
Keempat muda mudi itu sudah berada di meja makan untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah dibuat oleh Naru dan Kinan.
Cinta duduk bersebelahan dengan Dio, sementara Naru duduk bersebelahan dengan Kinan.
Cinta dan Naru berada dalam satu garis lurus yang sama, sehingga keduanya bisa secara langsung bertatap muka dan begitu juga dengan Dio dan Kinan yang berada dalam satu garis lurus yang sama.
Cinta mengambilkan Dio nasi dan beberapa lauk yang Cinta pikir sang Kakak itu pasti menyukainya.
"Terima kasih, Sayang!" Dio tersenyum pada Cinta dan gadis cantik tersebut membalas senyuman kakaknya. "Sama-sama, Kak!"
Kinan dan Naru menatap kedua pasang kakak beradik itu dengan tatapan seakan mereka berdua tengah pamer keromantisan.
"Apa dia tak bisa melihat-lihat tempat? ini kan meja makan, bukan panggung untuk memamerkan adegan romantis," racau Naru dalam hatinya.
Berbeda dengan Kinan yang masih terus memandangi Dio. Dokter muda itu masih penasaran dan mengingat-ingat dimana ia pernah melihat wajah Dio.
Naru mengambil makanan yang sudah ia masak sendiri. Saat semua makanan sudah ada di piringnya, Naru mulai menyendok nasi dan beberapa lauk, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya secara perlahan dan bersamaan dengan saat itu juga, Dio menyuapi Cinta sepotong sayur wortel
Sontak Naru mematung dengan mata yang sedikit melebar dan gerakan mulut juga terlihat berhenti mengunyah.
"Enak?" tanya Dio pada Cinta.
"Tentu saja enak, Kak! yang membuat makanan ini sudah mahir di dapur, mana mungkin tidak enak," puji Cinta melihat ke arah Naru dan Kinan bergantian diiringi senyuman manisnya.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk!"
Naru seketika tersedak dengan ucapan yang dilontarkan oleh Cinta.
Kinan dengan tanggap mengambilkan minum untuk Naru dan pria itu meneguk minuman tersebut secara perlahan.
Setelah merasa lebih baik, Naru melihat ke arah Cinta. "Kau bilang makanan ini enak, tapi aku merasa makanan ini pahit," ujar Naru pada Cinta sekenanya.
"Sama seperti saat aku melihat kau dan kekasihmu itu! pahit! serasa ingin muntah!"
Naru terus menggerutu dalam hatinya sembari melihat ke arah Cinta yang merasa bingung dengan perkataannya.
__ADS_1
"Lidahmu mungkin yang sedang bermasalah, Chef! makanannya enak kok!" Cinta melihat ke arah Kinan dan Dio bergantian bermaksud meminta pendapat mereka berdua mengenai rasa makanan yang Naru buat. "Iya kan?" tanya Cinta pada keduanya.
Kinan dan Dio mengangukkan kepalanya secara bersamaan.
Cinta tersenyum pada Naru dengan jempol tangan yang ia angkat ke atas memuji masakan bosnya.
Naru tersenyum meledek ke arah Cinta sembari tangannya meletakkan sendok dan garpunya. "Aku rasa kau benar, Nona Cinta! mungkin memang lidahku yang bermasalah dan apa kau tau pertanda apa ini?" tanya Naru pada Cinta.
Cinta mengerutkan keningnya tanda sedang bingung dengan pertanyaan Naru yang ia lontarkan padanya.
Naru mengerti akan raut wajah Asisten cantiknya itu. Chef bermata kebiruan tersebut beralih menatap ke arah Kinan penuh puja. "Jika memang benar lidahku bermasalah dan masakan ini masih tetap terasa lezat, maka kekuatan cinta yang bermain disini. Aku memasak makanan ini untuk perempuan yang aku cintai dan hati ini tahu akan hal itu, bahkan bukan hanya hatiku yang tahu, melainkan indera pengecapku juga tahu akan hal itu," jelas Naru masih menatap Kinan dan dokter kandungan itu juga menetapkan.
