Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 72


__ADS_3

Kringggggggggggg


Jam menunjukkan tepat pukul 4 pagi.


Seorang gadis tengah mencoba memaksa indera penglihatannya untuk tetap terbuka. Mata gadis itu masih terus berkedip-kedip menyelaraskan penglihatan dan pikirannya agar kembali fokus.


Cinta bangun dengan langkah gontai ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri bersiap melaksanakan dua rakaat.


Setelah selesai dengan kewajibannya, gadis itu sudah mengenakan bajunya yang masih tersisa satu set di dalam ranselnya.


"Jam 6 aku akan pulang ke rumah untuk berganti seragam kerja," gumam Cinta menarik resleting ranselnya sampai tertutup sempurna.


Gadis itu melihat ke arah jam tangannya dan waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi.


"Masih pagi sekali," gumam Cinta lagi.


Senyum gadis itu terukir kala ide cemerlang terlintas dalam benaknya.


Cinta segera bergegas ke arah dapur rumah mewah tersebut. Saat alas kaki Cinta sudah menapak pada dapur cantik rumah Naru, Cinta terkejut ternyata para pelayan sudah melakukan pekerjaan mereka.


Cinta masih diam tak bersuara. Gadis itu masih berdiri diambang pintu masuk dapur.


Seorang pelayan tak sengaja menoleh ke belakang karena ia ingin mengambil sesuatu di meja bar. "Sudah bangun, Nona?" sapa pelayan itu dan Cinta tersenyum manis membalas sapaan pelayan tersebut.


Perlahan kaki Cinta melangkah ke arah pelayan tadi yang menyapa dirinya. "Apa saya boleh membantu?" tanya Cinta pada pelayan itu.


"Tak perlu, Nona! apa ada makanan yang Anda inginkan? biar kami yang membuatnya," tolak halus pelayan tersebut.


"Tidak ada makanan yang aku inginkan, aku hanya ingin membuat makanan untuk ... calon suamiku," jelas Cinta membuat para pelayan yang terhitung 3 orang di dapur itu menoleh ke arah Cinta secara bersamaan.


Mereka bertiga tercengang dengan kata 'suamiku' dari mulut Cinta karena mereka semua yang berada di rumah itu sudah mengurus tuan mudanya cukup lama dan sekarang tuan mudanya sudah akan memiliki pendamping hidup.


Cinta ikut terdiam melihat respon para pelayan Naru.


"Apa aku salah bicara ya?"


"Biarkan Nona memasak untuk Tuan muda," sambung seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Sam.


Ketiga pelayan itu membungkukkan tubuhnya, mereka mengerti akan maksud Pak Sam, sementara Cinta menoleh ke arah Pak Sam sembari tersenyum.


"Nona bisa membuat makanan untuk tuan muda," jelas Pak Sam pada Cinta.


Para pelayan hendak pergi dari dapur itu namun, suara Cinta mengurungkan niat mereka bertiga. "Kalian mau kemana?" tanya Cinta penasaran.


"Mereka sudah selesai dengan pekerjaannya, Nona!" sahut Pak Sam mewakili ketiga bawahannya.


Cinta melihat ke arah kompor dan benar saja terlihat dua panci sudah mengeluarkan kepulan asap dari dalam.


Cinta melihat ke arah ketiganya dan menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga yang paham segera melangkah pergi dari dapur itu.


Cinta kembali beradu pandang dengan Pak Sam. "Biasanya Naru sarapan apa, Pak?" tanya Cinta pada Pak Sam.


"Tuan muda hanya sarapan roti saja, Nona!"


"Hanya itu saja?" tanya Cinta lagi.


"Iya, Nona!"


Cinta melihat ke arah makanan yang beraada di dalam panci dengan asap mengepul dari dalam panci tersebut.


Pak Sam yang paham akan kebingungan seorang calon nyonya mudanya tersenyum. "Itu masakan untuk semua pekerja di sini," jelas Pak Sam pada Cinta.


"Jadi bukan untuk, Naru?" tanya Cinta kembali.


"Bukan, Nona! tuan memang meminta pada para pelayan agar semua pekerja sarapan pagi di jam yang sama dengan beliau," jelas Pak Sam.


"Sarapan bersama dimana?"


"Di paviliun belakang karena kami semua tinggal di sana."


"Kaya sekali ternyata dia, pekerjanya saja ada paviliun untuk tempat tinggal."


"Apa aku boleh membuat roti bakar untuknya pagi ini? bukankah Pak Sam bilang, jika Naru biasa sarapan roti, 'kan?"


