Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 17


__ADS_3

Naru memutusakan untuk turun, meskipun hatinya merasa tak enak karena menganggu kemesraan mereka berdua.


Cinta yang sedang asyik disuapi oleh Dio terkejut kala ia melihat seorang pria tampan berjas hitam dan pastinya sempurna berjalan ke arah rumahnya.


*"Kenapa dia terlihat berbeda saat mengenakan pakaian formal seperti ini? terlihat tampan ... apa sih kau, Cinta! dia itu bukan tampan tapi beruntung saja memiliki wajah seperti itu."


Dio juga ikut melihat ke arah Naru yang berjalan menghampiri Cinta.


*"Siapa pria ini? apa dia bos yang dimaksud oleh Cinta tadi? kenapa harus setampan ini?"


Naru sudah berada tepat di hadapan Cinta dan Chef tampan itu tersenyum menyapa Dio dan kakak angkat dari Cinta itu juga membalas sapaan Naru.


"Sudah siap?" tanya Naru pada Cinta.


"Sudah, Chef!"


"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Naru pada Cinta.


"Bisa sekali," sahut Cinta mantap.


Naru menghadap ke arah Dio. "Saya pinjam pacarnya dulu untuk acara makan malam ...."


"Perayaan restoran," sambung Cinta karena ia tak ingin sang kakak tahu jika dirinya terlibat hubungan rekayasa dengan Naru.


Dio terkejut karena ia di sangka pacar dari Cinta.


*"Tapi baguslah, jika dia mengira aku pacar Cinta karena dia tak akan berani mendekati sesuatu yang sudah menjadi milikku."


Dio hanya mengangguk dan tersenyum, sementara Cinta hanya geleng-geleng kepala.


*"Kenapa pria ini bisa mengira jika aku pacar, Kak Dio! tapi bagus juga sih jika dia mengira seperti itu, jadi tugasku sebagai pakar Cinta dari Chef Kaku ini tak akan ketahuan jika aku tak pernah pacaran sama sekali.


"Aku berangkat dulu ya, Kak!"


Cinta memeluk Dio sebelum ia berangkat. "Terima kasih karena telah berpura-pura menjadi pacarku ya, Kak! karena aku juga bertugas menjadi pakar cintanya untuk mendapatkan hati perempuan yang ia sukai," bisik cinta membuat senyum Dio terbit.


Naru melihat kedekatan Cinta dan Dio merasa ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya.


*"Aku ini kenapa ya? kenapa merasa ada yang aneh?"

__ADS_1


Cinta melepaskan pelukannya pada Dio. "Aku berangkat dulu ya, Kak!"


Cinta hendak berbalik namun, tangannya ditahan oleh Dio. "Ada yang kau lupakan, Sayang!" Dio menyentuh pipi Cinta dan mencium kening adiknya.


Deg


Jantung Naru berdebar bagai banteng mengamuk.


*"Kenapa mereka yang bermesraan, aku yang berdebar?"


Cinta awalnya terkejut dengan perlakuan Dio namun, ia mengartikan itu sebagai kasih sayang Kakak terhadap adiknya.


"Jangan terlalu malam pulangnya, jika sudah sampai hubungi aku," tutur Dio pada Cinta. "Siap, Bos!" Cinta tersenyum pada Dio.


Naru dan Cinta berjalan ke arah mobil sport berwarna merah itu dan arah tatapan mata Dio masih terus menyorot keduanya. "Meskipun dia tampan dan kaya, tapi aku bersyukur karena mereka berdua tidak saling suka dan peluangmu masih terbuka sangat lebar, Dio!"


Kini Naru dan Cinta sudah berada di dalam mobil. "Kenapa kau membawa mobil? kenapa kau tak membawa motor?" tanya Cinta sekenanya.


Naru tersenyum meledek mendengar perkataan Cinta. "Apa kau pikir kau akan menaiki motorku dengan gaun menyusahkan itu dan membuat gaunmu tersangkut di rantai motorku?" tanya Naru balik.


Cinta hanya memajukan bibirnya menatap ke arah Naru.


Cinta mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tas kecilnya.


Cinta melihat pesan dari sahabatnya Karin dan Manda. Senyum Cinta terbit saat membaca pesan itu.


Naru curi pandang dari arah spion tengah. Ia melihat Cinta tersenyum saat melihat pesan entah dari siapa.