Jantung Cinta seakan ingin sekali berteriak jika organ tubuh itu bisa berteriak sekencang mungkin.
"Heh, mau menggombal tapi masih amatir!"
Cinta menggerutu dalam hatinya sembari melahap makanan di atas piringnya dengan kasar.
Dio hanya tersenyum melihat usaha Naru mengungkapkan isi hatinya pada dokter muda itu, sementara Kinan hanya tersenyum kikuk mendengar ungkapan hati Naru.
"Rasakan kau, Gadis Bebek! sekali lagi bermesraan di hadapanku, aku akan memberikan kau pelajaran lagi!"
Semua orang melanjutkan menghabiskan makanan mereka tanpa ada percakapan apapun lagi, yang ada hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring masing-masing.
Setelah selesai dengan acara makan siangnya, keempat muda-mudi itu berdiri dari kursi masing-masing.
Para pria berjalan ke arah teras yang langsung menampilkan pemandangan pantai, sementara kedua gadis cantik berjalan ke arah dapur dengan kedua tangan mereka membawa piring dan peralatan makan lainnya yang sudah kotor.
Cinta dan Kinan meletakkan piring-piring itu di wastafel. "Kau ambil barang kotor lainnya, Dok! biar aku saja yang mencucinya," pinta Cinta dan Kinan menganggukkan kepalanya sembari pergi mengambil gelas kotor lainnya.
Di teras villa tersebut, Dio dan Naru duduk di kursi yang sudah tersedia di sana untuk bersantai menikmati pemandangan pantai dari kejauhan.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Naru pada Dio.
Entah mengapa pertanyaan itu yang tiba-tiba muncul dalam benak Naru.
__ADS_1
Dio melihat ke arah Naru sembari tersenyum kecil. "Sejak saat ia menjadi seorang gadis cantik," sahut Dio membuat Naru menoleh ke arah kakak angkat dari Cinta tersebut.
"Sejak saat menjadi seorang gadis cantik? kau bukan pedofil, kan?" tanya Naru yang cukup terkejut dengan pernyataan dari mulut Dio.
"Hahahaha! aku masih normal, Chef!" Dio melanjutkan tawanya.
"Jawabanmu sungguh ambigu,"
"Kau tidak perlu tahu sudah berapa lama kami saling menyayangi, yang jelas aku sangat sangat dan sangat mencintainya," jelas Dio pada Naru.
Naru tak menatap ke arah Dio, pria itu hanya meluruskan pandangannya ke arah pantai dengan tatapan datar namun, rahangnya bisa jelas terlihat jika pria itu tengah menahan amarahnya.
"Sepertinya mereka sudah cukup lama berpacaran," gumam Naru dalam hati.
"Sejak kapan kau mengejar Dokter cantik itu?" tanya balik Dio pada Naru.
Naru tersenyum sembari menjawab pertanyaan Dio, "Sudah cukup lama."
"Tapi masih dalam proses pengejaran?" tanya Dio lagi.
Naru melihat ke arah Dio diiringi anggukan kepalanya.
"Kenapa kau tak mengatakan perasaanmu padanya?" tanya Dio lagi dan lagi.
Naru menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. "Sudah, bahkan sudah sering ditolak pula," jelas Naru dengan helaan napas yang cukup berat.
"Jadi kau tak akan menyerah?" pertanyaan kembali Dio lontarkan pada Naru.
"Aku akan terus mengejarnya, tapi ...."
Dio menunggu lanjutan dari kalimat yang Naru gantung.
Kakak angkat Cinta itu melirik ke arah Naru. "Tapi apa?" tanya Dio yang penasaran pada lanjutan kalimat Naru.
"Tapi jika aku tahu dia sudah memiliki pria yang dia cinta dan pada saat itu, aku akan menyerah untuk kebahagiaannya ...."
__ADS_1
Naru kembali menjeda ucapannya yang membuat Dio kembali penasaran.