
Cinta masuk ke dalam kamarnya tanpa keluar lagi, sementara Naru hanya meletakkan koper milik Kinan, kemudian ia keluar.
Naru berhenti tepat di ambang pintu kamar itu dan melihat ke arah sekeliling villa.
Sosok gadis yang ia cari tak nampak yaitu Cinta.
"Kemana dia? atau jangan-jangan dia ...."
Naru melihat ke arah pintu kamar Cinta.
"Pasti dia sudah masuk ke dalam dan tak akan keluar lagi."
Kinan mendekati Naru. "Ada apa, Kak?" tanya Kinan pada Naru yang nampak kebingungan.
Naru tersadar seketika mendadak melempar senyum pada Kinan. "Tidak apa-apa, Kinan! aku hanya lapar saja," elak Naru pada Kinan.
"Kita masak saja setelah ini," tutur Kinan dan Naru menganggukkan kepalanya.
Dio berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
Kinan juga ikut masuk ke dalam kamarnya, sementara Naru masih diam di dekat kamar antara kamar Cinta dan Kinan.
"Kenapa dia tak keluar kamar lagi? apa dia sedang kerasukan langsung menuju laut untuk menceburkan dirinya," gumam Naru sembari bergerak ke arah pintu kamarnya.
Sebelum pria itu membuka pintu kamarnya, Naru berbalik badan masih melihat ke arah pintu kamar Cinta.
Pria itu hanya ingin memastikan apakah asistennya itu akan keluar atau masih tetap di dalam kamarnya.
"Sepertinya dia benar-benar menceburkan dirinya ke laut!"
Naru memutuskan untuk membuka pintu kamarnya dan Chef tampan itu masuk ke dalam kamar tersebut.
Selang waktu beberapa menit, akhirnya Kinan keluar lebih dulu dari dalam kamarnya, ia melihat ke arah sekeliling villa tersebut tak nampak satupun dari ketiga orang yang bersama dengannya tadi. "Kemana mereka! apa mungkin mereka beristirahat karena kelaparan?" tanya Kinan pada dirinya sendiri.
Kinan melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur villa tersebut. Saat kaki Kinan sudah dua langkah ke depan, pintu kamar Naru terbuka dan dokter kandungan tersebut menoleh ke arah pintu kamar Naru.
"Kakak tidak istirahat?" tanya Kinan pada Naru.
"Tidak! karena aku tahu kalian pasti lapar, jadi aku memutuskan untuk memasak," sahut Naru yang sudah mengenakan setelan baju santainya.
Kinan dan Naru saling melempar senyum, mereka bersama-sama berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan, sementara di dalam kamarnya, Cinta masih berada di pagar pembatas kamar yang langsung menampilkan pemandangan laut.
Gadis itu nampaknya tengah merenungi sesuatu, ia berfikir mengapa hatinya merasa tidak nyaman saat ini, ia merasa kesal, tapi dirinya tidak tahu apa yang membuat rasa kesal itu bisa muncul.
"Ini pasti gara-gara si Chef Kaku itu!"
__ADS_1
Dio yang berada di kamarnya akhirnya keluar.
Kakak angkat dari Cinta itu berjalan ke arah pintu kamar sang Adik. Ia tahu jika Cinta tak mungkin keluar dari kamarnya karena tadi ia melihat raut kelelahan dari wajah sang adik.
Dio mencoba mengetuk pintu kamar Cinta.
Tok tok tok
Tak ada sahutan dari dalam kamar itu. "Apa dia sudah keluar? tapi aku kenal betul Cinta seperti apa, dia tidak akan keluar begitu saja jika sudah kelelahan," gumam Dio sembari mencoba mengetuk pintu kamar Cinta kembali.
Tok tok tok
Masih belum ada sahutan dari dalam kamar itu namun, sedetik kemudian, akhirnya suara pintu kamar Cinta terdengar dan daun pintu itu terbuka, menampakkan sosok gadis cantik dengan balutan dress bunga-bunga.
"Ada apa, Kak?" tanya Cinta pada Dio.
Dio tersenyum sembari melangkahkan satu langkah kakinya ke depan dan menyentuh puncak kepala Cinta. "Aku tahu jika kau masih di dalam," ujar Dio pada Cinta.
