
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Cinta dan yang lain sudah berada di pantai, tepatnya di depan tenda masing-masing untuk bersiap menyalakan api unggun.
Cinta mengenakan baju rajut berwarna mocca turtleneck dengan setelan celana jens berwarna dark blue.
Gadis itu juga mengenakan kupluk rajut berwarna putih tulang dengan rambut yang di gerai, menambah kecantikan seorang Cinta Prameswari.
Dio hanya mengenakan Hoodie berwarna cream dan warna baju yang keduanya kenakan hampir mirip seperti couple pasangan.
Kinan juga tak kalah cantik dan modis, karena ia juga mengenakan Hoodie berwarna grey dengan setelan celana jeans berwarna dark grey dan tak lupa kupluk berwarna senada dengan Hoodie yang ia kenakan.
Sementara Naru hanya mengenakan kaos atasan model lengan tiga perempat dan kaos itu tak terlalu tebal.
Sedari tadi, sepasang mata kebiruan seorang pria tak henti-hentinya melihat ke arah Cinta yang tampil sangat beda malam ini, mungkin lebih tepatnya tampil cantik.
Pria itu adalah Naru. Seorang atasan yang tengah melirik diam-diam asistennya yang tengah bersama Dio yang bersiap menuju arah api unggun yang sudah tersusun sejak tadi sore.
Hati Naru seperti dicubit kala Dio membenarkan rambut Cinta yang sedikit berantakan. Ada rasa kesal disana namun, Naru berusaha mengalihkan perasaan itu dengan cara mengobrol dengan Kinan.
Bibir boleh berbicara dengan Kinan namun, hati dan pikiran Naru masih terpusat pada Cinta.
Perlahan tapi pasti, kedua pasangan itu berjalan ke arah api unggun.
Naru membawa korek api ditangannya dengan satu buah jerigen berisi cairan di dalamnya.
Cinta tak sengaja melihat ke arah jerigen yang berisi sesuatu disana. Entah cairan apa itu.
"Untuk apa dia membawa benda itu? jangan-jangan isinya ...."
Dio yang berada di samping Cinta saat berjalan tiba-tiba menghentikan langkah sang adik dengan menahan pergelangan tangannya. "Ada apa, Cinta? apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Dio sedikit cemas.
Cinta tersentak melihat ke arah Dio. "Tidak ada, Kak! aku hanya penasaran dengan isi jerigen itu," sahut Cinta melihat ke arah Naru yang sudah sampai lebih dulu ke arah api unggun.
Dio mengikuti arah tatapan sang adik dan tanpa mereka berdua sadari kaki keduanya sudah berada di pinggir lingkaran api unggun.
Naru perlahan mulai menghidupkan korek apinya dan api unggun itu perlahan mulai menyala.
Kinan sudah membawa keranjang yang berisi kentang dan jagung.
__ADS_1
"Apa aku tak ingin di bantu olehmu?" tanya Kinan pada Cinta dan gadis itu tersenyum kikuk seraya berjalan ke arah kakak dokternya.
Cinta lebih memilih duduk di sebelah kiri Kinan karena sebelah kanan dokter muda itu adalah Naru.
Cinta menggunakan sandal santainya sebagai alas untuk dia duduk membantu Kinan menusukkan kentang dan jagung pada tusukan yang sudah disiapkan.
Kinan berjongkok dengan tangan yang sibuk melakukan tugasnya dan tanpa aba-aba, Naru segera menarik bahu Kinan agar duduk di sandal santainya yang sudah menjadi alas duduk untuk sang pujaan hati. "Eh, kenapa ...."
Ucapan Kinan terhenti kala bokongnya mendarat pada sebuah alas dan saat kedua mata Dokter cantik itu melihat apa yang ada di bawah, ia melihat ke arah Naru. "Kenapa kakak melepas alas kaki, Kakak? apa Kakak mau sakit dengan bertelanjang kaki seperti itu?" tanya Kinan yang memarahi Naru dengan gaya halusnya.
Cinta masih diam tak merespon. Ia tak ingin mengurusi urusan bosnya atau bahkan melihat ke arah Naru.
"Anggap saja tak dengar," celoteh Cinta dalam hati.
Naru tersenyum ke arah Kinan. "Pria akan melakukan apapun untuk perempuan yang ia sukai, Kinan!"
Ucapan Naru berhasil membuat tubuh Cinta menghentikan pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan.
Naru melirik ke arah Cinta yang sepertinya pria itu tahu jika Cinta tengah mengalami sesuatu karena sedari tadi ia mengintip diam-diam pergerakan Cinta tak ada yang aneh namun, setelah dirinya coba memberikan perhatian pada Kinan, respon dari Cinta yang entah mengapa bisa membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Pasti dia merasa terusik dengan kemesraan yang sudah aku praktekkan pada, Kinan!"
