
Tatapan mata Cinta dan Naru masih menyatu. "Kau tak akan terjatuh selama aku masih berada di dekatmu," tutur Naru membuat jantung Cinta seperti di gebuk oleh ribuan rotan.
Cinta tersadar saat suara dua motor yang mendekat ke arahnya sudah berada tak jauh dari jarak ia berdiri bersama Naru yang masih dengan posisi tangan melingkar indah pada leher pria Yunani itu.
Cinta segera melepaskan tangannya dari leher Naru dan berjalan sedikit ke tengah jalan, agar gadis itu bisa menyetop kedua motor yang akan melewatinya.
Naru melihat ke arah Cinta yang sudah berada di tengah jalan namun, masih dalam posisi aman tak terlalu ketengah.
Cinta melambaikan kedua tangannya ke atas pertanda jika ia meminta pertolongan.
Kedua motor yang terdiri dari dua pasang remaja dan Cinta pastikan jika mereka adalah pasangan kekasih yang ingin berlibur.
"Maaf sebelumnya, Mas dan Mbak! saya ingin bertanya? apa di daerah sini ada tukang tambal ban?" tanya Cinta sopan.
"Ada, Mbak! tapi sudah lewat, setelah tempat ini dan seterusnya tak ada tukang tambal ban lagi karena hanya satu, yaitu sebelum melewati tempat ini," jelas salah satu pemilik motor berwarna merah.
"Kira-kira jarak dari pulau kemari masih jauh tidak ya, Mas?" tanya Cinta lagi.
"Masih jauh, Mbak!"
"Begitu, ya?"
"Iya, Mbak! mobil Mbak bannya bocor?" tanya pria pengendara satunya lagi.
"Iya, Mas! tapi sebentar lagi orang dari ...." Cinta melihat ke arah Naru. Gadis itu bingung harus mengatakan Naru itu teman atau Bosnya.
"Saya tunangannya, Mas!" Naru menyambung kalimat Cinta yang terpotong.
Cinta tersenyum kikuk ke arah para pengendara motor itu. "Iya! orang dari tunangan saya akan kemari mengurus mobil ini," jelas Cinta.
"Pasti akan membutuhkan waktu lama itu, Mbak! karena di belakang tadi ada rombongan travel, jadi kendaraan harus berjalan perlahan karena musim hujan, jalannya sedikit licin," tutur pria dengan motor merah tersebut.
"Jadi di belakang masih banyak kendaraan?" tanya Cinta lagi.
"Iya, Mbak! saya sarankan kalian berdua mencari tumpangan mobil lewat saja karena jarak dari sini menuju arah pulau masih jauh," saran pengendara motor berwarna hitam.
"Terima kasih untuk informasinya ya, Mas!"
Pengendara motor itu mengangguk, kemudian melajukan motornya kembali ke arah pulau.
__ADS_1
Cinta mendekat ke arah Naru yang masih menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil.
"Bagaimana ini?" tanya Cinta sudah berada tepat di hadapan Naru.
"Kita tunggu saja Asistenku datang," sahut Naru santai.
Cinta melihat ke arah jam tangannya. "Ini sudah jam 12 siang."
"Kita tunggu 20 menit lagi," tawar Naru melihat ke arah jalan dimana ia datang tadi.
"Semoga saja tak terlalu lama si Asisten itu datang."
Keduanya masih menunggu Asisten Naru datang dan mereka berdua sama-sama bersandar pada mobil melihat para pengendara motor yang berboncengan dengan kekasihnya.
Cinta kembali melihat ke arah jam tangannya. "Sudah lewat lebih dari 20 menit, Chef Kaku! ... aku akan memberhentikan mobil yang lewat saja!"
Cinta berjalan ke arah tengah jalan menunggu mobil lewat untuk mencari tumpangan.
Naru tersenyum melihat tingkah konyol Cinta. "Mana ada mobil lewat yang akan berhenti untuk memberikan tumpangan padamu," gumam Naru dengan suara pelan.
Cinta bolak balik seperti setrika listrik yang merapikan pakaian kusut menunggu mobil lewat untuk meminta tumpangan.
Naru akhirnya naik ke atas mobil bagian depannya melihat ke arah Cinta yang sedikit menghibur dirinya. "Dasar, Gadis Bebek!"
