
Cinta kini berhenti menunggu lampu merah berganti menjadi hijau.
Gadis itu melihat ke arah lampu yang masih saja berwarna merah.
Tanpa disadari oleh Cinta, seorang pria dengan motor Kawasaki yang ia naiki memperhatikan Cinta sedari tadi.
"Cewek! boleh kenalan," goda pria itu.
Cinta diam tak merespon godaan pria iseng tersebut meskipun ia tahu jika dirinya adalah sasaran pria tersebut.
"Jangan terlalu sombong sampai tak menoleh ke arah orang yang memanggilmu, nanti kau tak punya jodoh baru tahu rasa," cecar pria itu lagi membuat kesabaran Cinta sudah mencapai batasnya.
Cinta memejamkan mata mencoba tak mengumpat pada pria itu di tengah lautan kendaraan yang mengelilinginya.
*"Siapa pria ini berani menyumpahiku!"
Cinta menoleh ke arah pria itu dengan kasar. "Jangan ...." Ucapan Cinta terhenti saat ia melihat wajah dan motor pria yang tadi sempat menggodanya.
"Chef Kaku!"
Naru hanya tersenyum dan memberikan kecupan jarak jauh pada Cinta. Kaca helm Naru sudah terbuka sempurna, sehingga Cinta dan beberapa orang yang melihat ke arah Naru bisa menonton tayangan live keromantisan pria bermotor yang tengah menggoda gadis cantik saat lampu merah menyala.
Lampu merah sudah berganti hijau dan motor Kawasaki milik Naru perlahan mulai berjalan meninggalkan Cinta yang masih terlihat kesal padanya.
Motor yang dikendarai oleh Cinta ikut melaju hendak mengejar motor Naru namun, kecepatan motornya tak sebanding dengan motor milik Naru.
"Awas saja saat sudah sampai di Resto! aku geprek dia sampai gepeng," umpat Cinta di sepanjang perjalanan menuju arah restoran.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Cinta sudah sampai di tempat tujuan.
Motor Cinta perlahan masuk menuju parkiran khusus karyawan.
Saat sedang memarkirkan motornya, Cinta melihat Naru berjalan menuju arah pintu masuk resto.
Dengan cepat Cinta segera mengejar Naru yang sedang membuka kunci pintu masuk restonya.
Cinta menyentuh lengan kekar bosnya hingga si empunya lengan terhenti melakukan pergerakan pada tangannya untuk memutar kunci pintu restorannya agar terbuka penuh. "Kenapa?" tanya Naru berlagak polos.
"Hei pria tampan! mau aku beri ciuman gratis tidak?" tanya Cinta balik menggoda Bosnya.
Naru masih diam dengan wajah datarnya, padahal perutnya sudah geli tak karuan menahan tawa.
Naru meletakkan tangan kirinya pada kening Cinta. "Kau sehat kan?" tanya Naru menatap wajah Cinta seakan dirinya tak melakukan apapun tadi saat di lampu merah.
__ADS_1
*"Oh, jadi kau ingin bersandiwara denganku rupanya."
Cinta tersenyum manis pada Naru dengan kaki yang sedikit ia jinjitkan.
*"Queen of drama akan menunjukkan keahliannya."
Wajah Cinta mendekat ke arah wajah Naru seakan ia ingin mencium pipi Chef tampan itu.
Naru spontan memundurkan wajahnya ke belakang. "Mau apa kau?" tanya Naru dengan posisi badan sedikit terhuyung kebelakang.
"Mau menciummu lah! kau tadi sudah berani membuatku malu di depan banyak orang saat di lampu merah," sahut Cinta masih menyudutkan posisi Naru.
"Aku tidak ...."
Bibir Cinta sudah dimajukan ke depan memberikan kiss jarak jauh sama seperti saat Naru melakukan hal itu di lampu merah tadi.
Cinta tersenyum setelah melakukan hal itu. "Bagaimana? apa kau masih ingin yang lebih original dari ini?" tanya Cinta menggoda Naru.
Belum juga Naru menjawab, dua anak manusia yang masih polos melihat kejadian itu semua.
"Sedang apa kalian berdua?" tanya Monica dengan suara yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Naru dan Cinta bersamaan melihat ke arah Monica.
Ternyata bukan hanya Monica yang melihat adegan yang tak patut di intip oleh mata kedua pegawai Naru itu. Disana juga ada Rocky yang juga terlihat syok.
