
Keempat anak manusia itu tengah sibuk membuat saus racikan mereka masing-masing.
Cinta melirik ke arah Naru dan yang lainnya secara bergantian dengan tatapan penuh tipu muslihat.
"Bagaimana jika kita adakan kompetisi saus cocol mana yang paling enak," ujar Cinta membuka suara kala semua orang fokus meracik saus mereka.
"Setuju," sahut Kinan penuh semangat.
"Boleh juga! aku ingin menjajal kemampuanku dalam dunia perdapuran," celetuk Dio yang masih mengaduk beberapa bahan menjadi satu.
Senyum penuh arti terukir indah pada bibir Cinta. "Kau yang akan menjadi jurinya, Chef!"
Naru melihat ke arah Cinta dingin. "Kenapa harus aku? kau kan bisa!"
"Tapi aku tak begitu profesional dengan rasa makanan," elak Cinta dengan suara lembutnya.
"Tumben sekali suaranya enak di dengar, biasanya seperti balon meletus membuat telingaku sakit," celoteh Naru diam-diam dalam hati.
"Ide siapa ingin membuat kompetisi seperti itu?" tanya balik Naru dengan nada yang masih dingin.
"Jika kau tak mau bilang saja, tidak perlu menyudutkan aku," balas Cinta dengan wajah yang sudah tertunduk sedih.
Naru berdecak sebal pada Cinta karena gadis itu sepertinya tahu kelemahan Naru. "Baiklah! tak usah berlagak sedih seperti itu!"
Secepat mungkin wajah Cinta sudah terangkat dengan bibir manisnya yang tersungging senyuman. "Terima kasih, Chef!"
Dio sebenarnya tak nyaman dengan perseteruan keduanya karena menurutnya itu seperti perseteruan antara dua orang kekasih yang tengah bertengkar.
Akhirnya semua orang kembali fokus dengan racikan masing-masing, sampai pada akhirnya, ada 3 piring yang sudah tersaji di atas karpet dengan varian rasa saus berbeda-beda.
Keempat muda-mudi itu duduk di sebuah karpet dekat api unggun dengan posisi berbentuk melingkar.
"Sekarang waktunya penilaian," tutur Cinta memberikan kode pada Naru agar pria itu memulai sesi icip-icipnya.
Naru mengambil piring yang terdapat jagung bakar dengan toping saus keju dan taburan sosis diatasnya.
Pria itu mulai menggigit jagung tersebut dan ....
"Enak! ini milik siapa?" tanya Naru karena ia pada saat proses plating tak diizinkan melihat agar penilaian akurat tanpa pandang bulu.
"Itu milikku, Kak!"
Kinan tersenyum manis pada Naru dan Cinta memutar bola matanya jengah. "Pasti pria itu terbang melayang mendapatkan senyuman manis dari pujaan hatinya."
Kemudian Naru mengambil piring berikutnya yang terdapat kentang bakar dengan topping keju mozzarella di taburi bubuk cabai kering di atasnya.
__ADS_1
"Enak! rasa gurih dan pedas menjadi satu," komentar Naru terhadap makanan yang ia makan. "Milik siapa ini?" tanya Naru melihat ke arah Cinta dan Dio.
"Aku!"
Dio menyahut, sementara Cinta menunjuk ke arah sang kakak.
Naru beralih tatap ke arah piring terakhir yang mana, piring itu pasti buatan Cinta. "Kenapa aku tak yakin dengan makanan ini, ya?"
Naru nampak ragu melihat tampilan luar makanan buatan Cinta. Ia melirik si pembuat makanan itu. "Aku tak akan sakit perut, kan?" tanya Naru penuh rasa waspada.
"Jika kau ragu ya jangan dimakan, berarti aku pemenangnya," sahut Cinta membuat Naru yang awalnya ragu memakan makanan buatan Cinta dan pada akhirnya pria itu mengambil piring dengan dua buah makanan diatasnya yang pastinya berbeda dari yang lain.
Kentang dan jagung dilumuri saus coklat dengan hiasan daun parsley di atasnya. "Kenapa kau meletakkan daun ini di atasnya?" tanya Naru yang nampak selektif dengan makanan buatan Cinta.
"Karena hanya itu yang ada, jika ada buah naga, aku akan meletakkan naganya dan buahnya aku buang," sahut Cinta yang terkesan melawak.
Semua orang kebingungan dengan ucapan Cinta. "Apa kau sedang melawak? untuk apa kau meletakkan naga diatasnya dan membuang buahnya?" tanya Naru.
"Agar kau dimakan oleh naga itu dan sekarang kau tak perlu banyak bicara! cepat cicipi makanan yang paling enak sedunia," pinta Cinta dengan tawa terbahak-bahak dalam hatinya.
"Cepat makan dan rasakan betapa nikmat saus buatan asistenmu ini."
Naru mulai memotong kentang bakar yang sudah dikupas bersih. Ia tak perlu menambahkan saus coklat lagi karena makanan itu terlumur indah dengan pasta coklat buatan Cinta.
Perlahan kentang dengan saus coklat itu mendarat pada mulut Naru dan ....
Wajah Naru seketika meringis dengan mata terpejam dan mulut terbatuk-batuk.
