
Karena merasa tak nyaman dengan pelukan yang diberikan oleh Dio secara tiba-tiba, membuat Cinta perlahan mendorong tubuh sang Kakak. "Apa yang Kakak lakukan? tak enak dilihat orang lain," tolak Cinta halus.
Dio hanya tersenyum menanggapi penolakan dari sang adik. "Tak perlu malu, bukankah kita berdua bisa sepuasnya berpelukan," sergah Dio membuat Naru ingin sekali mengamuk menerjang bara api unggun di hadapannya karena menurutnya, sikap Dio terlalu lebay.
"Berlagak perhatian di hadapan orang lain dan itu membuatku ingin sekali menghajarmu, Dio!"
Tiba-tiba kening Naru mengkerut sempurna. "Untuk apa aku harus emosi seperti ini? apa hubungannya si gadis bebek itu denganku?"
Lagi-lagi Naru berusaha menolak rasa yang perlahan mulai merambat dalam lubuk hatinya, bahkan bukan hanya hatinya, melainkan pikirannya sudah dipenuhi dengan nama Cinta.
"Ini sungguh gila!"
Naru menggelengkan kepalanya berkali-kali agar ia sadar dari lamunannya.
"Tujuanmu Kinan, Naru! kenapa kau malah terfokus pada si gadis bebek ini?"
Akhirnya Naru melihat ke arah Kinan yang sedari tadi sudah memperhatikannya dengan kedua alis yang sudah naik turun menggoda Naru. "Sibuk apa sih, Kak?"
Wajah Naru gelapan, saat Kinan melontarkan pertanyaan yang menurutnya ia sudah ketahuan memikirkan tentang Cinta sedari tadi. "Ti-tidak ada! aku hanya ingin membantumu membakar kentang dan jagung ini," kilah Naru mengambil beberapa tusuk jagung dan kentang untuk ia bakar di bara api unggun.
Cinta lebih memilih duduk berseberangan dengan Naru karena ia tak ingin suasana malam ini menjadi rusuh.
Sedangkan Dio, berjalan ke arah Naru untuk membantu pria itu membakar kentang dan jagung. "Butuh bantuan?" tanya Dio yang sedikit ambigu karena kakak angkat Cinta itu seperti menggantung kata-katanya.
"Silah ...."
"Membantu mendapatkan incaranmu dengan cepat," sambung Dio sedikit mengecilkan volume suaranya, meskipun jarak mereka berdua dan para perempuan itu cukup jauh namun, Dio memilih cara aman saja, yaitu mengecilkan volume suaranya.
Naru yang fokus membolak-balikkan jagung seketika terhenti dan melihat ke arah Dio. "Tidak perlu! karena sudah ada Cinta!"
"Bagaimana jika aku tak mengizinkan Cinta bekerja denganmu lagi?" tanya Dio pada Naru.
"Itu urusanmu, bukan urusanku," sergah Naru santai namun, gejolak ingin memukul wajah Dio sudah membumbung tinggi dalam jiwanya, tapi masih dapat ia tahan.
__ADS_1
"Baiklah! aku akan bicarakan hal ini dengan Cinta!"
Naru tersenyum remeh pada Dio. "Jika dia mau membuang uang 1 milyarnya," ujar Naru yang secara tak langsung memberitahu Dio, bahwa usahanya akan sia-sia membujuk Cinta.
"Akhhh! kenapa harus 1 milyar? pasti Cinta tak akan mau mendengarkan usulku? aku tahu dia sangat ingin memiliki rumah sendiri dengan jerih payahnya."
Naru melirik Dio dengan senyum yang pasti sudah tercetak jelas di bibir indahnya. "Cinta tak mungkin menyia-nyiakan hal itu karena aku tahu dia bukan tipe perempuan yang mau bergantung pada orang lain."
Beberapa menit berlalu dengan perasaan masing-masing, akhirnya jagung dan kentang yang mereka bakar sudah matang.
Kinan menghampiri Dio dan Naru yang sudah mulai mengangkat satu persatu hasil bakaran mereka ke atas nampan berukuran cukup besar.
Cinta yang duduk di seberang dengan tangan berada cukup dekat dengan api unggun, akhirnya menghampiri ketiga kawan campingnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Cinta masih dalam posisi berdiri, sementara ketiga lainnya duduk berjongkok meletakkan hasil makanan yang mereka bakar dengan posisi renggang agar cepat dingin karena kepulan asap dari kentang dan jagung itu masih jelas terlihat dengan mata telanjang tanpa harus menggunakan mikroskop.
