
Setelah urusan makan malam selesai, tepat jam 10 malam semua lampu rumah Naru sudah mati, kecuali lampu diluar rumah.
Cinta masih belum tidur, gadis itu masih mengingat bagaimana ia dengan beraninya mencium pipi Naru. "Apa aku sudah kehilangan akal? apa yang aku lakukan tadi di meja makan padanya?" tanya Cinta pada dirinya sendiri.
Lampu kamar gadis itu masih menyala menandakan jika pemilik kamar tersebut masih terjaga.
Cinta melihat ke arah jam yang berada di nakas, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ting
Cinta melihat ke arah layar ponselnya dan menggulir tombol buka kunci.
Ternyata Dio yang mengirimkan pesan.
Dio
Kenapa kau belum pulang?
Cinta
Aku menginap di rumah bosku.
Dio
Menginap dirumah Naru?
Cinta
Iya Kak!
Besok aku akan pulang pagi๐
Dio
Jangan lupa kunci pintu kamarmu, jika perlu gembok saja, agar dia tak berani masuk ke dalam kamarmu๐
Cinta
Kakak tenang saja, dia bukan pria seperti itu.
Dio
Jaga dirimu baik-baik, jangan tidur terlalu malam.
Cinta
Siap bos tampanku๐ค
Cinta meletakkan ponselnya di kasur namun, tiba-tiba denting ponselnya kembali berbunyi. "Pesan apa lagi yang Kakak kirim padaku," gumam Cinta sembari menggulir ponselnya dan kening Cinta sukses mengkerut sempurna.
"Ini sudah malam, untuk apa dia mengirim pesan jam segini? bukankah kita berada dalam satu rumah yang sama?"
Cinta membuka pesan dari seseorang yang ia beri nama 'Bos Kaku'.
Bos Kaku
Sudah tidur?
Cinta
Sudah.
Bos Kaku
__ADS_1
Bohong! mana ada orang tidur membalas pesan.
Cinta
Ada apa kau mengirim pesan padaku semalam ini?
Bos Kaku
Aku tak bisa tidur.
Cinta
??????
Bos Kaku
Apa kau tak ingin tahu mengapa aku tak bisa tidur?
Cinta
Kenapa?
Bos Kaku
Aku merindukanmu.
Seketika di dalam otak Cinta kata 'aku merindukanmu' mulai berputar-putar tanpa henti karena dua kata itu mampu menembus relung hatinya yang terdalam.
"Apa pria ini ingin membuat aku benar-benar candu padanya? mengirim pesan di jam segini bukan tipe sandiwara, 'kan?"
Cinta
Hahahaha ๐ sungguh lucu lawakanmu Bos๐
Bos Kaku
Cinta menggelengkan kepalanya bersikeras jika apa yang Naru tulis itu hanya sebuah candaan semata.
Cinta
Berhenti melawak, ini sudah jamnya orang tidur dan selamat malam.
Bos Kaku
Aku rindu padamu.
Cinta meletakkan ponselnya di bawah bantal, ia tak ingin membalas pesan Naru.
"Kenapa aku jadi panas begini," gumam Cinta sembari mengibaskan tangannya ke arah wajahnya.
Cinta beranjak dari kasur hendak mengambil minum di dapur.
Gadis itu membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju arah dapur rumah Naru.
Tanpa Cinta sadari, pintu kamar Naru juga terbuka dan pria itu melihat ke arah pintu kamar Cinta yang tak tertutup rapat masih terdapat celah memperlihatkan cahaya lampu kamar itu yang masih menyala.
Naru melirik ke arah dapur dan ia melihat Pak Sam muncul dari ruang tengah. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Pak Sam.
Bukannya menjawab, Naru malah meletakkan jari telunjuknya di bibirnya agar Pak Sam tak berisik.
Pria paruh baya itu mengangguk mengerti sembari memperhatikan kepergian Naru yang berjalan dengan cara mengendap-endap ke arah dapur.
Pak Sam tersenyum karena ia tahu apa yang akan dilakukan oleh tuannya. Sebenarnya Pak Sam melihat Cinta yang berjalan ke arah dapur karena kepala pelayan rumah Naru itu memang terbiasa pada jam hampir tengah malam bangun memastikan keamanan rumah tersebut aman.
Naru berjalan bagai maling jemuran yang tak ingin diketahui oleh orang lain.
__ADS_1
Cinta sudah membuka lemari pendingin dan mencari keberadaan air putih yang pasti dapat meredakan rasa panas dan hausnya. "Kenapa tak ada air di dalam sini?" gumam Cinta mengedarkan pandangannya ke arah lemari pendingin tersebut.
"Air minumnya ada di pintu sebelahnya, Sayang!"
Seketika Cinta terkejut dengan suara berat Naru yang terlantun tepat di telinganya.
Gadis itu berbalik menghadap ke arah Naru. "Sia-"
"Jadi orang tidur seperti ini ya? tidur di dalam lemari pendingin pasti lebih segar, 'kan?" tanya Naru dengan jarak wajah yang cukup dekat dengan Cinta.
