Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 15


__ADS_3

Naru dan Cinta sudah berada di perjalanan menuju arah resto karena motor Cinta masih terparkir disana.


Saat keduanya sudah berada di parkiran Resto, Cinta turun dari motor Naru hendak melepaskan helmnya.


"Kenapa dilepas?" tanya Naru pada Cinta.


"Aku ingin bekerja, Chef Naru!" Cinta masih berusaha membuka helmnya namun, tangan Naru menahan tangan Cinta dan memasang kembali pengunci helm tersebut.


Wajah Naru sedikit merunduk saat memasangkan kembali pengunci helm Cinta membuat wajah mereka berdua sejajar. "Kau tak perlu kembali bekerja karena hari ini hari pengecualian untukmu dan kau bisa langsung pulang untuk mempersiapkan dirimu nanti malam."


Cinta menatap lekat kedua manik kebiruan mata Bosnya. "Apa kau selalu bersikap seperti ini pada perempuan?" tanya Cinta penasaran.


Naru tersenyum sembari menegakkan tubuhnya membalas tatapan Cinta yang penuh akan rasa penasaran. "Tidak! hanya sekarang saja karena aku ingin melakukan eksperimen, perempuan benar-benar suka dengan perlakuan manis seorang pria atau tidak," sahut Naru sekenanya.


"Eksperimen?" tanya Cinta lagi.


"Ya! aku sempat membaca hal itu disebuah artikel, jika kau ingin membuat perempuan yang kau cintai bertekuk lutut, maka perlakuan dia dengan cara yang manis dan contohnya seperti ini," jelas Naru enteng.


"Jadi bagaimana? apa kau merasa tersentuh dengan perlakuanku?" tanya balik Naru ingin mengetahui kesungguhan artikel yang ia baca.


*"Pria ini mungkin tubuhnya saja yang besar, tapi kepekaannya nol besar! apa dia tak pernah melihat film atau drama percintaan? jika perempuan diperlukan dengan manis pasti akan luluh juga."


"Kau ingin aku berkata jujur atau tidak?" tanya Cinta.


"Jujurlah! mana ada aku ingin mendengar ungkapan yang penuh dusta!"


Cinta menghela napas panjang. "Baiklah! sebagai pakar cintamu, aku akan berkata jujur! perlakuanmu sudah manis tapi jika di dihitung dalam hitungan persentase hanya 10 persen karena kau masih terlalu kaku," jelas Cinta yang berkata seolah dirinya sudah mahir akan dunia percintaan, padahal ia sekali saja tak pernah berpacaran.


Cinta berani berkata seperti itu karena ia ratunya film dan drama romantis, jadi jika hanya masalah menganalisis manis tidaknya perlakuan pria masih bisa ia lakukan meskipun ia tak mengalaminya secara langsung.


"Hanya 10 persen? serius?" tanya Naru masih tak yakin.


Cinta menganggukkan kepalanya penuh keyakinan. Dari saking kuatnya sampai kaca helmnya tertutup sendiri.


Tak


Wajah Naru yang awalnya penuh tanya kini berubah melengkungkan bibirnya sampai barisan gigi putihnya terlihat.


Naru sungguh tak bisa menahan tawanya lagi. "Hahaha!"


Cinta masih menatap Naru datar dengan kaca helm yang masih tertutup. "Sudah puas!"


Naru memegangi perutnya yang terasa sakit karena kelucuan yang dibuat oleh Cinta secara tak sengaja.


"Jangan terlalu bersemangat, Gadis Bebek! helm-mu itu terlalu ajaib," ledek Naru masih tertawa kecil.

__ADS_1


Perlahan Naru lebih mendekatkan dirinya ke arah Cinta hanya tinggal jarah satu jengkal saja.


Naru membuka kaca helm Cinta perlahan. Pria itu menyentuh kedua pipi Cinta lembut. "Lain kali jangan terlalu bersemangat merespon apapun karena aku tahu kau itu wanita sekuat, Hulk!" Naru menatap kedua manik mata Cinta diiringi bibir yang mengukir sebuah senyuman manis.


Deg deg


*"Kenapa aku yang berdebar? pasti ini hanya sebuah respon alamiah karena seorang pria memperlakukan seorang perempuan dengan cara manis seperti ini."


"Berapa jumlah persentase tingkat kemanisan ini?" tanya Naru masih menatap lekat kedua manik mata Cinta.


"20 persen!"


