Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 24


__ADS_3

Cinta terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Naru padanya karena hal itu baru pertama kali ia terima dari Naru.


Cinta memberanikan diri untuk menatap mata Naru dan ternyata pria itu juga tengah menatap matanya.


Telapak tangan Cinta menempel pada daun pintu itu dengan keringat dingin yang mulai merambat pada tiap jengkal bagian telapak tangannya.


"Chef ...."


"Sesuatu apapun yang sudah berlebel milikku tak dapat dibagi pada orang lain," sambung Naru masih dengan posisi mengapit tubuh Cinta pada daun pintu ruangannya.


Cinta menatap lekat manik mata Naru. "Aku hanya seorang asisten di tempat ini dan tugasku memang membantu para Chef untuk mempersiapkan segala bahan makanan yang akan dibuat, jadi ...."


"Kau hanya boleh membantuku," sambung Naru lagi.


Cinta memejamkan matanya memikirkan cara lain untuk membujuk pria yang kini berada di hadapannya dan jarak mereka berdua sangat dekat.


"Jika aku tak membantu, Chef Z! restoranmu akan kewalahan untuk menghidangkan main course pada para pelanggan," bujuk Cinta.


Naru masih diam mencerna tiap kata yang diucapkan oleh Cinta padanya.


*"Chef Z? apa itu panggilan khusus untuk Zayn dari dia?"


Bukannya menjawab, Naru malah balik bertanya, "Siapa yang kau sebut, Chef Z?" tanya Naru masih mencoba menahan rasa kesalnya.


Pria itu tak tahu kenapa ia merasa kesal saat Cinta terlihat sangat akrab dengan Zayn.


Naru berpikir mungkin itu karena rasa memiliki sebagai pacar palsunya. Itu murni karena naluri Naru yang mengantisipasi agar keluarganya tak melihat hal yang tidak-tidak tentang Cinta. Apalagi Cinta ketahuan dekat dengan pria lain.


"Itu sebutan untuk, Chef Zayn!"


Naru lebih mendekatkan dirinya pada tubuh Cinta. "Kau harus ingat, Nona! kau bukan hanya sekedar Asisten biasa, tapi kau seorang kekasih palsu dari Naru Attala Pattinson Gafin! jadi aku peringatkan agar kau lebih menjaga jarak dengan pria yang masih aku kenal, kecuali pacarmu," jelas Naru dengan hembusan napas yang begitu terasa di wajah Cinta.


*"Astaga! apa seperti ini rasanya jika seorang pemeran wanita yang beradegan saling tatap dan seintim ini di dalam sebuah drama?"


Wangi tubuh Naru mulai mengusik indera penciuman Cinta.


*"Wangi ini sama seperti wangi jas yang semalam dia pinjamkan padaku."


"Apa kau paham?" tanya Naru lagi karena tak ada tanggapan apapun dari mulut Cinta.

__ADS_1


Gadis pembuat kue tradisional itu menganggukkan kepalanya. "Tapi jika sudah berada diluar lingkup restoran atau yang tidak berhubungan dengan keluargamu, semua peraturan itu tak berlaku kan?" tanya Cinta memastikan lagi.


"Ya!"


Cinta melihat posisinya dan Naru merasa tak nyaman. "Sudah selesai kan? bisakah kau menjauh dari hadapanku," pinta Cinta pada Naru.


Bukannya menjauhkan tubuhnya, pria itu malah mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


Sebuah bunga kecil yang semalam Cinta pakai untuk acara makan malam bersama keluarga besar Naru.


Dengan lembut pria itu memasangkan bunga kecil berwarna putih mirip seperti bunga Daisy itu pada rambut Cinta yang di ikat sembarangan namun tetap terlihat rapi.


"Lain kali jangan terlalu bar-bar jika bersama pria lain selain aku! duduklah yang tenang di dalam mobil dan bersikaplah seperti putri kerajaan yang sopan dan santun, jangan main seruduk kepala orang," cecar Naru tersenyum kecil saat mengingat kejadian kemarin malam.


Cinta hanya mengangguk patuh karena ia tak ingin memperpanjang masalah itu karena memang dirinya yang salah.


"Apa kau tahu jika kepalaku yang kau seruduk itu sakit?" tanya Naru pada Cinta dan gadis itu spontan melihat ke arah Naru. "Memang sakit ya?" tanya balik Cinta dengan nada polosnya.


