
Keesokan harinya Cinta sudah berada di Resto milik Naru. Ia keluar dari ruangan ganti karena gadis itu telah berganti seragam resto tersebut.
Saat Cinta sudah berada di dapur, ia segera berbaur dengan pegawai lainnya yang juga sebagian sudah bersiap untuk memulai hari sibuk mereka pagi ini.
Saat seorang Asisten Chef lainnya tak sengaja melihat ke arah Cinta, gadis itu tersenyum ke arah Asisten itu. Asisten Chef tersebut membalas senyuman Cinta namun, diiringi dengan badan yang sedikit membungkuk.
Cinta merasa kebingungan karena tiba-tiba saja pegawai itu bersikap begitu formal padanya.
"Kenapa dia bersikap seperti itu? apa jangan-jangan di belakangku ada, Naru?"
Cinta itu mencoba berbalik badan untuk memastikan jika dibelakangnya itu ada pemilik Resto ini atau tidak.
Saat tubuh Cinta sudah sepenuhnya berbalik, tak ada nampak batang hidung si pria berlensa mata kebiruan yang Cinta perkirakan.
"Tak ada orang sama sekali! jadi dia bersikap seformal itu pada siapa? ... jangan bilang dia bersikap seperti itu padaku."
Cinta kembali menatap ke arah Asisten Chef yang tadi membungkukkan badannya padanya.
Monica menepuk pundak Cinta secara tiba-tiba dan kelakuan Monica itu membuat Cinta terkejut.
"Selamat pagi, Nona Cinta!" Monica juga membungkukkan sedikit tubuhnya pada Cinta namun, bedanya Monica masih bisa memasang cengiran kuda padanya.
"Apa yang kau lakukan, Mon? kenapa kau harus membungkuk seperti itu?" tanya Cinta yang sudah tak tahan dengan kelakuan dua orang di restoran Naru.
"Kau calon istri dari pemilik restoran ini dan kau juga sudah termasuk Bos kami," jelas Monica berdiri tegap seperti tengah berbicara dengan atasannya.
Cinta menggelengkan kepalanya sembari kedua tangan gadis itu melambai menandakan jika ia bukan bos di restoran tersebut. "Tidak-tidak! aku ini sama denganmu dan para karyawan lainnya karena aku juga bekerja disini, jadi perlakuan aku sama seperti pegawai lainnya," sangkal Cinta yang tak ingin dihormati berlebihan seperti itu.
Monica masih terdiam tak menanggapi ucapan Cinta karena arah matanya terfokus pada cincin yang melingkar pada tangan kiri Cinta dan berada tepat di jari manis sahabatnya.
"Jadi cincin di tangan kirimu itu simbol apa?" tanya Monica memancing kejujuran sahabatnya.
Tubuh Cinta mematung dengan tangan yang juga ikut berhenti melambai karena ada bukti yang cukup kuat mengarah padanya.
Cinta masih diam memperhatikan cincin pertunangannya dan Naru semalam. Bukan hanya Cinta yang terfokus dengan cincin berwarna silver itu, melainkan semua orang yang berada di dapur itu juga menghentikan aktivitas mereka beralih pada jari manis Cinta yang sudah tersemat sebuah cincin bertahtakan berlian.
__ADS_1
"****** aku! kenapa aku seceroboh ini, sih! pasti mereka berpikir yang tidak-tidak."
Cintai segera menyembunyikan tangan kanannya tepat di belakang tubuhnya karena ia tak ingin semua orang semakin beranggapan jika dia dan Naru adalah pasangan. "Ini hanya cincin biasa saja! kemarin aku dibelikan oleh ...."
"Ada apa ini?" tanya Naru tepat berada di belakang Cinta.
Naru tak sendiri, ia juga datang bersama Zayn dan Rocky yang kebetulan mereka dari ruangan Naru membahas restoran cabang yang berada di beberapa daerah.
Cinta membalikkan badannya menghadap ke arah Naru dengan raut wajah tegang dan tangan gadis itu juga masih tetap berada di belakang tubuhnya.
Ketiga pria tampan yang berada di hadapan Cinta menatap gadis pemilik toko kue tradisional itu dengan tatapan penuh selidik.
"Ada apa, Cinta?" tanya Zayn dengan nada lembut selembut sutra yang membelai telinga si pendengarnya.
