
Cinta sudah keluar dari ruangan itu, sementara Zayn dan Naru masih berada di dalam satu ruangan yang sama.
"Adegan tadi sudah cukup untuk meyakinkanmu, kan? jadi jangan campuri urusanku dan Cinta untuk kedepannya," ujar Naru memberikan peringatan pada Zayn.
"Tapi jika hubungan kalian berdua terbukti palsu, aku tak akan segan benar-benar membuat Cinta menjadi milikku," ancam Zayn membuat jantung Naru semakin berdetak bagai naik rollercoaster dengan ketinggian beberapa kaki.
*"Kenapa perasaanku jadi takut begini? ... pasti hanya karena takut kehilangan seorang ahli dalam dunia percintaan."
Naru menajamkan tatapannya pada Zayn. "Terserah kau! jika dia mau padamu," sahut Naru yang segera melangkahkan kakinya meninggalkan Zayn sendirian di ruangannya.
Naru mengejar Cinta yang sudah berada di parkiran Restonya.
Cinta tengah memasang helmnya bersiap untuk pulang.
"Kau pulang denganku!" Suara seorang pria yang tak lain adalah Naru mengalihkan perhatian Cinta yang awalnya tengah fokus dengan helmnya.
"Tidak perlu! ini juga sudah menjelang sore! lebih baik kau mengurus restomu saja dulu," tolak Cinta halus.
"Apa kau yakin berani pulang sendirian?" tanya Naru yang entah mengapa menanyakan hal yang bisa dibilang tak penting.
Cinta tertawa terbahak, "hahahaha!"
Naru memandang Cinta dengan tatapan aneh. "Kenapa tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Naru yang masih tak sadar dengan pertanyaan yang ia ajukan pada Cinta tadi.
"Mana mungkin aku ini takut pulang sendirian, ini masih siang menjelang sore, jadi kau tak perlu bertanya hal yang tak penting seperti itu," sahut Cinta yang menyipitkan matanya menelisik ke arah Naru. "Jangan bilang kau mulai tertarik padaku! pertanyaanmu itu terlihat sekali jika hanya basa-basi, Chef Kaku!"
Naru dibuat salah tingkah dengan cicitan mulut Cinta yang memang sepertinya ada benarnya juga.
"Mana mungkin! kau itu hanya pakar cinta! ingat ya! pakar cinta, tidak lebih dari itu," jelas Naru pada Asistennya.
"Benarkah? yakin?" tanya Cinta menggoda Naru dan wajah pria itu mulai sedikit memerah.
"Berani menggodaku lagi, gajimu kubayar 20 persen karena berani menggoda Bosmu," ancam Naru membuat Cinta mengangkat kedua tangannya. "Ampun, Bos! aku akan segera pulang dan terima kasih untuk kerjasamanya hari ini," tutur Cinta mengedipkan sebelah matanya pada Naru sebelum ia melajukan motor matic miliknya.
Motor Cinta sudah melewati pagar restorannya. Naru tersenyum sembari berkata, "Dasar gadis bar-bar!"
Naru berjalan masuk ke dalam restorannya untuk memberitahu Zayn jika ia akan menitipkan restoran itu pada sahabatnya untuk sementara waktu karena ia harus bersiap untuk acara pertunangannya dan Cinta.
Cinta sudah berada di rumah ibu dan ayahnya. Lebih tepatnya rumah Dio.
__ADS_1
Cinta memarkirkan motornya tepat di depan rumah megah kedua orangtua angkatnya.
Cinta berjalan masuk ke dalam langsung menuju arah dapur karena ia tahu jika sang ibu tengah sibuk memasak bersama para sahabatnya dan ia juga tahu jika toko kuenya pasti tutup lebih awal hari ini.
"Bu!"
Cinta berjalan lebih cepat menuju arah dapur dan benar saja semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri.
Cinta memeluk Ningsih dari belakang. "Cinta rindu sekali dengan, Ibu!"
Manda dan Karin melihat ke arah Cinta yang memeluk ibunya penuh kasih sayang dan kedua sahabat gadis pemilik toko kue tradisional itu tersenyum melihat ikatan keduanya, meskipun bukan ibu dan anak kandung.
"Siapa sebenarnya tamu penting itu, Cinta?" tanya Ningsih pada putrinya.