Gadis itu mengusap bulir keringat tersebut dengan punggung tangannya.
Cinta masih setiap menunggu berharap ada mobil yang lewat karena sedari tadi hanya pasangan yang menggunakan motor yang hanya berlalu-lalang.
Cinta melihat ada sebuah mobil pickup akan melintas ke arahnya. Senyum gadis itu terukir indah. Cinta merasa ada sebuah pancuran air yang berada di depan matanya karena sedari tadi ia kehausan menunggu mobil untuk mencari tumpangan.
Cinta melambaikan tangannya pada Naru, gadis itu memberikan isyarat pada Bosnya agar pria itu mendekat ke arahnya.
Naru melihat ke arah tatapan mata Cinta dan ia melihat ada sebuah pickup melaju ke arah Cinta.
Naru turun dari atas mobilnya berjalan cukup cepat ke arah Cinta. "Ada apa?" tanya Naru pada Cinta. "Kita harus ikut mobil itu!" Cinta menjawabnya.
"Tidak!"
Cinta menatap Naru sengit. "Apa kau tak melihat? langitnya sudah menghitam seperti akan ada hujan besar yang akan datang," tunjuk Cinta pada Naru ke arah langit yang sudah berwarna hitam keabu-abuan.
__ADS_1
"Tapi ...."
"Jika kau tak mau, aku saja yang akan naik sendiri! kau tunggu saja Asistenmu itu," tekad Cinta yang tetap pada pendiriannya.
Cinta melambaikan kedua tangannya untuk meminta bantuan pada mobil pickup itu.
Perlahan mobil pickup tersebut mulai mengurangi kecepatannya dan berhenti tepat di depan Cinta yang sedang menghadangnya.
Kepala sopir pickup tersebut keluar melalui kaca mobilnya. "Kenapa diam di tengah jalan, Neng?" tanya sopir itu.
Cinta perlahan berjalan ke arah sopir pickup tersebut. "Apa saya boleh menumpang sampai ke pulau cinta?" tanya Cinta pada sopir yang usianya hampir sama dengan sang ayah.
"Memang si Neng mau ikut mobil saya?" tanya Pak sopir lagi.
"Daripada saya disini, Pak! mending saya menumpang pada, Bapak!"
Sopir itu melihat ke arah temannya yang berada di sampingnya, kemudian ia beralih pada bak belakang pickup miliknya.
"Coba Neng lihat ke belakang dulu," pinta Pak sopir pickup tersebut.
Cinta sedikit melihat ke arah bak belakang pickup itu.
"Memangnya ada apa dengan bak belakang pickup ini? jangan-jangan, bapak ini membawa sesuatu yang mencurigakan!"
Cinta penasaran dan mulai berjalan ke arah bak mobil pickup tersebut. Saat cinta sudah berada di bagian bak belakang pickup itu, ia tak terkejut melihat ada sekitar 10 ekor kambing disana.
Cinta berjalan santai ke arah Pak sopir tadi. "Saya mau ikut, Pak!"
"Jadi Neng ini tidak takut?" tanya sopir itu lagi memastikan.
"Tidaklah, Pak! tapi saya dengan ... tunangan saya ya, Pak!"
"Silahkan kalok begitu, Neng! asalkan nyaman saja," ujar sopir pickup tersebut.
Cinta tersenyum sembari melangkah ke arah Naru yang masih berdiri di tengah jalan menunggu dirinya.
"Kita naik pickup ini saja, ya? Asistenmu pasti masih lama," ujar Cinta melangkah ke arah mobil Naru untuk mengambil ranselnya dan melapisi ransel itu dengan mantel khusus anti hujan.
Cinta berjalan ke arah Naru dengan senyum yang sudah mengembangkan sempurna karena gadis itu merasa ia akan bebas dari tempat ini.
__ADS_1
"Ayo naik!" Cinta menarik tangan Naru agar ikut naik ke atas pickup tersebut.
Saat Naru sudah berada di depan bak terbuka pickup tersebut, wajah Naru begitu terkejut. "Kau serius kita akan naik satu mobil dengan kambing ini?" tanya Naru pada Cinta dan gadis itu hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya penuh semangat.