
Ciuman yang berlangsung beberapa menit itu akhirnya terlepas.
Kening mereka berdua masih menyatu dengan napas yang sama-sama masih memburu.
"Jangan pernah pergi dariku," gumam Naru dan kata-kata tersebut sukses membuat mata Cinta menatap kedua mata Naru.
Pria itu kini berjongkok tepat di hadapan Cinta, dimana tangan Naru sudah melingkar di pinggang sang gadis dengan kepala yang ia letakkan tepat di paha Cinta.
Cinta mengusap-usap rambut lebat sang pujaan hati.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Cinta di sela-sela usapan lembut tangannya membelai rambut hitam milik Naru.
Naru menegakkan kembali kepalanya dengan posisi tangan yang masih sama.
"Karena aku jatuh cinta pada seorang gadis yang sudah memiliki kekasih," jelas Naru dengan senyum sumbangnya.
Cinta ingin sekali tertawa namun, ia mencoba menahannya. "Jadi kau berpikir aku akan meninggalkanmu dan bersama dengannya? atau mungkin kau berpikir, aku hanya ingin bermain-main saja denganmu," tebak Cinta.
Naru menatap kedua manik mata Cinta serius. "Ya, karena dia yang lebih dulu berada di dalam hatimu, pasti ...."
Cinta tersenyum sembari menundukkan kepalanya, menjangkau kedua pipi kekasihnya dengan kedua tangan lentiknya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? yang pertama belum tentu menjadi yang terakhir, bukan? sama halnya seperti dirimu yang lebih dulu mencintai dokter Kinan daripada aku, tapi aku tak ada pikiran kau hanya berpura-pura memilihku karena aku bisa melihat semua kesungganmu dari matamu dan perlakuanmu padaku, jadi jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu," jelas Cinta mengecup bibir Naru sekilas.
Cup
Dada Naru terasa sangat lega karena penjelasan yang Cinta lontarkan padanya.
"Apa kau sangat mencintaiku?" tanya Naru.
"Kenapa kau masih bertanya seperti itu?" tanya balik Cinta.
"Aku butuh jawaban, bukan pertanyaan," protes Naru dengan wajah yang sudah menunduk pertanda ia sedang merajuk.
Cinta sungguh tak habis pikir, ternyata pria yang menaklukkannya bisa bersikap semanja ini, padahal Naru terkenal pria paling dingin se Antero dunia perdapuran.
Cinta menarik sedikit dagu Naru ke atas, agar pria itu dapat menatapnya. "Satu hal yang harus kau tahu dan harus kau ingat selama hidupmu ... kau pria pertama dan terakhir yang berada di dalam sini," jelas Cinta menyentuh dadanya.
Naru melihat ke arah tangan Cinta. "Jadi kau tak mencintainya?" tanya Naru kebingungan.
"Aku sangat mencintainya, tapi kau prioritas utamaku," jelas Cinta ambigu membuat Naru tambah kebingungan.
"Jadi kau tetap akan bersama dengannya?" tanya Naru dengan nada suara lemahnya.
__ADS_1
Cinta tersenyum ke arah kekasihnya. "Jangan bahas itu lagi, kita bahas yang lain saja, nanti kau juga akan tahu sendiri," kilah Cinta yang sengaja ingin membuat Naru semakin penasaran.
Naru menatap kedua mata Cinta dan beralih ke arah bibirnya. "Aku akan egois untuk kali ini, terserah kau ingin tetap bersamanya atau tidak, yang jelas benda ini hanya boleh aku yang menyentuhnya," ultimatum Naru sembari menyentuh bibir lembut Cinta dan parahnya gadis itu malah memejamkan matanya menikmati sentuhan Naru.
Naru tersenyum kala Cinta merespon sentuhan hangatnya.
Naru bergerak mendekat ke arah bibir Cinta dan kini wajah mereka sudah sangat dekat namun, mata Cinta masih tertutup menikmati belaian lembut jemari Naru.
Saat mata gadis itu sudah seutuhnya terbuka, Cinta sedikit terkejut.
"Apa ...."
"Aku menginginkannya lagi," sambung Naru membuat bibir Cinta mengukir sebuah senyuman.
"Apa kau sudah mulai ketagihan, Sayang!" Cinta sedikit menggoda Naru dengan panggilan barunya.