"Nanti ibu juga akan tahu dan ini kejutan karena ibu pasti tak akan menyangka," sahut Cinta membuat rasa penasaran Ningsih semakin menjadi.
"Biasanya jika semua hidangan makanan dari pembuka sampai penutup harus ada, orang itu termasuk orang penting dan pasti berhubungan dengan acara lamaran," celetuk Karin yang mulutnya memang embernya minta ampun.
Cinta meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Diam dong, Rin! kau ini tidak asyik!"
Karin mengacungkan jempolnya sembari memberikan isyarat ia telah mengunci mulutnya agar tak banyak bicara.
"Kau sungguh akan dilamar?" tanya Ningsih yang memang sudah penasaran.
Cinta berjalan masuk ke dalam kamarnya yang berada di rumah itu karena sebagian bajunya memang sengaja ia tinggal dirumah Dio. Cinta sudah mempersiapkan segalanya jika acara dadakan seperti ini terjadi dan terbukti memang pasti akan ada acara dadakan yang mengharuskan dirinya untuk bergerak cepat.
Cinta sudah berada di dalam kamarnya membuka lemari bajunya dan beruntung sekali masih ada satu baju pesta milik mendiang ibu kandungnya yang masih disimpan oleh Ningsih agar Cinta suatu saat nanti bisa memakai gaun itu jika memang dibutuhkan.
Cinta melihat baju berwarna navy dengan akses permata di bagian pinggangnya dan beruntungnya gaun itu tertutup tak terlalu terbuka seperti gaun yang dipakai saat makan malam di rumah Naru
Cinta tersenyum sembari mengambil gaun itu dari gantungan baju. "Mama pasti sudah bahagia disana, kan? Cinta rindu, mama!"
Tanpa sadar sebulir air mata gadis itu jatuh membasahi gaun mendiang ibunya.
"Cinta sayang, mama!" gadis itu mencium gaun milik ibunya penuh kasih.
Waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam dan semua keluarga sudah siap menyambut kedatangan tamu penting yang Cinta maksud.
Semua sudah berpakaian rapi, sehingga membuat Ahmad kebingungan. "Sebenarnya ada acara apa ini, Cinta? kenapa Ibu dan Ayah harus berpakaian rapi seperti akan pergi kondangan seperti ini?" tanya Ahmad pada putrinya.
__ADS_1
"Ayah tunggu saja ya? nanti akan tahu sendiri karena sebentar lagi tamunya akan datang," jelas Cinta pada ayahnya.
"Ibu penasaran, Nak!" Ningsih berceletuk karena ia memang sungguh penasaran dengan tamu yang Cinta maksud.
"Sabar, Bu! orang sabar ...."
"Di sayang Tuhan!" Ahmad memotong perkataan putrinya membuat anggota keluarga kecil itu saling mengumbar senyum manis.
Cinta teringat sesuatu hal jika Naru tak tahu alamat rumah orangtuanya.
"Cinta ke kamar dulu ya, Bu, Yah!"
Gadis itu berjalan ke arah kamarnya untuk menghubungi Naru karena takut pria itu menuju arah kontrakannya.
"Halo!"
"Ada apa?"
"Kau dimana?" tanya Cinta duduk di atas ranjangnya yang tak terlalu besar.
"Aku sudah hampir sampai!"
"Kau jangan ke arah kontrakan karena acaranya akan dilaksanakan di rumah kedua orangtuaku."
"Aku tidak tahu rumah orangtuamu!"
"Kau cari saja di google map alamat toko kue Cinta tradisional."
"Baiklah!"
"Oke!"
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan padaku?"
"Tentu saja! memang apalagi?" tanya Cinta balik.
"Aku pikir kau sudah tak sabar ingin segera bertemu denganku!"
Wajah Cinta memerah karena apa yang dikatakan Naru ada benarnya juga. Ia menghubungi Naru seperti seorang calon tunangan yang sesungguhnya yang tengah cemas akan calon suaminya.
__ADS_1
"Mana mungkin! dasar Chef Kaku!"
Cinta mematikan sambungan teleponnya lebih dulu. "Aku tak mungkin ingin segera bertemu dengan pria itu," gumam Cinta meletakkan ponselnya kembali dan berjalan ke arah ruang tamu.