*"Pasti dari pacarnya! sok mesra sekali sih! aku juga bisa seperti itu jika sudah berpacaran dengan, Kinan!"


Karena merasa diabaikan, akhirnya Naru menegur Cinta, "Aku ini bukan patung, aku juga manusia yang harus kau ajak bicara! bukan tersenyum-senyum sendiri dengan melihat ponselmu! pasti pacarmu yang tadi yang mengirim pesan ya?" tanya Naru masih fokus menyetir.


Cinta menoleh ke arah Naru dengan dahi yang mengkerut sempurna.


*"Pria ini berlagak menjadi seorang peramal, tapi tebakannya salah! aku kerjai saja sekalian."


"Pacarku itu romantis, jadi dia akan mengirimkan aku pesan penuh cinta dan pastinya aku suka," sindir Cinta pada jomblo seperti Bosnya.


"Karena kau sudah mengalaminya bagaimana rasanya berpacaran secara romantis, maka kau harus mengajari aku bagaimana seorang pria harus memperlakukan seorang perempuan dengan cara semanis mungkin," ujar Naru.

__ADS_1


"Itu urusan kecil," sahut Cinta enteng.


"Kau harus menunjukkan padaku bagaimana seorang pria berlaku romantis dan aku akan mempraktekkannya padamu, jika sudah benar, maka ilmu itu akan aku terapkan pada Kinan kelak," jelas Naru dan Cinta mengacungkan jempolnya.


Keduanya tersenyum bahagia namun, dalam artian berbeda.


Cinta tersenyum karena Naru percaya jika dirinya sangat berpengalaman dalam urusan percintaan, sementara Naru tersenyum membayangkan hal romantis yang akan ia lakukan dengan Kinan kelak saat ia sudah mahir merayu.


Mereka berdua sudah berada di halaman rumah megah keluarga Naru.


Mata Cinta dibuat bersinar kala ia melihat rumah sebagus itu. "Ini rumahmu?" tanya Cinta masih melihat ke arah rumah orangtua Naru.


"Ini bukan rumahku, tapi rumah orangtuaku karena aku sudah memiliki rumah sendiri," sahut Naru membuka seat belt-nya.


Cinta menolehkan kepalanya sekilat mungkin. "Kau sudah memiliki rumah sendiri? wah, pasti kehidupan calon istrimu sudah terjamin nantinya," puji Cinta dan Naru tersenyum bangga. "Tentu saja! Kinan pasti akan menjadi perempuan dan istri paling bahagia di dunia ini," bangga Naru pada dirinya sendiri.


Saat Naru hendak akan turun, ia mengurungkan niatnya menatap ke arah Cinta. "Kita beradegan sebagai pasangan kekasih saat di depan keluargaku! jika sudah tak berhubungan dengan itu, maka kau bersatus menjadi pakar cintaku," jelas Naru dan Cinta mengangguk paham.


Keduanya turun dari mobil sport tersebut berjalan ke arah pintu masuk rumah William dan Zinnia.


Mereka berdua disambut oleh Miranda kepala pelayan rumah tersebut.


"Selamat datang Tuan dan Nona!"


Cinta dan Naru tersenyum menganggukkan kepalanya berjalan ke arah dalam rumah tersebut sampai mereka berdua disambut oleh keluarga besar Naru baik dari ayah atau ibunya.


"Selamat datang calon pengantin baru," ujar mereka semua bersamaan membuat kedua pipi pasangan muda-mudi itu memerah.


Naru dan Cinta saling tatap karena para anggota keluarga bagai tengah menyambut pasangan baru yang baru saja menikah dan berkunjung ke rumah mereka.


Zinnia berjalan ke arah Cinta yang sudah terbalut gaun rancangannya. "Selamat datang calon menantu, keluarga Gafin dan Pattinson!"


Zinnia merangkul Cinta dan membawanya ke hadapan para keluarga yang tengah berkumpul.


Cinta menundukkan kepalanya memberikan hormat pada anggota keluarga Naru.


"Cantik kan calon menantuku?" tanya Zinnia pada semuanya.


"Cantik kenjeng doro Mommy!" mereka semua menyahut bersamaan sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Pipi Cinta sudah bersemu merah, sementara Naru tersenyum karena keluarganya sangat menerima kehadiran Cinta meskipun gadis itu hanya kekasih palsunya.


__ADS_2