Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 62


__ADS_3

Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya di tengah hamparan laut luas.


Dua manusia berbeda jenis bangun lebih dulu dari dua teman lainnya.


Mereka adalah Kinan dan Dio. Keduanya bersamaan menuju arah dapur. "Kau sudah bangun?" tanya Kinan yang berhenti di ambang pintu dapur. "Iya," sahut Dio yang ikut menghentikan langkahnya tepat di samping Kinan.


"Cinta belum bangun?" tanya Kinan melihat ke arah kamar tepat di sebelah kamarnya sendiri.


"Sudah, dia masih dikamar mandi," tutur Dio melangkah ke arah meja bar mengambil segelas air minum untuk ia teguk.


"Dia belum bangun?" tanya Dio ambigu.


"Dia siapa?" tanya Kinan balik.


"Master Chefmu," sahut Dio sekenanya.


"Oh, Kak Naru pasti sudah bangun," tutur Kinan melihat ke arah jam tangan miliknya. "Sebentar lagi pasti dia keluar," sambung Kinan menjelaskan.


"Kenapa kau bisa tahu kapan dia bangun?" tanya Dio sembari meletakkan gelas kosongnya.


"Karena biasanya jam segini dia sudah mengirimkan aku pesan selamat pagi, hahahaha!"


"Dasar, BUCIN!" Dio tersenyum sembari melangkah ke arah kulkas untuk mengambil telur dan beberapa teman lainnya seperti bawang Bombay, sosis, dan paprika.


Kinan nampak cuek dengan perkataan Dio. "Kau ingin memasak?" tanya Kinan mendekat ke arah kompor sembari menunggu Dio berjalan ke arahnya.


"Tentu saja!"


Dio menutup pintu kulkas dengan susah payah karena di tangannya sudah penuh dengan bahan makanan yang terbilang banyak untuk makanan porsi besar.


Kinan segera berlari kecil untuk membantu Dio karena pria itu nampak terlihat kesusahan membawa semuanya sendirian.


Benar saja, belum juga Dio sampai di kabinet bawah untuk meletakkan bahan masakan itu, sebagian telur ada yang hampir jatuh namun, beruntungnya Kinan dengan sigap menangkap dua telur itu dan alhasil keduanya berada jarak yang sangat dekat. "Kenapa kau tak mengambil tempat untuk menampung ini semua," celoteh Kinan yang mengambil sebagian bahan makanan lainnya dari tangan Dio.


Dio tak menjawab, ia hanya melihat ke arah wajah gadis itu yang masih menunduk tak menampakkan wajahnya karena Kinan masih sibuk dengan telur dan bawang Bombay.


Setelah sekiranya aman untuk dibawa, akhirnya wajah Kinan terangkat menatap ke arah Dio dan disinilah suasana mulai hening.


Lagi-lagi keduanya larut dalam sekelebat bayangan yang membuat Kinan berteriak, "Aaaaaaaakkkkk!"

__ADS_1


Dio seketika tersadar dari lamunannya. "Hei! kau kenapa?" tanya Dio cemas.


Kinan tak merespon apapun, yang ia gumamkan hanya kata "tidak" berkali-kali.


Karena tak ada respon, akhirnya Dio meletakkan dagunya pada puncak kepala Kinan agar gadis itu merasa tenang.


Entah Dio sadar atau tidak, yang jelas hanya hal itu yang ingin ia lakukan untuk saat ini.


"Sepertinya mengingat sesuatu, tapi kejadian kapan, ya?" tanya Dio masih dengan posisi tadi.


"Kau aman, jangan pikirkan hal yang tidak-tidak, kau berada disini bersama kami, jadi kau pasti aman," tutur Dio menenangkan Kinan yang sepertinya masih syok.


Beberapa detik berlalu, akhirnya Dio kembali membuka suaranya. "Apa kita sudah bisa memasak?" tanya Dio dan di angguki oleh Kinan.


Keduanya bersamaan berjalan ke arah kabinet dapur untuk mulai membedah bahan makanan dan menjadikan mereka semua lauk sarapan yang lezat.


Kinan mengupas bawang Bombay, sementara Dio memotong sosis. "Kau kenapa tadi?" tanya Dio sembari terus memotong sosis.


"Aku tidak apa-apa," sahut Kinan terus melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi ... sepertinya kau ada trauma," tebak Dio dan Kinan langsung menatapnya.


"Kau benar! aku ada trauma masa kecil dan hal itu susah sekali aku hilangkan," jelas Kinan.


"Apalagi wajah pria itu, sungguh tak bisa aku lupakan."


"Kau pernah kecelakaan?" tanya Dio lagi mulai memecahkan satu persatu telur ke dalam sebuah mangkuk berukuran sedang.


"Iya! waktu aku SMP kelas 2," sahut Kinan yang mulai mencincang bawang Bombay.


