
Cinta sudah keluar dari dalam kamarnya dengan setelan seragam yang nampak berbeda dari biasanya.
Seragam yang Cinta kenakan setelan rok span dan kemeja putih nampak sangat persis seperti sekertaris perkantoran.
Gadis itu melihat seorang pria tengah sibuk dengan ponselnya. Pria itu menunggu Cinta sembari menyandarkan bahunya di kusen pintu masuk kamarnya sendiri.
"He'em!"
Cinta sengaja tak memanggil Naru, gadis itu hanya memberikan isyarat pada si pria yang masih asyik dengan ponselnya.
Naru melihat ke arah Cinta. Tatapan mata pria bermata kebiruan itu terfokus dari arah bawah mulai dari sepatu pantofel dengan hak sekitar 6 sentimeter, kemudian berlanjut terus ke arah betis mulus Cinta dan diteruskan ke arah rok span berwarna hitam dengan setelan kemaja berwarna putih yang sangat pas body menampilkan tiap lekukan tubuh asistennya dan itu pastinya memancing para ngengat jantan yang kelaparan.
"Ini tak bisa dibiarkan! dia pasti akan menjadi santapan liar para pegawai pria dan pelanggan restoran."
"Masuk kamar!"
Cinta masih diam tak mengerti maksud Naru.
"Masuk kamar sekarang!"
Cinta masih bingung harus menjawab apa. "Aku?" tanya Cinta ragu.
"Ya!"
"Tapi ...."
"Masuk!"
Tatapan tajam Naru dilancarkan pada Cinta dan gadis itu sukses merengut kesal sembari masuk ke dalam kamarnya dengan sedikit membanting pintu kamar tersebut.
Naru mengusap wajahnya kasar. "Kenapa aku bisa sekesal ini? apa jangan-jangan ... tidak-tidak! ini tak mungkin," tolak Naru yang nampaknya sudah perlahan mulai sadar dengan perasaannya.
"Pak Sam!"
"Iya, Tuan Muda!"
"Kenapa kau memberikan pakaian seperti itu pada Cinta?" tanya Naru dengan suara cukup dingin.
"Bukankah Anda memerintahkan saya untuk menyiapkan baju untuk seorang asisten," jelas Pak Sam pada Naru.
Naru memejamkan matanya karena ini murni dirinya yang salah bicara dan memberikan instruksi pada Pak Sam.
__ADS_1
"Cepat sediakan seragam resto dengan setelan celana jangan menggunakan rok karena dia akan berangkat naik motor bersamaku," titah Naru dan Pak Sam segera melaksanakan titah tuannya.
Beberapa menit kemudian Cinta kembali keluar dari kamarnya dengan raut wajah kecut bukan main.
"Sudah selesai, ayo berangkat,"
Naru melihat ke arah gadis itu dengan senyum merekah. "Itu baru pas," ujar Naru menarik tangan Cinta.
"Pas apanya?" tanya Cinta dengan kaki yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Naru.
"Bajumulah! kau kira aku akan membiarkanmu mengenakan baju super ketat yang memperlihatkan bagian tu-"
Naru segera menutup mulutnya sendiri sembari melepaskan genggaman tangannya pada tangan Cinta dan menggunakan tangan itu untuk mengambil kotak bekalnya yang berada di meja ruang tamu.
Saat Naru hendak kabur, Cinta menarik tangan calon suami palsunya. "Eitssss! mau kemana? tunggu dulu," cegah Cinta sudah berada di hadapan Naru untuk menghalangi jalan bosnya.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Naru pura-pura tak tahu akan maksud Cinta.
Gadis itu tersenyum sembari mendekati Naru satu langkah untuk mengikis jarak di antara mereka berdua.
"Kau kenapa berekspresi seperti itu? apa kau mulai jatuh cinta padaku?" tanya Naru mencoba mengalihkan perhatian Cinta agar tak membahas topik tadi saat ia menarik tangan Cinta.
"Bagaimana jika pertanyaan itu ditujukan untukmu," serang Cinta balik sembari terus tersenyum menggoda Naru.
"Kenapa aku harus keceplosan begini sih!"
"Mana mungkin aku jatuh cinta padamu, jangan mimpi," kilah Naru dengan suara sedikit gugup.