"Bu-bukan begitu, aku ...."
"Apa? berbohong tapi ketahuan ya?" ledek Naru dengan tubuh yang sedikit membungkuk menatap wajah Cinta intens karena keadaan dapur saat itu gelap. Cinta sengaja tak menghidupkan lampunya karena ia pikir lampu dari dalam lemari pendingin sudah cukup menerangi indera penglihatannya.
"Ih, siapa yang berbohong sih! aku tah berbohong, aku tadi memang mau tidur, tapi karena haus jadi, aku ke dapur ingin mengambil minum," jelas Cinta pada Naru.
"Mau tidur, masih belum tidur, 'kan? kenapa kau tak membalas pesanku?" tanya Naru lagi yang terus menuntut penjelasan dari Cinta.
"Karena ... karena aku ...."
"Karena apa? ayo jawab!"
Cinta memejamkan matanya mencoba menahan sesuatu yang akan meledak dalam dirinya. "Bagaimana jika aku benar-benar suka padamu, jika kau terus bersikap seperti itu? apa kau ingin melihat aku seperti orang gil-"
Naru segera menarik Cinta ke dalam pelukannya. Pria itu ingin meredakan emosi Cinta yang tak terkontrol saat ini dan apa yang Naru lakukan benar-benar bekerja cukup efektif.
Di tengah-tengah pelukan hangat itu, Naru tersenyum sembari meletakkan dagunya tepat di puncak kepala Cinta.
"Aku tak tahu apa yang menimpaku saat ini, tapi yang jelas, aku sangat bahagia mendengar ucapanmu barusan."
Cinta diam tak membalas pelukan hangat Naru padanya. "Kau harus ingat misimu untuk mendapatkan dokter-"
"Jangan bahas itu karena saat ini aku hanya ingin memelukmu," sambung Naru mengeratkan pelukannya pada Cinta.
Wajah Cinta menengadah ke atas ingin melihat wajah Naru. "Tapi tujuan utama kita bersandiwara sebagai sepasang kekasih yang sudah bertunangan karena kau ingin bersamanya, 'kan?"
Naru membalas tatapan mata Cinta dan perlahan pria itu menempel keningnya pada kening Cinta. "Memang tujuanku seperti itu," ujar Naru menghentikan ucapannya, "awalnya memang seperti itu, tapi sekarang, aku merasa sudah lupa dengan tujuan awalku, entah darimana datangnya perasaan ini namun, yang jelas, aku tak suka melihatmu bersama pria lain dan aku lebih suka kau berada disisiku seperti sekarang ini," lanjut Naru dalam hatinya.
"Jangan banyak bicara, lebih baik kita jalani saja dan ingat! saat hanya ada kita berdua ...."
"Jadilah sepasang orang yang sudah bertunangan yang sesungguhnya," sambung Cinta dan Naru tersenyum manis pada gadis itu dengan posisi kening yang masih sama.
"Cepat tidur! ini sudah malam," pinta Naru dengan suara dibuat setegas mungkin.
"Tapi aku masih haus," bantah Cinta dengan suara dibuat bagai anak kecil yang minta dibelikan es krim.
Naru tersenyum gemas pada Cinta. Pria itu membuka pintu lemari pendingin di sebelahnya lagi dan mengambil sebotol air mineral untuk Cinta dan posisi tangan Naru masih memeluk Cinta. "Minum! setelah itu langsung tidur," titah Naru dan Cinta tersenyum manis pada tunangan palsunya.
Cinta segera meminum air tersebut dan setelah selesai, gadis itu memberikannya pada Naru. "Terima kasih ... Sayang!"
Cinta tersenyum manis menatap wajah Naru dan pria itu langsung mengecup kening Cinta cukup lama.
Cupppp
"Selamat malam dan mimpi indah," tutur Naru sembari mengelus pipi Cinta menggunakan jempol tangannya yang tak memegang botol minuman.
Cinta segera berlari kecil ke arah kamarnya dan menutup kamar itu rapat-rapat.
Sementara Naru hanya tersenyum sendiri setelah kepergian Cinta. "Astaga! aku ini kenapa jadi seperti ini? apa aku terkena sebuah syndrom langka?" tanya Naru yang tak habis pikir dengan ke uwuwan yang dia buat sendiri.
Pria itu melihat botol air mineral yang berada di tangannya. Senyum simpul terukir indah di bibir pria bertubuh jangkung tersebut.
Naru membuka tutup botolnya dan tanpa komat-kamit, ia meneguk air tersebut tanpa ragu.
"Rasanya manis, apa mungkin karena botol ini sudah tersentuh bibirnya?"
__ADS_1
Naru geleng-geleng kepala dengan pertanyaan yang ia buat dan pria itu menutup pintu lemari pendinginnya, kemudian berjalan ke arah kamarnya dengan kedua sudut bibir yang tertarik indah bagai bulan sabit di malam hari.
HAPPY READING DAN JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS ๐๐๐