
Saat genggaman tangan Naru dan Cinta masih tetap terjalin erat, suara Ahmad membuat semua orang di ruangan itu fokus ke arahnya.
"Karena Cinta dan ... siapa namamu, Nak?" tanya Ahmad pada calon menantunya.
Naru tersenyum pada calon ayah mertuanya. "Naru, Yah!"
"Karena Naru dan Cinta sudah resmi bertunangan, kami akan memberitahu hal yang sangat penting menyangkut kehidupan, Cinta!" Ahmad melihat ke arah Cinta yang juga membalas tatapannya.
Keluarga Naru dibuat kebingungan dengan maksud ucapan ayah dari Cinta itu.
Naru melihat ke arah Ahmad dan Cinta bergantian. Ia seperti tengah mencaritahu ada apa sebenarnya.
Cinta tiba-tiba menundukkan kepalanya menahan sesuatu yang ingin ia tumpahkan dari dalam dirinya.
Naru bisa melihat raut wajah kesedihan pada wajah Cinta. "Kau kenapa?" tanya Naru menundukkan sedikit wajahnya agar ia dapat melihat wajah Cinta.
Cinta hanya menggelengkan kepalanya tak berkata apapun.
Kepala Cinta tiba-tiba terangkat menatap ke arah Zinnia dan William. "Cinta izin ke belakang dulu," tutur Cinta langsung berdiri melepaskan genggaman tangan Naru.
Chef Yunani itu terkejut karena Cinta tak biasa bersikap seperti itu, meskipun ia hanya beberapa hari lalu bertemu dengan Asisten sekaligus pakar cintanya.
Naru mengejar Cinta ke arah belakang karena ia takut Cinta melakukan hal yang tidak-tidak karena Naru teringat akan raut wajah sedih Cinta.
Ahmad menghela napas panjang saat ia harus memulai menceritakan siapa Cinta yang sebenarnya.
"Kita semua saat ini sudah menjadi keluarga, maka dari itu saya tak ingin ada sesuatu hal yang ditutup-tutupi! saya ingin memberitahu identitas Cinta yang sebenarnya," tutur Ahmad mencoba menguatkan dirinya.
"Identitas? indentitas apa maksud Anda, Pak?" tanya William yang mulai kebingungan.
William dan Zinnia memang sengaja tak mencari tahu seluk beluk keluarga Cinta secara mendetail karena ia ingin tahu sendiri dari Cinta atau keluarga gadis itu.
Ahmad melihat ke arah sang istri dan Ningsih menganggukkan kepalanya mengiyakan niat suaminya.
"Cinta bukan anak kandung kami!"
__ADS_1
William dan Zinnia terkejut namun, mereka berdua mencoba tak menunjukkan pada keluarga Cinta, begitu pula dengan para paman Naru yang terkejut karena kenyataan itu.
"Jadi dia anak siapa, Pak?" tanya Zinnia dengan suara lembut.
"Dia anak teman kami! saat usianya sekitar lima tahun, kedua orangtuanya meninggal karena kebakaran dirumahnya dan itu disebabkan korsleting listrik dan kebetulan saat itu Cinta berada di sekolah taman kanak-kanak! mungkin memang Tuhan masih menyayangi anak itu sampai ia bisa tumbuh menjadi gadis cantik seperti saat ini," jelas Ahmad menahan air matanya.
William dan Zinnia turut prihatin akan nasib Cinta, apalagi William pasti lebih mengerti bagaimana rasa tak memiliki seorang keluarga lengkap.
"Hanya saya satu-satunya kerabat dekat dari keluarga, Cinta! secara tak langsung Tuhan menitipkan anak itu pada kami karena kami juga sangat menginginkannya seorang anak perempuan namun, tak kunjung diberi," jelas Ahmad lagi.
Zinnia dan William mengerti maksud dari Ahmad memberitahu kebenaran itu pada keluarganya.
"Saya tidak akan membatalkan pertunangan ini, Pak! karena saya suka dengan putri Anda! meskipun Cinta tak memiliki orangtua asli, Anda dan Ibu sudah cukup bagi kami sebagai keluarga Cinta dan gadis itu tak sendiri lagi karena kami juga sekarang sudah menjadi bagian darinya," tutur Zinnia meyakinkan besannya jika keluarganya tak mempermasalahkan status Cinta sebagai anak angkat di keluarganya.
