Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 21


__ADS_3

Mobil sport milik Naru sudah berada di depan rumah Cinta.


Gadis itu turun dengan jas hitam kepunyaan Naru yang masih melekat menutupi punggungnya.


Cinta menutup pintu mobil Naru dengan kepala yang mengintip ke arah si pengemudi. "Terima kasih untuk tumpangannya ya, Chef!" Cinta tersenyum dan membenarkan jas Naru yang bergeser hampir merosot ke bawah.


Cinta baru teringat jika ia masih menggunakan jas milik Naru.


Cinta hendak membuka jas itu namun, suara bariton Naru menghentikan gerakan tangan Cinta.


"Tak perlu kau kembalikan hari ini juga padaku! kau bisa mengembalikan setelah jas itu sudah bersih," tutur Naru.


Cinta menatap Naru kesal dengan badan yang masih sedikit membungkuk. "Baiklah! aku akan mencuci bersih jas mahalmu ini," kesal Cinta.


Naru hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Cinta.


"Aku tak akan menawarkan kau masuk ke dalam karena tak baik jika seorang pria bertamu ke rumah seorang perempuan yang tinggal sendirian tanpa ikatan apapun, jadi kau boleh langsung pulang," jelas Cinta yang secara tak langsung mengusir Naru dengan cara halus.


"Aku juga tak mau singgah karena pacarmu pasti akan mengamuk," balas Naru menghidupkan mobilnya namun, sebelum roda empat mobil itu berputar, si pengemudi masih melihat ke arah Cinta yang masih setia dengan posisi tubuh sedikit membungkuk. "Aku pulang dulu," pamit Naru sembari mengedipkan sebelah matanya pada Cinta diiringi senyum tampannya.


Mata Cinta melebar sempurna mendapatkan perlakuan itu dari Naru.


Naru tertawa kecil karena ia berhasil membuat Cinta terkejut atas perlakuannya. "Bagaimana? sudah cukup romantis?" tanya Naru memastikan.


Cinta tersenyum manis dengan kepala yang sebagian masuk ke dalam mobil Naru. "Itu hanya gombalan receh, Chef! hanya mengalami peningkatan 5 persen saja!" Cinta balik meledek Naru dengan senyuman remehnya.


"Apa kau ingin aku melakukan peningkatan yang cukup drastis?" tanya Naru ingin memancing reaksi Cinta.


"Kau tak akan bi ...."


Naru mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cinta sampai ujung hidung mereka bersentuhan karena Naru tak sengaja terlalu bersemangat menggoda Asistennya itu.


Beruntungnya seat belt Naru tak ia pasang. Hal itu memudahkan Naru untuk memuluskan aksinya untuk menjahili Cinta.


Raut wajah Cinta terkejut namun, ia menormalkan kembali dan dengan sekuat tenaga mengadu dahinya dengan dahi Naru sekeras mungkin.


Duk


"Awwwww!"


Naru memundurkan tubuhnya kembali duduk tegak di kursi kemudi dengan dahi yang ia usap karena serudukan dahi Cinta padanya.

__ADS_1


Naru melirik kesal ke arah Cinta dengan tangan yang masih setia mengusap dahinya yang terasa sakit. "Kau ini seperti banteng! suka sekali menyeruduk," umpat Naru sekenanya.


Cinta hanya tersenyum bahagia karena ia dapat membalas perbuatan mesum Naru. "Itu baru romantis, Chef! kau bisa praktekkan hal itu pada, Kinan!" Cinta tertawa kecil.


"Kinan bukannya suka padaku, tapi dia akan membenciku," sergah Naru dengan nada suara bagai kaset kusut yang membuat telinga Cinta ingin dikorek.


"Terserah kau saja! yang jelas aku akan masuk ke dalam karena aku sudah lelah! bye bye, Chef Kaku!" Cinta memberikan hormat pada Naru dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Naru masih terus menatap bepergian Cinta dengan tangan yang masih setia mengusap dahinya.


Saat pintu rumah Cinta akan tertutup rapat, gadis itu masih menyempatkan memberikan senyuman perpisahan pada Naru.


Saat pintu sudah tertutup rapat, Naru baru tersenyum manis. "Dasar Gadis banteng yang suka menyeruduk!" Naru memasang seat belt-nya hendak melajukan mobilnya namun, matanya tak sengaja melihat ke arah kursi dimana kursi itu tempat Cinta duduk tadi.


Ada sebuah bunga kecil berwarna putih jatuh dan Naru yakin jika itu adalah bunga milik Cinta yang terselip pada bagian rambutnya.


Tangan kekar Naru meraih bunga putih itu. "Ceroboh sekali," gumam Naru dengan tangan yang mulai memutar kemudi mobilnya menuju arah pulang.


