Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 45


__ADS_3

Cinta masih memeluk tubuh Naru erat karena suara gemuruh petir itu masih terdengar di telinga gadis penjual kue tradisional tersebut.


Kedua tangan Naru masih terangkat ke atas karena ia sungguh terkejut dengan pergerakan Cinta.


"Kau kenapa?" tanya Naru masih dengan tangan terangkat ke atas, mirip seperti orang yang tengah di buru oleh polisi.


"Ada petir," sahut Cinta masih dengan mata terpejam dan tangannya memeluk erat tubuh Naru.


"Kau bukan sedang ingin memelukku, kan?" tanya Naru membuat kepala Cinta spontan mendongak ke atas menatap wajah Bosnya.


Intensitas tetesan air hujan semakin deras membuat sebagian wajah Cinta yang mendongak ke atas terkena buliran air hujan itu.


Tangan Naru bergerak menjadi tameng anti hujan untuk melindungi wajah Cinta dari tetesan air hujan.


Arah tatapan mata Cinta yang awalnya tertuju pada wajah Naru, kini beralih ke arah telapak tangan Naru yang menjadi payung dadakan baginya.


Cinta tersenyum pada Naru. "Percuma kau melakukan hal itu karena wajahku masih terkena rembesan air hujan," jelas Cinta pada Naru.


"Setidaknya aku menjadi payung untukmu dikala hujan, bukan?"


Deg deg deg


Jantung Naru dan Cinta bersamaan berdetak kencang.


"Apa yang aku ucapkan? kenapa aku mengatakan hal itu?"


Naru mulai mencerna kembali tiap kata-kata yang ia lontarkan pada Cinta.


"Menjadi payungku dikala hujan? bukankah kata-kata itu pantas diucapkan oleh seorang pria pada kekasihnya?"


Waktu seakan terjeda beberapa saat ketika mereka berdua sama-sama memikirkan maksud dari "Menjadi payung dikala hujan".


Jedddddeeeerrrr


Lagi-lagi suara petir menyambar terdengar. Cinta terkejut memejamkan matanya namun, kali ini ia tak menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Naru, hanya memejamkan matanya rapat-rapat dan tangan gadis itu masih memeluk erat tubuh tunangan palsunya.


Hujan turun deras seketika, membuat Naru dan Cinta harus terkena air hujan.


Beruntung mereka berdua berada di kebun jati, dimana daun pada pohon itu masih bisa menjadi penghalang dari tetesan air hujan yang turun.


Mata Naru tak sengaja melihat ada sebuah tempat untuk ia berteduh, tempat itu mirip sebuah pondok yang berada di sawah.


Naru menarik tangan Cinta berlari ke arah tempat itu. Cinta terlonjak dengan pergerakan tangannya yang tiba-tiba ditarik oleh Naru.


Mata Cinta yang awalnya tertutup langsung terbuka. "Mau kemana?" tanya Cinta sedikit berteriak karena ia dan Naru dalam posisi berlari kecil.

__ADS_1


"Kita berteduh dulu," sahut Naru pada Cinta.


Mereka berdua sudah berada di tempat yang dituju, dimana tempat tersebut biasanya digunakan oleh pengunjung untuk bersantai beristirahat menikmati indahnya pohon jati yang berbaris rapi dan kokoh atau hanya untuk mengambil gambar karena tempat yang sangat apik.


Cinta dan Naru duduk sembari mengusap bagian tubuh mereka yang terkena hujan, terutama pada bagian wajah Naru, yang mana wajah pria itu cukup basah. Wajah Cinta tak terlalu basah karena ia dihalangi oleh topinya.


Cinta berinisiatif mengambil handuk kecil yang berada dalam ranselnya. "Ini!" Cinta memberikan handuk kecil itu pada Naru.


Chef tampan berlensa kebiruan itu melihat ke arah tangan Cinta dimana sebuah handuk kecil disodorkan padanya. "Untuk apa?" tanya Naru menatap kedua manik mata Cinta.


Gadis cantik penjual kue tradisional tersebut membalas tatapan mata Naru. "Untuk mengeringkan wajahmu, Bos!" Cinta tersenyum manis pada Naru.


"Bantu aku!"


Ucapan Naru berhasil membuat senyum Cinta perlahan mulai hilang berganti dengan raut wajah penuh keterkejutan.


"Tapi kau punya tangan, kan?"


"Aku siapamu?" tanya Naru membuat otak Cinta harus berpikir keras.


"Aku harus menjawab apa? tunangan kah? atau atasan?"


"Atasanku!" Cinta menjawab sekenanya karena hanya itu jawaban yang paling tepat baginya. Daripada harus menjawab tunangan dari Naru, menurut Cinta jawaban itu sama saja ia berharap diakui oleh Naru dan berharap menjadi tunangan dari seorang Chef handal seperti Bosnya.