Cinta tersenyum pada Dio. "Kakak memang orang yang sangat mengerti aku," tutur Cinta.
Dio hanya tersenyum pada Cinta sembari terus mengusap puncak kepala adiknya.
Cinta melihat ke arah samping kamarnya, yang mana kamar itu adalah kamar Kinan.
Dio mengerti maksud tatapan adiknya itu. "Kau pasti mencari wanita itu, kan?" tanya Dio pada Cinta.
"Aku lebih mengenal dirimu melebihi siapapun, Adikku Sayang!"
"Jadi mereka dimana, Kak?" tanya Cinta pada Dio.
Dio menoleh ke arah sekitar. "Sepertinya mereka berada di dapur," tebak Dio karena pria itu mencium aroma bumbu di villa tersebut.
Dio menarik tangan Cinta berjalan ke arah ruangan yang Dio yakini itu adalah dapur dari villa itu.
Langkah kaki Cinta dan Dio sudah hampir sampai di depan pintu masuk dapur.
Saat tubuh Cinta dan Dio berada tepat di ambang pintu masuk dapur villa, spontan langkah kaki Cinta terhenti.
Dio menoleh ke arah sang adik. "Kenapa, Cinta?" tanya Dio dengan wajah terheran-heran.
Arah tatapan mata Cinta tertuju pada dua manusia yang tengah bercanda tawa sembari memotong bahan masakan.
Sementara sepanci makanan sudah berada di atas kompor mulai tercium wanginya.
Cinta kembali melihat ke arah Naru dan Kinan yang nampak sangat antusias memasak bersama.
__ADS_1
Dada Cinta seperti diremas begitu kuat. Gadis itu menundukkan kepalanya merasa ada sesuatu yang akan jatuh namun, tubuh Cinta tiba-tiba berbalik membelakangi Naru dan Kinan yang masih asyik bercanda gurau.
"Kenapa, Cinta?" tanya Dio untuk yang kedua kalinya karena pertanyaan sebelumnya tak di jawab oleh Cinta.
Akhirnya tubuh Cinta berbalik menghadap ke arah Dio. "Tidak apa-apa, Kak!"
Cinta tersenyum sembari melangkah ke arah Naru dan Kinan.
Cinta berada tepat di belakang keduanya. "Ada yang bisa aku bantu?" tanya Cinta pada Kinan dan Naru.
Serempak keduanya menoleh ke arah Cinta.
"Tidak perlu! sudah ada Kinan yang membantuku," tolak Naru pada Cinta.
Lagi-lagi ribuan panah tertancap cukup dalam pada dada Cinta.
Cinta tersenyum manis pada Naru. "Baiklah!"
Cinta berbalik badan dan saat kakinya hendak melangkah, suara Kinan menghentikan langkah itu, "Kau bisa meracik es buah, Cinta!"
Cinta melihat ke arah Kinan diiringi senyum palsunya. "Sudah ada dokter yang membantu Chef Naru disini."
Cinta melanjutkan niatnya meninggalkan dapur itu.
Cinta melewati Dio yang masih berada di ambang pintu.
"Cinta! kau mau kemana?" tanya Dio sedikit berteriak pada Cinta.
Bukannya menjawab pertanyaan sang Kakak, Cinta lebih memilih berlari keluar dari villa.
Cinta terus berlari menuju arah pantai dengan setetes air mata yang semakin lama semakin banyak keluar dari pelupuk matanya.
Cinta terus berlari ke arah pantai dengan air mata yang cukup membuat pipinya basah.
"Kenapa aku harus merasa seperti perempuan yang sudah tak dibutuhkan lagi," gumamnya di sela-sela air mata yang mulai semakin intens berjatuhan.
Cinta sudah berlari cukup jauh dan akhirnya gadis itu sampai di tepi pantai.
Cinta menghapus air matanya cukup kasar. "Ingat posisimu, Cinta!"
Mata Cinta tertuju ke tengah laut, bayangan Kinan dan Naru kembali terlintas dalam benaknya.
"Aaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkk!"
Cinta berteriak sekencang mungkin untuk melepas semua gejolak yang ia rasakan.
__ADS_1
Tangan kokoh memeluknya dari belakang sembari berkata, "Aku akan selalu ada untukmu."