Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 44


__ADS_3

Cinta dan Naru masih berada di atas bak pickup bermuatan kambing dan mereka berdua masih dalam posisi berdekatan.


Mau bagaimanapun cara mereka berdua menjauhkan diri, pada akhirnya mereka berdua akan kembali saling menempel satu sama lain karena kambing itu membuat Cinta geli serta jalanan yang berkelok dan penuh dengan tanjakan ikut mendukung keduanya untuk semakin dekat.


Mungkin alam berpihak pada Cinta dan Naru dan mungkin juga Tuhan sedang menuntun mereka berdua menuju arah yang seharusnya.


Setelah memakan waktu menempuh perjalanan menuju ke arah pulau, akhirnya mobil pickup itu berhenti.


Naru dan Cinta masih menyandarkan punggung mereka pada pembatas pickup tersebut dengan posisi sejajar dan berdempetan.


Kedua sejoli itu saling tatap satu sama lain sebagai respon jika mereka merasa sudah sampai di tempat tujuan.


"Kita sudah sampai?" tanya Cinta pada Naru dan pria itu hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Cinta padanya.


Cinta berbalik melihat ke arah belakang dan disana hanya ada jejeran pohon jati yang di bagian bawahnya sudah nampak daun jati yang sudah berguguran dan mengering. "Ini bukan di pulau, tapi kita di kebun pohon jati," celetuk Cinta mengalihkan perhatian Naru yang juga ikut membalikkan badannya ke arah kebun jati tersebut. "Mana pulaunya?" tanya Naru dengan mata yang mulai mengelilingi setiap sudut kebun tersebut dan tak nampak pulau yang di sebut pulau Cinta itu.


Sopir dan temannya turun dari mobil pickup mereka. Keduanya berjalan ke arah belakang untuk membuka pembatas pickup tersebut. "Kita sudah sampai," tutur sopir tadi.


Cinta melihat ke arah Naru dan pria itu juga membalas tatapannya.


"Maaf, kami tak bisa mengantarkan sampai ke pulau itu, Neng!"


Naru turun lebih dulu, kemudian diikuti oleh Cinta. Saat Cinta hendak melompat, tiba-tiba Naru merentangkan kedua tangannya.


Kening Cinta mengkerut sempurna. "Mau apa kau?" tanya Cinta tak paham akan maksud Naru.


"Aku ingin membantumu turun, apa kau mau kambing itu yang membantumu?" tanya Naru mampu membuat Cinta tanpa aba-aba melompat sembarangan ke arah Naru dan gadis itu akhirnya masuk dalam dekapan seorang Chef Yunani seperti Bosnya.


Lagi-lagi kedua mata mereka berdua saling pandang satu sama lain dengan tangan yang sama-sama memeluk erat tubuh lawannya. "Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" tanya Naru dengan wajah yang super serius.


"Kau ingin mengatakan apa?" tanya Cinta penasaran.


"Kenapa wajahnya begitu serius? apa mungkin dia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting?"

__ADS_1


"Tapi kau tak boleh marah atau tertawa," ujar Naru pada Cinta.


Gadis itu mengangguk namun, anggukan kepalanya tak begitu yakin, seperti terlihat ragu-ragu.


"Apa lagi ulahnya kali ini?"


Naru mendekatkan bibirnya pada telinga Cinta sembari berbisik, "Kau bau kambing!"


Naru menjauhkan sedikit wajahnya kembali menatap ke arah Cinta. Tatapan gadis itu sudah datar bukan main.


Kedua pria paruh baya itu tersenyum menutup mulut mereka melihat kelucuan pasangan yang masih dimabuk cinta menurut mereka.


Naru tersenyum pada Cinta. "Kenapa diam? ingat! jangan marah atau tertawa," ujar Naru memperingatkan Cinta.


Tiba-tiba saja senyum di bibir Cinta terbit begitu saja. "Aku tidak akan marah atau tertawa kok! tapi kalau memukul tak apa, kan?" tanya Cinta menaik turunnya kedua alisnya menggoda Naru.


Naru menggelengkan kepalanya berkali-kali dan tangan Cinta secepat kilat langsung memukul bahu Naru tanpa henti sampai pria itu berlari melarikan diri dari pukulan bertubi-tubi Cinta padanya.


