
"Kau serius kita akan naik satu mobil dengan kambing ini?" tanya Naru pada Cinta dan gadis itu hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya penuh semangat.
Naru melihat ke arah para kambing yang berada di atas mobil pickup tersebut.
"Belum naik saja sudah baunya minta ampun! apalagi jika sudah berada diantara mereka."
Cinta menyentuh telapak tangan Naru yang masih fokus dengan pikirannya sendiri. "Aku jamin pasti kau akan ketagihan naik mobil pickup ini," tutur Cinta menggenggam erat tangan Naru.
Mata Chef Kaku itu mengarah pada telapak tangan gadis yang berada di sampingnya.
Naru kembali melihat ke arah wajah Cinta. "Tapi bau, Cinta!" Naru kembali menolak secara halus.
Cinta tersenyum pada Naru. "Kau tenang saja! karena aku ada penangkalnya," ujar Cinta membuka resleting depan ranselnya dan mengambil sebuah botol parfum.
"Untuk apa itu?" tanya Naru mengerutkan keningnya.
"Kau lihat saja!" Cinta memberikan ranselnya pada Naru.
Gadis itu mulai membuka tutup botol parfum itu dan mulai menyemprotkan parfum tersebut pada tubuhnya dari mulai rambut sampai batas bajunya.
Setelah selesai, Cinta meletakkan kembali parfum itu pada ranselnya dan memakai kembali ransel tersebut.
Naru diam melihat tingkah Cinta yang menurutnya konyol.
"Nanti pasti tak akan bau lagi! ayo naik!" Cinta menoleh ke arah teman dari si sopir tadi. "Maaf ya, Pak!"
Cinta meminta maaf karena bapak itu menunggu dirinya dan Naru yang akan naik karena bapak itu yang bertugas membuka penutup pickup tersebut.
Tanpa pikir panjang, Cinta langsung menarik tangan Naru menuju arah pickup.
Naru mengerutkan sedikit hidungnya karena bau dari kambing itu sungguh sangat menyengat indera penciumannya.
Cinta naik lebih dulu. "Ayo naik?" Cinta meminta Naru untuk naik. "Tapi ...."
Cinta mengulurkan tangannya agar Naru mau naik ke pickup itu. "Keburu hujan," jelas Cinta pada Bosnya.
__ADS_1
Naru melihat ke arah bapak yang tadi dan bapak itu tersenyum pada Naru. "Aden naik saja! kasihan tunangannya jika kelamaan, keburu hujan, Den!"
Naru tersenyum kikuk pada bapak itu dan arah tatapan mata Naru beralih pada Cinta. "Kau harus membayar untuk ini, SAYANG!" Naru tersenyum simpul pada Cinta.
"Mem ...." ucapan Cinta terhenti kala Naru menggenggam tangannya erat dan mulai naik ke atas mobil pickup tersebut.
Bapak yang bertugas menutup pembatas bak pickup itu sudah melakukan pekerjaannya namun, sebelum bapak itu benar-benar pergi, beliau masih sempat-sempatnya menggoda kedua sejoli yang menurutnya masih dalam masa wangi-wanginya. "Biasanya jika pasangan yang masih hangat-hangatnya seperti kalian berdua ini, bau kambing bisa seperti wangi bunga mawar loh."
Bapak itu berjalan masuk mobil kembali ke tempatnya, sementara Cinta dan Naru saling tatap, kemudian senyum diantara keduanya tercipta. "Memangnya terasa wangi bunga mawar ya?" tanya Cinta pada Naru dan Naru langsung menanggapinya. "Mana ada! yang ada bau kambing," sangkal Naru dengan tegas membuat tawa Cinta pecah.
"Hahaha! yang merasa bau kambing ini menjadi wangi bunga mawar, pasti hidungnya minta di cocol saus sambal," celetuk Cinta membuat Naru ikut melepaskan tawanya.
Saat mereka berdua asyik tertawa, tiba-tiba mobil pickup itu mulai bergerak dan kedua anak manusia beda jenis tersebut tak ada persiapan apapun, hingga tubuh keduanya menempel satu sama lain, bahkan kedua tangan Cinta berada tepat di dada bidang Naru.
