Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 81


__ADS_3

SUPER DUPER WARNING EPRIBADEHHH!!


Cinta masih menunggu di depan pintu masuk ruangan Naru, karena si pemilik ruangan tak mempersilahkan dirinya masuk, justru pria itu malah berada di ambang pintu masih dengan wajah yang ditekuk minta diratakan.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Cinta dengan nada manja bagai anak kecil yang tengah membujuk temannya untuk bermain.


Tak ada sahutan dari mulut Naru, yang ada pria itu meninggalkan Cinta begitu saja masuk ke dalam ruangannya tanpa menutup pintu ruangan tersebut.


Cinta akhirnya bernapas lega karena itu artinya, Naru mengizinkan ia masuk namun, pria itu masih dalam mode bisu tak mau bicara dengannya.


Cinta melangkahkan kakinya secara perlahan masuk ke dalam dan menutup pintu ruangan Naru menggunakan kakinya karena sudah tak ada cara lain lagi selain ia mengandalkan kakinya itu.


Naru sudah duduk di kursi kebesarannya dengan posisi punggung bersandar pada sandaran kursi dan tangan terlipat di dada.


Cinta masih dengan suasana hati sangat bagus karena gadis itu ingin memperbaiki hubungannya dengan sang pujaan hati.


Gadis berparas ayu itu mendekat ke arah Naru. "Makan siang dulu ya?" bujuk Cinta lagi.


"Tidak mau!"


"Kenapa?" tanya Cinta pura-pura tak tahu.


"Aku sedang tak napsu makan," jelas Naru.


Cinta tersenyum simpul sembari membawa nampan yang ada di tangannya lebih dekat ke arah Naru dan meletakkan tepat di hadapan Naru, dimana aroma makanan dan minuman itu sungguh menggoda indera penciumannya.


Arah tatapan mata Naru terarah pada makanan yang Cinta buat.


Tanpa sadar, jakun Naru bergerak naik turun tergoda akan aroma masakan sang gadis.


"Sepertinya enak? apa aku coba makan saja? tapi aku masih marah padanya."


Cinta tersenyum kala ia melihat jakun Naru bergerak naik turun bagai alat pompa.


"Bagaimana? mau makan atau tidak?" tanya Cinta ingin memastikan untuk terakhir kalinya.


"Tidak mau!"


Pria itu memalingkan wajahnya, agar ia tak tergoda oleh wangi makanan yang Cinta bawa.


Tiba-tiba ....


Krururuuuukkkkkk


Suara merdu bagai lantunan lagu rock terdengar dari perut Naru dan Cinta ingin sekali tertawa namun, ia coba menahannya agar Naru tak merasa malu.


Sepertinya Cinta sia-sia menahan tawanya karena si empunya perut, nampaknya sudah tersipu malu karena ketahuan, jika cacing di dalam perutnya sudah berdemo minta diberi asupan.


"Mulut bisa berdusta, tapi perutmu lebih jujur, Bos Pacar!"


Cinta akhirnya membawa nampan itu ke arah meja sofa untuk ia santap sendiri.


Cinta sudah duduk dengan posisi wenak. "Karena kau sudah kenyang, daripada makanan ini menganggur tak ada yang mau, lebih baik aku habiskan saja atau aku makan sebagian saja, sisanya akan aku berikan pada Zayn," gumam Cinta yang sebenarnya itu kode untuk Naru.

__ADS_1


Dan benar saja, pria itu langsung kelabakan kala ia mendengar Cinta menyebut nama Zayn.


Cinta mengambil sendok dan mangkuk kosong dan beruntungnya ia membawa sebuah mangkuk kosong untuk berjaga-jaga, jika Naru tak ingin menghabiskan nasi yang ia bawa.


Cinta sudah menyendok tahu putih yang ia potong sedikit memanjang. Dengan cepat gadis itu melahap tahu putih tersebut namun, bukan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya, melainkan ia masih mengapitnya diantara dua bibir kenyalnya. Karena Cinta tahu sang kekasih memperhatikannya, Cinta sengaja melakukan metode itu agar Naru tergiur untuk makan siang.


Cinta memperlihatkan tahu itu yang masih melambai-lambai di bibirnya, meminta untuk dilahap sampai habis.


Naru yang melihat tahu tersebut diapit oleh bibir Cinta, seketika pria itu langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah sang kekasih dengan gagahnya.


Hanya beberapa langkah saja, Naru sudah berada di sofa yang sama dengan Cinta.


Tanpa banyak bicara, Naru langsung menarik tengkuk Cinta dan melahap tahu putih yang berada di bibir kekasihnya.


Bibir mereka akhirnya saling bersentuhan satu sama lain.


Wajah Naru sedikit menjauh, setelah ia mendapatkan apa yang diincar dan mengunyah tahu putih itu sembari menatap bibir Cinta. "Enak!"


Cinta masih diam tak merespon karena keterkejutannya dan kelopak mata gadis itu hanya mengerjap-ngerjap pertanda tengah dalam kebingungan.


Tangan Naru masih berada di tengkuk Cinta. "Aku mau lagi," ujar Naru masih fokus dengan bibir kekasihnya.


Cinta yang sadar akan ucapan Naru, akhirnya gadis itu kembali mengambilkan Naru tahu putih dan meletakkan tahu tersebut ke dalam mangkuk kosong tadi namun, Naru menggelengkan kepalanya saat Cinta memberikan mangkuk berisi tahu itu padanya. "Bukan itu, aku ingin minum esnya," ujar Naru dan Cinta tersenyum manis sembari mengambilkan Naru es lemon dan daun mint.


