Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 66


__ADS_3

Cinta berbalik hendak pergi namun, pinggang gadis itu ditahan oleh Naru dan tangan sebelahnya lagi meletakkan Chocolate milk di sembarang tempat. Tangan itu bergerak ke arah tengkuk Cinta menahan kepala asistennya dan ....


Cup


Ciuman lembut mendarat pada pipi Cinta. Sementara Naru hanya bisa menikmati rona wajah Cinta yang memerah, dari rasa terkejut dan malu, semua itu menjadi satu.


Cinta memberanikan diri menatap kedua mata Naru yang saat ini juga tengah menatapnya intens. "A-apa yang kau lakukan? apa kau sudah ... gila," cecar Cinta.


"Ya! aku sudah gila," sahut Naru sekenanya tanpa pikir panjang karena hanya itu yang ada dalam pikirannya.


Cinta berusaha mendorong dada bidang Naru sekeras mungkin. "Menjauhlah dariku! aku tak ingin ada yang salah paham dengan kita berdua," ujar Cinta.


Gadis itu terus berusaha mendorong dada bidang Naru namun, pelukan pada pinggang ramping itu semakin erat. "Bagaimana jika aku tak mau?" tanya Naru dengan tangan yang sebelahnya membelai pipi Cinta yang semakin memerah.


Suara siulan teko sedari tadi menjadi backsound ruangan tersebut. "Tekonya sudah ...."


Dengan sekali jangkau saja, Naru sudah bisa mematikan kompornya. "Sudah aman," sela Naru tersenyum manis pada Cinta.


"Pria ini sungguh ingin menguji kesabaranku nampaknya."


Cinta memejamkan matanya, kemudian beberapa detik, kedua kelopak mata indah itu terbuka menatap kedua manik mata kebiruan milik Naru. "Jadi apa yang kau inginkan, Chef!"


Naru tak menjawab, hanya usapan lembut ibu jarinya pada pipi Cinta yang dapat Naru lakukan dan hal itu memancing sesuatu dalam diri Cinta untuk mendobrak pertahannya yang sedari tadi mampu ia bentengi.


Tangan kiri Cinta perlahan bergerak menyentuh tangan kiri Naru yang mengusap pipinya lembut dan secara tak langsung memperlihatkan dua cincin berwarna silver yang melingkar indah pada jari manis masing-masing.


Tatapan mata Naru teralih pada benda bulat itu. "Serasi," gumam Naru diiringi senyum manisnya.


Cinta mengikuti arah tatapan mata Naru dan ya, Cinta tahu apa yang Naru maksud. "Tapi cincin ini penuh dengan kepalsuan."


"Tapi perasaanku padamu tak ada yang palsu, Chef!"


Kedua tangan Naru sudah beralih tempat melingkar pada pinggang Cinta dan Naru sengaja menarik tubuh gadis itu agar menempel padanya. "Anggap saja kita tidak sedang bersandiwara, anggap saja kita benar-benar pasangan kekasih yang akan segera menikah," bisik Naru di telinga Cinta diakhiri hembusan napas hangatnya.


Mata Cinta lagi-lagi terpejam mendapatkan perlakuan seperti itu dari lawan jenisnya dan parahnya lagi, pria itu sudah mulai masuk ke dalam hatinya.


"Jadi itu yang kau inginkan?" tanya Cinta memastikan.


"Hmm!"

__ADS_1


"Jadi ... aku boleh lebih egois dari saat ini?" tanya Cinta lagi.


"Maksudmu?" tanya balik Naru tak paham akan arti dari perkataan Cinta.


"Bagaimana jika aku melampaui batasanku sebagai tunangan palsumu?"


Naru tersenyum simpul sembari mengangkat tubuh Cinta dan mendudukkan gadis itu di atas kabinet, sementara kedua tangan kekar Naru mengurung tubuh Cinta agar tak dapat kabur darinya. "Itu yang aku inginkan karena sepertinya aku juga sudah melewati batasan itu."


"Aku tak ingin kau bersama kekasihmu itu, bahkan hanya sekedar berpegang tangan saja, aku tak rela, Cinta!"


"Aku tak suka jika kau bersama Kak Kinan dan hal itu juga sudah melewati batasanku."


"Jadi?"


"Jadi apa?" tanya Cinta balik pada Naru.