"Kau memanggilku dengan sebutan apa?" tanya Naru pura-pura tuli, padahal telinganya dengan sangat jelas mendengar kata sayang dari mulut Cinta.
Cinta mendekatkan bibirnya ke arah telinga Naru. "Sayang!"
Tubuh Naru seakan ingin meledak kala hembusan napas Cinta mulai meliuk di sekitar daun telinganya.
Gadis itu sedikit memundurkan wajahnya dan akhirnya tatapannya bertemu dengan kedua manik mata kebiruan Naru.
Cup
Cinta tersenyum sembari ingin menimpali perkataan Naru, "Sa-"
Belum juga Cinta selesai berucap, Naru sudah lebih dulu mendorong tubuh Cinta menempel pada sandaran kursi dengan bibir yang sudah memakan habis benda kenyal milik sang gadis.
Cinta yang ingin menyenangkan Naru, akhirnya perlahan mulai menggerakkan bibirnya membalas tiap kecupan dan cecapan yang Naru layangkan padanya.
Admosfer rungan itu terasa begitu panas kala Naru mulai menggigit bibir Cinta dan mau tak mau, gadis itu membuka mulutnya dan alhasil, lidah tak bertulang milik sang pria memporak-porandakan seisi di dalamnya.
Setelah cukup lama melakukan ciuman itu, Cinta melepaskan pangutan mereka lebih dulu.
"Kenapa dilepas?" tanya Naru yang nampak masih kurang bermain dengan benda lembut sang gadis.
"Bibirku rasanya mulai bengkak, kau terlalu bersemangat," rajuk Cinta merengut.
Bukannya merasa bersalah, Naru justru tertawa. "Salahmu sendiri, kenapa bibirmu senikmat itu," terang Naru blak-blakan.
Cinta mencubit pinggang Naru cukup keras. "Kau pikir makanan bisa terasa nikmat," kesal Cinta.
__ADS_1
Naru berdiri dan menarik Cinta ke dalam pelukannya. "Sepertinya ciuman hari ini sudah cukup, kita lanjutkan besok ya," goda Naru membuat kepala Cinta menggeleng sempurna.
"Kenapa?" tanya Naru.
"Takut bibirku semakin bengkak, nanti aku disangka disengat lebah gila."
Cinta menengadahkan wajahnya menatap ke arah Naru. "Aku keluar ya? nanti yang lain curiga aku berlama-lama disini."
"Tapi aku masih ingin bersamamu," tolak Naru.
"Masih ada besok, 'kan?"
"Rindunya sekarang, bukan besok," kilah Naru lagi.
Cinta menjinjitkan tumitnya dan melahap habis bibir Naru, dengan senang hati pria itu menerima hidangan yang sudah disediakan gadisnya.
Setelah ciuman itu terlepas, Cinta berujar, "Aku keluar ya?" mata Cinta berkedip manja pada Naru, agar ia diizinkan bekerja lagi.
"Baiklah, dan ingat! jangan dekat dengan Zayn karena semua yang ada pada dirimu adalah milikku," terang Naru dan Cinta mengangguk patuh.
Naru tersenyum masih mendekap sang kekasih. "Aku mencintaimu!"
Cinta tersenyum dan memeluk tubuh Naru erat. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"
Mereka berdua saling mendekap satu sama lain.
"Aku keluar dulu ya," pamit Cinta melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu keluar namun, sebelum handel pintu itu terbuka, Naru berlari ke arah Cinta dan menarik tangan sang gadis.
Cup
Kecupan di kening sudah mendarat.
Cup
Kecupan di ujung hidung sudah mendarat.
Cup cup cup
Tiga kecupan mendarat tepat di bibir Cinta.
"Selamat bekerja, Sayang!"
Wajah Cinta bersemu merah dan akhirnya gadis itu memilih langsung keluar dari ruangan Naru karena ia tak ingin bibirnya bertambah mengembang seperti ikan buntal.
__ADS_1
Naru tersenyum sembari menyentuh bibirnya yang sedari tadi sudah melahap bibir Cinta tanpa henti. "Kenapa aku menginginkannya lagi," gumam Naru berjalan ke arah kursi kebesarannya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi tersebut dengan senyum yang tak kunjung pudar.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