"Yakin?" tanya Cinta lagi.
"Yakinlah!"
Cinta kembali melangkah maju ke depan menatap wajah Naru yang pastinya dengan kepala mendongak ke atas. "Aku tahu kau tak mungkin jatuh cinta padaku, tapi ... kenapa kau tak ingin tubuhku yang molek ini dilihat oleh pria lain," cecar Cinta menjinjitkan kakinya ingin terus menggoda bos kakunya itu.
Naru menarik pinggang Cinta agar tubuh gadis itu lebih menempel padanya.
Kini tatapan mata keduanya saling menyatu. Wajah Naru perlahan bergerak ke arah bibir Cinta. Saat jarak bibir mereka hampir terkikis habis, Naru menghentikan pergerakan wajahnya. "Untuk jawaban itu aku tak bisa menjawab sekarang, jawaban dari pertanyaanmu pasti akan aku jawab, jika aku sudah menemukannya," bisik Naru diiringi hembusan napas hangatnya yang menerpa bagian wajah Cinta.
Mata Cinta tertutup rapat kala hawa hangat menjalari bagian wajahnya.
Naru tersenyum saat Cinta terlihat menikmati sentuhan hangat yang secara tak langsung Naru berikan pada Cinta melalui hembusan napas hangatnya.
__ADS_1
Cup
Kecupan manis mendarat pada ujung hidung Cinta, sebelum mata gadis itu akhirnya terbuka lebar melihat kedua mata Naru. "Kita harus segera berangkat ke resto," ajak Naru sembari menarik tangan Cinta menuju arah garasi motornya.
Cinta masih terdiam tak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya setelah peristiwa kecupan manis pada ujung hidungnya.
Naru memasangkan helm pada Cinta dengan bibir yang tersenyum melihat raut wajah tunangan palsunya masih terdiam tanpa ekspresi. "Jangan melamun, nanti kau benar-benar tak bisa jauh dariku, jika kau terus mengingat kecup-"
Cinta segera membungkam mulut Naru. "Berisik sekali kau ternyata," omel Cinta dengan raut wajah kesal.
Bukannya kesal, Naru malah menarik senyum dibalik bungkaman tangan Cinta.
Naru sudah menaiki motor Kawasakinya, sedangkan Cinta masih diam.
"Ayo naik!"
Cinta tersentak dan akhirnya gadis itu menaiki motor milik Naru. Karena melihat kotak bekal yang berada di tangan Naru, akhirnya Cinta bersuara, "Biar aku yang memegang kotak bekalmu."
Naru dengan senang hati memberikan kotak bekal itu pada Cinta.
Karena tangan kanan Cinta sudah memegang kotak bekal milik Naru, akhirnya pria bertubuh jangkung itu menarik tangan kiri asistennya agar memeluknya.
"Eh, apa yang kau ...."
"Jika kau tak mau berpegangan padaku, saat kau jatuh, aku tak akan memperdulikanmu, Nona!"
Wajah Cinta memerah karena tubuhnya berada sangat dekat dengan tubuh Naru, bahkan bisa dibilang sudah menempel pada jaket kulit milik bosnya itu.
"Jangan gugup, anggap saja ini kencan kita," ledek Naru tersenyum simpul.
Wajah Cinta semakin memerah karena ledekan Naru padanya.
Naru mengenakan helmnya, kemudian segera menarik kontrol gas pada motornya menuju arah resto.
Di perjalanan menuju resto, tangan Cinta tak lepas dari perut Naru karena ia takut sekali, jika apa yang dikatakan bosnya itu benar-benar terjadi.
Karena merasa pelukan tangan Cinta semakin mengerat, akhirnya Naru menurunkan kecepatan laju motornya.
"Kau tak perlu takut, aku akan menjagamu agar kita bisa tetap seperti ini sampai ke restoran," ujar Naru membuat ketegangan dalam diri Cinta seketika sirna.
Karena merasa belitan tangan Cinta pada perutnya sudah kembali normal, akhirnya Naru kembali melajukan kecepatan motornya.
__ADS_1
Keduanya saling tersenyum satu sama lain tanpa ada yang mengetahui karena mereka sudah memasuki bayangan manis masing-masing.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