
Kinan dan Dio hanya memperhatikan Cinta dan Naru dari kejauhan karena mereka berdua berlari cukup jauh sampai ke pantai.
Cinta masih terus berlari dengan napas ngos-ngosan karena Naru juga nampaknya tak ingin menyerah untuk terus mengejar Cinta sampai dapat.
Naru terus menancapkan gasnya sampai ia bisa meraih tangan Cinta dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya karena hanya dengan cara itu Cinta dapat ia tangkap.
"Mau kemana lagi kau, hah!"
Tubuh Cinta sudah terkunci dalam dekapan Naru. "Lepaskan aku!" Cinta terus berontak mencoba melepaskan dirinya dari jeratan tubuh Naru.
Bukannya marah, Naru malah tersenyum penuh kemenangan karena ia dapat melihat raut wajah kesal Cinta. "Ini balasan karena kau telah berani membuat mulutku kepedasan sampai aku tersedak," oceh Naru membuat pergerakan tubuh Cinta yang sedari tadi menggeliat tak enak diam terhenti seketika.
Cinta menatap ke arah Naru tajam. "Sudah puas?" tanya Cinta ketus.
"Tentu saja belum!"
"Mau apa lagi kau, hah! aku tak ingin berlama-lama berada dalam posisi ini denganmu," cicit Cinta penuh tatapan sinis pada Naru.
"Apa kau takut jatuh cinta padaku?"
Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur bebas dari mulut Naru dengan posisi masih berpelukan dan tangan Cinta terkunci tak bisa apa-apa.
Cinta melihat dalam kedua manik mata kebiruan milik Naru. "Kau benar! aku tak ingin cinta ini terlalu dalam masuk ke dalam hatiku karena aku tahu hasil akhirnya akan seperti apa."
"Mana mungkin aku jatuh cinta pada pria seperti dirimu! kau pasti tak akan bisa mencintai perempuan selain, Dokter Kinan!"
"Bagaimana jika aku bisa benar-benar mencintaimu?" tanya Naru pada Cinta membuat kelopak mata gadis itu hanya berkedip-kedip tanpa ingin membalas pertanyaan konyol Naru.
"Kenapa diam? bagaimana jika aku bisa mencintaimu?" tanya Naru lagi menatap kedua manik mata Cinta dalam, sedalam lautan.
"Itu tidak akan mungkin," sergah Cinta lagi seakan gadis itu tahu jika Naru tak akan pernah mencintainya.
Tiba-tiba saja wajah Naru mendekat ke arah wajah Cinta dan otomatis gadis itu memundurkan wajahnya sejauh mungkin dari Naru.
"Kenapa menghindar? aku hanya ingin mengujimu saja, kau akan tergoda padaku atau tidak, jika kita sering berinteraksi lebih dekat dengan intensitas yang cukup sering," jelas Naru.
Cinta memejamkan matanya mencoba menimang keputusan yang akan ia ambil. "Lakukan saja sesuai keinginan hatimu, Cinta!"
Mata Cinta perlahan terbuka. Mata hitam pekat itu kembali bertemu dengan mata kebiruan milik Naru. "Lakukan saja apa yang ingin kau ujikan padaku, sekalian sebagai pembelajaran untukmu menaklukkan hati wanita dan yang harus kau ingat tingkat kemanisanmu masih separuh, Chef! jika sudah 100%, aku akan melepaskanmu," tutur Cinta menyatukan ujung hidungnya dengan ujung hidung milik Naru.
Gejolak dalam diri Naru seakan bangkit mendapatkan tantangan seperti itu dari Cinta.
Bukannya menghindar, Naru justru menyatukan keningnya dengan kening Cinta. "Kau tak bisa lari dariku, Cinta!"
__ADS_1
Cinta memejamkan matanya menahan untuk tak membalas pelukan Naru padanya, sementara Naru mengira jika itu adalah lampu hijau baginya.
Perlahan tapi pasti bibir Naru mendekat ke arah wajah Cinta dan ....
Cupppp
Kecupan cukup lama dan hangat mendarat pada kening Cinta.
Awalnya sasaran Naru adalah bibir asistennya namun, entah malaikat mana yang berbisik pada Naru sampai pada akhirnya ciuman itu beralih pada kening Cinta.
Kecupan mesra tersebut terlepas dengan wajah Cinta yang tentunya terkejut bukan main.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cinta penasaran dengan jawaban Naru.
"Mencoba meluluhkanmu," sahut Chef Yunani tersebut.
Jawaban Naru lagi-lagi membuat perasaan Cinta bimbang antara ia harus tetap dengan hatinya atau melupakannya.
