Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 53


__ADS_3

Tubuh Cinta masih diam mematung tanpa ingin bergerak sedikitpun.


"Apa ini nyata? tapi bukankah ini sugesti yang Kak Kinan buat?"


Cinta mengedipkan matanya berkali-kali mencoba menyadarkan dirinya, jika apa yang ia lihat hanya ilusi.


Kedua tangan Cinta perlahan terangkat untuk menggapai pipi pria yang berada di hadapannya.


Saat kedua telapak tangan Cinta sudah berada pada pipi pria itu, rasa halus menjalari bagian telapak tangannya. "Bukankah ini ilusi? tapi terasa sangat nyata sekali," gumam Cinta masih terus menatap wajah pria itu yang tak lain adalah Naru.


Pria yang disebut sebagai khayalan dari pikiran Cinta akhirnya tersenyum pada si empunya telapak tangan. "Apa kau merasa nyaman?" tanya Naru.


"Andai saja kau tadi bersikap selembut ini padaku, pasti aku tak akan kesal padamu," gumam Cinta pada Naru.


Perlahan tapi pasti tangan Naru sudah bergerak hendak menggapai pipi Cinta dan saat telapak tangan pria itu sudah berada tepat sasaran, sedetik kemudian ....


"Aaaawwwww!"


Jeritan dari mulut Cinta menggemparkan seisi dapur villa tersebut.


Cinta melebarkan matanya menatap ke arah Naru yang masih ia anggap hanya sebuah ilusi. "Nyata atau ilusi kau selalu menyiksaku seperti ini ya? huh, bisakah kau bersikap manis padaku," gumam Cinta lagi sembari kembali mencoba menggapai pipi Naru namun, tangan Cinta ditahan oleh Naru dan tangan kekar itu membawa tangan Cinta ke arah dadanya.


Kening Cinta sedikit berkerut dengan arah tatapan mata tertuju pada tangannya yang berada di dada bidang Naru. "Bagaimana?" tanya Naru pada Cinta dan gadis itu hanya menatap ke arah si empunya mata kebiruan tersebut dengan raut wajah kebingungan. "Bagaimana? apanya yang bagaimana? aku tak mengerti maksudmu," sahut Cinta santai masih berpikir jika Naru yang berada di hadapannya hanya sebuah ilusi.


Cinta tersenyum geli. "Pria ilusi tapi masih bersikap manis, padahal aslinya pahit minta ampun," racau Cinta sekenanya.


"Kau bisa membedakan ilusi dan nyata, bukan?" tanya Naru.


"Tentu saja bisa! aku manusia yang memiliki akal dan pikiran," jawab Cinta enteng.


Naru hanya manggut-manggut mengerti maksud Cinta.


Pria jangkung yang sedari tadi hanya berdiri di hadapan Cinta, akhirnya pria itu menarik kursi dan duduk di hadapan Cinta. "Manusia bisa bernapas atau tidak? jantung manusia bisa berdetak atau tidak?" tanya Naru dengan serentetan pertanyaan yang sengaja ia lontarkan agar Cinta sadar dari khayalannya.


"Tentu saja bisa," sahut Cinta dengan cepat.


Naru semakin menekan telapak tangan Cinta ke arah dadanya. "Coba rasakan," pinta Naru dan permukaan kulit tangan Cinta langsung merespon permintaan Naru.


Deg deg deg


Detak jantung manusia yang berada di hadapannya dapat ia rasakan. Detak jantung itu bukan hanya dapat ia rasakan dari telapak tangannya, melainkan dapat ia dengar melalui panca inderanya.

__ADS_1


Dapat ia rasakan lewat rabaan tangannya, dapat ia dengar melalui pendengarannya bagai melodi yang mengalun indah.


"Kenapa jantungnya bisa berdetak? bukankah ini hanya sebuah ilusi saja? atau jangan-jangan dia ...."


Cinta memejamkan matanya dengan tangan yang masih terus menyentuh dada bidang Naru.


Mata Cinta semakin terpejam menghilangkan pikiran negatif yang ada dalam dirinya.


Mata Cinta perlahan terbuka melihat ke arah Naru yang mengumbar senyum ke hadapannya.


Karena merasa syok dengan apa yang ia lihat, akhirnya tangan Cinta spontan terlepas dari dada Naru dengan raut wajah gadis itu yang merasa takut.


Sebelah alis Naru terangkat ke atas melihat respon Cinta yang seperti sedang melihat hantu.


