
Setelah permainan itu selesai, akhirnya Naru dan yang lain memutuskan untuk kembali ke villa untuk berganti baju karena baju mereka basah.
Dio segera turun dari banana boat itu saat perahu berwarna kuning tersebut menepi. Kakak angkat dari Cinta, berjalan ke arah sang adik yang nampak kedinginan karena tadi sempat tercebur ke laut.
Dio sudah berada di hadapan Cinta dengan punggung yang siap menggendong adiknya sampai ke villa.
Naru masih diam belum turun dari perahu itu. Ia masih terfokus pada Cinta dan Dio.
"Naiklah! Kakak akan menggendongmu, Kakak tahu jika kau pasti kedinginan sekali."
Cinta melihat ke arah Naru dan pria itu langsung berpaling dari tatapannya. Naru langsung turun dan berjalan ke arah Kinan, melakukan hal yang sama pada gadis pujaannya seperti yang dilakukan oleh Dio.
Cinta awalnya ada rasa tak enak hati pada Naru. Ia ragu harus menerima tawaran Dio atau tidak namun, saat melihat respon Naru, akhirnya Cinta membuang pikiran itu. "Apa yang aku pikirkan, sih! dia tak mencintaimu, untuk apa kau merasa sungkan padanya, untuk apa kau menjaga perasaannya."
Cinta akhirnya naik ke punggung Dio dan dengan gerakan cepat, Dio berdiri, kemudian berjalan menuju arah villa, sedangkan tatapan mata Naru masih terfokus pada Dio dan Cinta. "Kenapa Cinta harus mau, sih!"
"Boleh aku naik ke punggung, Kakak?" tanya Kinan memastikan pada Naru.
Naru tersentak atas pertanyaan Kinan. "Tentu boleh!"
Akhirnya Kinan naik ke punggung Naru dan pastinya bagian dada Kinan terasa samar-samar pada bagian punggung Naru, meskipun dokter muda itu sudah merenggangkan posisinya. Bukannya bahagia, pria itu malah mengeratkan rahangnya. "Jadi ini yang Dio rasakan saat menggendongnya! dan baju mereka berdua basah kuyup, pasti akan ...."
Naru mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai ke arah villa. Di tengah-tengah perjalanan, Kinan membuka suara, "Kenapa cepat sekali, Kak?" tanya Kinan pada Naru.
"Kakak kedinginan," sahut Naru sekenanya dan ucapan Naru itu ditanggapi senyuman diam-diam oleh Kinan. "Aku tahu kau sedang cemburu buta, kan?"
Dio dan Cinta sampai ke villa lebih dulu dan gadis itu sudah berada di teras villa tersebut, kemudian di susul oleh kedatangan Naru dan Kinan yang akhirnya turun saat sudah sampai di teras villa.
"Disini ada pengurus villa, kan?" tanya Dio pada Naru. "Ada," sahut Naru singkat padat dan jelas karena pria itu saat ini tengah diselimuti bara api cemburu.
"Suruh saja dia untuk membuatkan kita Chocolate milk," pinta Dio pada Naru. "Sekarang matahari masih terik, kan? jadi kau berjemur saja tak perlu membuat Chocolate milk," sahut Naru sekenanya pada Dio.
Cinta memutar bola matanya jengah. "Biar aku saja yang membuatnya."
Cinta berjalan ke arah dapur dengan tangan yang masih memeluk tubuhnya sendiri.
Mereka berempat bukan hanya sekali tercebur ke laut, melainkan berkali-kali karena keempat muda mudi itu cukup lama bermain banana boat.
Tatapan mata Dio tertuju ke arah Cinta yang berjalan masuk ke dalam villa, sementara Naru langsung mengejar Cinta namun, lengan pria itu dicekal oleh tangan kekar Dio. "Mau kemana kau?" tanya Dio pada Naru dan pria itu melihat ke arah lengannya yang dicekal oleh Dio. "Lepaskan!"
"Apa kau ingin ...."
"Ya, kau benar! aku ingin mengejar Cinta karena aku tahu dia tak akan tahu letak kaleng Chocolate milk-nya dimana," sambung Naru melepaskan lengannya dengan paksa dari tangan Dio.
Dengan langkah kaki seribu, akhirnya Naru sudah lenyap dari pandangan Kinan dan Dio.
__ADS_1
Dokter cantik itu tersenyum melirik ke arah Dio dan yang dilirik oleh Kinan membalas lirikannya. "Rencana kita seperti berjalan mulus," ujar Kinan menaik turunkan kedua alisnya dan Dio hanya mengangkat kedua bahunya santai dengan bibir bawah yang sengaja ia turunkan acuh.
Kinan yang gemas langsung mendekati Dio memukul bahu pria itu berkali-kali. "Aku senang sekali karena kak Naru sudah menemukan cintanya," oceh kinan membuat Dio meringis kesakitan menahan pukulannya. "Sakit, Bu Dokter!"
Kinan seketika menghentikan gerakan tangannya. "Maaf! sakit ya?" tanya Kinan pada Dio dengan wajah bersalah. "Sakit, lah! apa Bu dokter ini aslinya seperti ini? tapi saat kemarin pertama berjumpa kau sangat anggun, tapi kenapa kau sekarang jadi menyerupai adikku itu," celoteh Dio pada Kinan.
