
Setelah semua sudah selesai sarapan, akhirnya mereka berempat berganti baju Untuk memulai hari yang pastinya akan basah kuyup.
Cinta mengenakan legging berwarna hitam dengan atasan berwarna putih diatas lutut, sementara Kinan mengenakan legging yang sama dengan Cinta namun, baju gadis itu beda warna, yaitu warna milo diatas lutut.
Untuk para kaum Adam, cukup hanya dengan boxer dan kaos tipis yang menampilkan otot berurat mereka.
Kini pasukan Naru berjalan ke arah pantai dimana tempat permainan itu berada.
Bagai adegan di dalam film, keempatnya yang berbaris berjalan bersamaan ke arah pantai dimana para beberapa pengunjung lain yang membooking tempat di seberang villa Naru juga berada di tempat itu.
Mereka semua terpukau dengan keempat anak manusia yang berjalan begitu berkarisma.
Dengan kacamata yang bertengger di setiap pasang mata keempatnya, membuat muda mudi itu semakin terlihat keren.
Naru berada di barisan sebelah kanan, diikuti Kinan, Cinta, dan yang terakhir Dio.
Dua bidadari itu bagai tengah di kawal oleh dua bodyguard tampan yang memastikan keamanan mereka.
Saat di perjalanan menuju arah wahana permainan, Kinan dan Dio saling bertukar tatapan di balik kacamata hitam mereka.
Kinan menganggukkan kepalanya memberikan isyarat pada Dio dan pria itu membalas anggukan Kinan.
Saat sudah sampai di tempat wahana, Naru dihampiri oleh seorang pria tinggi, besar yang bertanggung jawab untuk keselamatan wahana permainan tersebut. "Sudah siap, Tuan?"
"Sudah, Pak! apa kami bisa naik sekarang?" tanya Naru pada instruktur tersebut.
"Bisa, Tuan! tapi sebelum itu, anda dan yang lain harus mengenakan pelampung demi keamanan," titah petugas tersebut.
Setiap orang diberikan oleh petugas masing-masing satu pelampung untuk meminimalisir kemungkinan buruk yang terjadi, jika banana boat itu oleng secara tiba-tiba.
Mereka berempat mulai mengenakan pelampung tersebut.
Setelah selesai, Naru lebih dulu naik, kemudian setelah itu Kinan dan Cinta bersamaan maju untuk menempati posisi tepat di belakang Naru.
Kedua gadis itu saling tatap satu sama lain, sementara Naru melihat ke arah mereka berdua. "Kau naik saja, Kinan!"
Luka tak berdarah dirasakan oleh Cinta saat pria yang kini mulai ada dalam hatinya memilih perempuan lain daripada dirinya.
__ADS_1
Cinta tersenyum ke arah Kinan. "Kakak naik saja," ujar Cinta yang langsung naik ke atas banana boat tepat di belakang tempat Kinan.
Cinta sudah harus tahan dengan semua itu karena ia sudah harus bisa melewati semua ini. "Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini."
Kinan akhirnya naik ke atas perahu berbentuk pisang itu dan diikuti oleh Dio yang berada di belakang Cinta.
Semuanya berpegang kuat pada pegangan yang sudah tersedia.
Banana boat tersebut ditarik oleh perahu mesin yang dikemudikan oleh salah satu instruktur wahana tersebut.
"Sudah siap, semuanya!"
Suara pengemudi perahu mesin itu terdengar cukup lantang di telinga mereka berempat.
"Siap!" Keempatnya menjawab secara bersamaan.
"Kau tak perlu cemas, Cinta! Kakak orang pertama yang akan menolongmu jika perahu ini oleng," teriak Dio agar Naru dapat mendengar suaranya.
Kinan hanya bisa menahan senyum mendengar ucapan Dio. "Untung saja dia mau bekerja sama."
Perahu pisang itu perlahan mulai bergerak dengan laju pelan namun, semakin lama kecepatan perahu itu semakin cepat sampai Cinta dan Kinan berteriak di tengah laut saat mereka berputar-putar begitu cepat dengan sensasi adrenalin yang sangat terpacu.
Perahu yang tiba-tiba terasa miring, membuat Cinta was was karena ia tak bisa berenang namun, gadis itu mencoba berpikir positif.
Tanpa Naru dan Cinta sadari, Dio dan Kinan sengaja memiringkan tubuh mereka ke arah kiri agar beban perahu itu semakin berat ke arah sasaran dan akhirnya perahu pisang tersebut oleng.
