Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 30


__ADS_3

Setelah Cinta dan keluarga menunggu kedatangan rombongan keluarga Naru, akhirnya suara tiga mobil mewah terhenti tepat di depan halaman rumah Dio.


Naru membawa mobil Lamborghini miliknya sendiri, sementara dua mobil lainnya ditumpangi oleh kedua orangtuanya dan para Pamannya.


Ningsih mendengar suara mobil itu. " Sepertinya tamu Cinta sudah datang, Yah!" Ningsih memberitahu suaminya.


Cinta berjalan ke arah teras rumahnya diikuti oleh kedua orangtuanya.


Saat sudah berada di teras rumah, Cinta melihat kedua orangtua Naru dan pamannya berjalan ke arah rumahnya dengan senyum yang diumbar pada Cinta dan keluarga.


Cinta dan kedua orangtuanya membalas senyuman mereka semua.


Mata Cinta berkelana mencari keberadaan seseorang yang pastinya adalah aktor utama pada malam ini.


*"Kemana dia? apa mungkin dia tak datang? tapi hari ini acara lamaran kita, kan?"


Cinta menghampiri Zinnia dan mencium punggung tangan calon mertuanya.


Cinta juga melakukan hal itu pada William, Jonathan, dan Arya.


Tatapan mata Cinta masih tak fokus, ia masih mencari keberadaan Naru.


Saat Cinta sudah pasrah akan pencarian diam-diamnya, sebuah tangan kekar menggenggam tangan Cinta.


Cinta terkejut melihat ke arah tangannya. Gadis itu mengikuti arah si pemilik tangan kekar tersebut dan saat wajah si empunya tangan terlihat, senyum tampan seorang Chef Kaku bisa terlihat begitu manis malam ini dengan setelan jas berwarna abu muda dengan satu kancing kemeja yang terbuka semakin membuat keseksian seorang Naru meningkatkan drastis.


Tatapan keduanya masih tak putus karena bukan hanya Cinta yang kagum akan ketampanan Naru, tapi Chef Yunani itu juga terpana akan penampilan Cinta malam ini karena gadis itu sengaja meningkatkan makeup-nya untuk acara malam ini dengan rambut yang di cepol membuat leher jenjang Cinta terlihat indah bagai pahatan seorang dewi khayangan.


*"Indah!"


Naru masih menikmati keindahan wajah cantik seorang Cinta Prameswari yang baru malam ini bisa ia nikmati sepuas mungkin dan dengan waktu yang cukup lama.


Cinta juga masih memperhatikan tiap inci wajah pria yang sebentar lagi akan menyandang sebagai calon suaminya, meskipun hanya sandiwara semata.


*"Mata yang bisa menenggelamkan siapa saja yang sudah masuk ke dalamnya."


William dan Zinnia saling senggol karena kedua bocah itu seperti tengah terhipnotis satu sama lain.


Sementara kedua orangtua angkat Cinta hanya diam karena mereka masih tak paham akan situasi malam ini.

__ADS_1


"Naru!" William memanggil putranya dan Naru masih belum sadar akan panggilan sang ayah.


Zinnia hanya bisa tersenyum sembari menundukkan kepalanya karena tingkah konyol sang putra.


Zinnia berjalan mendekati keduanya. Desainer yang sudah berusia setengah abad itu berdiri tepat di tengah-tengah Cinta dan Naru. "Kalian mau masuk atau diam disini menjadi tontonan," tegur Zinnia melihat ke arah Cinta dan Naru bergantian.


Naru dan Cinta terlonjak sampai genggaman tangan Naru terlepas begitu saja.


Kedua sejoli itu terlihat salah tingkah karena mereka ketahuan saling tatap dengan durasi waktu yang cukup lama.


"Mari silahkan masuk!" Cinta mempersilahkan rombongan keluarga Naru masuk ke dalam.


Ningsih dan Ahmad saling berjabat tangan dengan keluarga Naru, kemudian mereka masuk ke dalam mengikuti langkah Cinta.


Semuanya sudah duduk diruang tamu.


Mona dan Karin mengeluarkan teh beserta camilan yang sudah dibuat khusus untuk tamu penting yang dimaksud oleh Cinta.


