan mode tulinya kembali.


__ADS_2