
Tanpa Cinta sadari, setetes cairan bening merosot begitu saja dari pelupuk matanya.
Kepala Cinta tertunduk merasakan cairan itu pasti akan bertambah lagi. "Bagaimana ini bisa terjadi? seharusnya aku tak memiliki perasaan ini," gumam Cinta dengan suara bergetar menahan sesuatu.
"Kenapa seperti aku sudah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku," gumam Cinta kembali dengan posisi menekuk lututnya menyembunyikan wajahnya.
Kotak berbentuk hati itu sudah tergeletak di karpet, sementara surat dari Naru masih dalam genggaman tangan Cinta.
"CINTA!"
Panggilan dari luar sana sudah terdengar, pertanda Cinta tak boleh terus larut dalam pemikiran yang seharusnya tak ia pikirkan.
"Ingat, Cinta! kalian berdua hanya partner kerja, tak lebih dari itu," yakin Cinta pada dirinya sendiri.
Gadis itu perlahan meletakkan kembali surat ke dalam kotak dan meletakkan kotak itu kembali pada tempat semula, yaitu di bawah selimut.
Cinta membersihkan sisa-sisa air mata yang mungkin masih membekas pada wajahnya.
Setelah semuanya sudah selesai, ia melihat ke segala sudut tenda dan ia menemukan kotak yang mungkin dimaksud oleh Kinan.
Tanpa pikir panjang, Cinta segera membawa kotak tersebut keluar dari tenda menuju arah dimana ketiga kawannya berada.
Setelah sampai, Cinta memberikan kotak itu pada Kinan. "Ini, Kak!"
Kinan menerima kotak itu dengan senang hati. "Terima kasih!"
"Kau mengambil kotak atau kau masih berkelana ke alam bebas," sindir Naru menata posisi kentang dan jagung agar terlihat lebih cantik. Maklum, Naru seorang Chef, jadi semua makanan yang ia olah sesederhana apapun harus tampil cantik dan menarik.
"Aku menemukan harta karun," sahut Cinta sekenanya dan sahutan gadis itu dianggap lelucon oleh Naru.
Dio melihat ke arah Cinta. "Harta karun apa yang kau temukan, Sayang!"
Cinta melihat ke arah kakaknya. Cinta berjalan ke arah Dio yang duduk tepat di depan Kinan, sementara Cinta sudah berjongkok di hadapan Naru menghadap ke arah Dio. "Harta karun seorang bajak laut yang setia mengejar cintanya sampai kapanpun dan apa kau tahu, Kak?" tanya Cinta melihat Dio dengan tatapan miris.
"Apa itu?" tanya Dio penasaran.
Cinta ingin sekali mengatakan pada Dio jika ada hati perempuan lain yang merasa terluka namun, lidahnya kelu. Ia tak bisa mengatakan hal itu.
Cinta tiba-tiba memeluk Dio erat menyalurkan rasa sakit dalam rongga dadanya jika perasaan yang ia rasakan tak bisa ia pertahankan dan Cinta tahu perasaan apa itu.
"Aku tahu jika perasaan ini perasaan cinta," gumam Cinta dalam hatinya.
__ADS_1
Mata Naru berkilat bagai petir hendak menghantam sasarannya kala ia melihat Cinta berpelukan dengan Dio.
"Perasaan gila ini lagi! akhhh, aku benci perasaan ini," frustrasi Naru dalam hati.
Kinan yang paham akan situasi segera mencairkan suasana. "Ayo kita buat bersama-sama untuk sausnya," sergah Kinan agar tatapan tajam Naru bisa kembali menghangat.
Nampaknya usaha Kinan sia-sia. Bukannya suasana kembali normal, suasana makin seram saat Dio mengusap air mata Cinta yang terus menerus menetes. "Berhentilah menangis, apa kau ingin aku gendong berlari di tepi pantai?" tanya Dio yang sesungguhnya hanya sebuah rayuan, agar Cinta tak bersedih.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan mata yang pastinya sudah sembab serta hidung yang memerah.
"Berhentilah menangis," tutur Dio kembali sembari mengusap puncak kepala Cinta penuh kasih.