Lagi-lagi sekelebat ingatan dalam benak Dio mulai muncul. "Kenapa bayangan gadis SMP yang hampir tertabrak mobil tiba-tiba muncul di kepalaku?"


Dio mencoba mengingat lagi dan mulutnya seketika menganga. "Apa mungkin anak waktu itu adalah dia? tapi aku tak sempat melihat wajahnya."


Kinan yang sudah selesai mencincang bawang Bombay, melihat ke arah Dio. "Aku campur ...." Wajah Kinan mendadak kebingungan melihat ekspresi wajah Dio. "Kau kenapa?" tanya Kinan dan Dio masih tak merespon juga.


Akhirnya Kinan mengayunkan telapak tangan kanannya tepat di hadapan wajah Dio. "Kau baik-baik saja, kan?" tanya Kinan masih terus melakukan hal yang sama.


Dio tersadar dari lamunannya. "Aku baik-baik saja," sahut Dio mulai melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Pasti aku hanya salah orang saja, di dunia ini bukan hanya dia yang mengalami hal seperti itu, kan?"


Dio mencoba menghilangkan semua pikiran yang berputar-putar dalam otaknya.


Kinan mulai memasukkan semua bawang Bombay ke dalam mangkuk itu, begitu pula dengan Dio yang memasukkan potongan sosis itu ke dalamnya.


Kinan melihat ke arah paprika yang tak tersentuh sedikitpun. "Itu untuk apa?" tanya Kinan dan arah tatapan Dio mengikuti arah tatapan dokter muda tersebut. "Oh, itu untuk pemanis saja."


Kinan hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Dio.


Dio masih asyik mengaduk semua bahan itu sembari berkata pada Kinan, "Panaskan pannya," ujar Dio pada Kinan dan dokter muda itu tahu jika dirinya yang Dio maksud.


Kinan segera mengambil pan dan meletakkan alat masak tersebut ke atas kompor.


Tanpa dipinta, Kinan langsung mengolesi margarin setelah menghidupkan kompornya.


"Apa masih kurang?" tanya Kinan pada Dio.


"Cukup."


Kinan melihat ke arah Dio. "Apa kau sungguh mencintainya?" tanya Kinan menghentikan gerakan tangan Dio yang tengah menambahkan bumbu penyedap pada telur yang akan ia olah. "Aku tak ingin menjawabnya," sahut Dio dingin.


Kinan tersenyum dan tahu pasti apa jawaban dari sahutan dingin seorang Dio. "Aku paham, jika kau sangat mencintainya, tapi apa kau rela membiarkan dia tidak merasakan hal yang sama, jika bersamamu?"


Dio menggeser posisi mendekat ke arah pan yang sudah panas karena Kinan menggunakan api kecil. "Hal apa yang kau maksud," ujar Dio datar.


"Kau bukan orang yang tak paham dan aku tahu, kau pasti mengerti apa maksudku." Kinan menepuk pundak Dio perlahan sebanyak dua kali. "Cobalah membiarkan dia mendapatkan kebahagiaannya, bukankah cinta tak harus memiliki? ... masih ada waktu untuk mengubah semuanya," jelas Kinan yang berbalik badan hendak keluar dari dapur itu namun, suara bariton Dio menghentikannya, "Kau melakukan ini karena kau tak menyukainya, kan?"


Kinan berbalik badan dengan senyum manisnya. "Kau benar sekali! aku memang tak ada rasa apapun padanya dan aku tak mungkin membiarkan dia menungguku selamanya karena aku tahu ada perempuan yang mencintainya dan dia sepertinya juga tertarik pada perempuan itu."


"Tapi aku tak bisa melakukan itu! aku tak bisa melihat dia bersama pria lain," tegas Dio pada Kinan.


Kinan tergelak dengan pengakuan konyol Dio. "Bukan tak rela, tapi kau yang tak mau mencoba melepaskan hal yang tak seharusnya kau miliki karena dia tak mencintaimu dan seharusnya kau biarkan dia bersama pria yang dicintainya."


Kinan berkacak pinggang dengan raut wajah yang ia buat cemberut. "Ingat, Tuan Dio! melepaskan bukan berarti kita menyerah, tapi melepaskan demi kebahagiaannya," jelas Kinan lagi.


Dio terdiam mendengar penuturan Kinan yang terdengar sangat dewasa dalam bersikap. "Apa mungkin memang aku yang tak mau mencoba melepaskan, Cinta?"


"Masih ada waktu untuk mencobanya, Tuan! setelah sarapan kita akan bermain banana boat, jika kau bersedia bekerjasama denganku, ikuti rencanaku," kompromi Kinan mengedipkan sebelah matanya pada Dio. "Setidaknya kau harus digoda oleh perempuan lain agar tak hanya Cinta saja yang kau pikirkan," goda Kinan berjalan keluar dari dapur itu dengan tawa kecilnya, sementara Dio menyentuh dadanya yang berdegup kencang. "Gempa."

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, GIFT, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘 😘😘😘😘😘


__ADS_2