Naru tersenyum pada Cinta. "Peningkatan yang lumayan! masih butuh 80 persen lagi untuk membuat persentase kemanisan yang akan aku ujikan padamu agar menjadi 100 persen."


Cinta masih diam tak melakukan pergerakan atau berucap apapun.


"Jangan ujikan hal itu padaku! lakukan saja pada perempuan lain," tutur Cinta langsung yang sebenarnya menolak rencana Naru.


"Tapi kau adalah Asistenku sekaligus pakar cintaku!"


"Tapi aku bukan kelinci percobaanmu," celetuk Cinta.


Naru memutar otaknya agar Cinta mau membantunya melakukan eksperimen ini karena hanya Cinta perempuan yang saat ini dapat dipercaya oleh Naru.


"Tidak!"


"400 juta!"


"Tidak!"


"500 juta!"


"Sekali tidak tetap tidak!" Cinta masih tak ingin membantu Naru melakukan hal yang nantinya akan membuat gadis itu kewalahan sendiri.


Naru memejamkan matanya. Ia akan melakukan penawaran terakhir pada Cinta.


"1 Miliar!" Naru masih memejamkan matanya karena ia takut Cinta melakukan penolakan lagi.


Cinta masih diam memikirkan sesuatu dengan jantung yang sudah berdebar.


*"1 Miliar? uang itu cukup untuk membeli rumahku sendiri, tapi aku harus memikirkan kemungkinan besar yang akan terjadi jika aku mau melakukan itu semua."


Cinta tak menerima tawaran Naru karena ia takut jatuh cinta pada Chef tampan itu.


Cinta pernah menonton drama yang awalnya hanya pura-pura berpacaran tapi pada akhirnya si perempuan benar-benar jatuh cinta pada si pria karena mereka sering bersama.

__ADS_1


*"Aku tak ingin membuat Ibu dan Ayah memikirkan kehidupanku terus-menerus, jadi jika kemungkinan itu terjadi aku harus segera melupakannya! aku tak ingin membuat Ibu dan Ayah memikirkan masa depanku yang masih tak sesukses, Kak Dio!"


"Ada syaratnya!" Cinta menyuarakan persyaratannya.


Naru membuka matanya menatap ke arah Cinta. "Apa?" tanya Naru dengan cepat.


"Jangan melewati batas!"


Naru tersenyum mengacungkan jempolnya. "Pastinya karena aku juga tak akan bernafsu padamu, Gadis Bebek!"


"Jadi sepakat gajiku 1 Miliar?"


Naru menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Cinta segera naik ke atas motornya agar ia tak berlama-lama dekat dengan Naru.


"Jangan lupa nanti malam aku akan menjemputmu!"


Cinta menoleh ke arah Naru. "Tidak perlu!" sahut Cinta datar.


"Eiittssss! ingat! kau aku bayar, Nona!"


Cinta memutar bola matanya jengah. "Terserah kau saja!"


"Minta nomor teleponmu!" Naru memberikan ponselnya pada Cinta namun, gadis itu tak menghiraukan. "Minta pada Monica saja!" Cinta menarik kontrol gas yang ada pada motor matic miliknya dengan cepat.


Naru tercengang melihat motor Cinta sudah keluar dari pagar restonya. "Astaga! perempuan satu ini kenapa tak ada manis-manisnya sama sekali! apa dia saat di dalam kandungan di USG laki-laki, tapi saat keluar jadi perempuan macam itu," gerutu Naru berjalan masuk ke dalam restonya.


Naru langsung menuju arah dapur menemui Monica yang tengah sibuk membuat hidangan penutup cheese pudding.


Karena Monica masih sibuk, akhirnya Naru mendekati Rocky yang hanya tinggal plating saja. "Katakan pada, Monica! kirimi aku nomor ponsel, Cinta!"


Rocky yang sibuk melumuri pasta cokelat pada hidangannya hampir saja pasti cokelat itu berantakan.


Rocky menoleh ke arah Naru. "Untuk apa? jangan bilang kau sudah jatuh cinta pada gadis itu," tebak Rocky.


Naru terkekeh geli. "Hanya Kinan cintaku, Rocky! Cinta hanya Asistenku!"


Rocky tersenyum meledek. "Awas nanti dari Asisten menjadi, Nyonya Naru!"


Naru memukul lengan Rocky. "Jangan bercanda! aku tunggu nomor, Cinta!"


Naru berjalan meninggalkan dapur ke arah ruangannya.


Rocky masih menatap kepergian sahabatnya. "Awas saja nanti kau jatuh cinta pada asistenmu sendiri," gumam Rocky kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2