Cinta sudah berada di dalam kamarnya hendak membuka jas milik Naru namun, niatnya ia unrungkan karena wangi maskulin seorang pria menyeruak masuk dalam indera penciumannya.


Cinta mengendus jas milik Naru dan napasnya seakan terasa plong tanpa ada yang mengganjal. "Wangi!"


Cinta memejamkan matanya menikmati aroma tubuh Naru yang masih menempel pada jas hitamnya.


"Apa yang aku lakukan? ini pasti hanya halusinasi! kebanyakan menonton drama romantis sih! jadi begini kan! overdosis dengan kelumeran yang dibuat oleh para lelaki perfect seperti mereka Abang-Abang yang ada di dalam drama," cicit Cinta menggelengkan kepala menghilangkan perasaan tak benar itu.


"Sebaiknya mandi dulu, baru tidur! pasti bayang-bayang dan wangi ala-ala Abang drama romantis itu akan musnah!"


Keesokan harinya tepat jam setengah enam pagi, Cinta masih menyempatkan mampir ke rumah orangtua angkatnya untuk berpamitan pergi bekerja.


Cinta berjalan masuk ke dalam rumah yang memang sudah dapat dikatakan mewah karena Dio merombak rumah itu sampai bentuknya bisa terlihat seperti rumah yang ada dalam tayangan televisi.


"Ibu!"


Cinta berjalan ke arah dapur rumah orangtua angkatnya dan di dapur itu ia melihat sang ibu sibuk membuat sarapan.


"Mau aku bantu?" tanya Cinta membuat Ningsih menoleh ke arah sumber suara. "Tidak perlu, Nak! ini sudah hampir selesai."


"Aku mau dibuatkan nasi goreng oleh, Adikku tersayang," celetuk seorang pria dari arah anak tangga.


Cinta menoleh ke arah sumber suara dan sang kakak sudah tampil sangat tampan dengan setelan kemeja abu-abu dan celana hitam.

__ADS_1


Dio berjalan ke arah Cinta dan gadis itu tersenyum melihat sang kakak sudah tampil sangat rapi pagi ini. "Wah, Kakak ini ingin bekerja atau mencari jodoh?" Cinta mulai menggoda sang kakak.


"Untuk apa mencari jodoh, jika jodoh kita sudah berada di depan mata," sahut Dio sekenanya namun, penuh makna tersembunyi.


Cinta menyatukan alisnya. "Jangan bilang Kakak berpacaran dengan anak tetangga sebelah," tebak Cinta yang masih gagal paham akan maksud Dio.


"Sudah jangan bahas itu! kau buatkan kakak nasi goreng spesial telur ceplok saja," pinta Dio dan Cinta segera melakukan tugas yang kakaknya minta.


Dio tersenyum sembari menyandarkan tubuhnya pada meja bar menikmati pemandangan dimana sang adik sibuk menyiapkan sarapan untuknya.


*"Seperti rumah tangga yang bahagia! istri melayani suaminya saat akan berangkat bekerja."


Cinta sudah selesai dengan sepiring nasi goreng spesial untuk sang kakak.


"Nasi goreng spesial ala Chef Cinta sudah siap!" Cinta membawa sepiring nasi goreng itu ke arah meja makan.


Dio dengan senyum manisnya berjalan mengikuti Cinta menuju arah meja makan.


"Kakak makan dulu sarapannya karena kakak tak boleh telat bekerja," tutur Cinta mempersilahkan agar Dio sarapan tak perlu menunggu yang lain.


Dio duduk di kursi meja makan tersebut dan hendak memakan nasi goreng buatan Cinta namun, niatnya terhenti. "Kau sudah sarapan?" tanya Dio pada Cinta yang masih berdiri di samping kakaknya.


"Sudah dong, Kak!"


"Yakin?" tanya Dio lagi.


"Yakin!"


Dio tersenyum menyendok nasi goreng spesial itu dan memberikannya pada Cinta. "Suapan pertama untukmu," tutur Dio dengan sendok berisi nasi goreng untuk Cinta.


"Tapi ini sarapan untukmu, Kak!"


"Satu suapan saja!" Wajah Dio memohon pada Cinta.


Cinta pasrah menerima suapan pertama dari Dio karena ia pikir itu keperdulian seorang kakak terhadap adik perempuannya.


"Aku berangkat dulu ya, Kak!"


Cinta berlari ke arah sang ibu untuk berpamitan dan mencium punggung tangan ibunya, kemudian ia berlari ke arah Dio kembali. "Cium tangan dulu kakak tertua," Cinta bergurau ria dengan sang kakak.


Dio memberikan tangannya dan Cinta mencium punggung tangan Dio.

__ADS_1


"Sampaikan pada Ayah salamku ya, Bu!"


Cinta berjalan cukup cepat ke arah pintu keluar untuk berangkat bekerja menuju arah restoran milik Naru.


__ADS_2