"Hahahaha! pasti dia mengira aku ini mahluk tak kasat mata."


Telapak tangan Cinta terulur ke arah wajah Naru. Saat telapak tangan itu sudah hampir menggapai sasarannya, Cinta kembali mengurungkan niatnya.


Hal tak terduga terjadi. Cinta menepuk-nepuk pipinya sendiri cukup keras. "Bangun, Cinta! ini hanya ilusi," ujar Cinta meyakinkan dirinya.


"Jadi kau berpikir aku ini hanya sebuah ilusi?" tanya Naru pada Cinta.


Mata Cinta menukik tajam ke arah si empunya suara yang bertanya padanya.


Naru mengusap lembut puncak kepala Cinta. "Aku ini nyata, Gadis Bebek! jadi berhentilah berpikir aku ini hanya sebuah khayalanmu," jelas Naru dan tangan Cinta langsung menindih tangan Naru yang masih bersemayam di atas kepalanya. "Jadi kau nyata?" tanya Cinta memastikan.


"Hem!"


"Jadi kau tadi sengaja mencubit pipiku?" tanya Cinta lagi.


"Hem!"


Cinta menarik napas panjang menahan gejolak yang sudah membuncah dalam dirinya.


"Jadi kau sengaja menyiksaku?" tanya Cinta lagi dan lagi.


"Yap!"


Cinta tersenyum manis pada Naru sembari berkata, "Kau sungguh menggemaskan sekali, Chef!"


Cinta segera turun dari kursi bar yang ia duduki dan tatapan matanya melihat ke arah sekelilingnya dapur villa itu, ternyata sudah ada Kinan dan Dio yang menonton mereka berdua sedari tadi.

__ADS_1


"Kak ...."


Cinta menghentikan ucapannya karena ada dua orang yang harus ia panggil Kakak.


Kinan hanya tersenyum pada Cinta karena ia tahu Naru mungkin memiliki rasa yang lain pada Cinta, bukan hanya sebatas rasa pada seorang atasan dan bawahan saja.


"Sepertinya melalui gadis ini aku bisa lepas dari pengejaranmu, Kak! aku tau kau tak mungkin sedekat ini dengan seorang gadis, jika kau tak memiliki rasa spesial."


Dio hanya diam melihat ke arah Cinta dan Naru tanpa ada respon karena yang Dio tahu, Naru menyukai Kinan.


"Kalian berdua ...."


Lagi-lagi ucapan Cinta terhenti karena ia kembali tersadar jika dirinya dan Naru menjadi tontonan dan Bosnya itu malah terus menggodanya.


Cinta kembali menatap ke arah Naru. "Sepertinya semua adegan yang sudah kita lakukan sangat cocok untuk dijadikan sekuel sebuah film dengan judul ...."


"KHAYALAN TINGKAT TINGGI," sambung Naru membuat bibir Cinta menjadi kaku menahan rasa kesalnya.


"Kau ...."


"Kita harus segera bersiap karena ini sudah hampir sore," ujar Naru pada Cinta.


"Bersiap untuk apa?" tanya Cinta dan Kinan bersamaan.


"Nanti malam kita akan camping di pinggir pantai sampai jam 11 malam," jelas Naru melihat ke arah Kinan.


Cinta merasa kesal karena ia merasa menjadi kacang goreng yang tak dihiraukan oleh Naru.


Cinta langsung saja pergi meninggalkan meja bar dapur itu.


"Mau kemana?" tanya Naru pada Cinta.


Tubuh Cinta yang sudah berjalan elegan terhenti sejenak sembari berkata, "Aku ingin sholat terlebih dulu, setelah itu baru bersiap untuk nanti malam," sahut Cinta diiringi pijakan kakinya menuju arah kamarnya.


"Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan Cinta, Kak!" Kinan juga berjalan ke arah kamarnya.


Sementara Dio hanya melihat ke arah Naru dan Chef Yunani itu juga membalas tatapannya. "Aku juga," ujar Dio.


"Sama aku juga," balas Naru dan keduanya berjalan bersamaan ke arah kamar mereka masing-masing.


Note: sebenarnya masih ada dua bab lagi, karena belum author revisi jadi insyaallah besok siang atau sore akan up dua bab, yaitu bab 54 dan 55

__ADS_1


MOHON MAAF KARENA AUTHOR HIATUS HAMPIR DUA BULAN KARENA ADA URUSAN YANG HARUS DI SELESAIKAN DAN ALHAMDULILLAH LANCAR🥰


__ADS_2