Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 52


__ADS_3

Naru kembali menjeda ucapannya yang membuat Dio kembali penasaran.


"Jika semua itu benar-benar akan terjadi, aku berharap akan ada perempuan yang mencintaiku melebihi aku mencintai, Kinan! dan aku akan mencintai perempuan itu melebihi cintanya padaku," sambung Naru yang memacu detak jantung Dio berdetak lebih kencang saat mendengar ucapan tegas tanpa keraguan dari mulut Chef Yunani yang memiliki mata kebiruan itu.


"Kau sungguh berjiwa besar, Chef!"


Dio memuji Naru dengan segala kebesaran jiwa yang dimiliki oleh putra dari William dan Zinnia tersebut.


Di dalam dapur villa, Kinan dan Cinta saling bekerjasama untuk mencuci piring bekas makan siang mereka.


Cinta yang mencuci dan membilas piring, sendok, garpu, dan gelas. Sedangkan Kinan meletakkan peralatan makan yang sudah bersih itu pada tempatnya.


"Sudah selesai dan kita bisa bersantai, Dok!" Cinta berjalan ke arah meja bar dan duduk di kursinya.


Kinan juga berjalan ke arah yang sama dengan arah Cinta dan duduk tepat di sebelah Asisten Naru tersebut.


"Maaf untuk ucapannya," tutur Kinan pada Cinta yang tengah mengaduk semangkuk es buah karena tadi dia tak sempat memakan es tersebut. Bisa dimaklumi karena Cinta jika makan memang lambat saat mengunyah, jadi dia orang terakhir yang selesai saat makan siang.


Cinta akhirnya melihat ke arah Kinan. "Ucapan siapa, Dok?" tanya Cinta yang memang masih belum sadar maksud Kinan.


"Ucapan Kak Naru," sahut Kinan meletakkan kedua tangannya pada meja bar.


"Oh, tidak apa-apa, Dok!"


"Tapi aku tahu jika kau pasti merasa tak nyaman dengan ucapannya, bukan?" tanya Kinan lagi.


Cinta sedikit menarik senyumnya. "Sedikit saja," tutur Cinta mencoba menutupi perasaan yang sebenarnya terhadap Kinan.


"Dia memang seperti itu jika sudah berada dekat dengan orang-orang yang ia kasihi," jelas Kinan tersenyum pada Cinta.


"Kalian berdua sudah lama kenal?" tanya Cinta masih tetap mengaduk-aduk es buahnya tanpa ada niatan ingin memakan es itu.


"Cukup lama," jawab Kinan.


"Jika dia bersikap seperti tadi, maka kau orang yang termasuk ia kasihi?" tanya Cinta ingin mengorek Kinan lebih dalam.


"Karena kau termasuk orang terdekat Naru, maka ...."

__ADS_1


"Maaf, Dok! saya hanya Asistennya saja, tidak lebih dari itu," potong Cinta atas ucapan Kinan yang masih belum rampung menyempurnakan ucapannya.


Kinan tersenyum manis pada Cinta. "Itu menurutmu, Nona! tapi selama aku mengenalnya, dia tak pernah dekat dengan perempuan manapun selain aku," jelas Kinan.


"Haihh, terserah dokter saja, yang jelas aku dan dia hanya sebatas bos dan bawahan saja," pasrah Cinta namun, masih berusaha menjelaskan pada Kinan tentang kebenarannya.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu," tutur Kinan memutar kursi bar tersebut menghadap ke arah Cinta dan Asisten dadakan Naru itu juga melakukan hal yang sama.


"Kami tak sengaja bertemu di rumah sakit tempat aku bekerja dan rumah sakit itu milik dokter William yang tak lain adalah ayah Kak Naru. Sejak saat itu, Kak Naru sering datang dan kami menjadi semakin akrab sampai pada suatu hari ia menyatakan perasaannya padaku ...."


"Dokter menerimanya?" tanya Cinta memotong pembicaraan Kinan.


Dokter muda itu menarik sudut bibirnya elegan. "Tentu saja tidak," sahut Kinan.


"Kenapa, Dok? Chef Naru tampan, mapan, dan juga pekerja keras," celetuk Cinta ingin tahu respon Kinan.


"Cinta tak bisa dipaksakan, Nona!"


Mata Cinta menyipit sempurna menatap ke arah Kinan. "Jangan bilang Chef Naru bukan tipe Dokter Kinan!"


