Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 67


__ADS_3

Karena masih ada waktu 1 jam lagi sebelum mereka pulang, akhirnya keempat muda-mudi itu bersamaan menuju arah dermaga untuk melihat ke indahan laut karena dermaga tersebut cukup panjang dan pastinya cocok untuk dibuat mengambil gambar.


Cinta mengenakan dress cukup terbuka alias tanpa lengan dengan rambut yang ia urai. Dress Cinta berwarna hijau lumut dengan bunga berwarna kuning dan topi pantai berwarna putih tulang yang bertengger di kepala Cinta semakin menambah kecantikan gadis itu.


Dio mengenakan baju santai dan Naru juga mengenakan pakaian yang sama karena kedua pria itu bukan tipe manusia yang ribet harus mengenakan ini dan itu.


Sementara Kinan mengenakan dress dibawah lutut berwarna pink polos dengan topi pantai berwarna abu-abu.


Kali ini mereka kembali pada pasangan biasanya, Cinta bersama Dio, sedangkan Naru bersama Kinan.


Di tengah-tengah dermaga itu ada dua bagian sisi dermaga yang sedikit terdapat tempat bersantai, tempat itu terdapat dua buah kursi pada masing-masing sisi kanan kirinya.


Kebetulan sekali detik itu juga ada dua pasangan yang akan berkencan dan mereka berjalan ke arah sisi masing-masing.


Kinan dan Naru berada di sisi kiri, sementara Dio dan Cinta berada di sisi kanan.


Mereka berdua duduk saling berhadapan dengan pasangan masing-masing.


Cinta melihat ke arah laut yang berwarna biru, sementara Dio diam-diam melirik ke arah Kinan dan dokter cantik itu juga tengah melakukan hal yang sama.


Berbeda dengan Naru yang memandangi cincin pertunangan dirinya dan Cinta. "Kenapa aku sangat suka melihat cincin ini?"


Kinan dan Dio memperlihatkan jempol masing-masing, pertanda jika mereka berdua siap melancarkan rencana selanjutnya.


"Kak!"


Kinan memanggil Naru yang nampak tersenyum-senyum sendiri melihat ke arah jari manisnya yang melingkar sebuah cincin berwarna silver.


Perhatian Kinan akhirnya teralih pada jari manis Naru, "Cincin apa itu?" tanya Kinan.


Dio yang sudah siap melancarkan aksinya, akhirnya mengurungkan niatnya.


Pria itu melihat ke arah Naru dan tatapan mata Dio fokus pada cincin yang melingkar di jari manis Chef Yunani itu.


"Ini hanya cincin biasa," kilah Naru dengan raut wajah cukup tegang.


Kinan hanya manggut-manggut mengiyakan saja, meskipun ia tak yakin dengan penjelasan itu.


Saat Dio hendak menggenggam tangan Cinta, mata Dio melihat cahaya cincin berwarna senada dengan milik Naru, bedanya cincin itu memiliki berlian diatasnya.


"Cincin apa ini, Cinta?" tanya Dio membuat Cinta tersadar dari lamunannya saat gadis tersebut tengah asyik menatap ke arah laut.

__ADS_1


"Kenapa, Kak?" tanya Cinta yang masih belum fokus.


"Cincin apa itu? sebelumnya kau tak pernah memakai cincin seperti itu?" tanya Dio dengan rentetan pertanyaan yang membeludak.


"Oh, ini ... ini aku baru beli kemarin, Kak!"


Cinta nampak tersenyum kikuk karena ia sudah berbohong pada Dio,


Dari kejauhan, seorang pria tengah menutup mulutnya menyembunyikan senyum yang pastinya sudah terbit dari balik telapak tangannya. "Kenapa dia menggemaskan sekali saat berbohong seperti itu pada pacarnya."


Kinan masih fokus dengan cincin yang dikenakan oleh Cinta. "Sepertinya ada yang tidak beres disini, Kak Naru bukan tipe orang yang mau memakai perhiasan, apalagi cincin itu hampir sama dengan milik Cinta, atau jangan-jangan ...."


"Kakak sudah bertunangan?" tanya Kinan frontal.


Naru seketika tersedak dengan ucapan Kinan yang memang benar adanya, ia sudah bertunangan namun, lebih tepatnya, ia bertunangan secara palsu dengan Cinta.


"Apa yang kau katakan, Kinan!" Naru mencoba menepis perkataan Kinan.


"Aku hanya bertanya saja, Kak! biasanya kan orang yang bertunangan atau menikah akan mengenakan cincin seperti itu," tunjuk Kinan pada jari manis Chef Yunani tersebut.


Cinta diam-diam menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Habislah semuanya!"


"Aku hanya ingin menggunakan cincin ini agar ... perempuan lain tak mendekati aku karena aku sudah memiliki pilihanku sendiri," kilah Naru mencoba meyakinkan Kinan.