Cinta memundurkan tubuhnya dengan gerakan cepat namun, lengan Naru yang masih di genggam oleh Cinta ikut tertarik, sehingga Naru ikut tertarik dan tubuh Cinta tak sanggup menahan beban tubuh Naru
Buggh
Suara tubuh Cinta jatuh menyentuh lantai teras Resto tersebut, insiden itu terjadi bersamaan dengan tubuh Naru yang jatuh menindih tubuh Cinta.
Monica menutup mulutnya karena lagi-lagi keterkejutan yang tiada duanya kembali melanda.
"Jangan-jangan kalian berdua berjodoh," celetuk Monica yang membiarkan Naru dan Cinta tanpa ingin membantu keduanya bangun.
Rocky hanya diam bagai patung melihat kejadian teramat sangat luar biasa baginya karena Naru baru pertama kali ini benar-benar dekat dengan seorang perempuan.
Cinta dan Naru masih dalam posisi seperti tadi. "Kenapa masih diam! cepat berdiri!" Cinta mulai merasa tak enak dilihat oleh Monica dan Rocky.
Naru hanya memutar bola matanya jengah. "Bagaimana aku bisa berdiri jika kau masih terus memegang erat lenganku seperti aku ini seorang pencopet saja," cecar Naru.
Cinta melihat ke arah tangannya yang masih menggenggam lengan Naru. Dengan gerakan malu-malu, akhirnya Cinta
__ADS_1
melepaskan lengan Naru.
Chef tampan itu berdiri membenarkan bajunya.
Monica membantu Cinta bangun karena gadis itu tergeletak di lantai teras Resto Naru dengan rambut yang sudah acak-acakan.
Rocky yang tersadar dari lamunannya segera menyusul Naru masuk ke dalam Resto.
"Kenapa kalian bisa mesra seperti tadi? apa kalian berdua ...."
"Kami hanya rekan kerja, Mon! tak lebih." Cinta membenarkan ikatan pada rambutnya kemudian berjalan masuk ke dalam karena Cinta merasa malu dan Monica mengikutinya.
Sementara Naru sudah berada di dalam ruangannya duduk di sebuah single sofa dengan posisi kepala bersandar pada sandaran sofa tersebut.
Naru memejamkan matanya mengingat bibir Cinta yang dimajukan ke depan.
"Ah! aku ini kenapa sih! kenapa bayangan ...."
"Kau pasti sudah jatuh cinta pada gadis itu," celetuk Rocky duduk di samping sofa Naru.
Naru menegakkan kepalanya menatap ke arah Rocky. "Jangan bercanda! aku tak mungkin suka padanya, ini murni karena kecelakaan dan gadis itu juga sedikit agresif," kilah Naru yang masih tetap pada pendiriannya.
Rocky tersenyum meledek. "Apa susahnya jika kau mengatakan kau suka padanya."
Naru menatap Rocky kesal. "Kau ini ya! sudah aku katakan jika perempuan yang aku sukai hanya, Kinan! titik tanpa koma," jelas Naru.
Rocky hanya menaikkan bahunya sembari melihat ke arah kawannya yang tengah dalam kondisi terbayang wajah Cinta sekaligus kesal pada Asistennya itu.
Tepat saat jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, Dio pulang ke rumahnya.
Pria itu berjalan ke arah kamarnya mengeluarkan koper sembari memasukkan beberapa potong bajunya.
Kebetulan saat Dio pulang, Ningsih melihat kedatangan putranya saat ibu satu anak itu menjaga toko Cinta.
"Kau mau kemana, Nak?" tanya Ningsih pada Dio.
"Aku ada perjalanan bisnis bersama atasanku, Bu! mungkin dua hari aku akan berada di luar kota," tutur Dio dengan koper yang sudah ia tarik menuju ke arah sang ibu.
"Kau tak mandi dulu?" tanya Ningsih pada Dio.
"Tak sempat, Bu! pesawat yang akan aku naiki akan berangkat, jadi aku langsung berangkat saja karena ini tugas dadakan dari kantor," tutur Dio mencium punggung tangan ibunya.
"Hati-hati, Nak!"
__ADS_1
Dio tersenyum pada sang ibu. "Iya, Bu! sampaikan salamku pada Cinta karena aku tak sempat mengabarinya," pinta Dio dan Ningsih menganggukkan kepalanya mengerti.
Dio berjalan dengan tangan menarik kopernya menuju pintu keluar rumahnya.