Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 48


__ADS_3

Sepasang tangan kokoh menyangga tubuh Kinan yang hampir terhuyung kebelakang menyentuh tanah.


Tatapan mata kedua insan beda jenis itu saling bertemu satu sama lain. Kedua tangan Kinan melingkar pada leher pria tampan yang saat ini tengah menyangga tubuhnya.


Seolah ada interaksi sebelumnya, tatapan mata mereka masih tetap menyatu.


"Siapa pria ini? mengapa seperti tak asing bagiku saat menatap matanya?"


Kinan masih terus menatap kedua mata pria itu yang tak lain adalah Dio, Kakak angkat dari Cinta.


"Aku seperti pernah melihat mata ini? tapi dimana?"


Dio mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan mata yang sama dengan milik Kinan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dio pada Kinan.


Dokter kandungan itu segera tersadar dari pikirannya sendiri, Kinan akhirnya menegakkan tubuhnya kembali. "Maaf! saya tidak melihat jika ada orang dibelakang," tutur Kinan sopan sembari menundukkan sedikit kepalanya.


"Iya, tidak apa-apa," sahut Dio masih menatap ke arah Kinan.


"Saya permisi," pamit Kinan berjalan masuk kawasan pulau cinta tersebut.


Dio masih melihat punggung Kinan yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya. "Aku yakin pernah bertemu dengan mata yang sama seperti milik perempuan tadi," gumam Dio.


Pria itu berjalan ke arah yang sama dimana telapak kaki Kinan berpijak sebelumnya.


Kinan berada di bawah pohon meletakkan semua barang bawaannya sembari melihat ke arah sekeliling mencari keberadaan Naru. "Kemana dia," gumam Kinan pada dirinya sendiri.


Tepat di pohon yang bersebelahan dengan pohon Kinan berteduh, Dio juga ikut beristirahat disana mencari keberadaan Cinta. "Dia seharusnya sudah sampai, kenapa aku tak melihatnya?" tanya Dio mengitari area itu dengan kedua bola matanya.


Saat keduanya tak sengaja saling bertukar pandangan, Kinan lebih dulu mengumbar senyum pada Dio dan pria itu juga balas mengumbar senyum manisnya pada Kinan.


Sedangkan diseberang tepatnya di pinggir pantai dengan sapuan ombak yang mengenai kaki keduanya, Cinta dan Naru masih saling tatap. "Apa matamu tak sakit menatapku seperti itu?" tanya Cinta pada Naru.


Naru tersenyum pada Cinta. "Mana mungkin mataku sakit menatap perempuan yang aku cintai," sahut Naru membuat jantung Cinta lari maraton.


Kening Cinta mengkerut sempurna. "Kau sehat kan? kau tak sakit kan?" tanya Cinta pada Naru.


"Hahahaha!"


Gelak tawa Naru akhirnya pecah yang sebagian tawa itu tersapu oleh angin laut. "Kau jangan besar kepala lebih dulu, Nona! ucapanku tadi itu akan aku tujukan pada Kinan suatu saat nanti," sergah Naru membuat kuncup bunga yang awalnya mulai mekar, kini harus layu tanpa sempat berkembang menjadi bunga sesungguhnya.


"Seharusnya kau jangan besar kepala seperti ini, Cinta! ingat posisimu! jangan sampai kau terlena oleh kebaikannya."


"Aku juga tahu jika kata-kata semanis itu bukan untukku? jadi aku tak akan terjebak dalam rayuanmu," sangkal Cinta sembari menjulurkan sedikit lidahnya pada Naru.


"Cinta!"

__ADS_1


Suara teriakan terdengar sangat familiar di telinga Cinta. Gadis itu segera menoleh ke arah sumber suara, diikuti oleh Naru.


Dio berjalan ke arah Cinta dengan senyuman manisnya.


Cinta juga membalas senyuman Dio dan berjalan mendekat ke arah sang kakak.


Naru mengekori Cinta sembari melihat ke arah Dio dan sesuatu dalam hatinya mulai bergejolak namun, ia tak tahu rasa apa itu.


"Kenapa aku tak suka melihat pacar Gadis Bebek ini ya?"


Cinta berlari ke arah sang kakak dan memeluk Dio erat. "Aku rindu padamu, Kak!"


Dio tersenyum dan membalas pelukan erat Cinta namun, pelukan Dio bukan pelukan sebagai seorang Kakak, melainkan sebagai seorang pria pada wanitanya.


Jantung Naru kembali bertalu-talu melihat itu semua.


"Sadar, Naru! dia itu memang pacarnya dan kau tak perlu waspada terhadapnya."


Naru mungkin berpikir jika ia merasa waspada terhadap Dio namun, sebenarnya perasaan itu adalah perasaan ketidaksukaan Naru pada Dio yang memeluk Cinta begitu erat.


