
Cinta dan Naru sudah berada di parkiran resto milik Naru.
Gadis itu turun lebih dulu dari motor milik Naru, kemudian disusul oleh Naru setelah pria tersebut membuka helmnya.
Saat Cinta berusaha membuka helmnya sendiri dengan susah payah, akhirnya Naru mengambil alih pekerjaan asistennya. "Biar aku saja," pinta Naru langsung membuka helm yang dikenakan Cinta.
Mereka berdua berjalan ke arah pintu masuk resto dimana Naru berada di depan memimpin perjalanan masuk ke dalam resto tersebut. Setelah pemilik resto itu sudah membuka kunci pintunya, Cinta masih mengikuti Naru masuk ke dalam ruangannya.
Gadis itu meletakkan kotak bekal yang ia bawa tepat di meja kerja Naru. "Kau sarapan saja dulu, nanti akan aku buatkan minum hangat," ujar Cinta langsung bergerak ke arah dapur, sementara Naru duduk di kursi kebanggaannya.
Cinta mulai bergulat dengan pekerjaannya, meskipun hanya membuat segelas susu hangat saja.
Beberapa menit kemudian, gadis itu langsung bergerak ke arah ruangan bosnya dengan mata yang masih sempat mengintai ke arah pintu masuk resto untuk memastikan tidak ada pegawai lain yang datang.
Dengan gerakan cepat, Cinta langsung masuk ke dalam ruangan Naru sembari memegang segelas minuman hangat di tangannya.
Naru ternyata sudah berada di sofa ruangan tersebut dengan kotak bekal yang masih tak tersentuh sama sekali dan kotak tersebut berada di meja.
"Kenapa pindah kemari? bukankah lebih enak makan di mejamu sendiri daripada di sofa tamu?" tanya Cinta duduk di sofa tepat berhadapan dengan Naru.
"Aku menunggumu," balas Naru singkat padat dan jelas.
"Untuk apa menungguku?"
"Bukankah kau masih belum sarapan?" tebak Naru dan raut wajah Cinta seketika mencoba mengingat-ingat kejadian tadi pagi.
"Ah, kau benar! aku tak sarapan, tapi aku bisa-"
"Kita makan berdua roti itu," titah Naru.
"Tidak mau!"
"Kenapa tidak mau? bukankah kau belum sarapan, apa kau ingin sakit?"
"Aku membuatkan roti itu untukmu, jadi kau yang harus makan rotinya, bukan aku," jelas Cinta terperinci.
Naru masih melihat ke arah kotak bekal dan segelas susu hangat di hadapannya secara bergantian, pria itu masih mencari cara, agar Cinta mau sarapan karena gadis itu tak sempat sarapan.
"Minum susu itu!" pinta Naru menatap Cinta dengan sorot mata penuh ketegasan.
"Tapi, 'kan ...."
__ADS_1
"Cepat minum atau aku akan memotong gajimu," ancam Naru membuat bibir Cinta seketika mengerucut.
"Sadis sekali kau, beraninya hanya mengancam potong gaji," omel Cinta sembari mengambil segelas minuman hangat yang berada di meja ruangan itu dengan gerakan malas.
"Coba saja aku jadi bosnya, sudah aku pecat karyawan macam dirim-"
"Kau bicara apa tadi?" tanya Naru pura-pura tak mendengar gumaman Cinta yang masih dapat ia tangkap menggunakan indera pendengarannya.
Cinta tersenyum manis pada Naru. "Aku berkata, jika kau pria yang tampan, baik hati dan rajin menabung dan pasti perempuan yang mendapatkanmu akan sangat beruntung," ujar Cinta dengan segala kebohongannya.
"Apa gendang telinganya terpasang sensor canggih? aku berbicara dengan nada suara sekecil itu saja, bisa didengarnya," celoteh Cinta dalam hatinya.
Segelas minuman hangat sudah berada di tangannya, gadis itu melihat minuman hangat tersebut dengan mata yang nampak tak ada minat untuk meminumnya.
"Kenapa hanya dilihat? mau aku bantu?" tanya Naru dengan seringai liciknya.
Cinta yang sudah sadar akan senyuman rubah itu, akhirnya menggelengkan kepalanya tanda tak sudi menerima tawaran Bosnya.