"Selain itu?" tanya Naru lagi.


"Selain menjadi atasanmu, status apa lagi yang aku sandang?" tanya Naru lagi dan lagi.


"Mati aku! pasti dia meminta aku menyebutnya sebagai tunanganku!"


"Tu ... nanganku!" Cinta sedikit ragu menyebutkan kata itu.


Naru tersenyum merekah mendengar ucapan dari mulut Cinta. "Bantu aku mengusap sisa air hujan yang berada di wajahku," pinta Naru dengan nada lembut bagai permen kapas di telinga Cinta.


Tangan Cinta ragu-ragu saat akan menyentuh wajah Naru namun, tangan pria itu segera menarik tangan Cinta agar segera menempelkan handuk itu pada wajahnya dan mengusap sisa air hujan yang masih menempel. "Lakukan pekerjaanmu, tunanganku!"


"Jangan mengatakan hal seperti itu!" Cinta mengerucutkan bibirnya sembari mengusap lembut bagian pipi Naru.


Chef Yunani itu begitu terlihat menikmati tiap sentuh dari Cinta.


Sebuah kilatan cahaya menerangi kebun jati itu, Cinta yang tengah sibuk dengan wajah Naru melihat ke arah pohon-pohon yang berdiri kokoh. "Cahaya apa itu? jangan-jangan ...."


Belum juga Cinta menyelesaikan kalimatnya, suara petir menyambar terdengar begitu menggelegar.


Jedddddeeeerrrr jedddddeeeerrrr

__ADS_1


Cinta menoleh ke arah Naru dan ia tak sadar jika wajah pria itu berada dekat dengannya, sehingga saat wajahnya sendiri sudah berbalik, ujung hidungnya dan hidung Naru bersentuhan secara tak sengaja.


Naru dan Cinta sama-sama syok dengan persentuhan kecil mereka.


Bukan hanya hidung yang saling sentuh, mata mereka juga saling beradu diiringi hembusan napas hangat yang menjadi obat udara dingin di tempat itu.


Jedddddeeeerrrr


Mata Cinta terpejam dengan hidung yang semakin menempel dan jarak bibir mereka juga hanya tinggal hitungan beberapa lembar tisu saja.


Jedag jedug jedag jedug


Jantung Naru berdendang ria kala sorot matanya tertuju pada bibir Cinta yang mengeluarkan aroma lemon.


"Aroma ini tak dapat aku tolak!"


Bibir Naru perlahan mulai mendekat ke arah bibir Cinta dan aroma lemon yang berasal dari benda kenyal itu semakin masuk ke dalam rongga penciumannya.


Mata Cinta masih terpejam karena ia berpikir jika masih ada petir susulan.


Saat bibir Naru sudah hampir menyentuh bibir Cinta, tiba-tiba ....


Tinnnn tiiiiinnnnnnnn


Gerakan bibir Naru terhenti saat suara klakson mobil terdengar.


Mata Cinta terbuka lebar, saat ia melihat wajah Naru sudah berada dekat dengannya, dan mata Cinta kembali di buat semakin melebar lagi. "Kau ... sedang apa?" tanya Cinta sedikit gugup.


Naru segera memundurkan wajahnya dan tersenyum manis ke arah Cinta. "Bukankah kau sendiri yang menempelkan ujung hidungmu padaku," serang balik Naru.


"Eeee ... itu ... anu ...."


"Jadi bukan salahku, kan?" tanya Naru menaik turunkan alisnya.


"Kenapa juga harus terjebak di tempat ini berdua dengan pria seperti dia sih!"


"Iya! bukan salahmu!"


Di dalam mobil yang tadi membunyikan klaksonnya, seorang pria seumuran dengan Naru menurunkan kaca mobilnya. "Ayo naik, Bos! nanti keburu hujan!"


Naru melihat ke arah pria itu yang tak lain adalah Nando, Asisten pribadinya.


Tatapan Naru dingin penuh hasrat untuk membumi hanguskan Asistennya.


"Kenapa si Bos macam serigala siap tempur begitu? apa aku melakukan kesalahan? bukankah aku sudah melakukan semua tugas yang ia perintahkan?"

__ADS_1


Naru dan Cinta berjalan ke arah mobil. Aura Cinta penuh akan ribuan bunga yang mengelilinginya, sementara atmosfer di sekeliling Naru menghitam dengan tanduk yang sudah siap menyeruduk Nando kapan saja.


"Lebih baik aku mengaktifkan mode tuli saja," batin Nando yang sudah bersiap menerima aungan dari Bosnya.


__ADS_2