"Tentu saja sakit! jadi kau harus memberikan kompensasi padaku karena telah berani membuat kepalaku sakit," sahut Naru.


"Apa yang harus aku la ...."


Cinta diam mematung karena ia merasa terkejut dengan perlakuan Naru pada. "Ap-apa yang ...."


"Aku ingin keningku yang terasa sakit ini perlahan sembuh dan perlahan rasa sakitnya bisa berpindah padamu karena kau yang telah membuat kening berharga ini berdenyut," cicit Naru dengan wajah sudah hampir menempel pada wajah Cinta hanya berjarak hidung dua helai tisu saja.


Cinta lebih memilih memejamkan matanya karena tak mau tergoda dengan perlakuan Naru padanya.


*"Anggap saja kau sedang menonton drama, Cinta! anggap saja manusia yang kini berada di hadapanmu ini tak nyata."


Naru tersenyum penuh kemenangan karena ia telah berhasil membuat Cinta mati kutu.


*"Biar kapok kau, Gadis Bebek! awas saja masih berani dekat dengan, Zayn! aku akan memberikan pelajaran lebih padamu!"


Naru tak merasa jika sikapnya pada Cinta seperti seorang pria yang tengah posesif pada kekasihnya.


"Bagaimana? apa tingkat kemanisan yang aku buat sudah meningkat?" tanya Naru masih dengan posisi seperti tadi.


Cinta membuka matanya mendongakkan sedikit wajahnya membuat ujung hidung keduanya bersentuhan tanpa di sengaja.

__ADS_1


Kedua manusia berbeda jenis itu diam terpaku dengan posisi mereka berdua yang begitu dekat, bahkan sangat dekat.


"Sudah!"


Cinta perlahan menurunkan tubuhnya agar ia bisa terbebas dari jeratan Naru.


Saat tubuh Cinta sudah berada di bawah duduk berjongkok, Cinta hendak kabur namun, Naru juga ikut duduk berjongkok.


Cinta yang ketahuan akan kabur tersenyum kikuk pada Naru.


"Mau kemana?" tanya Naru meletakkan kedua tangannya di dagu.


"Mau membantu, Chef Zayn!"


"Tidak perlu!"


"Jika kau terus melarangku, pasti semua orang akan curiga padaku, jadi aku mohon, izinkan aku membantunya," bujuk Cinta menangkup kedua tangannya.


"Apa yang akan aku dapatkan jika aku mengizinkanmu?" tanya Naru tersenyum simpul.


"Penilaian tambahan," sahut Cinta sekenanya.


"Berapa nilai yang tadi?" tanya Naru penasaran.


"Nilai terakhir itu 20 persen, seharusnya tadi naik 8 persen saja, tapi karena aku berjanji akan menambah nilainya, jadi pertambahan nilainya adalah 10 persen untuk total semuanya," jelas Cinta.


"Kau hanya menambahkan 2 persen saja?" tanya Naru tak percaya.


"Tentu saja! jadi total semuanya adalah 30 persen tingkat kemanisan yang sudah kau praktekkan padaku dan kau bisa langsung melakukan hal itu pada, Kinan!"


Naru tersenyum sembari mengacak-acak rambut Cinta. "Terima kasih karena kau telah menjadi pakar cintaku! oh ya! aku hampir lupa! Mommy tadi menghubungiku agar kau mengabari keluargamu jika nanti malam kedua orangtuaku akan kerumahmu untuk melamar dan menentukan tanggal peresmiannya," jelas Naru.


"Serius?" tanya Cinta tak yakin.


"Jika kau tak percaya, aku akan menghubungi mommy sekarang juga," tutur Naru mengeluarkan ponselnya namun, Cinta menahan tangan Naru agar tak menghubungi ibunya.


Tangan Cinta yang menyentuh tangan Naru segera melepaskan tangannya. "Maaf!" Cinta tersenyum semanis mungkin. "Aku akan mengabari keluargaku sekarang juga!"


Cinta berdiri hendak membuka pintu ruangan Naru namun, niatnya ia urungkan. Cinta berbalik menatap ke arah Naru yang masih berjongkok membalas tatapan Asistennya.

__ADS_1


__ADS_2