Kinan menutup ponselnya, kemudian berdiri. "Aku harus kembali, Kak! karena ada pasien yang harus aku tangani," pamit Kinan.


Dokter muda itu hendak berjalan menuju arah villa namun, langkahnya terhenti menghadap ke arah Cinta dan Dio. "Aku pulang dulu," pamit Kinan pada keduanya namun, sebelum itu, Kinan mengacungkan jempolnya pada Dio seperti akan isyarat darinya.


Setelah beberapa menit kemudian, dering ponsel Dio berbunyi. "Halo! ... baik, Pak! saya akan segera kembali."


Dio memasukkan kembali ponselnya pada saku celananya. "Kakak akan kembali lebih dulu karena ada rapat dadakan di kantor, jadi kau kembali dengan bosmu saja, ya!"


Dio mengusap lembut puncak kepala Cinta dan tatapan Naru terfokus tajam ke arah mereka berdua. "Aku ingin sekali melempar tangan itu ke laut."


Dio melihat ke arah Naru sebelum ia benar-benar pergi. "Aku titip adikku padamu, antar dia sampai ke rumah dengan selamat dan jangan macam-macam dengannya," ujar Dio sekaligus ancaman bagi Naru.


Naru tersenyum tipis. "Kau tenang saja! keamanannya paling utama bagiku," sergah Naru dan Dio segera pergi dari tempat itu.


Di tempat parkir, ternyata Kinan masih belum pulang karena selisih kepergiannya dan Dio dari dermaga hanya 10 menit.


Dio yang sudah siap dengan barang bawaannya berjalan ke arah mobilnya, dimana Kinan tengah menunggu dirinya.

__ADS_1


"Apa rencana kita berjalan mulus?" tanya Kinan pada Dio.


"Tentu saja! sepertinya mereka akan semakin dekat setelah ini," sahut Dio.


"Baguslah, tapi ... aku masih merasa aneh dengan cincin mereka berdua," gumam Kinan sembari menatap Dio simpul.


"Aku akan mencari tahu tentang ini karena aku juga tahu jika Cinta tengah berbohong padaku," ujar Dio pada kinan.


"Baiklah! jika ada informasi, kabari aku," pinta Kinan dan gadis itu masuk ke dalam mobilnya tepat di kursi kemudi.


Sebelum mobil putih milik Kinan melesat, gadis itu menurunkan kaca mobilnya. "Tampaknya alarm itu akan menyadarkan perasaan mereka berdua hari ini," cicit Kinan tersenyum manis pada Dio dan mobil dokter muda itu mulai bergerak meninggalkan parkiran villa tersebut.


Dio dan Kinan sudah sepakat sebelum mereka berangkat ke dermaga, mereka menyalakan alarm ponsel masing-masing selisih 10 menit dan keduanya berpura-pura tengah di hubungi oleh atasan mereka karena pekerjaan penting yang mengharuskan mereka pulang lebih dulu.


Dio hanya bisa geleng-geleng kepala melihat senyum manis kinan. "Dasar perempuan penyebab bencana," gumam Dio masuk ke dalam mobilnya.


Bencana yang Dio maksud adalah gempa dalam dirinya yang entah mengapa sepertinya sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan pada Cinta.


Di dermaga, Cinta dan Naru masih duduk berjauhan. Mereka berdua nampak seperti pasangan yang malu-malu kucing.


Naru melihat ke arah Cinta dan gadis itu juga melihat ke arah bosnya.


Karena tertangkap basah, akhirnya Cinta kembali membuang muka. "Apa yang kau lakukan, Cinta! jangan terlalu frontal seperti itu, secara tak langsung kau memberitahu pria itu jika kau menyukainya."


Naru masih memandang Cinta. "Hei!"


Tak ada respon dari Cinta, gadis itu masih tak ingin melihat ke arah Naru. "Jangan melihat ke arahnya! dia mungkin hanya ingin menggodamu."


"Hei!"


Lagi-lagi Naru memanggil Cinta dan gadis itu masih belum mau melihat ke arahnya.


Karena merasa kesal panggilannya tak direspon, Naru akhirnya berteriak, "Gadis Bebek!"


Cinta yang juga sudah tak sanggup lebih lama menahan diri, akhirnya gadis itu melihat ke arah Naru. "Apa, sih! aku itu punya nama, bukan hei atau gadis bebek," kesal Cinta pada Naru.


Naru mulai berdiri dan berjalan ke arah Cinta yang masih setia duduk di kursinya.


Tatapan mata Cinta terfokus pada Naru yang berjalan ke arahnya dan tiba-tiba pria itu berlutut di hadapannya sembari menggenggam erat tangan Cinta. "Mari kita berkencan!"


NOTE: hari ini jika tembus 500 like, maka hari ini juga author akan update kencan Cinta dan Naru di dermaga yang pastinya uwuwwwwww😍😍😍 batas tembus like sampai jam 18.00 WIB 😉

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘


__ADS_2