Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 40


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu, dimana tepat jam 8 pagi, Cinta akan berangkat ke pulau cinta bersama dengan Naru, Dio, dan Kinan.


Cinta sudah menyambar ranselnya karena ia bukan gadis yang ribet dengan urusan hal yang tak penting sampai harus membawa koper segala. Di dalam ransel itu hanya ada pakaian dan beberapa alat untuk bersolek seperti, bedak, krim siang-malam, dan sunblock, serta lip balm dengan varian Grape.


Cinta berjalan ke luar dari kontrakannya, ia sudah menunggu Naru di depan teras kontrakan itu namun, sebelum itu, Cinta sudah mengunci pintu kontrakannya lebih dulu.


Gadis dengan setelan celana jeans, tank top berwarna putih dan kemeja berukuran kebesaran lengan panjang menjadi luarannya dengan topi ala gadis tomboy namun, kecantikan seorang Cinta tak luntur, malah aura gadis itu semakin keluar.


Jam tangan hitam melingkar di pergelangan tangannya, serta sepatu kets berwarna putih telah terpasang indah di kedua kakinya.


Rambut Cinta dimasukkan ke dalam pengait topi tersebut sehingga membentuk ikatan kuncir kuda.


Leher jenjang Cinta terlihat begitu mulus dan putih bagai beludru jika di sentuh pasti halusnya akan memabukkan.


Cinta mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


Cinta menekan kontak bernama Chef Kaku dan menghubungi nomor itu.


"Halo!"


"Kau dimana?" tanya Cinta dengan arah mata yang melihat ke arah jam tangannya.


"Di jalan!"


"Lama sekali, sih! katanya jam 8," kesal Cinta sembari memajukan bibirnya ke depan.


"Lah, bukannya masih belum jam 8, ya?"


Cinta memutar bola matanya jengah. Gadis itu sungguh geram dengan sikap Naru hari ini yang tak on time.


"Kau bisa melihat jam tidak, sih! coba li ...."


Cinta segera menghentikan ucapannya karena saat ia melihat ke arah jam tangannya, nampak ada yang salah dengan jarum jam itu.


"Bukannya tadi sudah jam 8 ya? tapi kenapa berganti jam 07.40 menit? jangan-jangan aku yang ingin cepat-cepat bertemu dengannya? ah, tidak! pasti karena salah fokus saja!"

__ADS_1


"Kenapa diam? coba li apa? jika kau berbicara, jangan suka dipotong-potong!"


Cinta memukul kepala sendiri karena keteledoran yang ia buat mengakibatkan Naru bisa meledeknya.


"Tidak ada! aku sudah menunggumu di depan teras kontrakan, jadi jangan lama-lama, nanti aku bisa basi terlalu lama terkena angin!"


Cinta segera menutup panggilannya karena perasaannya sudah tak menentu.


"Aku ini kenapa, sih! hanya salah bicara saja sampai berdebar begini," gumam Cinta menyimpan ponselnya pada tasnya karena ia takut meninggalkan ponsel itu di sembarang tempat.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mobil Naru sudah berada di luar pagar kontrakan Cinta.


Gadis itu masih duduk di kursi depan terasnya dengan posisi kedua tangannya berada di dagu dan tubuhnya sedikit menunduk, raut wajah Cinta juga nampak kesal.


Naru yang turun dari mobil membuka kacamata hitamnya melihat ke arah Cinta yang termenung sendirian.


Naru sengaja tak memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah Cinta karena ia berniat ingin langsung berangkat namun, raut wajah Cinta membangkitkan sifat kejahilan Naru.


Pria yang mengenakan setelan celana jeans berwarna dark blue dengan singlet berwarna putih dan kemeja berwarna navy berlengan pendek sebagai luarannya. OOTD yang di kenakan oleh Naru sama dengan gaya Cinta hari ini. Sepatu kets berwarna putih


Cinta menatap ke arah sumber suara dan rasa kesal serta marah yang ia pendam sedari tadi hilang begitu saja, kala Naru membuka kacamata hitamnya dan memperlihatkan lensa mata kebiruannya.