BOOOOM
Bunyi itu yang terdengar ditelinga Naru saat puncak kepala Cinta dihujani oleh belaian tangan kekar Dio.
Kinan masih mencari cara agar Naru tak semakin emosi. "Pasti Kak Naru benar-benar menaruh perasaan pada gadis ini, sebelumnya dia tak pernah seperti ini pada perempuan manapun, kecuali aku."
"Kita buat sekarang untuk saus cocolnya ya, Kak?"
Suara Kinan akhirnya bisa mengalihkan perasaan suram Naru. Pria itu memejamkan matanya meredakan sesuatu yang pastinya sudah berkobar.
Naru melihat ke arah Kinan dengan senyum palsunya. "Apapun untukmu, Kinan!"
Cinta memejamkan matanya. Ia kembali mengingat isi surat itu yang mana Naru akan selalu mencintai Kinan sampai kapanpun.
"Cobalah untuk menghapusnya, Cinta! bantu dia mendapatkan orang yang dia cintai, setelah itu, tinggalkan dan lupakan."
Cinta sudah bertekad dalam hatinya untuk segera menyelesaikan misinya.
"Kita buat 4 saus kreasi sendiri," ujar Naru pada ketiganya. "Kalian berdua jangan hanya bermesraan, berhentilah menebar ...."
"Rasa kesal dalam hatiku," sambung Naru dalam hatinya.
"Apa?" tanya Cinta yang masih kesal dan patah hati.
"Berhentilah menebar keromantisan disini, saat aku dan Kinan sudah resmi bersatu, kau boleh melakukan apapun dengan pacarmu itu," ketus Naru tak mau melihat ke arah Cinta dan Dio.
Naru lebih memilih meracik sausnya sendiri karena itu cara aman agar perasaannya tak semakin bergejolak.
Cinta yang sadar jika Naru saat ini tengah menghindar menatap ke arahnya, akhirnya gadis itu mendekat ke arah Naru dan mengambil apa saja yang Naru pegang karena Naru saat itu tengah memilih beberapa bahan dari dalam kotak.
__ADS_1
Pria itu melihat ke arah asistennya. "Kau ingin membuat saus juga?" tanya Naru pada Cinta.
"Tentu saja!"
"Kau yakin?" tanya Naru memastikan lagi.
"Yakinlah!"
"Coba kau lihat bahan apa yang ada di tanganmu," pinta Naru dengan arah mata tertuju pada botol bahan yang berada di tangan Cinta.
Bukan hanya Cinta, Dio dan Kinan juga penasaran dengan bahan yang berada di tangan Cinta.
Saat gadis itu melihat ke arah botol tersebut, keningnya mengkerut. *"Apa dia bercanda? kenapa dia mengambil bahan ini?"
Naru tersenyum jahil. "Kenapa? jangan bilang kau hanya ingin berinteraksi denganku," ledek Naru membuat wajah Cinta menegang. "Harapanmu terlalu jauh," sahut Cinta.
"Jadi saus apa yang ingin kau buat dengan pasta coklat itu?" tanya Naru mengaduk saus buatannya.
"Kenapa jadi begini, sih!"
Cinta mulai berpikir keras. "Saus coklat lah, kau kira saus apa?" tanya Cinta balik.
"Kalian berdua ini kenapa?" tanya Dio dan Kinan bersamaan.
Keduanya saling tatap dengan mata yang kembali bertemu dan tentunya saling mengingat dimana mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Diam!"
Entah direncanakan atau tidak, tapi kata diam yang terucap keluar secara bersamaan dari mulut Cinta dan Naru.
Tatapan sengit kembali terjadi. "Kau juga," ketus Cinta pada Naru.
"Sama! kau juga diam," balas Naru membuat Cinta geram.
"Kau ...."
"Jangan banyak bicara! kita langsung buat saja sausnya sebelum jagung dan kentang ini dingin," lerai Kinan membuat Cinta dan Naru saling membuang muka.
Kinan hanya bisa menepuk jidatnya frustrasi. Ia seperti tengah melihat anak kecil yang tengah bertengkar memperebutkan mainan.
Berbeda dengan Dio yang masih mencoba mengingat pertemuanya dan Kinan. "Aku tak asing dengan mata itu."
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA, BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT YA KAKAK READERS