
Cinta masih diam dengan pemikirannya yang entah mengapa harus berkelana ke arah yang memang tak patut ia pikirkan karena gadis itu seharusnya sudah tau dan sudah memprediksi jika perpisahan diantara dirinya dan Naru pasti akan terjadi.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Naru dengan tangan yang masih menahan tangan Cinta untuk pergi darinya.
"Aku hanya ingin ke villa karena hari sudah mulai gelap," sahut Cinta dan Naru melihat ke arah atas dimana langit terbentang luas dan warnanya juga sudah mulai menggelap. "Masih belum malam," celetuk Naru.
"Jika kau masih betah mendudukkan dirimu di atas pasir putih ini, ya terserah! aku mau masuk ke dalam," ujar Cinta melepaskan tautan tangannya dari tangan Naru.
Pria itu tersenyum melihat raut wajah Cinta yang sudah cemberut. "Jangan tinggalkan aku!" seru Naru dengan suara yang cukup lantang.
Gerak kaki Cinta yang tadinya sudah terarah ke villa seketika terhenti. Cinta berbalik menatap ke arah Naru. "Kau memanggil siapa?" tanya Cinta pada Naru.
"Dirimulah! kau kira siapa?" tanya balik Naru dengan raut wajah santai.
Cinta melihat ke arah Kinan yang terciduk tengah menonton aksinya dan Naru. Dokter muda itu tersenyum sembari melambaikan tangannya berlagak polos, padahal ia senang sekali bisa melihat dua sejoli yang ia yakini tengah kasmaran.
Cinta kembali melihat ke arah Naru. "Aku kira kau memanggil, Dokter Kinan!"
"Mana mungkin aku memanggilnya, Nona! aku tak ingin menyusahkan dia," balas Naru masih dengan posisi duduk di atas pasir putih.
"Sudah aku duga! pria ini pasti ada maunya memanggilku! ck, mana mungkin dia memiliki ... ah, hentikan, Cinta! apa yang kau pikirkan! buang jauh-jauh pemikiran gilamu itu."
"Kenapa kau memanggilku?" tanya Cinta ketus.
Tiba-tiba Naru mengulurkan kedua tangannya dengan wajah yang ia buat sepolos mungkin. "Bantu aku bangun!"
Mulut Cinta sungguh dibuat menganga oleh kelakuan kekanakan bosnya. "What? telingaku masih berfungsi atau tidak ya?"
Naru masih setia dengan raut wajah polosnya. "Telingamu tak bermasalah, Nona! aku sungguh ingin meminta bantuanmu," ujar Naru kembali.
"Hahahaha!"
Tiba-tiba gelak tawa keluar dari mulut Cinta. Dio yang berada di dalam tenda keluar secepat kilat dan Kinan malah cekikikan sendirian melihat tingkah konyol keduanya.
"Hei, Chef! apa masa kecilmu kurang bahagia? kau kira aku ini apa? kau itu sudah dewasa, bahkan kau sudah masuk dalam kategori TUA!" Cinta sengaja menekankan kata tua pada Naru agar pria itu tak bersikap kekanak-kanakan lagi.
Bukannya marah, ekspresi Naru malah berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh Cinta.
__ADS_1
Pria itu malah mengeluarkan raut wajah sedih seperti kucing yang tak diberi makan ikan. "Kau jahat," ujar Naru menundukkan wajahnya dan hal itu berhasil membuat hati Cinta melunak.
"Apa-apaan dia! apa mungkin pria itu menangis? ah, tidak mungkin!"
Cinta masih tak perduli dengan apa yang terlintas dalam pikirannya namun, saat ia melihat pundak Naru mulai naik turun, pertahanan Cinta goyah.
Kaki Cinta perlahan mulai mendekati Naru, sementara kepalan tangan seorang pria jangkung lainnya mulai kembali terlihat.
"Kenapa Cinta harus berjalan ke arah dia?"
Berbeda dengan Kinan yang memang pro dengan hubungan tak peka kedua manusia beda jenis itu.
Jarak Cinta dan Naru semakin dekat, sampai pada saat dimana kedua telapak kaki gadis itu sudah berada di hadapan Naru. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Cinta pada pria yang berada di bawahnya tengah duduk pasrah menanti bala bantuan untuk membantunya bangun.