Kinan melihat ke arah Cinta. "Kau ambil saja kotak serbaguna yang berada di tendaku," tutur Kinan ramah.
Tanpa banyak komentar, Cinta berjalan ke arah tenda milik Naru dan Kinan. Ia mencari kotak yang dimaksud oleh Kinan tadi.
Tubuh Cinta yang awalnya hanya menunduk di jalan masuk tenda itu, akhirnya Cinta memutuskan untuk masuk ke dalam dan mencari kotak yang dimaksud oleh Kinan.
Di dalam tenda itu sudah ada lampu penerangan, jadi cukup memuluskan niat Cinta untuk masuk mencari kotaknya.
Cinta terus mencari dan mencari, sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah kotak berbentuk hati berukuran sedang. "Apa ini kotaknya, ya?"
Cinta mengambil kotak itu yang berada di bawah tumpukan selimut. Saat gadis itu membuka kotaknya, ternyata isi dari kotak tersebut cukup membuatnya penasaran.
"Apa ini? kenapa ada kertas dan kalung di dalamnya," gumam Cinta yang membangkitkan jiwa penasaran dalam dirinya semakin bergejolak.
Saat tangan Cinta hendak membaca isi dari surat itu, gerakan tangan Cinta tiba-tiba terhenti.
Instingnya berkata jangan buka namun, hatinya menjerit ingin tahu apa isi dari surat tersebut.
__ADS_1
Sebelum ia membuka suratnya, Cinta lebih memilih menyentuh kalungnya dan tanpa ragu gadis itu mengambil kalung tersebut di tangannya.
Cinta mengangkat kalungnya sejajar dengan wajahnya. "Kalung yang indah!"
Mata Cinta terpaku pada kristal yang menjadi bandul kalung tersebut. "Pasti mahal sekali," gumamnya lagi.
Cinta kembali meletakkan kelung tersebut pada tempatnya, sampai akhirnya kedua bola matanya kembali berjumpa dengan surat putih yang seakan melambai-lambai ingin ia sentuh.
"Bukankah tak apa jika hanya melihat sebentar saja, lagipula siapa tahu ini surat penting dan harus aku berikan pada orangnya," ujarnya lagi pada diri sendiri.
Cinta akhirnya membulatkan tekat untuk membuka surat itu.
Perlahan tapi pasti, akhirnya surat itu terbuka lebar di hadapan Cinta dengan satu kata yang membuat hatinya merasa enggan untuk melihat kata demi kata lainnya.
"KINAN" kata itu yang pertama ia baca.
Cinta memejamkan matanya mencoba berpikir positif dan menghilangkan semua kekeruhan dalam pikirannya yang perlahan mulai menggenang.
Cinta kembali memberanikan diri melihat ke arah surat itu. Ia coba memberanikan dan menguatkan diri untuk menelisik tiap kata yang tertulis di dalamnya.
Untuk Kinan
Aku tahu, mungkin kau tak akan pernah bisa mau menerimaku menjadi kekasihmu, tapi setidaknya kau izinkan aku untuk terus berusaha mendapatkan hatimu.
Tiap perjuangan yang aku lakukan untukmu itu tulus. Aku ingin kau perlahan bisa menerimaku menjadi bagian darimu, meskipun itu terdengar sangat mustahil, mengingat sudah kesekian kalinya kau menolakku.
Satu hal yang perlu kau tahu, sekali aku jatuh cinta pada seseorang maka aku akan terus berusaha mendapatkannya meskipun kau menolakku seribu kali.
Terimalah kalung dengan bandul kristal putih ini karena cintaku padamu seputih kristal itu.
Izinkan aku terus berusaha mendapatkan hatimu dan jangan pernah menggiringku untuk menjauhimu.
Salam dari orang yang akan selalu mencintaimu sampai kapanpun ♥️
__ADS_1
Tubuh Cinta rasanya ingin sekali tergeletak begitu saja namun, ia mencoba menahan berat tubuhnya yang terasa lebih berat dari biasanya.
Tangan Cinta juga sudah bergetar memegang surat dari Naru yang ditujukan untuk Kinan.