Tangan kekar itu mencari sebuah kehangatan sembari ia gesekkan dari telapak tangan satu ke telapak tangannya, agar sensasi hangat dapat ia rasakan.
Mata Dio melihat semua momen dimana Cinta dan Naru merespon tak sewajarnya.
"Apa ini hanya perasaanku saja, atau aku yang terlalu takut , jika tukang masak itu akan mengambil Cinta dariku?"
Karena tak ingin berlarut dalam pemikiran yang tak semestinya, akhirnya Cinta melanjutkan kembali tugasnya untuk merampungkan menusuk jagung dan kentang.
Suhu hangat yang sedari tadi semakin meningkat, kini suhu itu mulai berganti sebaliknya dan keempat muda-mudi itu tau jika api unggun mereka hampir padam.
Naru dan Dio kembali menghidupkan korek api dan melemparnya ke arah tumpukan kayu bakar yang sudah tersusun rapi itu.
Api unggun itu perlahan mulai kembali hidup namun, tak terlalu besar.
Saat Naru mengambil jerigen yang ia bawa tadi dan membukanya, Cinta yang tak sengaja melihat itu seketika berdiri. "Mau apa kau?" tanya Cinta penuh intimidasi.
Naru melihat ke arah Cinta dan tatapan semua orang juga mengarah pada Cinta dan Naru.
__ADS_1
"Aku hanya ...."
Belum selesai juga Chef Yunani itu melancarkan sahutannya, Cinta kembali memotong perkataan Naru, "Untuk apa cairan yang ada di dalam jerigen itu?" tanya Cinta lagi.
Naru melihat ke arah benda yang diperdebatkan oleh Cinta. "Ini?" tanya Naru sembari mengangkat jerigennya.
"Hem!"
"Karena apinya tadi padam dan ...."
"Jadi kau ingin menyiram bensin pada api unggun ini agar apinya tak padam? apa kau ingin membuat kebakaran di pantai?" tanya Cinta terus berkomentar seperti rentetan petasan.
"Aku hanya ingin ...."
"Ingin apa? ingin membuat gaduh?"
Karena sudah tak tahan dengan celotehan mulut Cinta, akhirnya Naru berjalan ke arah Cinta dan memberikan jerigen itu pada asistennya. "Coba kau perikasa sendiri," pinta Naru dan Cinta melihat ke arah Naru dengan tatapan tajam.
Perlahan Cinta membuka tutup jerigen itu dan ....
"Bagaimana? apa itu bensin?" tanya Naru dengan suara penuh akan ledekan pada Cinta.
Wajah Cinta sudah kesal bukan main namun, ia mencoba menahannya. "Bukan!"
Naru tersenyum sembari mendekatkan dirinya ke arah Cinta dan tatapan tajam gadis itu semakin sadis pada Naru. "Apa?" tanya Cinta ketus.
"Aku tak perlu menggunakan bensin untuk membuat malam ini terbakar, cukup menyentil bagian pentingnya saja, sudah bisa aku pastikan jika ...." Naru mendekatkan bibirnya pada telinga Cinta. "Akan ada yang merasa terbakar rasa kesal di sekitarku," lanjut Naru menjauhkan tubuhnya sembari berbalik dan berjalan ke tempat semula dimana ia duduk dengan Kinan.
Cinta diam berdiri mematung mendengar ucapan Naru, sementara Dio masih diam namun, rahangnya sudah mengerat sempurna.
"Aku harus memastikan sesuatu," gumam Dio dalam hati sembari berdiri berjalan ke arah Cinta.
Setelah posisi tubuh Dio sudah sangat dekat dengan sang adik, pria itu menarik tangan Cinta dan mendekap tubuh Cinta erat. "Kenapa kau sepertinya emosi terus menerus sedari tadi? apa kau merindukan pelukanku?" tanya Dio dengan suara sangat lembut dan mesra.
Kinan yang fokus dengan kentang dan jagungnya melihat ke arah Dio.
"Kenapa perasaanku seperti tak nyaman ya?"
Perihal Naru, tak perlu ditanyakan lagi, karena pria itu sudah pasti melihat ke arah Cinta dan Dio dengan tatapan super tajam.
__ADS_1
"Aku benci dengan perasaan ini! kenapa aku merasa ingin sekali menarik gadis bebek itu dari dekapan kekasihnya? dan apa hubungannya denganku jika mereka berpelukan? akhhh ...."