"Jika aku mengatakannya, pasti si Chef Kaku ini akan berkoar-koar lebih menjelaskan lagi, jika kami sudah bertunangan semalam."
Naru melihat ke arah Monica dengan tatapan tajam. "Jelaskan pada kami, Monica!" suara Naru bagai petir menyambar di pagi yang cerah.
Monica tersentak dengan ucapan Naru dan secara perlahan Chef bagian dessert itu mengangkat kepalanya sembari berkata, "Kami para karyawan menanyakan cincin yang berada pada jari manis, Asisten Cinta!"
Arah tatapan Naru dan dua temannya tertuju pada tangan Cinta yang masih setia berada di belakang tubuhnya.
Wajah Cinta sudah memucat. Ia tak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Seharusnya aku membuka cincin ini saat bekerja! ah, dasar bodoh kau, Cinta!"
Respon yang Naru berikan berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh para pegawainya.
Pria itu tersenyum sembari melangkah mendekati Cinta yang terlihat gelisah. Naru menarik tangan Cinta yang disembunyikan oleh gadis itu.
Naru menyentuh tangan Cinta melihat cincin pertunangan mereka semalam masih melingkar di jari manis Asistennya. "Anak baik!" Naru tersenyum menatap ke arah Cinta. "Cincin ini sangat pas di jarimu," puji Naru masih menyentuh tangan tunangan palsunya.
Naru mengusap puncak kepala Cinta lembut dengan tangan kirinya yang sontak secara tak langsung memperlihatkan cincin pertunangan Naru pada para pegawainya.
Para pegawai wanita langsung membungkam mulut mereka karena jari manis pada tangan kiri Naru juga melingkar sebuah cincin polos berwarna silver, modelnya sama seperti cincin milik Cinta.
__ADS_1
Monica hanya diam tanpa ingin berkomentar lagi karena bukti cincin pada jari manis Naru saja sudah cukup untuknya.
Rocky dan Zayn yang penasaran segera mendekati Naru dan Cinta.
Kedua sahabat Naru melihat cincin pada jari Cinta dan Naru yang memang dari segi model sudah terlihat sama, bedanya hanya milik Naru tak ada berliannya, sementara milik Cinta bertahtakan berlian.
"Kalian serius sudah bertunangan?" tanya Rocky yang membangkitan mode keponya.
"Seperti yang kau lihat," sahut Naru meyakinkan.
Sementara Zayn hanya diam memperhatikan jari manis Cinta yang sudah melingkar sebuah cincin pengikat hubungan gadis itu dan sahabatnya.
Naru melihat ke arah para karyawannya yang terlihat terkejut dengan berita pertunangan dirinya dan Cinta.
"Sekali lagi aku katakan pada kalian semua! jangan sampai berita ini bocor pada siapapun karena aku tak ingin wajah calon istriku terpampang di media," tutur Naru dengan suara lantangnya.
"Baik, Chef!" semua pegawai Resto itu menjawab dengan serentak.
Cinta masih melihat ke arah Naru yang masih terfokus dengan para karyawannya.
"Apa dia bilang? calon istriku? ... kenapa tiba-tiba jantung ini ingin sekali terbang melayang." Cinta menyentuh dadanya yang mulai berdetak kencang.
Naru melihat ke arah tunangan palsunya. "Sebaiknya kau tak perlu bekerja lagi karena ...."
"Aku masih ingin bekerja disini," sambung Cinta.
Naru hanya tersenyum menanggapi ucapan Cinta. "Terserah kau saja! aku kembali ke ruanganku ya!" Naru kembali mengacak-acak rambut tunangan palsunya sebelum pria itu berjalan kembali ke ruangannya.
Rocky dibuat melongo oleh kelakuan sahabatnya itu karena ia baru kali ini melihat Naru bersikap semanis ini pada perempuan.
"Pasti dia sedang kerasukan jin yang pintar merayu!"
"Oke! semuanya bisa kembali bekerja," titah Zayn pada yang lainnya.
Cinta hendak melihat apa saja bahan yang harus ia persiapkan namun, tangannya ditarik oleh Zayn ke suatu tempat.
__ADS_1
Rocky, Monica, dan para pegawai lainnya melihat ke arah Cinta dan Zayn yang keluar dari dapur entah kemana.