"Ssstttt! diamlah! aku ini aslinya tak terlalu anggun seperti yang kau bayangkan, hanya di depan orang yang aku segani saja," jelas Kinan pada Dio.
Mata Dio membulat sempurna. "Jadi kau tak segan pada ...."
Kinan langsung membungkam mulut Dio. "Aku sudah menganggapmu teman dan rekan seperjuangan, jadi nikmatilah sifat asliku ini dan satu lagi ... hanya keluarga dan para sahabatku yang tahu, jika dokter kandungan ini sedikit aktif," bisik Kinan tepat di telinga Dio.
Saat Kinan hendak masuk ke dalam, tiba-tiba tubuh gadis itu terhuyung ke belakang karena tetesan air dari bajunya yang membuat Kinan terpeleset.
Dengan sigap, tangan kekar Dio menangkap tubuh Kinan.
Dokter muda itu menutup kedua matanya dengan tangannya karena rasa takut yang mendominasi.
"Dasar ceroboh!"
Tiba-tiba Kinan mengintip dibalik sela-sela jari lentiknya dengan nails berwarna hijau. "Kau mengumpat padaku?" tanya Kinan masih dengan posisi tangan yang sama.
"Tentu saja! kau ...."
"Kau yang ceroboh! bukan aku," serang Kinan balik.
"Kau!"
"Kau!" Dio balik menyerang Kinan yang tak mau kalah.
"Kau!"
"Kau!" wajah Dio sudah semakin dekat ke arah Kinan.
"Kau, Tuan!"
"Kau, Bu Dokter!"
"Ka ...."
Kinan menghentikan ucapannya kala wajah mereka sudah terasa menghangat karena terpaan napas masing-masing, dimana hidung keduanya hampir saling menyatu.
Mata mereka masih saling tatap satu sama lain. "Po-posisi ini ... ti-tidak benar," ujar Kinan yang merasa tegang dengan keadaan saat ini.
Akhirnya wajah Dio menjauh dari wajah Kinan dengan kedua wajah manusia itu sama-sama bersemu kemerahan.
__ADS_1
Berbeda dengan keadaan di dapur, Cinta tengah sibuk mencari Chocolate milk di dalam kulkas namun, tak nampak kaleng dari bahan minuman itu. "Dimana Chocolate milk-nya, sih!"
Air yang berada di teko siul masih belum ada tanda-tanda, jadi Cinta melanjutkan proses pencarian Chocolate milk-nya.
Saat gadis itu membuka kabinet atas, ternyata apa yang ia cari ada disana dan letaknya cukup tinggi namun, hanya tinggal sedikit lagi tangan Cinta bisa menjangkaunya.
Sekuat tenaga gadis itu mencoba namun, hasilnya tetap saja sama tak dapat ia jangkau, sampai sebuah tangan kekar mengambil kaleng Chocolate milk tersebut. "Jangan terlalu pendek jadi orang, jadi seperti ini, kan!" Naru berbisik tepat di telinga Cinta.
Gadis itu sontak menoleh ke arah Naru dan lagi-lagi Cinta tak memprediksi, jika hidungnya akan bersentuhan dengan ujung hidung milik Naru.
Beberapa detik waktu seakan terhenti kala kedua anak manusia itu menikmati sentuhan kecil pada bagian wajah mereka.
"Kau!" Cinta cukup terkejut dengan keberadaan Naru yang tiba-tiba berada di belakangnya dengan kepala berada disampingnya.
"Hmm!"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cinta masih dengan posisi cukup membuat jantung gadis itu bertabuh bagai genderang perang.
"Membantumu."
"Membantu untuk apa?" tanya Cinta berusah mengontrol debaran jantungnya.
"Menghangatkan tubuhmu," sahut Naru cukup membuat bulu kuduk Cinta menegang.
"Menghangat ...."
Cinta menghentikan kalimatnya kala mata Naru terfokus pada bibir kemarahan miliknya dan bibir pria itu juga sudah mulai bergerak semakin menepis jarak diantara keduanya.
Cinta memejamkan matanya karena ia yakin jika kali ini kedua benda kenyal itu akan menempel, saat satu detik lagi akan menempel tiba-tiba ....
Suiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit
Teko siul itu berbunyi dan mata Naru nampak terpejam cukup rapat menahan sesuatu yang tadinya akan ia salurkan.
Cinta akhirnya membuka matanya dan Naru ternyata masih berada di hadapannya, dengan jarak yang sangat dekat dan mata pria itu sudah terbuka.
"Apa kau kesal?" tanya Naru pada Cinta.
"Kesal untuk apa?" tanya Cinta balik.
"Karena suara berisik teko itu," cecar Naru dengan suara menahan emosinya pada teko siul tersebut.
"Ti-tidak!"
Cinta berbalik hendak pergi namun, pinggang gadis itu ditahan oleh Naru dan tangan sebelahnya lagi meletakkan Chocolate milk di sembarang tempat. Tangan itu bergerak ke arah tengkuk Cinta menahan kepala asistennya dan ....
__ADS_1
Cup
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