Dengan senang hati pria itu meminum minuman beraroma wangi tersebut.


"Aku menginginkannya lagi," ucap Naru namun, pria itu malah meletakkan minuman tersebut dan hal itu membuat Cinta kebingungan.


"Katanya kau menginginkannya lagi tapi kenap-"


Mata Cinta terbelalak karena ia tak pernah berpikir ke arah sana.


Mata Naru sudah tertutup rapat dengan bibir yang sudah bergerak ke atas dan ke bawah, mengabsen tiap kelembutan yang Tuhan ciptakan untuknya, yaitu melalui bibir sang kekasih.


Cinta perlahan mulai terbawa oleh permainan bibir Naru dan kelopak mata gadis itu perlahan mulai tertutup menikmati tiap cubitan dan cecapan lembut bibir kekasihnya.


Aroma mint dan lemon bercampur menjadi satu saat penyatuan benda kenyal mereka pertama kali bersentuhan.


Tanpa sadar, kedua tangan Cinta melingkar pada leher Naru dan satu tangan pria itu turun membelit pinggang Cinta posesif.


Lidah tak bertulang milik Naru berusaha menerobos pertahanan Cinta dan akhirnya, Naru bisa merasakan semua yang ada di dalamnya, mengobrak-abrik, memporak-poranda apa saja yang bisa ia jangkau sampai napas mereka begitu terdengar merdu karena lonjakan napsu yang sudah masuk dalam puncaknya.


Cinta melepaskan ciuman memabukkan itu lebih dulu dengan kening mereka yang masih menyatu. "Kau harus makan dulu," ujar Cinta terengah-engah.


Naru masih mendekatkan ujung hidungnya pada ujung hidung milik Cinta. Pria itu seperti belum puas dengan kegiatan tadi. "Aku masih belum kenyang memakan ini," ujar Naru menyentuh bibir Cinta dengan ibu jarinya.


Gadis itu memejamkan matanya karena sisa-sisa napsu yang tadi sempat menyelimutinya, masih ada.


"Kau harus makan, kau bisa sakit jika menundanya lebih lama lagi," bujuk Cinta menatap kedua mata Naru.


Kedua mata mereka masih saling bertukar tatap.


Akhirnya Cinta mengecup bibir Naru cukup lama, tanpa ada pergerakan apapun.

__ADS_1


Cupppppp


"Makan dulu ya?" bujuk Cinta lagi.


Naru akhirnya menganggukkan kepalanya patuh. "Tapi, suapi aku," pinta Naru.


"Jika aku tak mau?"


"Bibirmu yang akan aku makan seharian," sahut Naru sekenanya, jika Cinta mengizinkan, Naru juga tak akan rugi.


"Baiklah, aku akan menyuapimu," sanggup Cinta.


Akhirnya mereka berdua saling berjauhan dan Cinta mengambil lauk pauk ke atas piring yang sudah terisi nasi.


Cinta menyendokkan nasi dan lauknya. "Buka mulutmu bayi besar," goda Cinta pada Naru.


"Isshhh, kau ini! siap Mama Cinta!" suara Naru dibuat seperti anak kecil yang menuruti ibunya.


Cinta tersenyum geli mendengar penuturan Naru. "Jangan marah lagi ya?"


"Tergantung! jika kau membuatku cemburu, maka aku akan marah lagi dan menciummu lagi," sahut Naru sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Siap, Bos Pacar!"


Naru melirik Cinta dengan tatapan penuh selidik. "Sebutan apalagi itu? kau ini ada-ada saja," cibir Naru kembali membuka mulutnya ingin disuapi oleh sang gadis.


"Kau istirahat saja nanti malam, bilang saja kau pusing, aku tak ingin kau kelelahan karena seharian tadi, kau pasti bekerja keras," saran Naru pada Cinta.


"Tidak mau!"


"Kenapa?" tanya Naru heran.


Dimana-mana, jika punya pacar bos dan bosmu menyuruhmu cuti, pasti si gadis akan cuti menuruti perkataan kekasihnya, tapi Cinta malah menolak mentah-mentah.


Cinta meletakkan piring yang berisi makanan tadi dan menatap Naru dengan raut wajah cemberut.


Sedetik kemudian, gadis itu memeluk tubuh Naru erat. "Bagaimana jika aku rindu padamu," ujar Cinta dengan kepala bersandar pada dada kekasihnya.


Naru tersenyum bahagia karena ternyata bukan hanya dirinya yang merindukan Cinta, tapi gadis itu juga merindukannya.


Naru membalas pelukan Cinta tak kalah eratnya. "Aku juga sebenarnya sangat merindukanmu, apalagi ...."


Cinta menengadahkan wajahnya menatap Naru. "Apalagi apa?" tanya Cinta penasaran karena pria itu menjeda perkataannya.


"Apalagi dengan bibirmu ini," lanjut Naru tersenyum sembari menatap bibir gadisnya.


Cinta juga ikut tersenyum menatap Naru dan mereka berdua sama-sama mendekatkan benda kenyal masing-masing dan ....


Cupppp


Kecupan hangat bersamaan mendarat dengan rasa penuh Cinta.


"Kau milikku," cetus Naru mengecup bibir Cinta lagi.

__ADS_1


"Aku milikmu," balas Cinta masuk ke dalam pelukan Naru dan mereka berdua tersenyum manis satu sama lain.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘


__ADS_2