
Cinta yang tengah memeluk surat lamarannya meletakkan surat tersebut di sebuah kitchen trolly.
Dengan cekatan Cinta berjalan cepat membuka freezer yang ditunjukkan oleh Naru.
Cinta mengambil sebuah nampan dan meletakkan semua yang diminta oleh Naru di atasnya.
Cinta kini sudah berada di hadapan Naru dengan sebuah nampan berukuran sedang di tangannya. "Ada lagi?" tanya Cinta menawarkan.
"Kau letakkan nampan itu di atas kitchen trolly dan ambil pisangnya saja!"
Cinta melakukan semua permintaan Naru tanpa protes bagai kerbau di cocok hidungnya.
*"Jika saja bukan karena uang 50 juta itu, aku tak akan mau berurusan dengan pria batang pohon yang kakunya minta ampun seperti dirimu!"
Kini Cinta sudah kembali membawa pisang ke hadapan Naru. "Apa lagi yang harus saya lakukan, Chef?" tanya Cinta sembari menunjukkan pisang yang berada di tangannya.
"Makan pisang itu!"
Raut wajah Cinta kebingungan. "Saya harus memakan pisang ini?" tanya Cinta memastikan lagi.
"Ya! makan sekarang juga!"
Naru masih senang hati dengan raut wajah datarnya.
Cinta dengan terpaksa mulai mengupas kulit pisang itu sebagian. Saat Cinta hendak memakannya, suara Naru lagi-lagi menghentikannya. "Kupas semua kulitnya dan buang tepat di bawahmu," pinta Naru enteng.
"Nanti lantainya kotor, Chef!" Cinta berusaha menolak. "Lakukan atau kau tak akan diterima," ancam Naru menaikkan satu alisnya ke atas.
*"Sabar, Cinta! anggap saja kau sedang menghadapi anak remaja yang masih labil menjelang dewasa, tapi sudah mulai berkumis tipis!"
Cinta mulai memakan pisang itu satu gigitan pertama dan ....
"Kau aku tolak bekerja di resto ini!" Suara Naru bagai petir menyambar telinga Cinta.
Gadis itu dibuat melongo dengan ucapan tiba-tiba yang keluar dari mulut Naru. Dengan capat Cinta mengunyah pisang di dalam mulutnya dan menelannya dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Saya ditolak?" tanya Cinta tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya, karena kau telah berani mengotori lantai dapurku, Nona tanpa nama ... oh, maaf! Nona Cinta maksudnya." Senyum penuh ledekan terbit dari bibir Naru yang sedari tadi datarnya minta ampun.
Cinta tersenyum kecut menahan amarahnya.
*"Dia yang memintaku membuang kulit pisang di lantai dapurnya, tapi aku juga yang harus kena batunya."
Cinta melangkah satu langkah ke depan hendak menjelaskan kebenarannya agar ingatan calon Bosnya untuk satu bulan ke depan itu tak korslet namun, Cinta lupa jika ia membuang kulit itu tepat di bawah kakinya dan ....
Tubuh Cinta tiba-tiba terhuyung ke belakang akan jatuh ke lantai karena terpeleset menginjak kulit pisang tersebut.
Naru terkejut dan dengan sigap menangkap tubuh Cinta masuk ke dalam pelukannya.
Cinta memejamkan matanya karena ia merasa syok dengan kejadian itu, sementara Naru memandang wajah Cinta yang masih setia terpejam dengan raut wajah penuh ketakutan.
Naru dapat melihat dengan jelas setiap inci wajah gadis yang ingin ia kerjai karena Cinta telah berani menyamakan dirinya dengan seorang penjaga resto.
Tatapan mata Naru berakhir pada bibir indah Cinta. Pria itu terus menatap ke arah benda kenyal tersebut sampai suara seorang wanita paruh baya membuyarkan semua lamunannya.
"Naru!"
"Mommy!"
Naru segera menegakkan tubuhnya masih terus memeluk Cinta karena jika ia melepaskan Cinta begitu saja takut terjadi sesuatu pada calon Asistennya itu.
Mata Cinta yang awalnya tertutup, kini terbuka begitu saja dan pemandangan indah yang jarang ia lihat adalah wajah seorang pria tampan dengan iris mata kebiruan, tapi lebih tepatnya abu-abu karena Cinta dapat melihat secara jelas dari dekat. Bibir yang sedikit tebal dan kumis tipis hampir tak terlihat jika dari jarak jauh.