"Apakah kita bisa bersandiwara seperti ini saat berdua saja?" tanya Naru memperjelas maksudnya.


"Untuk a ...."


"Untuk melatihku menjadi pria sejati," bual Naru, padahal Naru hanya ingin berada di dekat Cinta.


"Tentu saja tidak!"


Naru mendekatkan bibirnya pada wajah Cinta dan ....


Cupppp


Kecupan cukup lama mendarat pada kening gadis penjual kue itu.


Mata Cinta terpejam menikmati sentuhan lembut bibir Naru yang terasa sejuk bagai tanaman yang disiram air.


"Kita harus membuat Chocolate milk untuk yang lain," gumam Naru membantu Cinta turun dari kabinet bawah.


Cinta segera mengambil 4 buah cangkir dan meletakkannya di atas nampan berukuran sedang.


Gadis itu menahan rasa malunya karena saat ini ia seperti tengah menjalani hubungan sembunyi-sembunyi dengan Naru, padahal itu hanya sandiwara saja dan Cinta harus melakukan hal itu sebagai pakar Cintanya.


Cinta membawa nampan itu ke arah meja bar dan mulai menuangkan Chocolate milk kedalam tiap cangkir secukupnya. Setelah semuanya selesai, Cinta meletakkan kembali kaleng Chocolate milk-nya.

__ADS_1


Tiba-tiba dada seorang pria menempel pada bagian punggung Cinta.


Tangan kekar Naru dengan lihai menuangkan air panas dari teko siul ke setiap cangkir, yang tadinya dimana teko siul itu sempat membuat gaduh suasana.


Cinta perlahan mengaduk tiap cangkir yang berisi Chocolate milk itu dan Naru masih saja berada di belakangnya. "Apa kau tak bosan menempel padaku seperti benalu," sindir Cinta masih melakukan kegiatannya. "Untuk apa malu, aku hanya mencari kehangatan saja, lagipula, kita sama-sama kedinginan, kan?"


"Kau saja! aku tidak kedinginan, hanya basah kuyup saja," tukas Cinta.


Setelah selesai mengaduk semuanya, Naru langsung mengambil secangkir Chocolate milk itu dan meniupnya agar lebih hangat lagi.


Saat pria itu mencoba minuman hangat tersebut, kening Naru mengkerut sempurna. "Kenapa rasanya seperti ini," gumam Naru dan Cinta terlihat kebingungan. "Kenapa? tak enak?" tanya Cinta penasaran.


"Kau coba saja," pinta Naru sembari meniup minuman itu dan setelah sekiranya cukup hangat, Naru mengarahkan bekas bibirnya pada Cinta. "Minumlah!"


Tanpa pikir panjang, akhirnya Cinta meminumnya tepat di bekas bibir Naru. "Bagaimana?" tanya Naru diiringi senyuman super melelehnya.


"Enak, kok!"


"Mana mungkin? rasanya hambar, kok!"


Cinta kembali mencicipi minuman itu dan hasilnya tetap sama. "Ini sudah enak, Chef! apa mungkin lidahmu sudah rusak," kesal Cinta.


"Rasanya hambar, Cinta!"


"Ih, hambar apanya, sih! coba kau rasakan sendiri," pinta Cinta.


Dengan senang hati pria itu meminum Chocolate milk tersebut tepat di bekas bibir milik Cinta. "Manis!"


Cinta manatap Naru tajam. "Tadi hambar, sekarang manis, apa indera perasamu butuh rangsangan," cicit Cinta sekenanya.


"Kau benar, Nona! indera perasaku butuh rangsangan, dari bekas bibirmu yang menempel pada cangkir ini," bisik Naru di telinga Cinta.


Pria itu berjalan menjauh dari dapur sembari mengangkat cangkirnya sampai batas kepalanya penuh kemenangan.


Tanpa Cinta sadari, Naru tersenyum bahagia karena ia berhasil mengecoh Cinta.


Cinta menganga tak habis pikir dengan kelakuan bosnya. "Kenapa aku seceroboh ini, sih!" Cinta melihat ke arah punggung Naru yang perlahan menjauh, "sepertinya cinta bisa membuat orang jadi kehilangan akal," gumam Cinta membawa nampan berisis 3 cangkir lainnya ke arah depan.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2