Cinta duduk bersama dengan kedua orangtuanya di sofa yang cukup untuk 3 orang, sementara Naru duduk single sofa tepat di samping sang ayah.


William dan Zinnia saling bertukar pandangan untuk memulai percakapan.


"Tidak, Pak!" Ahmad menyangkalnya.


"Kedatangan kami kemari ingin melamar Cinta menjadi menantu di keluarga kami," tutur William pada kedua orangtua Cinta.


Ningsih dan Ahmad hanya saling tatap karena sebelumnya ia tak pernah tahu jika sang putri memiliki kekasih.


Ningsih melihat ke arah Cinta. "Benar itu, Cinta?" tanya Ningsih.


Cinta hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan ibunya.


Ningsih beralih menatap ke arah suaminya. "Semuanya terserah pada, Ayah!"


Ahmad melihat ke arah William dan Zinnia. "Mohon maaf sebelumnya, Ibu dan Bapak! saya sebelumnya tak mengetahui jika putri saya memiliki seorang kekasih," jelas Ahmad agar keluarga pria tak berpikiran yang tidak-tidak melihat gelagat Ahmad dan istrinya celingak-celinguk seperti orang yang tengah kebingungan.


"Tidak apa-apa, Bapak! lagipula mereka berdua memang baru-baru ini berpacaran, iya kan, Naru?" tanya William pada putranya.


Naru tersenyum mengangguk sopan ke arah calon mertuanya. "Iya, Yah!"

__ADS_1


Cinta melirik ke arah Naru yang berlagak akrab dengan ayahnya, sementara Naru hanya membalas lirikan Cinta dengan senyuman manisnya.


*"Pria ini mungkin memiliki dua kepribadian ya? saat di Resto galaknya masyaallah! saat bersama keluarganya bagai seekor anak kucing."


"Saya tak memiliki wewenang dengan masa depan seseorang karena yang berhak menjawab adalah putri saya sendiri."


Ahmad melihat ke arah Cinta. "Bagaimana, Cinta! apa kau menerimanya?" tanya Ahmad pada putrinya.


Cinta melihat ke arah Naru yang juga menatapnya penuh harap. Gadis itu beralih menatap ke arah Zinnia dan William.


*"Demi uang 1 Milyar! aku harus menerima lamaran dari Pria Kaku itu!"


Cinta tersenyum ke arah Zinnia. "Aku menerima lamaran ini," tutur Cinta membuat senyum semua orang terukir indah.


Zinnia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna gold dan kotak itu ia berikan pada putranya. "Pasangkan cincin ini di tangan calon istrimu," titah Zinnia pada sang putra.


Naru berdiri menghampiri Cinta dan hal mengejutkan terjadi. Pria itu berjongkok tepat di hadapan Cinta.


Naru membuka kotak kecil itu dan di dalam kotak itu terdapat dua buah cincin berwarna silver. Satu berukuran lebih besar berbentuk polos, sementara yang lainnya berukuran lebih kecil terdapat satu buah permata diatasnya.


Naru mengambil cincin berukuran kecil dengan permata putih diatasnya.


Naru melihat ke arah Cinta dan gadis itu juga melihat ke arah Naru.


Chef Yunani itu tersenyum sembari meraih tangan Cinta dan menyematkan cincin pertunangan mereka pada jari lentik Cinta.


Cinta melihat ke arah cincin yang melingkar pada jarinya. Gadis itu tersenyum karena cincin itu terlihat sangat cocok di tangannya.


"Sekarang giliranmu," ujar Naru dan gadis itu mengambil cincin polos berukuran lebih besar dari miliknya.


Cinta meraih tangan Naru dan menyematkan cincin tersebut pada jari Chef tampan itu.


Cinta melihat ke arah lensa mata kebiruan milik Naru.


*"Jadi begini rasanya bertunangan ya? seperti sapuan ombak yang menyentuh permukaan kulit dengan kelembutannya."


"Apa kau tidak lelah berjongkok seperti ini di depanku?" tanya Cinta pada Naru.


"Demi dirimu akan aku lakukan," sahut Naru membuat para tetua tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Naru menggenggam tangan Cinta erat. Mereka sadar atau tidak yang jelas semua itu berjalan secara natural tanpa ada dorongan untuk bersandiwara sedikitpun dan keduanya sama-sama menikmati.


__ADS_2