Mata Cinta masih menatap setiap sudut wajah Chef kaku tersebut.
"Sedang apa kalian berdua?" tanya Zinnia berdiri dengan tangan sudah dilipat menunggu jawaban dari putranya.
Cinta yang sadar jika ada orang lain selain dirinya dan Naru, segera menjauh melepaskan pelukan Naru pada tubuhnya.
Cinta menatap ke arah Zinnia dan menundukkan kepalanya dengan badan yang sedikit membungkuk memberikan hormat.
__ADS_1
Naru terkesiap karena Cinta sudah tak ada dalam pelukannya. "He'em! Mommy sedang apa disini?" tanya Naru menormalkan raut wajahnya yang terkejut atas kedatangan sang ibu.
Zinnia menatap Naru dan Cinta bergantian. "Mommy bertanya padamu dan kau masih belum menjawab pertanyaan Mommy, Sayang!"
Cinta menatap ke arah ibu dari Naru.
*"Jadi ini benar-benar ibunya? aku kira hanya pura-pura! wajahnya masih cantik padahal anaknya sudah sebesar, Kingkong! pantas saja si Kingkong ini wajahnya tampan! bibitnya saja super begini! eh, kenapa aku jadi memuji si Kingkong ini?"
Naru mengehela napas panjang. "Kami tak melakukan apapun, Mom! aku hanya ingin melihat kemampuan dia memasak! dan sekarang giliran Mommy yang harus menjawab pertanyaanku," serang balik Naru pada ibunya agar Zinnia tak menanyakan hal yang lebih panjang lagi mengenai kejadian tadi.
"Nanti malam kita akan makan malam dengan keluarga, Santo! mereka akan membawa putri pertamanya juga," jelas Zinnia.
Naru memutar bola matanya malas karena sang ibu sudah sering sekali melakukan hal seperti itu agar dirinya cepat menikah.
"Aku tak mau, Mom!" Naru menolaknya mentah-mentah.
"Kenapa? kau selalu saja seperti ini jika Mommy dan Daddy mengajakmu makan malam bersama rekan kerja ayahmu, apalagi mereka membawa putrinya," cecar Zinnia yang sudah muak dengan sikap penolakan anaknya itu.
"Aku tak ingin menikah, Mom!"
Zinnia tersenyum kecut menanggapi perkataan anaknya. "Jadi kau akan melajang selamanya? hah, ini sungguh alasan terkonyol yang pernah Mommy dengan, Naru!"
Zinnia mendekati Naru dua langkah maju ke depan. "Apa kau menyukai perempuan lain? jika memang begitu, Mommy tak akan memaksamu untuk melakukan perjodohan yang tak penting ini."
Naru melihat ke arah ibunya. Pria itu mulai berpikir.
*"Jika aku bilang iya, Mommy pasti akan bertanya siapa perempuan itu dan jika Mommy tahu hanya aku yang mencintainya, tapi dia tak mencintaiku, habislah aku! bisa-bisa aku langsung dinikahkan tanpa pikir panjang oleh, Mommy!"
Naru memikirkan sesuatu dan matanya tak sengaja melihat ke arah Cinta yang berada di sampingnya.
*"Perempuan ini pasti bisa membantuku! lagipula Mommy tadi sudah melihat kami cukup dekat bukan? karena sudah terlanjur basah, sekalian saja aku menyelam sambil minum air!"
Cinta sudah tak bisa lagi berlama-lama disana, ia harus pergi dan keluar dari dapur itu. Karena itu urusan keluarga, sementara Cinta hanya orang luar.
"Maaf! saya keluar dulu!" Cinta mulai berpamitan dan hendak melangkah ke keluar namun, pergelangan tangan Cinta ditahan oleh tangan kekar Naru.
__ADS_1
Sontak langkah Cinta terhenti sembari menatap ke arah Naru yang menahan pergelangan tangannya.
"Dia perempuan yang selama ini aku cintai dan dialah alasan kenapa aku menolak setiap ajakan makan malam yang Mommy rancang," jelas Naru membuat mata Cinta melebar sempurna.