Wajah Naru perlahan terangkat ke atas melihat ke arah Cinta yang masih berdiri di hadapannya.
Cinta terkejut kala ia melihat ada sebulir air mata yang menetes dari pelupuk mata bosnya. "Kenapa menangis?" tanya Cinta lagi dengan suara yang lebih lembut.
"Karena kau," sahut Naru dengan suara dibuat selemah mungkin seperti orang yang habis teraniaya.
"Aku? memang aku melakukan apa padamu?" tanya Cinta heran.
"Kau kan sudah ...."
"Aku mau dibantu," sambung Naru dengan suara dan raut wajah yang sama.
"Jika pria ini tak dituruti, pasti akan memakan waktu lama, mana hari sudah mulai gelap."
Tangan Cinta langsung terulur ke arah Naru berniat untuk membantunya. "Cepat bangun!"
Wajah Naru seketika berbinar dan tersenyum manis ke arah Cinta. "Terima kasih!"
Tanpa ba-bi-bu, Naru segera menggenggam tangan Cinta dan menarik tangan asistennya sekuat tenaga untuk berdiri. Karena tak memberi aba-aba, Cinta yang tak memiliki kesiapan, akhirnya tubuh gadis itu lagi-lagi tertarik ke arah Naru dan kali ini bukan menindih tubuh bosnya, melainkan duduk tepat dipangkuan Naru.
Wajah mereka berdua sangat dekat, bahkan hidung mereka juga kurang satu inci saja untuk bersentuhan.
Tangan Cinta melingkar indah di leher Naru, sementara tangan pria itu berada di punggung Cinta posesif.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Naru dengan nada cemas.
"I-iya."
Mata keduanya saling tatap dengan deru napas yang pasti sudah saling tukar kehangatan.
Aroma greentea menyeruak dalam indera penciuman Naru dan aroma itu pasti berasal dari lip balm yang digunakan Cinta.
Sementara wangi maskulin dapat Cinta hirup sesuka hatinya dan wangi itu di tebar oleh Naru dari tubuhnya yang pasti menggunakan parfum super mahal.
Karena matahari juga semakin hilang dari peradaban membuat cahaya meremang memberikan dorongan pada Naru untuk bertahan dengan posisinya.
Saat wajah mereka sama-sama mendekat dan jarak mereka juga hampir terkikis habis, suara seorang pria membuyarkan semuanya.
"Sudah malam, Cinta!"
Keduanya langsung tersadar dan dengan gerakan kacau mereka berdiri seperti orang yang tengah terciduk berbuat hal terlarang.
"I-iya, Kak!"
Cinta segera berjalan ke arah villa dengan gerakan kaki seribu, sementara Dio masih diam menatap Naru tajam. "Kuharap kau tak jatuh cinta padanya," sergah Dio dengan suara penuh akan isyarat ancaman.
Naru menatap Dio balik. "Hanya terbawa situasi saja, kau tenang saja! gadisku hanya Kinan," jelas Naru santai.
"Baguslah jika kau sadar diri," tutur Dio melangkahkan kakinya menuju arah villa mengikuti Cinta.
Kinan yang sedari tadi menjadi penonton berpura-pura tak tahu apa-apa. Ia masih fokus dengan pekerjaannya mengupas kulit jagung. "Ada yang aneh dengan hubungan Cinta dan Dio!"
Naru melihat ke arah Kinan yang masih sibuk. "Kau tak ingin masuk? kita lanjutkan nanti saja," teriak Naru pada Kinan karena posisi mereka memang terbilang cukup jauh.
Kinan melihat ke arah Naru. "Iya, Kak!"
Akhirnya dokter muda itu berdiri dan berjalan ke arah villa tanpa ingin mendekati Naru lebih dulu karena hari sudah semakin gelap.
Naru melihat kepergian Kinan namun, isi kepalanya saat ini dipenuhi oleh potongan memori dirinya dan Cinta yang tadi hampir saja berciuman. "Sihir apa yang sudah dia berikan padaku? kenapa aku sampai ingin ... akhh!"
Naru berjalan menyusul Kinan dan yang lainnya ke arah villa dengan rambut yang ia acak-acak frustrasi. "Padahal tadi aku meneteskan air mata karena kakiku kram," gumam Naru pelan.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE DAN LIKE YA KAKAK READERSππππ