Saat kedua adik kakak itu saling melepaskan rindu, dari belakang Dio, muncul sosok wanita cantik dengan riasan yang tak perlu diragukan lagi.


Hati Naru yang awalnya dipenuhi kepulan asap hitam, kini sirna dengan sendirinya saat melihat sosok perempuan yang ia yakini adalah wanita masa depannya.


"Kinan!"


Mendengar teriakkan Naru, Cinta melepaskan pelukannya pada Dio dan mengintip melalui bahu Dio yang kokoh.


Cinta tersenyum kecut saat hatinya mulai menjabarkan satu persatu kelebihan yang dimiliki Kinan.


Sebenarnya bukan kelebihan namun, kesempurnaan pada diri perempuan cantik itu.


"Kapan kau sampai?" tanya Naru pada Kinan dengan penuh semangat.


"Aku baru datang, Kak!"


"Barang-barangmu dimana?" tanya Naru lagi.


"Itu ada di bawah pohon," sahut Kinan sembari menunjuk arah pohon yang tadi sempat ia singgahi.


"Ayo kita ke villa! aku akan membawa barang-barangmu," pinta Naru hendak menggandeng tangan Kinan namun, tangan perempuan itu menghindar.


Cinta masih melihat kemesraan Naru dan Kinan.


"Pasangan yang cocok!"


Sebelum Naru dan Kinan benar-benar sampai ke bawah pohon itu, Naru menghentikan langkahnya menoleh ke arah Cinta yang masih melihatnya namun, prasangka Naru mengira jika Cinta dan Dio masih berpelukan, padahal sudah tidak.

__ADS_1


"Cinta! ayo ikuti aku! kita akan ke villa," teriak Naru langsung memutar badannya sembari mengumpat dalam hati, "Berpelukan saja sampai selama itu! apa tidak pengap itu badan."


"Ayo, Kak!"


Cinta berjalan lebih dulu, kemudian di susul oleh Dio di belakangnya.


Keempat anak manusia itu berjalan ke arah villa, dimana villa itu sudah terdapat 4 buah kamar untuk 4 orang.


Mereka berempat sudah berada di depan villa tersebut dengan tangan Naru yang sudah menarik koper milik Kinan.


Cinta melihat itu semua. Gadis itu hanya bisa menatap ke arah Naru dan Kinan yang berdiri berdampingan.


"Pasangan yang cocok dan pastinya memang sudah ditakdirkan bersama."


"Kamar Kinan dan Cinta bersebelahan, sementara kamar Dio dan aku ada di sebelah sana," tunjuk Naru pada semuanya.


Cinta melihat ke arah dua kamar yang bersebelahan, seketika senyum kecut Cinta terukir.


Kamar dengan tulisan welcome berwarna pink terlihat sangat indah dan Cinta yakin jika itu kamar yang disediakan Naru untuk Kinan.


Cinta melihat ranselnya berada di atas sofa ruang santai dan ia segera mendekati sofa itu dan mengambil ranselnya.


Tanpa banyak bicara Cinta langsung berjalan ke arah kamar tepat disebelah kamar yang pasti sudah di dekor seindah mungkin oleh Naru.


"Kau sudah mau istirahat?" tanya Dio pada Cinta dengan suara cukup keras.


Cinta menoleh ke arah Dio dengan senyum manisnya. "Iya, Kak! aku lelah sekali," sahut Cinta sekenanya.


"Istirahatlah, Sayang!"


Ucapan Dio berhasil membuat Naru melihat ke arah Cinta yang perlahan berjalan ke arah pintu tepat di sebelah kamar Kinan.


"Sayang? hah, lebay sekali!"


Naru mengumpat dalam hati sembari melangkahkan kakinya secepat mungkin ke arah pintu kamar Kinan agar ia dapat melihat raut wajah Cinta yang pastinya kesenangan karena dipanggil sayang oleh kekasihnya.


Saat keduanya secara bersamaan berada di depan pintu kamar, Cinta dan Naru saling tatap.


Karena gengsi lebih besar membuat keduanya secara bersamaan pula membuang muka sembari membuka handel pintu kamar yang berada di hadapan mereka.


Kinan dan Dio bingung melihat keduanya karena mereka adalah orang baru yang tak tahu apa-apa.


Note:


Terima kasih karena kakak readers semua masih berkenan menunggu update dari cerita Naru dan Cinta.


Author cukup lama tidak update karena di dunia nyata, Author juga ada kesibukan jadi mohon dimaklumi.

__ADS_1


Jika ada berita Author di blokir oleh pihak aplikasi itu tidak benar, itu HOAX.


jangan percaya dengan yang namanya HOAX ya kakak readers๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2