"Tentu saja boleh, Nona!"

__ADS_1


Cinta tersenyum riang dan segera menelisik tiap sudut ruangan dapur itu, mencari keberadaan toaster untuk melancarkan aksinya.


Pak Sam berbalik dan seketika ia terkejut karena tuannya ternyata sudah berdiri di ambang pintu masuk dapur.


Jari telunjuk Naru lagi-lagi bekerja untuk memerintah agar kepala pelayan rumahnya itu diam tak bersuara dan Pak Sam mengangguk langsung keluar dari ruangan tersebut.


Naru masih diam di ambang pintu melihat Cinta yang bergulat dengan toaster dan roti tawar untuk proses pemanggangan rotinya.


Setelah selesai dengan toaster dan roti tawarnya. Cinta beralih ke lemari pendingin, ia mencari keberadaan kismis.


Setelah cukup lama mencari, akhirnya buah yang sekali masuk ke dalam mulut itu langsung lumer, di dapatkan oleh Cinta.


Setelah topping utama ditemukan, kini tinggal bahan tambahan lainnya yaitu butter dan madu.


Cinta mencari di meja bar dan ternyata dua bahan itu berada di sana. "Akhirnya ketemu juga," gumam Cinta melihat ke arah rotinya yang sudah mengacung indah dengan warna kecoklatan yang menambah kesan crunchy pada roti tersebut.


Gadis itu membawa bahan-bahan tadi ke arah meja kabinet dimana roti panggannya masih berada dalam toaster.


Cinta mengambil piring dan meletakkan dua buah roti itu di atasnya.


Cinta mulai mengolesi butter di salah satu sisi roti panggang tersebut, kemudian gadis itu menaburkan kismis diatas olesan butter tadi.


Tanpa Cinta sadari, Naru sudah mengendap-endap berjalan ke arahnya.


Tangan Naru sudah bertumpu pada meja kabinet atas mengurung Cinta di tengah-tengahnya.


"Sedang apa kau, Nona?" tanya Naru sembari menyandarkan dagunya tepat di bahu sang asisten.


"Astaga! kau ini ya!"


Cinta yang awalnya terkejut segera meredam semua rasa ketakutannya itu agar ia bisa kembali fokus melakukan pekerjaannya yang sempat terjeda karena keusilan si pemilik rumah.


"Dari wanginya, sepertinya enak," bisik Naru.


"Semoga saja," sahut Cinta sekenanya.


"Kenapa begitu?" tanya Naru melihat ke arah Cinta yang masih sibuk dengan rotinya.


"Karena ini eksperimen pertamaku," jawab Cinta cekikikan.


"Awas saja tidak enak ya!"


Setelah semuanya tersusun rapi, Cinta mencari sesuatu. "Apa yang kau cari?" tanya Naru.


"Aku lupa mengambil blueberry dan strawberry di kulkas, apa kau bisa membantuku?" tanya Cinta masih tak melihat ke arah Naru.


"Apa hadiah yang akan aku terima?" tanya Naru membuat Cinta sukses menghadap ke arahnya.


Dua mata mereka saling sorot satu sama lain, memancarkan aroma-aroma bunga bermekaran di pagi hari.


"Apakah itu harus?" tanya Cinta memastikan.


"Harus bin wajib," sahut Naru yakin.


"Terserah kau saja," ujar Cinta sekenanya.


Tanpa gadis itu sadari, ucapannya pasti akan menjadi bencana untuknya.


Naru tersenyum bahagia. "Baiklah! tugas akan segera dilaksanakan."


Naru segera berjalan ke arah lemari pendingin mengambil blueberry, strawberry, dan daun parsley sebagai pemanis.


"Ini pesanan Anda, Nona!"


"Terima kasih, Chef!"


Cinta meletakkan semua garnish itu di atas roti bakar tersebut, kemudian lelehan madu menyirami buah-buahan yang nampak terlihat segar dan siap disantap.


Sebelum itu, Cinta sudah memindahkan roti bakar hasil karyanya ke atas piring saji yang cantik dengan madu di buat zig-zag sebagai saus di atas piringnya.


"Sudah siap! silahkan dicoba," pinta Cinta pada Naru yang masih setia dengan posisi tadi.


"Boleh kau yang menyuapi?" tanya Naru ragu-ragu karena ia takut Cinta menolak permintaannya.


Respon Cinta di luar dugaan, ternyata gadis itu malah tersenyum dengan tangan yang mengambil dua alat makan, yaitu garpu dan pisau untuk memotong roti tersebut.