Terjadilah aksi kejar-kejaran mengelilingi mobil pickup itu, sampai pada saat dimana Naru membalikkan badannya merentangkan kedua tangannya bermaksud memberhentikan Cinta namun, rem cakram pada kaki Cinta nampaknya kurang cukup berfungsi, sehingga membuat gadis itu sebisa mungkin mengerem mendadak, menahan kakinya agar tak terus berlari namun, lagi-lagi kemesraan antara kaula muda itu tak bisa di tahan lagi.


Cinta memukul punggung Naru lagi dan lagi sampai ia merasa puas. "Jahat! aku tidak bau kambing!"


Naru bukannya marah, melainkan ia tersenyum dengan rentetan gigi putihnya yang nampak berbaris rapi. "Iya! kau tak bau, hanya tak enak di endus saja," goda Naru lagi membuat Cinta kembali memukul Naru.


Chef Yunani itu mulai mengendus wangi rambut Cinta. "Mau apa kau?" tanya Cinta sedikit memundurkan wajahnya.


"Wangi!" Satu kata itu keluar dari mulut Naru diiringi senyuman mautnya.


Mata Cinta menyipit sempurna. "Gombal!"


Naru menyentuh puncak kepala Cinta dan mengusapnya dengan gerakan lembut. "Kau wangi, Gadis Bebek!"


Belum juga Cinta menjawab, dua pria paruh baya itu menghampiri Cinta dan Naru. "Neng dan Aden bisa berjalan kaki mengikuti jalan kebun jati ini, nanti kalian akan langsung sampai di tempat tujuan, saya tak bisa mengantar sampai ke sana karena saya harus melanjutkan perjalanan," jelas sopir pickup tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Pak! kami sudah sangat berterimakasih karena Bapak sudah mau memberikan tumpangan pada kami," tutur Naru berterima kasih pada sopir itu.


"Iya, Den! kalau begitu, kami pamit dulu!"


"Iya, Pak! hati-hati dan terima kasih," ujar Naru kembali berterima kasih pada sopir pickup itu.


Naru dan Cinta masih tetap di tempat melihat mobil itu yang perlahan melaju meninggalkan keduanya.


Naru dan Cinta saling bertukar tatapan. "Mau tetap disini?" tanya Cinta pada Naru.


"Jika kau mau, tak masalah!" Naru menanggapinya dengan santai.


Jedddddeeeerrrr


Suara petir mulai terdengar dengan langit yang mulai menghitam lebih pekat dari sebelumnya.


"Kita berangkat sekarang saja! jika tidak, kita berdua akan terkena hujan," pinta Cinta pada Naru dan pria itu mengangguk setuju.


Cinta berjalan lebih dulu dengan tangan menggenggam erat tali bahu ransel tersebut dan arah tatapan gadis itu tertuju pada pepohonan yang menjulang tinggi dengan ukuran yang sangat besar berkali-kali lipat ukuran dirinya.


Naru berada di belakang Cinta. Pria itu fokus melihat punggung gadis cantik yang saat ini berada di depannya.


Rambut Cinta melambai-lambai ke kanan dan ke kiri, mengikuti gerakan kepalanya yang melihat setiap jejeran pohon jati di sekelilingnya.


Setetes air hujan mengenai bagian wajah Naru sampai pria tampan berlensa kebiruan itu mendongakkan kepalanya ke atas. "Hujan," gumam Naru membuat langkah Cinta terhenti dan berbalik ke belakang. "Dimana yang hujan?" tanya Cinta karena ia memakai topi, jadi gadis itu tak merasa jika setetes hujan mulai menyentuh tanah yang ia pijak.


Naru melihat ke arah Cinta dan menunjuk ke arah keningnya yang memang ada setetes air hujan di sana.


Sebuah cahaya yang sangat terang muncul dan ....


Ctarrrrrrr


Mata Cinta melebar dan gadis itu berlari ke arah Naru memeluk tubuh Chef tampan tersebut yang saat ini menjadi tunangan palsunya.

__ADS_1


Mata Cinta terpejam bersembunyi dalam dada bidang Naru dengan aroma maskulin yang menenangkan jiwanya.


__ADS_2