Uhuk uhuk uhuk
Kinan segera mengambilkan sebotol air mineral berukuran sedang dan memberikannya pada Naru. "Kau tak apa-apa, Kak?" tanya Kinan cukup cemas dengan keadaan Naru, sementara Cinta menutup bibirnya rapat-rapat yang ingin sekali tertawa dihadapan mereka semua.
"Tahan tawa, Cinta! biar dia tahu seberapa pedas rasa sakit hat ... akhhh! sudahlah! jangan pikirkan lagi."
Naru menatap tajam ke arah Cinta dan yang di tatap merasa bulu kuduknya berdiri.
Cinta tak sengaja menatap wajah Naru. "Kenapa?" tanya Cinta gelagapan.
"Kau memasukkan apa saja ke dalam sausmu ini?" tanya Naru dingin.
"Bubuk cabai kering, saus pedas, dan wasabi," sahut Cinta sesantai mungkin tanpa rasa bersalah.
"Kau sengaja?" tanya Naru sedikit meninggikan suaranya.
Suasana menjadi tegang kala intonasi dari mulut Naru mulai melengking. "Sudah, Kak!" Kinan coba menenangkan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bercanda saja! jangan marah begitu dong," celoteh Cinta lagi.
"Bercanda kau bilang!"
"Huh, dasar anak kecil! hanya bercanda saja sampai marah begitu," sergah Cinta sembari menjulurkan lidahnya pada Naru.
"Kau ...."
Sebelum Naru menyelesaikan ucapannya, Cinta lebih dulu bangun dan berlari menjauh ke arah laut untuk menghindari kemarahan Naru. "Dasar anak kecil!" Cinta kembali berteriak dan hal itu membuat Naru tak kalah saing. Ia berlari mengejar Cinta. "Awas kau, ya!"
Dio hendak mengejar Cinta namun, tangan Dio di cekal oleh Kinan. "Jangan kejar mereka," pinta Kinan membuat Dio manatap ke arahnya. "Kenapa?" tanya Dio.
"Apa kau tak melihat cinta diantara mereka berdua?" tanya Kinan balik pada Dio.
Tubuh Dio seakan tak bertenaga, ternyata bukan hanya dirinya yang berpikir seperti itu, tapi Kinan, perempuan yang disukai Naru juga berpikir demikian.
Melihat respon Dio, Kinan semakin yakin jika ada yang tak beres dengan hubungan Cinta dan Dio. "Sebenarnya hubungan kalian seperti apa?" tanya Kinan membuat Dio kembali tersadar dari rasa lemas yang menjalari sekujur tubuhnya. "Hubungan apa yang kau maksud?"
"Hubungan kau dan Cinta! aku yakin hubungan kalian tak se-spesial itu," ujar Kinan mencoba menguak kebenaran yang tersembunyi dengan rapi.
"Ka-kami berpacaran," sahut Dio dengan suara gagapnya.
"Apa kau yakin? apa kau bisa membuatku percaya dengan ucapanmu?" tanya Kinan dengan rentetan pertanyaan yang membeludak untuk Dio.
"Aku ... yakin!"
"Baiklah! aku akan menyuruh anak buah ayahku untuk menyelidiki ...."
Wajah Dio memucat, ia tak ingin orang lain mengorek kehidupannya dan keluarganya. "Tidak! jangan!" Dio berteriak pada Kinan.
"Sudah aku duga! pasti ada hal mencurigakan yang Dio sembunyikan."
"Jelaskan semuanya sampai ke akarnya," pinta Kinan pada Dio.
Dengan wajah penuh keterpaksaan, akhirnya Dio dan Kinan duduk berhadapan. "Sebenarnya aku dan Cinta adalah Kakak beradik, tapi kami tak sedarah karena Cinta adalah adik angkatku," jelas Dio menundukkan kepalanya penuh rasa bersalah karena telah membongkar rahasia adiknya secara tak langsung kepada Kinan.
"Kenapa kau mau bersedia menjadi pacar pura-puranya?" tanya Kinan lagi.
"Karena ...."
"Jangan bilang kau sungguh mencintainya," tebak Kinan dan seketika wajah Dio menatap ke arah dokter muda tersebut. "Aku ... aku hanya ...."
"Kau tak perlu berbohong atau menyembunyikan sesuatu dariku, Tuan Dio! asal kau tahu, dari tatapanmu saja aku tahu kau sangat mencintai adikmu, cara mencintaimu bukan rasa cinta seorang kakak terhadap adiknya, melainkan mencintai seorang perempuan, kau melihat sosok Cinta sebagai perempuan, bukan adikmu, Tuan Dio!"
Kinan menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. "Apa kau tak ingin melihat mereka berdua bersatu?" tanya Kinan melihat ke arah Cinta dan Naru yang masih saling kejar-kejaran.
__ADS_1
JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN DENGAN CARA MEMBERIKAN GIFT, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS SEKALIAN😘😘😘
SEDIKIT BOCORAN, PART SELANJUTNYA AKAN ADA KEUWUWAN CINTA DAN NARU🥰🥰🥰 LIKE HARUS TEMBUS 500