"Kenapa rasa marah dan kesal dalam hatiku berganti wangi bunga mawar yang bertebaran."


"Mau berangkat atau melihatku tanpa henti seperti itu?" tanya Naru sudah berada di hadapan Cinta dan suara pria itu membuyarkan lamunannya.


Cinta spontan berdiri dan melihat ke arah Naru dengan tatapan kesal.


Saat tatapan Cinta terfokus pada gaya pakaian Naru, gadis itu melihat ke arah baju yang ia kenakan.


Cinta kembali melihat ke arah Naru. "Kau meniru gaya berpakaianku, ya?" tanya Cinta pada Naru dengan wajah menuduh.


"Mana ada! kau yang meniruku," tuduh balik Naru tak mau kalah pada Cinta.


Cinta memejamkan matanya mencoba tak ingin melanjutkan pertikaian dirinya dan Naru. "Baiklah! sekarang kita berangkat karena aku tak ingin kita tak tepat waktu sampai disana!"

__ADS_1


Cinta berjalan lebih dulu ke arah mobil Naru namun, saat Cinta ingin membuka pintu mobil itu, pintunya tak bisa di buka.


Cinta menoleh ke arah Naru yang masih berjalan santai dari arah kontrakannya. "Buka atau aku akan memecahkan kacanya," ancam Cinta membuat Naru tersenyum. "Pecahkan saja jika kau bisa! kaca mobil itu sudah anti maling," goda Naru yang sudah berada di sisi pintu pengemudi dan masuk ke dalam dengan mudahnya.


Cinta di buat geram yang kemudian membuka pintu mobil itu juga.


Cinta meletakkan ransel miliknya di kursi penumpang. "Barang-barangmu mana?" tanya Cinta yang tak melihat barang apapun di dalam mobil Naru selain ranselnya.


"Semuanya sudah di urus oleh Asistenku!"


"Widih! enak sekali ya jadi orang kaya! apa-apa ada Asisten, jadi tak perlu packing sendiri sepertiku," ujar Cinta menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Naru tersenyum sembari mulai menjalankan mobilnya secara perlahan.


Mata Naru melihat ke arah seat belt Cinta yang tak di pakai. "Kau ini sengaja ya tak memakai seat belt itu, agar aku memakaikannya untukmu seperti di dalam film?" tanya Naru namun, lebih tepatnya meledek Cinta.


Cinta menundukkan kepalanya dan memang benar, seat belt miliknya menganggur. Dengan cepat gadis itu memakai seat belt tersebut, agar Naru tak banyak komentar.


Belum setengah jam perjalanan, Cinta sudah molor duluan.


Naru melihat ke arah Cinta yang menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan posisi kepala mendongak ke atas membuat leher jenjang Cinta begitu jelas terlihat.


"Dasar gadis yang kurang waspada! jika kau tak bersamaku, sudah pasti kau habis oleh pria lain," gumam Naru tersenyum sendiri.


Saat mobil yang dinaiki oleh Naru dan Cinta sudah berada di perjalanan yang hampir sampai tujuan, mobil Naru tiba-tiba hilang keseimbangan dan tiba-tiba berhenti dan beruntungnya mobil itu menepi.


Wajah Naru sudah terkejut luar biasa namun, Cinta masih tetap oke dalam posisi ternyamannya.


Naru yang awalnya terkejut, kini berubah menjadi tersenyum karena melihat Cinta yang tak bangun, meskipun mobil yang dinaiki oleh mereka berdua sudah bermasalah.


Jalan itu tepat berada di hutan yang tak ada pemukiman satupun, jadi bisa di bilang kali ini mereka berdua sudah terjatuh tertimpa tangga pula.


Naru melihat ke arah Cinta. "Kau ini sungguh tak ingin bangun atau memang kau seorang gadis Kebo, sih?"


Naru tersenyum lagi dan lagi, meskipun jari telunjuk Naru menekan pipi Cinta, gadis itu masih tetap saja tak bangun.

__ADS_1


"Dasar, Gadis Bebek!"


__ADS_2