Cinta memberanikan diri menatap mata Naru. "Bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta padamu?" tanya Cinta.
Entah mengapa perasaan Naru seperti ada sebuah kuncup bunga yang mulai mekar, meskipun tak utuh.
Naru semakin mengeratkan pelukannya pada Cinta. "Kau harus menjadi istriku."
Deg deg deg
"Memang kenapa? kau memang akan menjadi istriku, istri palsuku jika memang kita diharuskan melakukan itu untuk mendapatkan Ki ...."
Cinta mendorong tubuh Naru sekuat tenaga dan akhirnya gadis itu terlepas dari jeratan bosnya karena Naru kala itu tak memiliki kesiapan apapun, sampai Cinta lepas dari dekapannya.
Cinta kembali berlari sampai pada akhirnya, ia berhenti sembari meringis kesakitan.
Naru menghampiri Cinta yang terlihat aneh. "Kau kenapa?" tanya Naru cemas namun, Cinta tak menjawab pertanyaannya karena posisi gadis itu membelakanginya.
Naru melihat ke arah kaki kanan Cinta yang sedikit di tekuk. "Angkat kakimu," pinta Naru.
"Tidak mau!"
"Cinta!"
"Tidak mau!"
"Bagaimana jika kau digigit hewan beracun," bujuk Naru dan seketika telapak kaki kanan Cinta terangkat.
__ADS_1
Telapak kaki kanan gadis itu ternyata terkena karang dan lukanya tak terlalu dalam.
"Apakah aku digigit hewan beracun?" tanya Cinta ketakutan.
"Iya! kita harus segera kembali ke villa untuk mengobatinya sebelum racunnya menjalar kemana-mana," bual Naru agar gadis itu mau kembali ke villa.
Saat Cinta hendak berjalan, ia hampir saja terjatuh namun, untungnya ada Naru yang menangkap tubuhnya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Iya," sahut Cinta.
Naru berjongkok tepat di hadapan Cinta. "Naiklah ke punggungku," pinta Naru.
"Tidak mau! aku tak ingin merepotkanmu," tolak Cinta secara langsung tanpa basa-basi.
"Apa kau ingin racunnya semakin menyebar," ancam Naru membuat Cinta langsung naik ke punggung Naru dan senyum bangkit dari bibir pria itu. "Hanya begini saja susah sekali," cicit Naru.
"Jika kau tak memeluk leherku, kau akan jatuh, Nona!"
Akhirnya Cinta mengalungkan tangannya pada leher Naru dan keduanya berjalan bagai pasangan yang tengah di mabuk Cinta.
Kinan dan Dio melihat Naru dan Cinta, keduanya segera menghampiri Naru dan Cinta. "Cinta kenapa?" tanya Dio cemas.
"Kakinya terkena karang," sahut Naru terus berjalan ke arah villa namun, sebelum benar-benar sampai di villa, Chef Yunani itu berhenti. "Kita tak jadi camping, kondisi Cinta tak memungkinkan," jelas Naru melanjutkan arah tujuannya.
Saat sudah berada di kamar Cinta, gadis itu di dudukkan di tempat tidur, sementara Naru mengambil handuk basah dari dalam kamar mandi Cinta.
Naru berjongkok dan mengusap lembut kedua kaki Cinta bergantian dengan sapu tangan basah tersebut secara perlahan. "Jangan terkena air dulu, biarkan lukanya mengering agar tak terinfeksi," jelas Naru.
"Kau membawa kotak P3K?" tanya Naru pada Cinta. "Ada di ranselku," sahut Cinta.
Naru mengambil kotak tersebut dan mengobati luka Cinta dengan obat merah, setelah itu ia membalut luka itu menggunakan kassa dan merekatkannya dengan plester.
Cinta melihat semua itu dengan tatapan kagum pada Naru. "Pasti istri pria ini kelak akan beruntung sekali."
Naru meletakkan kembali kotak P3K ke tempatnya, begitu pula dengan handuk basah yang ia letakkan pada keranjang kotor.
Naru kembali menghampiri Cinta. "Istirahatlah! kau harus cepat pulih untuk besok karena kita akan bermain banana boat," ujar Naru sembari menundukkan kepalanya dan ....
Cuppp
Kecupan mendarat sempurna pada kening Cinta.
"Lekas sembuh karena aku tak ingin harus repot-repot mencari pakar cinta lagi, yang aku mau hanya dirimu," bisik Naru yang perlahan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Wajah Cinta sudah memerah karena ulah Naru. "Dasar pria menyebalkan!"
JANGAN LUPA LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS πππLIKE HARUS TEMBUS 500 π₯°π₯°π₯°