__ADS_1


Cinta memotong secara perlahan roti itu dan menusuknya dengan garpu.


Tubuh gadis itu sedikit menghadap ke arah Naru. "Aaaaak! buka mulutmu," pinta Cinta.


Naru dengan senang hati melahap sarapan buatan tunangan palsunya sekaligus asistennya. "Enak! rasanya pas! ada rasa manis dari madu dan kismis dan ada rasa kecut dari strawberry, rasa segar dari blueberry-nya, rasa crunchy dari rotinya, perpaduan yang pas," puji Naru membuat mata Cinta berbinar.


"Benarkah sebegitu enaknya?" tanya Cinta memastikan lagi.


"Hmm!"


Kebahagiaan yang meluap membuat Cinta reflek memeluk Naru.


"Baru kali ini makananku langsung dinilai oleh seorang Chef seperti dirimu," gumam Cinta masih dengan raut wajah tersenyum.


Naru yang awalnya tersentak seketika menarik senyumnya membalas pelukan Cinta.


Tangan pria itu sudah membelit pinggang ramping Cinta dan kedua tangan Cinta juga sudah melingkar indah di leher Naru yang masih memegang garpu.


"Kalau boleh jujur, sebenarnya masih kurang satu lagi," celetuk Naru membuat Cinta memundurkan sedikit tubuhnya melihat ke arah wajah Chef Yunani tersebut. "Kurang apa?" tanya Cinta.


"Imbalanku yang kurang," sahut Naru tersenyum simpul pada Cinta.


"Apa yang kau inginkan?"


"Yakin kau bisa memenuhinya?" tanya Naru tak yakin.


"Yakin! cepat katakan! ini sudah hampir jam 6 pagi, kita harus segera berangkat ke resto," desak Cinta karena ia tak mau terlambat berangkat bekerja, meskipun pemilik restonya masih bersamanya saat ini.


Naru mendekatkan wajahnya ke arah Cinta. "Cium aku!"


Tubuh Cinta berhasil menegang karena permintaan mustahil yang keluar dari bibir Naru. "Ci-cium?" tanya Cinta gugup.


"Hmm!"


"D-di pipi, 'kan?"


"Bukan, tapi di sini," tunjuk Naru ke arah bibirnya.


Mata Cinta berhasil melebar. "Tapi ... aku ...."


"Kau harus menepati janjimu, Nona!"


Cinta menjinjitkan kakinya agar dapat menggapai bibir Naru namun, saat kedua napas mereka sudah saling bersahutan, Cinta menjedanya.


"Apa aku boleh melakukan hal ini?" tanya Cinta dalam hati.


Naru masih diam menunggu tindakan apa lagi yang akan Cinta lakukan, karena cukup lama menunggu, akhirnya pria itu menyatukan keningnya ke arah kening Cinta. "Aku tak akan memintanya sekarang, hadiahku akan aku tagih, jika kau benar-benar sudah siap," jelas Naru membuat kedua mata mereka bertemu satu sama lain.


"Pria ini benar-benar sabar menghadapiku, dia pasti tahu jika aku tak bisa melakukan hal itu sekarang."


Cinta mengangguk sembari tersenyum pada Naru. "Sebelum kau menagih janji itu, aku akan memberikan kompensasi di awal, sisanya tunggu aku siap," jelas Cinta mendekatkan wajahnya ke arah Naru dan ....


Cuppp


Kecupan cukup lama mendarat di samping bibir Naru dan hanya tersisa satu senti saja untuk menyentuh bibir pria tampan bermata kebiruan itu.


"Selamat sarapan, Chef!"


Cinta melepaskan pelukannya meletakkan garpu di atas piring roti bakar tadi dan berjalan ke arah pintu keluar.


Naru yang masih syok akhirnya tersadar dan berteriak, "Seragammu sudah ada di kamarmu, cepat ganti baju karena kita akan berangkat," pinta Naru.


"Siap, Calon Suami!"


Deg deg deg


Debaran jantung Naru tak dapat di elakkan lagi.


"Ada apa ini? kenapa dadaku rasanya penuh dengan hantaman ombak dan pasti akan ada stunami setelah ini," gumam Naru menyentuh dadanya yang masih berdebar.


"Pak Sam!"


"Iya, Tuan Muda!"


"Aku ingin memakan roti bakar ini di resto, jadi tolong masukkan ke dalam kotak bekalku," titah Naru seraya berjalan pergi dari dapur penyebab ombak besar yang melanda jantungnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Jangan lupa vote, like, gift, dan komentarnya ya Kakak readers 🥰🥰🥰


__ADS_2