Ahmad dan Ningsih tersenyum lega mendengar penuturan Zinnia. "Terima kasih karena telah menerima putri kami dan Cinta beruntung bisa memiliki keluarga baru sebaik Anda dan keluarga," tutur Ahmad pada William dan Zinnia.
Di belakang rumah Dio dimana terdapat kolam renang berukuran cukup besar berdiri seorang gadis cantik yang memunggunginya dengan gaun berwarna navy yang melekat pada tubuhnya nampak menaik turunkan bahunya seperti tengah menangisi sesuatu.
Naru yang awalnya berjalan cepat perlahan memelankan langkahnya. Pria itu mulai mendekati Cinta yang berdiri tepat di tepi kolam renang.
Naru melihat Cinta tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Naru baru pertama kali ini melihat seorang gadis yang biasanya bar-bar namun, saat ini gadis itu malah terisak.
Tangan Naru perlahan terangkat menyentuh bahu Cinta yang naik turun karena ia mencoba menahan isak tangisnya. "Jangan ditahan! menangislah!"
Cinta terkejut akan kehadiran Naru sampai ia menurunkan tangannya dari wajahnya. "Kau?"
Suara Cinta bagai suara bebek yang tengah menggerutu.
Naru melihat bekas air mata pada wajah Cinta. Pria itu mengusap sebagian air mata yang masih tersisa. "Menangislah!"
Cinta menggelengkan kepalanya karena ia tak mau menangis di hadapan Naru.
"Jika tak ingin menangis, ceritakan padaku apa yang terjadi karena dengan kau bercerita pada seseorang, bebanmu akan berkurang," ujar Naru menatap kedua manik mata Cinta dalam.
__ADS_1
Cinta melihat ke arah langit malam yang terlihat sangat gelap namun, masih ada cahaya bintang yang menyinari kegelapan itu. "Aku bukan anak kandung Ibu dan Ayah!"
Naru masih tak merespon ucapan Cinta. Ia masih ingin mendengarkan apalagi yang akan Cinta bagi padanya.
"Orangtua kandungku sudah meninggal saat aku duduk di bangku taman kanak-kanak! mereka meninggal karena kebakaran korsleting listrik di rumah dan pada saat itu aku kebetulan berada di sekolah dan ...."
Air mata Cinta jatuh setetes dan Naru bisa melihat air mata itu luruh begitu saja dari mata Asistennya.
"Dan aku selamat! meskipun aku selamat, tapi aku merasa hidupku tak selengkap gadis lainnya ... terkadang ada lintasan dalam pikiranku ingin menyusul ...."
Naru menarik Cinta ke dalam pelukannya. Pria itu ingin melakukan hal itu saat ini pada Cinta.
Air mata Cinta yang sempat ia tahan akhirnya sudah tak dapat ia bendung lagi.
"Hiks hiks hiks hiks! aku merindukan mereka," ujar Cinta ditengah isak tangisnya.
Naru mengusap lembut punggung Cinta agar gadis itu merasa lebih tenang.
"Keluarkan semua emosi dalam hatimu! menangislah sebisamu," pinta Naru membuat tangisan Cinta semakin menjadi.
"Hiks hiks hiks hiks! aku tak ingin sendirian di dunia ini, aku ingin ikut ...."
"Ssstttt! kau jangan berkata seperti itu! masih ada kedua orangtuamu dan masih ada teman-temanmu yang menyayangimu," jelas Naru memeluk tubuh Cinta lebih erat lagi dan gadis itu perlahan membalas pelukan Naru.
Pipi Naru menempel pada puncak kepala Cinta memberikan kehangatan pada gadis itu agar Cinta merasa lebih baik.
Setelah cukup lama berpelukan, Naru mendorong sedikit tubuh Cinta, agar ia dapat melihat wajah Cinta lebih jelas.
Naru menyentuh pipi Cinta lembut. "Ada aku disini bersamamu," tutur Naru dengan tatapan mata yang sudah terkunci pada lensa mata Cinta.
Mata keduanya sudah saling terkunci. Wajah Naru semakin mendekat ke arah wajah Cinta dan gadis itu hanya diam terhipnotis oleh ketampanan seorang Naru.
Jarak wajah mereka berdua sudah hampir terkikis habis dan ....
INFO! PACARAN SETELAH MENIKAH sudah ada audiobooknya kak, jadi buat kalian yang malas baca bisa langsung dengerin audiobooknya, silahkan di cek😘 jangan lupa likenya ya Kak 🥰
__ADS_1