Saat perahu itu diseret sangat cepat, Kinan dan Dio terus berusaha sekuat tenaga membuat boat tersebut oleng dan akhirnya ....
BYURRRRRRR
Perahu itu berbalik dengan keempat penumpannya mengapung di laut.
Cinta masih memejamkan matanya karena rasa takut yang menjalari tubuhnya. Saat mata hitam legam gadis itu menyapa lautan, Cinta berteriak, "Aaaaaaaaaaaaaaaaak!"
Naru dan yang lain melihat ke arah sumber suara karena suara itu cukup jauh dari arah mereka terapung.
Sekelebat ingatan ucapan dari Dio saat memperingati Cinta sebelum permainan dimulai berterbangan di dalam otak Naru, tanpa pikir panjang, akhirnya Naru berenang ke arah Cinta yang berada cukup jauh darinya.
__ADS_1
Dio juga akan bergerak ke arah Cinta namun, Kinan menahannya. "Biarkan! ini waktu yang tepat untuk membuat mereka lebih dekat lagi," tutur Kinan dan Dio menuruti ucapan Kinan.
Naru berenang secepat mungkin ke arah Cinta yang masih berteriak karena dirinya sendirian mengapung dilaut dengan jarak yang cukup jauh dengan teman-temannya.
Saat posisi Naru sudah cukup dekat, akhirnya pria itu menarik lengan Cinta. "Kau aman! diam jangan berteriak!"
Cinta membuka matanya menatap ke arah Naru dan gadis itu memeluk Naru erat. "Aku takut! aku takut jika aku akan tenggelam dan aku akan mat ...."
"Hei, apa yang kau katakan? kau tak akan kenapa-napa karena kau sudah bersamaku sekarang," ujar Naru membalas pelukan erat Cinta.
Tubuh Cinta menggigil karena dingin air laut yang langsung menyapa kulit mulusnya.
Karena sadar akan getaran dari tubuh Cinta, Naru lebih mengeratkan pelukannya.
Naru menarik sedikit tubuh Cinta agar lebih jauh darinya untuk melihat wajah gadis itu.
Naru melihat bibir gadis itu sudah berubah warna. "Apa air laut ini sangat dingin? perasaan tidak."
Sebenarnya bukan hanya suhu air laut yang mempengaruhi Cinta namun, rasa takutnya yang lebih dominan.
"Peluk aku dan jangan lepaskan," pinta Naru pada Cinta.
Gadis itu diam menatap kedua mata Naru dalam. "Jika kau terus bersikap seperti ini padaku, aku khawatir, jika perasaan ini tak akan pernah bisa hilang."
"Apa kau mengerti?" tanya Naru lagi dan dengan tekad yang bulat, akhirnya Cinta menganggukkan kepalanya mantap.
Naru membimbing sebagian tangan Cinta agar memeluk tubuhnya erat dan gadis itu memeluk tubuh Naru erat dengan kepala yang ia sandarkan pada dada bidang Naru. "Setidaknya biarkan aku egois untuk hari ini dan hari berikutnya, sampai hari dimana aku akan melihat kau bersama cintamu."
Naru tertegun dengan kelakuan Cinta karena gadis itu tak biasanya melakukan hal semacam itu. "Apa kau sungguh sangat takut?" tanya Naru yang masih menunggu banana boat itu datang menghampirinya.
Cinta hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Naru dan pria itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Cinta. "Sebentar lagi mereka akan kemari."
Cinta semakin mengeratkan pelukannya dan tanpa Naru sadari bibirnya sudah mendarat mulus pada puncak kepala Cinta yang sudah basah dan terasa asin pastinya.
Posisi mereka memang cukup jauh dari banana boat karena Cinta dan Naru terbawa ombak laut yang perlahan membuat mereka semakin menjauh.
Tanpa mereka sadari, dua orang beradu tos dengan senyum yang menandakan keberhasilan rencana keduanya.
__ADS_1
"Misi kita berhasil, tinggal lihat rencana apa lagi yang akan kita buat untuk menyatukan mereka berdua," gumam Kinan dan Dio dengan seringai liciknya menatap ke arah Kinan. "Buat mereka cemburu satu sama lain dan kita diharuskan untuk ikut andil," usul Dio dan Kinan mengacungkan jempolnya pada Dio sembari banana boat itu mulai bergerak ke arah Cinta dan Naru yang masih berpelukan satu sama lain.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