Lagi-lagi Kinan menarik dua sudut bibirnya semanis mungkin. "Sebenarnya jika dilihat dari kitab tipe pria idaman wanita, Kak Naru sangat masuk dalam buku itu, bahkan menempati urutan pertama, tapi setiap wanita ada yang sudah memiliki cintanya atau belum memiliki cintanya sendiri sebelum ia datang," jelas Kinan panjang lebar.


Pertanyaan itu mulai terngiang dalam benak Cinta. Ia ingin sekali menanyakan hal tersebut pada Kinan namun, ia masih enggan melontarkannya karena ia berpikir takut terlalu jauh mengorek informasi pribadi seorang dokter cantik yang berada di hadapannya.


Kinan menyanggah kepalanya menggunakan tangannya yang mana siku Dokter muda itu sudah bertumpu pada meja bar. "Aku tau apa yang sedang kau pikirkan," tebak Kinan saat melihat raut wajah Cinta.


Cinta yang tengah asyik dengan pergulatan dalam otaknya akhirnya sadar dan tersenyum pada Kinan. "Tidak ada yang saya pikirkan, Dok!"


"Aku sudah memiliki pria idamanku sendiri dan kabar buruknya, aku tak tahu nama atau rumah pria itu," jelas Kinan menjawab pertanyaan yang ada dalam pikiran Cinta.


Cinta terdiam memandang wajah Kinan. Gadis itu mencari raut kebohongan pada wajah dokter kandungan itu namun, tak ada kebohongan disana, melainkan raut wajah penuh akan kejujuran.


"Tapi Dokter ingat dengan wajah pria itu?" tanya Cinta.


"Jangan panggil aku dokter, panggil aku Kakak saja," pinta Kinan pada Cinta.


"Tapi, Dok ...."

__ADS_1


"Kakak saja, agar kita lebih akrab karena kau saat ini sudah menjadi teman curhatku. Umurmu masih muda bukan?" tanya Kinan pada Cinta.


"23 Dok! ... mmmmm, Kakak maksudnya," tutur Cinta malu-malu.


"Umurku lebih tua darimu, jadi Kakak adalah panggilan yang tepat untukku," jelas Kinan sembari melihat ke arah es buah milik Cinta yang tak tersentuh oleh bibir gadis itu.


"Makanlah es buahmu, Adik Cinta! apa kau tau siapa yang meracik es itu?" tanya Kinan sembari menaik turunkan alisnya.


"Kakak, kan?"


"Tentu saja ... bukan!"


Kedua alis Cinta hampir menyatu mendengar penuturan Kinan. "Bukan? jika bukan Kakak, lalu siapa? bukankah tadi Chef ... atau jangan-jangan ...."


Kinan menjumput dagu Cinta dengan gerakan tangan dan raut wajah gemas pada gadis pemilik toko kue tradisional itu. "Tepat sekali! Kak Naru yang membuatnya," tutur Kinan.


Cinta melihat ke arah es buah yang sempat ia aduk-aduk tanpa ia makan sama sekali.


Setelah cukup lama memandang mangkuk keramik itu cukup lama, akhirnya arah tatapan mata Cinta beralih pada wajah Kinan. "Mmmmm ...."


"Kenapa?" tanya Kinan.


"Tidak apa-apa, Kak!"


Dengan cepat Kinan mengambil mangkuk keramik berisi es buah yang masih terasa dingin di tangannya.


Dokter muda itu memberikannya pada Cinta. "Coba kau makan," pinta Kinan menyodorkan es buah yang ada di tangannya.


Cinta tersenyum kikuk pada Kinan. "Tapi Kak ...."


"Jika kau masih ingat dengan perkataan, Kak Naru! coba kau pandangi mangkuk yang berisi es ini dan bayangkan, jika Kak Naru tengah tersenyum padamu menandakan jika ia memintamu untuk memakan es buah ini," pandu Kinan agar perasaan tak nyaman Cinta terhadap Naru bisa menghilang.


Cinta memejamkan matanya mencoba melakukan apa yang Kinan minta.


Perlahan gadis itu menegakkan posisi duduknya dengan kedua kelopak mata yang juga ikut terpejam.


"Semoga aku bisa melakukan hal itu."

__ADS_1


Cinta menarik napas dan menghembuskan secara perlahan. Saat kedua kelopak matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, saat mata itu sudah seutuhnya terbuka, tubuh Cinta mematung melihat bayangan yang berada di hadapannya.


__ADS_2