Cinta memejamkan matanya mempersiapkan diri untuk meneguk minuman hangat tersebut.
Glek glek glek
Belum juga minuman itu habis, Cinta sudah meletakkan sisa dari minumannya di atas meja dengan raut wajah cukup aneh.
"Aku tak terbiasa minum itu pagi-pagi begini," sahut Cinta masih dengan mulut menyecap sisa dari rasa minuman hangat tersebut.
Naru tersenyum kala ia memandang wajah Cinta.
Gadis itu merasa aneh dengan senyum Naru karena ia sadar, jika bosnya itu saat ini tengah menertawakan dirinya.
"Kenapa kau?" tanya Cinta kesal.
"Wajahmu lucu," sahut Naru apa adanya.
Cinta segera menyentuh bagian wajahnya tepat setelah Naru mengatakan, jika wajahnya terlihat aneh.
"Apa ada sesuatu di wajahku? tapi kenapa baru sekarang pria gila ini menertawakan aku?"
Naru berdiri dari single sofa tempat ia duduk. Pria itu berjalan dan berjongkok tepat di hadapan Cinta. "Mau aku bantu?" tanya Naru pada Cinta.
"Nanti kau masih meminta imbalan padaku," ujar Cinta dengan tatapan polosnya.
__ADS_1
"Kali ini tidak," balas Naru meyakinkan.
Cinta akhirnya menganggukkan kepalanya dan Naru tersenyum karena niat baiknya membuahkan hasil.
Perlahan jarak Naru dan Cinta mulai terkikis habis dan wajah mereka berdua saling dekat satu sama lain.
"Ma-mau a-apa kau?" tanya Cinta gelagapan karena posisi mereka saat ini seakan Naru ingin mencium bibirnya.
"Aku akan membantumu."
"Tapi posisi kita ...."
"Kau diam saja dan nikmati apa yang akan aku lakukan," jelas Naru pada Cinta.
Senyum pria itu mulai terbit, Naru semakin mendekatkan wajahnya.
Jantung Cinta sudah bergetar bukan main.
"Jangan bilang, jika pria ini akan mengambil first kiss-ku yang sangat berharga," gumam Cinta dalam hati masih melihat ke arah bibir Naru yang semakin dekat ke arahnya.
Saat jarak sudah terkupas habis, bukan bibir Naru yang menyentuh bagian atas bibir Cinta, melainkan jempol Naru yang mengusap bekas minuman hangat di sudut bibir atas sang asisten.
"Jika bekas minuman ini tak dibersihkan, kau akan terlihat seperti perempuan berkumis," ledek Naru sembari tersenyum manis dengan sorot mata yang masih terfokus pada bibir Cinta.
"Alasan," celetuk Cinta dengan nada acuh.
Mata Naru menatap kedua manik mata Cinta. "Alasan?" tanya Naru tak mengerti arah ucapan lawan bicaranya.
"Bilang saja jika kau ingin menciumku," tuduh Cinta blak-blakan.
Kedua sudut mata Naru menyipit. "Apa sungguh pikiran itu yang terlintas dalam benakmu?" tanya Naru dengan suara pelan seakan berbisik namun, hembusan napas pria itu mengantarkan sebuah gelenyar aneh pada lawannya.
Karena tak ada jawaban dari Cinta, akhirnya Naru membulatkan tekad untuk memenuhi semua angan yang sudah terpahat dalam benak Cinta.
Saat bibir mereka sudah hampir menempel, suara pintu terbuka membuat adegan manis itu terhenti.
Dua orang pria tengah berdiri mematung melihat posisi kepala Naru yang sedikit miring bagai orang yang tengah berciuman namun, kenyataannya, Naru tak melanjutkan rencananya karena terusik dengan suara pintu tersebut.
Wajah Naru sedikit bergeser ke samping agar ia dapat melihat siapa yang datang dan seketika senyum dari bibirnya terbit. "Kalian sungguh pengganggu yang sangat tepat waktu," sindir Naru membuat Cinta ikut menoleh ke arah kedua pria tersebut.
"Ka-kalian!"
__ADS_1
Wajah Cinta sudah bersemu merah karena pasti kedua pria itu mengira dirinya ada hubungan dengan Naru.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