Tangan Naru spontan berpegang pada pembatas pickup itu dan beruntungnya pembatasnya cukup tinggi sehingga tubuh Naru menempel pada pembatas tersebut karena tubuh Cinta membentur dada bidang Naru.
Tatapan kedua insan itu kembali bertemu dalam satu rasa, yaitu sebuah keterkejutan.
Belum juga keterkejutan keduanya reda, kini mobil pickup itu melewati tanjakan membuat para kambing yang berada di depan perlahan mulai kebelakang dan beberapa kambing ada yang menempelkan bulu tebal berwarna kecoklatan mereka pada Cinta dan gadis itu lagi-lagi terkejut sampai berteriak, "Aaaaaaaa!"
"Hei! kau kenapa?" tanya Naru pada Cinta.
"Kambingnya!"
Naru bingung dengan ucapan Cinta yang tak jelas. "Kenapa dengan kambingnya?" tanya Naru lagi.
"Kambingnya menempel padaku! geli!" Cinta semakin mengeratkan pelukannya pada leher Naru, bahkan tubuh Cinta juga semakin menempel pada tubuh Bosnya.
Naru tersenyum karena ia baru tahu jika Cinta ternyata juga takut pada kambing.
"Aku kerjai saja dia."
"Sudah jangan takut! ada aku!"
Naru meletakkan kepalanya pada bahu Cinta sembari menghirup wangi parfum yang tadi Cinta semprotkan pada tubuhnya.
__ADS_1
"Aku lebih baik mencium wangi rambut ini, daripada aku menghirup bau kambing yang pasti akan membuatku pusing."
Naru sengaja semakin menggiring tubuh Cinta pada kambing-kambing yang mulai perlahan menjauh dari Cinta.
"Sudah terlanjur basah, kan? sekalian saja aku kerjai dia sampai puas." Naru bersorak ria dalam hati karena ia bisa mengerjai Cinta.
"Aaaaaaaaa!
"Kenapa?" tanya Naru sedikit mendorong tubuh Cinta karena ia ingin melihat wajah ketakutan gadis itu.
Bukannya melepaskan tangannya dari leher Naru, Cinta malah semakin mengeratkan pelukannya. "Kambingnya! geli sekali!"
Naru tertawa namun, tanpa suara karena ia tak ingin membuat Cinta sadar jika itu adalah ulahnya. "Ada aku disini! jangan takut!" Nara mengusap lembut rambut kepala Cinta yang masih terlapis oleh topi.
Cinta perlahan mulai memundurkan tubuhnya menatap ke arah Naru. "Maaf, karena telah membuat keadaan kita seperti sekarang ini!"
Naru tersenyum sembari menyentuh kedua pipi Cinta lembut. "Ini bukan salahmu, tapi ini hal yang memang harus kita lakukan karena keadaan yang memaksa kita berdua harus seperti sekarang ini," jelas Naru pada Cinta karena ia tak ingin Cinta menyalahkan dirinya sendiri.
"Kambingnya memang bau," celetuk Cinta dengan bibir yang sudah dimajukan ke depan.
Naru tersenyum menanggapi celotehan tunangan palsunya. "Siapa bilang kambing ini akan wangi bunga mawar?" tanya Naru pada Cinta.
Cinta menatap kedua manik mata kebiruan milik Naru. "Teman Bapak supir tadi yang mengatakannya, kan?"
"Jadi kau menganggap kita ini pasangan yang sedang dimabuk Cinta sampai tak bisa membedakan mana bau kambing dan bunga?" tanya Naru lagi.
Deg deg deg
Jantung Cinta mulai melompat sampai Naru bisa merasakannya karena posisi mereka berdua masih menempel satu sama lain. "Ganti topik! aku mulai merasa mabuk dengan bau kambing ini," kilah Cinta menjauhkan dirinya dari tubuh Naru karena ia sudah dapat memprediksi, jika wajahnya pasti memerah.
"Dasar, Cinta! apa kau sudah gila! ingat! dia hanya rekanmu, tak lebih dari itu."
Naru hanya bisa tersenyum puas karena ia berkali-kali bisa membuat Cinta mendapatkan hukuman.
"Hukuman ini masih belum cukup karena kau sudah berani membuatku harus mencium aroma bau kambing yang tak pernah mandi ini."
__ADS_1